Artikel ensiklopedia "Pasar" karya Ludwig von Mises menetapkan pasar sebagai proses yang melaluinya, dalam ekonomi berbasis pembagian kerja, produksi diarahkan kepada kebutuhan konsumen yang paling mendesak. Tesis utamanya adalah kedaulatan konsumen: laba dan rugi mengarahkan penguasaan atas alat-alat produksi ke tangan mereka yang menggunakannya secara paling tepat guna untuk melayani konsumen. Dalam enam bagian, Mises membahas proses pasar, monopoli dan persaingan, spekulasi sebagai ciri dasar segala kegiatan ekonomi, kesatuan semua pasar bagian (bursa efek, pasar tenaga kerja), laba dan rugi sebagai gejala penyesuaian terhadap keseimbangan stasioner, serta ketimpangan pendapatan dan kekayaan sebagai hasil perilaku konsumen. Ia menarik batas terhadap posisi intervensionis dan sosialis serta berhadapan dengan kebijakan kesempatan kerja penuh Keynes dan dengan tuntutan-tuntutan "Manifesto Komunis". Penutupnya berupa daftar pustaka.
Proses Pasar
„Pasar“ adalah istilah yang digunakan ilmu ekonomi nasional untuk menyebut proses yang, dalam perekonomian berbasis pembagian kerja yang berlandaskan kepemilikan privat atas alat-alat produksi (perekonomian pasar), mengarahkan produksi ke jalur-jalur yang paling baik melayani pemenuhan kebutuhan konsumen yang paling mendesak.
Konsumen berdaulat. Dengan membeli atau menahan diri dari membeli, mereka memutuskan untung atau ruginya para pengusaha. Untung dan rugi mengalihkan kuasa atas alat-alat produksi ke tangan mereka yang paling tahu cara memanfaatkannya secara paling tepat guna demi melayani konsumen. Kepemilikan atas alat-alat produksi dalam perekonomian pasar, dalam arti tertentu, merupakan suatu mandat sosial yang dicabut dari penerima mandat apabila ia tidak memenuhi petunjuk-petunjuk yang setiap kali diberikan oleh para pemberi tugasnya, yaitu para konsumen.
Suatu usaha menguntungkan apabila ia melayani penyediaan barang sebaik mungkin bagi konsumen. Usaha itu merugi apabila konsumen lebih menyukai penggunaan lain atas alat-alat produksi yang bersangkutan. Membangun suatu pertentangan antara kemampuan menghasilkan laba (rentabilitas) dan produktivitas tidaklah masuk akal selama orang tetap berada dalam kerangka perekonomian pasar dan tidak mempersoalkan kedaulatan konsumen. Siapa yang menyebut suatu usaha yang menguntungkan sebagai tidak produktif, menempatkan pendapatnya sendiri tentang apa yang seharusnya diproduksi dan dikonsumsi di atas pendapat para pihak pasar. Ia mengklaim lebih tahu apa yang berguna bagi konsumen daripada yang mereka ketahui sendiri. Dengan demikian ia memberi penilaian pribadinya suatu bentuk yang membuatnya tampak sebagai kebenaran yang berlaku umum dan kaidah hidup. Apabila ia menuntut agar kekuasaan negara mengambil tindakan paksaan untuk menegakkan produktivitas terhadap sekadar rentabilitas, ia secara diam-diam mengandaikan bahwa penilaian semua orang tentang apa yang produktif dan apa yang tidak adalah sama, dan bahwa pandangannya sendiri akan menjadi pandangan penguasa pula.
Dalam menggambarkan proses-proses pasar, orang lazim berbicara tentang permainan bebas dari kekuatan-kekuatan ekonomi. Gambaran lain yang sering dipakai untuk mencirikan pasar adalah gambaran tentang mekanisme otomatis. Suatu mekanisme otomatis yang konon bekerja secara buta dipertentangkan dengan campur tangan sadar dari otoritas yang merencanakan secara bijaksana. Ungkapan-ungkapan metaforis semacam itu mengaburkan keadaan yang sebenarnya. Semua gejala pasar adalah hasil dari upaya semua pihak yang hendak membeli atau menjual di pasar, yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan mereka sebaik mungkin. Adalah keliru menandai tindakan-tindakan individu ini sebagai perilaku tak sadar dengan mempertentangkannya terhadap campur tangan sadar dari penguasa.
Manusia, juga dalam tindakan dan keengganan ekonominya, tidaklah luput dari kesalahan. Setiap orang bebas mencela tindakan sesamanya – misalnya kegemaran mereka akan minuman beralkohol, pertunjukan yang berkarakter meragukan, gulat dan tinju serta hal-hal serupa lainnya – dan berupaya membujuk mereka agar memanfaatkan sarananya secara lebih bijaksana. Namun, masalah-masalah yang bersumber dari ketidaksempurnaan akal budi manusia sama sekali tidak terpecahkan apabila pasar digantikan dengan perekonomian terencana dan individu ditempatkan di bawah perwalian penguasa. Raja, pemimpin, dan pejabat pun adalah manusia dan dapat keliru. Kebebasan yang diberikan pasar kepada perseorangan barangkali dapat dipersoalkan dari sudut pandang gagasan metafisis. Namun, di bidang pemenuhan kebutuhan, kebebasan itu mewujudkan cita-cita kebebasan yang membentuk hakikat kebudayaan Barat dan secara prinsipiel membedakannya dari gaya hidup oriental. Dalam pengertian ini, pasar yang pada akhirnya dikuasai oleh konsumen merupakan unsur hakiki dari tatanan sosial dan kebudayaan modern.
Perusahaan negara dan perusahaan daerah, yang bekerja dalam kerangka tatanan masyarakat yang pada umumnya berlandaskan kepemilikan privat atas alat-alat produksi, sama bergantungnya pada pasar seperti perusahaan swasta. Mereka harus menyesuaikan diri ke dalam lalu lintas pasar sebagai pembeli (bahan baku, barang setengah jadi, perkakas, dan tenaga kerja) dan sebagai penjual (barang atau jasa), dan untuk mempertahankan diri mereka harus berupaya meraih keuntungan dan menghindari kerugian. Upaya untuk meredakan atau menyingkirkan ketergantungan ini dengan menutup kerugian operasional dan kerugian modal perusahaan publik melalui subsidi dari uang pajak hanyalah menggeser titik-titik tumpu reaksi pasar. Sebab bukan negara yang memungut pajak, melainkan mekanisme pasarlah yang menentukan siapa yang pada akhirnya dibebani oleh pungutan itu dan bagaimana pungutan itu memengaruhi produksi, penyediaan barang, pengelolaan modal, dan pembentukan pendapatan. Demikianlah, di sini pun kedaulatan para pembeli dan ketidakmungkinan menghindar dari hukum-hukum pasar memperoleh keberlakuannya. Apabila orang berbicara tentang sektor kapitalis-swasta dan sektor negara dalam perekonomian nasional, ia tidak boleh lupa bahwa sektor negara pun bergantung pada pasar.
Monopoli dan Persaingan
Kecenderungan yang berlaku di pasar untuk menyesuaikan produksi sebaik mungkin dengan keinginan konsumen hanya tidak sepenuhnya berlaku dalam satu kasus, yaitu kasus harga monopoli. Agar harga monopoli menjadi mungkin, tidaklah cukup bahwa penawaran suatu barang atau jasa dimonopoli. Harus ada pula suatu bentuk khusus dari permintaan yang menyertainya. Konsumen harus menilai barang monopoli itu begitu tinggi sehingga, ketika harganya dinaikkan di atas harga persaingan potensial, mereka tidak membatasi pembelian sedemikian rupa hingga penjual menjadi lebih buruk keadaannya dibandingkan jika menjual pada harga persaingan [→Monopoli].
Sebuah contoh dapat memperjelas dampak harga monopoli. Pada harga persaingan untuk tembaga terdapat kecenderungan untuk mengeksploitasi sumber-sumbernya hingga titik di mana eksploitasi lebih lanjut tidak lagi menutup tambahan pengorbanan alat-alat produksi pelengkap, baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat manusiawi. Pada harga monopoli untuk tembaga, eksploitasi dihentikan pada titik yang lebih awal. Alat-alat produksi pelengkap nonspesifik yang dengan demikian dihemat dipakai di tempat lain untuk menghasilkan barang-barang yang tanpa itu tidak akan diperoleh konsumen. Namun, konsumen akan lebih menyukai penyediaan tembaga yang lebih baik ketimbang penyediaan barang-barang lain tersebut.
Harga-harga pasar setiap kali mengarah pada suatu keadaan di mana permintaan dan kebutuhan saling menutupi. Pada harga ini, yang oleh kaum klasik disebut harga alamiah dan oleh kaum subjektivis yang lebih tua disebut harga keseimbangan, dan yang lebih tepat kita sebut harga akhir, semua yang hendak membeli dapat membeli dan semua yang hendak menjual dapat menjual. Namun, karena faktor-faktor penentu harga senantiasa mengalami perubahan, maka – berbeda dari gambaran pemikiran tentang perekonomian yang seragam (perekonomian keseimbangan statis) – dalam kenyataan harga akhir selalu berubah lagi sebelum harga pasar mencapainya.
Para penulis intervensionis dan sosialis menyatakan bahwa teori pasar dan harga yang dikembangkan oleh para ekonom nasional hanya berlaku bagi keadaan perekonomian yang terdiri atas usaha kecil dan menengah. Perusahaan-perusahaan besar yang menjadi ciri „kapitalisme akhir“ konon begitu berkuasa sehingga dapat memaksakan kehendaknya kepada konsumen. Terhadap perusahaan-perusahaan raksasa ini tidak mungkin ada persaingan. Sejauh jangkauan wilayahnya, konon tidak ada lagi sesuatu yang sepadan dengan apa yang oleh ilmu ekonomi nasional disebut pasar.
Pada pergantian abad ke-19/20, perusahaan kereta api disebut sebagai contoh khas dari perusahaan-perusahaan besar semacam itu yang terhadapnya tidak mungkin muncul persaingan. Namun, kekuasaan kereta api yang konon tak tertahankan itu tidak mampu mencegah, atau bahkan sekadar memperlambat, munculnya pesaing-pesaing yang paling berbahaya, yaitu kendaraan bermotor dan pesawat terbang. Begitu sesuatu muncul di pasar yang lebih disukai konsumen daripada apa yang dihasilkan perusahaan-perusahaan besar masa kini, proses yang sama akan terulang. Justru semakin besar suatu perusahaan, semakin kuat pula ketergantungannya pada pasar, yakni pada konsumen. Karena itulah perusahaan besar mengembangkan metode-metode analisis pasar dan penelitian sistematis atas keinginan konsumen [→Riset pasar].
Meningkatnya jumlah dana yang dikeluarkan untuk menarik pelanggan pun menunjukkan kekuasaan para pembeli yang sangat besar [→Periklanan].
Persaingan tidak hanya terjadi di antara mereka yang menawarkan artikel yang sama untuk dijual, tetapi juga di antara mereka yang hendak menjual artikel yang berbeda. Jumlah uang yang dikeluarkan seorang konsumen untuk membeli suatu barang tertentu mengurangi jumlah yang dapat ia keluarkan untuk membeli barang-barang lain. Semua pengusaha berupaya mengarahkan sebanyak mungkin dari dana yang tersedia bagi publik ke dalam kas mereka. Semua barang dan jasa bersaing dengan semua barang dan jasa lainnya. Orang salah memahami hakikat →persaingan apabila ia memandang upaya para produsen untuk „mendiferensiasikan“ produknya, yakni memberinya sifat-sifat yang membuatnya tampak lebih diinginkan di mata publik dibandingkan produk produsen lain, sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk membentuk persaingan secara „monopolistis“. Upaya untuk mengungguli para pesaing melalui diferensiasi produk semacam itu justru merupakan salah satu sarana persaingan yang paling penting. Justru upaya inilah yang memicu dan menjaga tetap hidup kekuatan yang melekat pada pasar kapitalis untuk terus-menerus mengupayakan perbaikan dalam pemenuhan kebutuhan.
Spekulasi
Berekonomi adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Karena tentang bentuk masa depan tidak ada yang dapat diramalkan dengan pasti, maka segala tindakan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan berlandaskan pada dugaan dan harapan. Tidak hanya tindakan para produsen, tetapi juga tindakan para konsumen bersifat spekulatif. Konsumen yang membeli memperhitungkan bahwa barang yang diperolehnya akan memenuhi kebutuhan masa depannya lebih baik daripada barang-barang lain yang pembeliannya ia tunda demi dapat membeli justru barang ini. Segala kegiatan berekonomi, juga kegiatan si penyedia diri sendiri maupun kegiatan pemimpin suatu organisasi sosialis, adalah →spekulasi. Siapa yang mengeluarkan waktu, uang, dan jerih payah untuk pendidikan bagi suatu pekerjaan tertentu juga melakukan spekulasi. Baru masa depanlah yang menentukan apakah ia telah bertindak dengan benar.
Keadaan pasar (Marktlage) kita sebut sebagai keseluruhan →harapan mengenai bentuk harga-harga di masa depan, baik masa depan saat berikutnya maupun masa depan yang lebih jauh. Harapan-harapan ini dibentuk oleh para pihak pasar dari pengetahuan tentang harga-harga yang dibayar pada transaksi-transaksi yang terakhir dilakukan dan dari penilaian atas perubahan-perubahan yang akan diakibatkan padanya oleh fakta-fakta baru yang telah terjadi atau yang diharapkan. Setiap individu bergembira apabila harapan-harapan yang menentukan tindakannya terbukti benar atau apabila keadaan ternyata lebih menguntungkan daripada yang ia harapkan. Namun, apabila ternyata akan lebih tepat untuk bertindak secara berbeda, maka mereka yang mengalami kerugian akibat penilaian yang keliru atas keadaan masa depan (spekulasi yang gagal) cenderung mengajukan tuntutan agar kekuasaan negara datang menolong mereka. Satu-satunya sumber dari mana bantuan negara semacam itu dapat diberikan adalah pengurangan keuntungan mereka yang telah berspekulasi dengan benar. Semakin jauh kebijakan untuk menyetarakan keuntungan dan kerugian ini berlanjut, semakin terhambat pula pasar dalam memenuhi fungsinya. Tugas untuk menetapkan arah bagi produksi kemudian harus diambil alih oleh negara.
Pasar-Pasar Bagian
Pasar itu satu dan tak terpisahkan. Semua harga saling berkaitan dan saling mensyaratkan. Setiap bagian pasar bergantung pada semua bagian lain dan pada gilirannya memengaruhinya. Dahulu ada, dan bahkan hingga kini masih ada, kelompok-kelompok manusia yang hidup dalam swasembada penuh di luar masyarakat pertukaran yang merangkum seluruh sisa dunia. Namun, di dalam suatu sistem perekonomian pasar, semua tindakan secara potensial terhubung dengan pasar. Siapa yang dalam hal kebutuhan tertentu menjadi penyedia diri sendiri, memengaruhi harga pasar artikel yang bersangkutan dan dipengaruhi olehnya.
Pasar-pasar bagian, tempat alat-alat produksi diperjualbelikan, sama bergantungnya pada konsumen akhir seperti pasar-pasar bagian dari berbagai barang yang siap dipakai dan siap dikonsumsi [→Pasar]. Hal yang sama berlaku bagi bursa efek. Bursa efek menentukan pembagian barang-barang modal yang tersedia untuk investasi tambahan ke berbagai kemungkinan investasi. Modal yang baru terbentuk dan dana yang tersedia untuk penanaman baru, yang sepadan dengan pembentukan cadangan dan penyusutan yang dilakukan untuk mengganti barang-barang modal yang habis terpakai dalam produksi yang lampau, diarahkan melalui →bursa ke jalur-jalur produksi yang menurut pendapat para spekulan tampak menawarkan prospek paling menguntungkan. Di bursa itu sendiri tidak timbul keuntungan maupun kerugian. Keuntungan dan kerugian dalam transaksi perdagangan surat berharga adalah hasil dari pengantisipasian yang benar atau keliru atas perilaku konsumen di masa depan melalui kegiatan investasi.
Pembentukan harga di → pasar tenaga kerja sama-sama bergantung pada permintaan konsumen akhir sebagaimana pembentukan harga di pasar alat-alat produksi material. Hal ini tidak pernah diragukan untuk imbalan para bintang panggung dan atlet profesional. Namun, keadaannya tidak berbeda di pasar tempat upah seluruh layanan jasa dan hasil kerja lainnya terbentuk. Di pasar tenaga kerja yang bebas, yaitu yang tidak dihalangi oleh kekuatan pemaksa apa pun, berlaku kecenderungan untuk menetapkan upah setiap jenis pekerjaan sedemikian rupa sehingga semua yang ingin bekerja dengan upah itu memperoleh pekerjaan, dan semua yang ingin mempekerjakan pekerja dengan tarif itu memperoleh pekerja. Pasar tenaga kerja yang bebas mengarah pada penyerapan tenaga kerja penuh. Apabila melalui perintah pemerintah atau melalui tindakan pemaksaan serikat buruh ditetapkan upah minimum yang melampaui tarif pasar potensial, maka timbullah pengangguran tetap pada sebagian pencari kerja (pengangguran institusional).
Hal ini pun telah diakui oleh John Maynard Keynes. Kekhasan kebijakan penyerapan tenaga kerja penuh yang ia anjurkan terletak pada kenyataan bahwa ia berupaya menghapus pengangguran institusional bukan melalui pemulihan pasar tenaga kerja yang bebas, melainkan melalui penambahan jumlah uang. Keynes bertolak dari harapan bahwa, dengan dipertahankannya upah uang nominal, penurunan upah riil secara bertahap dan „otomatis“ yang ditimbulkan oleh kenaikan harga inflasioner akan menemui perlawanan yang lebih kecil dari pihak penerima upah dibandingkan upaya terang-terangan untuk menyesuaikan upah uang dengan pasar. Apakah harapan ini tepat boleh diragukan, mengingat popularitas yang telah diraih oleh metode angka indeks.
Laba dan Rugi
Dalam gambaran pemikiran tentang ekonomi yang merata atau stasioner, harga setiap produk sama dengan jumlah harga yang dikeluarkan untuk alat-alat produksi komplementer termasuk bunga yang sepadan dengan waktu produksi yang dibutuhkan. Karena itu, tidak ada laba maupun rugi. Dalam ekonomi nyata yang terus-menerus berubah, selalu timbul ketidaksesuaian antara pasokan dan kebutuhan. Untuk mengatasi ketidaksesuaian ini, produksi harus disesuaikan kembali dengan keadaan yang telah berubah. Dari proses penyesuaian inilah muncul laba atau rugi para pengusaha.
Laba atau rugi merupakan akibat dari keadaan bahwa penyesuaian produksi terhadap situasi baru tidak terjadi sekaligus di seluruh sistem pasar. Para pengusaha yang telah meramalkan perubahan itu dengan tepat dan bertindak sesuai dengannya memperoleh surplus, karena di satu sisi mereka memperoleh harga yang lebih tinggi untuk produknya, dan di sisi lain masih dapat membeli alat-alat produksi dengan harga lebih rendah yang sesuai dengan keadaan sebelumnya. Dalam jalannya peristiwa, kedua sumber laba mereka mengering. Penambahan produksi barang yang menghasilkan laba menurunkan harganya, dan pada saat yang sama harga alat-alat produksi komplementer naik. Andaikan tidak terjadi perubahan lebih lanjut, maka akan tercapai keseimbangan stasioner yang di dalamnya tidak ada laba maupun rugi. Di pasar terdapat kecenderungan untuk menghilangkan laba dan rugi. Laba dan rugi merupakan gejala yang tetap hanya karena selalu ada perubahan dalam data ekonomi dan karena ekonomi yang merata tidak lain hanyalah sebuah gambaran pemikiran yang tidak pernah sesuai dengan kehidupan nyata. Laba dan rugi sampai batas tertentu adalah ganjaran dan hukuman yang diberikan oleh para konsumen atas pemenuhan keinginan mereka yang lebih cepat atau lebih lambat.
Tidak tepat untuk menyebut munculnya laba dan rugi pengusaha sebagai gejala peralihan atau gejala gesekan, dan ketiadaannya sebagai keadaan ideal ekonomi [→Unternehmereinkommen]. Upaya yang tak pernah berhenti untuk memperbaiki pemenuhan kebutuhan adalah ciri khas manusia. Keadaan keseimbangan yang dibicarakan oleh ilmu ekonomi nasional bukanlah suatu tujuan yang pencapaiannya tampak diinginkan dari sudut pandang mana pun. Ia adalah alat bantu pemikiran yang dimaksudkan untuk menjembatani pemahaman atas kenyataan yang berbeda sifatnya. Ada prasangka politis yang bermain ketika pasar yang tidak memiliki keseimbangan stasioner disebut sebagai pasar yang tidak sempurna, dan persaingan yang berlangsung di pasar ini disebut persaingan yang tidak sempurna atau →persaingan yang tidak lengkap.
Ketimpangan Pendapatan dan Kekayaan
Dalam tatanan masyarakat yang berlandaskan penaklukan dan perampasan tanah secara paksa, yang oleh Adam Ferguson, Claude Henry de Rouvroy de Saint-Simon, dan Herbert Spencer disebut militerisme dan oleh tulisan-tulisan Anglo-Saxon kontemporer disebut feodalisme, ketimpangan dalam pembagian kepemilikan tanah berasal dari sumber politis. Seseorang menjadi kaya atau miskin bergantung pada lebih banyak atau lebih sedikitnya bagian yang dialokasikan kepadanya oleh sang penakluk atau para penerusnya. Perubahan dalam pembagian kepemilikan hanya dapat dicapai melalui tindakan politis.
Dalam ekonomi pasar berlaku kecenderungan untuk menyerahkan alat-alat produksi kepada mereka yang paling tahu cara memanfaatkannya sesuai kehendak para konsumen. Ketimpangan dalam besarnya pendapatan dan kekayaan merupakan hasil dari perilaku para konsumen. Merekalah yang membuat sebagian orang kaya dan sebagian lainnya miskin. Apabila orang tetap ingin mempertahankan ungkapan distribusi pendapatan dan kekayaan, yang justru menggambarkan keadaan dalam ekonomi pasar secara terbalik, ia harus menyadari bahwa distribusi itu dilakukan oleh para konsumen, yang dalam melakukannya semata-mata mementingkan perwujudan kepentingan mereka sendiri sebaik-baiknya. Dalam tatanan masyarakat militeristis, mungkin benar bahwa kemelaratan kaum miskin merupakan padanan dari kelimpahan kaum kaya. Dalam ekonomi pasar, bertambahnya kekayaan kaum kaya dan menyusutnya kekayaan orang lain merupakan akibat dari perbaikan dalam pemenuhan kebutuhan anggota masyarakat lainnya. Proses-proses yang meningkatkan taraf hidup rata-rata itulah yang membuat kekayaan besar muncul dan lenyap. Pandangan yang melihat dalam terbentuknya kekayaan besar suatu penurunan kesejahteraan sesama warga bangsa lainnya salah memahami hakikat ekonomi pasar. Sumber kekayaan dalam ekonomi pasar adalah peningkatan taraf hidup para konsumen, dan sebaliknya. Tindakan yang bertujuan menyamaratakan ketimpangan dalam besarnya pendapatan dan kekayaan terjadi dengan mengorbankan taraf hidup para konsumen. Dari sudut pandang kepentingan para konsumen, pengenaan pajak atas kerugian usaha justru lebih dapat dibenarkan daripada pengenaan pajak atas laba usaha. Ketimpangan kekayaan dan pendapatan adalah unsur esensial dari ekonomi pasar. Karl Marx dan Friedrich Engels dalam „Manifesto Komunis“ telah dengan tepat mengenali bahwa „pajak progresif yang berat“ dan „penghapusan hak waris“ menuntun pada penghancuran ekonomi pasar.
Kebijakan intervensionis masa kini bertujuan menentang keputusan-keputusan yang diambil para konsumen di pasar. Ia hendak menyingkirkan pasar. Dalam hal ini orang tidak selalu menyadari bahwa pada akhirnya penguasa harus mengambil alih pengarahan proses produksi dan dengan demikian harus menempatkan sosialisme menggantikan ekonomi pasar.
Pustaka
Baudin, Louis: Le mécanisme des prix. Paris 1940. Clark, John Bates: Essentials of Economic Theory. New York 1907. Eucken, Walter: Die Grundlagen der Nationalökonomie. (Jena 1940) ⁶ Berlin, Göttingen u. Heidelberg 1950. Keynes, John Maynard: The General Theory of Employment, Interest and Money. London u. New York 1936, Neudr. 1951. [Allgemeine Theorie der Beschäftigung, des Zinses und des Geldes. Berlin u. München 1936, Neudr. Berlin 1952. Knight, Frank H.: The Economic Organization. New York 1951. Muthesius, Volkmar: Die Wirtschaft des Wettbewerbs. Wiesbaden 1948. v. Böhm-Bawerk, Eugen: Kapital und Kapitalzins. 2 Bde. (Innsbruck 1884-1889) ⁴ Jena 1921. v. Hayek, Friedrich A.: The Pure Theory of Capital. London (1941) ³ 1952. v. Mises, Ludwig: Human Action. New Haven (1949) ⁴ 1950. Wicksteed, Philip H.: The Common Sense of Political Economy. London 1910, Neudr. 1933.