Essay · Austrian School · 1896

Untuk Penutup Sistem Marx

Reading time
138 min
Published
1896
Summary

Dalam tulisan polemik yang terbit pada tahun 1896 ini, Eugen von Böhm-Bawerk menguji apakah jilid ketiga dari Das Kapital karya Marx, yang diterbitkan secara anumerta, memecahkan kontradiksi yang telah diumumkan dalam jilid pertama: bahwa di satu sisi barang dipertukarkan menurut kerja yang terkandung di dalamnya, sedangkan di sisi lain kapital yang sama besarnya menghasilkan laba yang sama. Mula-mula Böhm-Bawerk menyajikan doktrin nilai dan nilai lebih Marx serta teori harga produksi, kemudian ia membongkar empat argumen yang dengannya Marx menegaskan terus berlakunya hukum nilai, dan sampai pada kesimpulan bahwa jilid ketiga menyangkal jilid pertama. Pada bagian keempat ia mengembalikan kekeliruan itu pada penurunan dalil nilai-kerja yang murni dialektis, terputus dari pengalaman dan analisis psikologis. Bagian penutup membahas secara kritis upaya penyelamatan oleh Werner Sombart, yang menafsirkan nilai menurut Marx sekadar sebagai fakta pemikiran.

CATATAN PENDAHULUAN

Karl Marx, sebagai seorang penulis, adalah orang yang beruntung secara mengagumkan. Tidak seorang pun akan menyatakan bahwa karyanya termasuk buku-buku yang mudah dibaca dan mudah dipahami. Beban dialektika sukar dan deduksi yang melelahkan, yang bekerja dengan perangkat matematis, dalam takaran yang jauh lebih kecil sekalipun sudah akan menjadi rintangan yang tak teratasi bagi kebanyakan buku lain untuk menempuh jalannya menuju khalayak luas. Meskipun demikian, Marx menjadi seorang rasul bagi kalangan yang seluas-luasnya, dan justru bagi kalangan yang biasanya bukan urusannya membaca buku-buku sukar. Padahal argumentasi dialektisnya sama sekali bukan argumentasi yang berkekuatan dan berkejelasan yang tak terbantahkan. Sebaliknya: orang-orang yang termasuk pemikir paling serius dan paling terhormat dalam ilmu kita, seperti Carl Knies, sejak saat pertama telah mengajukan tuduhan – yang tentu tidak boleh dianggap enteng dan didukung oleh argumen-argumen yang berbobot – bahwa ajaran Marx sudah pada dasarnya dijangkiti segala macam kontradiksi logis dan faktual. Dengan demikian, karya Marx dengan mudah bisa saja mengalami nasib tidak menemukan tempat yang baik di bagian khalayak mana pun: tidak pada khalayak luas, karena khalayak itu sama sekali tidak memahami dialektikanya yang sukar, dan tidak pula pada para ahli, karena mereka terlalu paham terhadap dialektika itu beserta kelemahan-kelemahannya. Pada kenyataannya, yang terjadi justru berbeda.

Keadaan bahwa karya Marx, semasa hidup penulisnya, tetap menjadi torso, juga tidak menghalangi pengaruhnya. Biasanya orang – dan bukan tanpa alasan – justru bersikap sangat curiga terhadap jilid pertama yang terisolasi dari sistem-sistem baru. Dalam "bagian-bagian umum" memang asas-asas umum dapat dipaparkan dengan sangat indah; tetapi apakah asas-asas itu benar-benar memiliki daya pemecah yang dianggapkan oleh penulisnya, hal itu baru teruji dalam pembangunan sistem, baru ketika asas-asas itu satu per satu dihadapkan pada semua fakta yang konkret. Dan dalam sejarah ilmu pengetahuan, sama sekali tidak jarang terjadi kasus di mana jilid pertama yang dikirim keluar dengan penuh harapan dan penuh tuntutan tidak lagi disusul jilid kedua sama sekali, meskipun penulisnya masih hidup dan dalam keadaan sehat, justru karena gagasan dasar yang baru itu tidak dapat lulus dari ujian api fakta-fakta konkret di hadapan penulisnya sendiri yang mengamati lebih saksama. Karl Marx tidak menderita kecurigaan semacam itu. Massa pengikutnya, atas dasar jilid pertama, memberinya di muka kepercayaan yang penuh dan tak terbatas, bahkan terhadap isi jilid-jilid sistem yang belum tertulis.

Keyakinan secara kredit ini, dalam satu hal, diuji dengan ujian yang sangat berat. Dalam jilid pertamanya Marx telah mengajarkan bahwa seluruh nilai barang-dagangan berlandaskan pada kerja yang terwujud di dalamnya, dan berdasarkan "hukum nilai" barang-barang itu karenanya harus saling dipertukarkan menurut perbandingan kerja yang terwujud di dalamnya: bahwa selanjutnya laba atau nilai-lebih yang jatuh kepada para kapitalis adalah buah dari pengisapan yang dilakukan terhadap para buruh, namun bahwa besarnya nilai-lebih tidak berbanding dengan besarnya seluruh kapital yang digunakan oleh kapitalis, melainkan hanya dengan besarnya bagian "variabel"-nya, yaitu bagian yang digunakan untuk membayar upah kerja, sementara kapital yang disebut "konstan", yang digunakan untuk membeli alat-alat produksi, tidak dapat "menambahkan nilai-lebih". Akan tetapi pada kenyataannya, dalam kehidupan, keuntungan kapital berbanding dengan keseluruhan kapital yang diinvestasikan, dan – hal yang sebagian besar berkaitan dengannya – pada kenyataannya barang-dagangan juga tidak saling dipertukarkan menurut perbandingan jumlah kerja yang terwujud di dalamnya. Jadi di sini terdapat kontradiksi antara sistem dan fakta, yang penjelasannya secara memuaskan tampaknya hampir tidak mungkin. Kontradiksi yang ada ini tidak luput dari perhatian Marx sendiri. Mengenai hal itu ia berkata: "Hukum ini" – yakni bahwa nilai-lebih hanya berbanding dengan unsur-unsur variabel dari kapital – "jelas bertentangan dengan segala pengalaman yang didasarkan pada tampakan lahiriah". Tetapi ia melanjutkan dengan menyatakan bahwa kontradiksi itu hanyalah kontradiksi yang tampak, yang pemecahannya masih memerlukan banyak mata rantai perantara dan dijanjikan untuk jilid-jilid karyanya yang kemudian. Kritik ilmiah memang berpendapat boleh meramalkan dengan segala kepastian bahwa Marx tidak akan pernah dapat menepati janji ini, karena kontradiksi itu tak terdamaikan, dan berupaya membuktikan hal itu secara terperinci. Namun terhadap massa pengikutnya, deduksi-deduksi itu sama sekali tidak meninggalkan kesan; janji Marx semata-mata lebih berarti bagi mereka daripada segala bukti-tandingan yang logis.

Ketegangan itu bertambah ketika jilid kedua karyanya, yang baru diterbitkan setelah kematian sang Mahaguru, ternyata tidak membawa baik upaya pemecahan yang telah diumumkan – yang menurut rancangan keseluruhan karya itu dicadangkan untuk jilid ketiga – maupun bahkan isyarat yang paling samar sekalipun tentang ke arah mana Marx bermaksud mencari pemecahannya. Sebaliknya, kata pengantar dari penyunting Friedrich Engels memuat, di satu pihak, pengumuman pasti yang sekali lagi menyatakan bahwa dalam naskah yang ditinggalkan Marx terkandung pemecahannya, dan di pihak lain sebuah tantangan terbuka yang mula-mula ditujukan kepada para pengikut saingan kepenulisan Rodbertus, untuk dalam tenggang waktu sampai terbitnya jilid ketiga mencoba dengan kekuatan sendiri memecahkan teka-teki, "bagaimana tidak hanya tanpa melanggar hukum nilai, melainkan justru atas dasar hukum nilai itu, dapat dan harus terbentuk tingkat laba rata-rata yang sama".

Saya menganggapnya sebagai salah satu penghormatan paling gemilang yang dapat dipersembahkan kepada pemikir Marx, bahwa tantangan itu disambut begitu banyak orang, dan justru dari kalangan yang jauh lebih luas daripada kalangan yang mula-mula dituju olehnya. Bukan hanya para pengikut Rodbertus, melainkan juga orang-orang dari kubu Marx sendiri dan bahkan para ekonom yang tidak menjadi pengikut salah satu dari kedua tokoh teori sosialis itu, melainkan yang mungkin akan disebut "ekonom vulgar" oleh Marx, berlomba-lomba menembus susunan yang diperkirakan dari alur pemikiran Marx yang masih terselubung rahasia itu. Antara tahun 1885, tahun terbitnya jilid kedua, dan tahun 1894, tahun terbitnya jilid ketiga "Das Kapital" Marx, berkembanglah suatu kepustakaan teka-teki berhadiah yang sesungguhnya tentang "laba rata-rata" dan hubungannya dengan "hukum nilai". Namun memang, tak seorang pun di antara para peserta yang membawa pulang hadiahnya, sebagaimana ditetapkan oleh Fr. Engels yang kini juga telah tiada, dalam pengadilan yang ia adakan atas mereka dalam kata pengantarnya untuk jilid ketiga.

Dengan terbitnya jilid penutup sistem Marx ini, yang lama tertunda, perkara itu akhirnya bergeser ke tahap keputusan yang definitif. Dari sekadar janji akan suatu pemecahan, setiap orang dapat menilainya sebanyak atau sesedikit yang ia mau. Janji di satu pihak dan alasan-alasan di pihak lain boleh dikatakan tidak setara untuk dibandingkan. Pula keberhasilan terhadap upaya-upaya pemecahan dari pihak lain, sekalipun upaya-upaya itu menurut pendapat dan usaha penciptanya dianggap sangat sejiwa dengan teori Marx, tidak perlu diakui oleh para pengikut teori yang terakhir ini: mereka selalu masih dapat berseru-banding dari tiruan yang gagal kepada citra-asli yang dijanjikan. Kini citra-asli itu akhirnya tampil ke cahaya, dan dengan demikian bagi perselisihan yang berlangsung tiga puluh tahun itu diperolehlah suatu medan pertempuran yang kokoh, yang batas-batasnya sempit dan jelas, yang di dalamnya kedua pihak, alih-alih terus-menerus menghibur dengan pengungkapan-pengungkapan di masa depan atau melompat ke tafsiran-tafsiran tak-otentik yang bergeser-geser bagaikan Proteus, harus bertahan dengan semestinya dan menuntaskan perkara itu sampai habis. Apakah Marx sendiri telah memecahkan teka-tekinya? Apakah sistemnya yang telah dirampungkan tetap setia kepada dirinya sendiri dan kepada fakta-fakta, ataukah tidak?

Chapter I.

TEORI TENTANG NILAI DAN TENTANG NILAI-LEBIH

Tiang-tiang penopang sistem Marx adalah konsep nilainya dan hukum nilainya. Tanpa keduanya, sebagaimana sering diulang Marx, setiap pengenalan ilmiah atas proses-proses ekonomi menjadi mustahil. Cara ia menurunkan keduanya telah dipaparkan dan dibahas berkali-kali tak terhitung. Demi keterkaitannya, kita tetap harus secara singkat mengulang kembali mata-mata rantai yang paling pokok dari alur pemikirannya.

Medan penyelidikan yang hendak ditelusuri Marx demi "membuntuti jejak nilai" (I. 23)1, sejak awal ia batasi pada barang-dagangan, yang dengannya, dalam pengertiannya, agaknya tidak kita pahami sebagai semua barang ekonomis, melainkan hanya sebagai produk-produk kerja yang dihasilkan untuk pasar⁶. Ia memulai dengan "analisis barang-dagangan" (I. 9). Barang-dagangan, di satu pihak, sebagai benda berguna yang melalui sifat-sifatnya memuaskan kebutuhan manusia jenis apa pun, merupakan suatu nilai-pakai; di pihak lain ia membentuk pengemban-pengemban kebendaan dari nilai-tukar. Pada yang terakhir inilah analisis itu kini beralih. "Nilai-tukar mula-mula tampil sebagai perbandingan kuantitatif, proporsi, yang dengannya nilai-nilai-pakai dari satu jenis dipertukarkan dengan nilai-nilai-pakai dari jenis lain, suatu perbandingan yang senantiasa berubah menurut waktu dan tempat". Jadi tampaknya ia adalah sesuatu yang kebetulan. Namun demikian, dalam perubahan ini pasti ada sesuatu yang tetap, yang berupaya dilacak oleh Marx. Ia melakukannya dengan caranya yang dialektis dan terkenal itu. "Mari kita ambil dua barang-dagangan, misalnya gandum dan besi. Berapa pun perbandingan pertukarannya, ia selalu dapat disajikan dalam suatu persamaan, yang di dalamnya suatu kuantum gandum tertentu disetarakan dengan suatu kuantum besi tertentu, misalnya 1 quarter gandum = a sentner besi. Apa yang dikatakan persamaan ini? Bahwa suatu hal bersama dengan besaran yang sama ada dalam dua benda yang berbeda, dalam 1 quarter gandum dan demikian pula dalam a sentner besi. Jadi keduanya sama dengan suatu hal ketiga, yang pada dirinya sendiri bukanlah yang satu maupun yang lain. Maka masing-masing dari keduanya, sejauh ia nilai-tukar, harus dapat direduksi menjadi hal ketiga ini".

"Hal bersama ini" – Marx melanjutkan – "tidak mungkin merupakan suatu sifat geometris, fisis, kimiawi, atau sifat alamiah lain dari barang-dagangan. Sifat-sifat kebendaannya sama sekali hanya diperhitungkan sejauh sifat-sifat itu membuatnya berdaya-guna, jadi menjadikannya nilai-nilai-pakai. Di pihak lain, perbandingan pertukaran barang-dagangan justru jelas ditandai oleh pengabstraksian dari nilai-nilai-pakainya. Di dalam perbandingan itu, satu nilai-pakai berlaku persis sebanyak nilai-pakai lain mana pun, asalkan ia tersedia dalam proporsi yang semestinya. Atau, seperti dikatakan Barbon tua: 'Jenis barang yang satu sama baiknya dengan yang lain, jika nilai-tukarnya sama besar. Tidak ada perbedaan atau kemungkinan untuk dibedakan antara benda-benda yang nilai-tukarnya sama besar'. Sebagai nilai-nilai-pakai, barang-dagangan terutama berbeda kualitasnya; sebagai nilai-nilai-tukar, ia hanya dapat berbeda kuantitasnya, jadi tidak mengandung satu atom nilai-pakai pun".

"Apabila kini orang mengabaikan nilai-pakai dari tubuh-tubuh barang-dagangan, maka pada barang-barang itu hanya tinggal satu sifat lagi, yaitu sifat sebagai produk kerja. Namun produk kerja itu pun sudah berubah di tangan kita. Apabila kita mengabstraksikan dari nilai-pakainya, maka kita pun mengabstraksikan dari bagian-bagian kebendaan dan bentuk-bentuk yang menjadikannya nilai-pakai. Ia tidak lagi berupa meja atau rumah atau benang atau benda berguna lain mana pun. Segala kualitas inderawinya telah terhapus. Ia juga tidak lagi merupakan produk kerja ketukangan kayu atau kerja pembangunan atau kerja pemintalan atau kerja produktif tertentu lainnya. Bersama lenyapnya watak berguna dari produk-produk kerja, lenyap pula watak berguna dari kerja-kerja yang tersaji di dalamnya, jadi lenyap pula berbagai bentuk konkret dari kerja-kerja ini; kerja-kerja itu tidak lagi saling berbeda, melainkan seluruhnya direduksi menjadi kerja manusia yang sama, kerja manusia yang abstrak."

"Marilah kita sekarang mengamati residu dari produk-produk kerja itu. Tidak ada lagi yang tersisa darinya selain objektivitas hantu yang sama, suatu gelatin belaka dari kerja manusia yang tak terbedakan, yakni pengeluaran tenaga kerja manusia tanpa memperhatikan bentuk pengeluarannya. Benda-benda ini kini hanya menyatakan bahwa dalam produksinya tenaga kerja manusia telah dikeluarkan, kerja manusia telah ditimbun. Sebagai kristal dari substansi sosial yang sama-sama dimiliki itu, benda-benda tersebut adalah – nilai."

Dengan demikian konsep nilai telah ditemukan dan ditetapkan. Menurut bentuk dialektisnya, konsep itu tidak identik dengan nilai tukar, tetapi ia berdiri dalam hubungan yang paling erat dan tak terpisahkan dengannya, sebagaimana ingin saya tegaskan sejak sekarang: ia merupakan semacam destilat konseptual dari nilai tukar. Dengan kata-kata Marx sendiri, ia adalah "yang bersama, yang menyatakan dirinya dalam hubungan pertukaran atau nilai tukar barang-barang", sebagaimana sebaliknya pula "nilai tukar merupakan cara ungkapan atau bentuk penampakan yang niscaya dari nilai" (I. 13).

Dari penetapan konsep nilai, Marx beranjak kepada penjabaran ukuran dan besarannya. Karena kerja merupakan substansi nilai, maka secara konsekuen besaran nilai semua barang pun diukur menurut kuantum kerja yang terkandung di dalamnya, masing-masing menurut waktu kerja. Tetapi bukan menurut waktu kerja individual itu, yang kebetulan dibutuhkan justru oleh individu yang membuat barang tersebut, melainkan menurut "waktu kerja yang secara sosial niscaya", yang oleh Marx dijelaskan sebagai "waktu kerja, yang dituntut untuk menyajikan suatu nilai guna mana pun dengan kondisi-kondisi produksi yang sosial-normal yang ada serta dengan derajat sosial dari keterampilan dan intensitas kerja" (I. 14). "Hanya kuantum kerja yang secara sosial niscaya, atau waktu kerja yang secara sosial niscaya untuk pembuatan suatu nilai guna, itulah yang menentukan besaran nilainya. Barang yang satu di sini berlaku secara umum sebagai contoh rata-rata dari jenisnya. Oleh karena itu, barang-barang yang di dalamnya terkandung kuantum kerja yang sama besar, atau yang dapat dibuat dalam waktu kerja yang sama, memiliki besaran nilai yang sama. Nilai suatu barang berbanding terhadap nilai setiap barang lain seperti waktu kerja yang niscaya untuk produksi yang satu berbanding terhadap waktu kerja yang niscaya untuk produksi yang lain. Sebagai nilai, semua barang hanyalah massa tertentu dari waktu kerja yang telah membeku."

Dari semua itu kini diturunkan isi dari "hukum nilai" yang besar, yang "imanen pada pertukaran barang" (I. 141, 150) dan menguasai hubungan-hubungan pertukaran. Hukum itu menyatakan, dan setelah uraian sebelumnya tidak dapat menyatakan hal lain, bahwa barang-barang saling dipertukarkan satu sama lain menurut perbandingan kerja rata-rata yang secara sosial niscaya yang terwujud di dalamnya (mis. I. 52). Bentuk-bentuk ungkapan lain dari hukum yang sama ialah bahwa barang-barang "saling dipertukarkan menurut nilainya" (mis. I. 142, 183, III. 167), atau bahwa "ekuivalen dipertukarkan dengan ekuivalen" (mis. I. 150, 183). Memang dalam kasus tunggal, sesuai fluktuasi sesaat dari penawaran dan permintaan, muncul pula harga-harga yang berada di atas atau di bawah nilai. Namun "osilasi yang terus-menerus dari harga-harga pasar … saling mengompensasi, saling meniadakan, dan mereduksi diri sendiri menjadi harga rata-rata sebagai aturan batiniahnya" (I. 151, Catatan 37) (MEW 23, hlm. 180). Dalam jangka panjang, "dalam hubungan-hubungan pertukaran yang kebetulan dan senantiasa berubah-ubah" toh selalu "waktu kerja yang secara sosial niscaya menerobos secara paksa sebagai hukum alam yang mengatur" (I. 52). Marx menyebut hukum ini sebagai "hukum abadi pertukaran barang" (I. 182), sebagai "yang rasional", sebagai "hukum alami keseimbangan" (III. 167): Adapun kasus-kasus yang, seperti telah dikatakan, memang terjadi, di mana barang-barang dipertukarkan dengan harga-harga yang menyimpang dari nilainya, harus dipandang dalam hubungannya dengan aturan sebagai "kebetulan" (I. 150, Catatan 37) dan penyimpangan itu sendiri sebagai "pelanggaran terhadap hukum pertukaran barang" (I. 142).

Di atas landasan teori-nilai ini, Marx kemudian membangun bagian kedua dari bangunan ajarannya, yakni ajarannya yang masyhur tentang "nilai lebih". Ia menelaah sumber dari keuntungan yang ditarik para kapitalis dari modal mereka. Para kapitalis melemparkan sejumlah uang tertentu, mengubahnya menjadi barang, lalu mengubah barang-barang itu kembali – dengan atau tanpa proses produksi yang berada di antaranya – melalui penjualan menjadi lebih banyak uang. Dari manakah datangnya inkremen ini, surplus dari jumlah uang yang ditarik keluar atas jumlah uang yang semula dimajukan, atau, sebagaimana Marx menyebutnya, "nilai lebih" ini?

Mula-mula Marx, dengan cara yang khas baginya berupa penyingkiran dialektis, membatasi syarat-syarat masalahnya. Pertama-tama ia menguraikan bahwa nilai lebih tidak dapat bersumber dari kenyataan bahwa kapitalis sebagai pembeli secara teratur membeli barang di bawah nilainya, dan juga tidak dari kenyataan bahwa ia sebagai penjual secara teratur menjualnya di atas nilainya. Dengan demikian masalahnya tampil sebagai berikut: "Pemilik uang kita … harus membeli barang menurut nilainya, menjualnya menurut nilainya, dan toh pada akhir proses menarik keluar lebih banyak uang daripada yang ia lemparkan … Inilah syarat-syarat masalahnya. Hic Rhodus, hic salta!" (I. 150 dst.).

Pemecahannya kini ditemukan Marx dalam kenyataan bahwa ada satu barang yang nilai gunanya memiliki sifat khas sebagai sumber nilai tukar. Barang ini ialah kemampuan kerja atau tenaga kerja. Ia ditawarkan di pasar dengan syarat ganda, yakni bahwa pekerja secara pribadi merdeka – sebab jika tidak, maka bukan tenaga kerjanya, melainkan seluruh pribadinya, sebagai budak, yang akan ditawarkan –, dan bahwa pekerja itu telah dilucuti dari "segala hal yang niscaya untuk mewujudkan tenaga kerjanya", sebab jika tidak, ia akan lebih memilih berproduksi atas tanggungannya sendiri dan menawarkan produk-produknya alih-alih tenaga kerjanya. Melalui perdagangan dengan barang ini, kapitalis kini memperoleh nilai lebih. Dengan cara berikut.

Nilai dari barang "tenaga kerja", sama seperti nilai setiap barang lain, ditentukan menurut waktu kerja yang niscaya untuk reproduksinya, artinya dalam hal ini, menurut waktu kerja yang niscaya untuk menghasilkan bahan kebutuhan hidup sebanyak yang diperlukan untuk pemeliharaan pekerja. Jika, misalnya, untuk menghasilkan bahan kebutuhan hidup yang niscaya untuk satu hari diperlukan waktu kerja sosial 6 jam, dan jika sekaligus, sebagaimana ingin kita andaikan, waktu kerja yang sama itu terwujud dalam 3 sh. emas, maka tenaga kerja untuk satu hari dapat dibeli seharga 3 sh. Setelah kapitalis menutup pembelian ini, maka nilai guna tenaga kerja itu menjadi miliknya, dan ia merealisasikannya dengan membiarkan pekerja bekerja baginya. Seandainya ia membiarkan pekerja itu bekerja setiap hari hanya selama sebanyak jam yang terwujud dalam tenaga kerja itu sendiri, dan yang harus ia bayar pada saat membelinya, maka nilai lebih tidak akan timbul. Sebab 6 jam kerja, menurut andaian, tidak dapat menambahkan nilai yang lebih besar daripada 3 sh. kepada produk yang di dalamnya jam-jam itu terwujud; tetapi sebanyak itu pula telah dibayar kapitalis sebagai upah. Akan tetapi para kapitalis tidak bertindak demikian. Sekalipun mereka telah membeli tenaga kerja dengan harga yang hanya setara dengan waktu kerja enam jam, mereka membiarkan pekerja bekerja bagi mereka sepanjang hari. Sekarang dalam produk yang diciptakan selama hari itu terwujud lebih banyak jam kerja daripada yang harus dibayar kapitalis; oleh karena itu produk tersebut memiliki nilai yang lebih besar daripada upah yang dibayarkan, dan selisihnya adalah "nilai lebih" yang jatuh kepada kapitalis.

Sebuah contoh. Andaikan seorang pekerja dapat memintal 10 pon kapas menjadi benang dalam 6 jam. Andaikan kapas ini telah menuntut 20 jam kerja untuk produksinya sendiri dan karenanya memiliki nilai sebesar 10 sh. Andaikan selanjutnya, selama enam jam kerja memintal, pemintal itu mengausi peralatan sebanyak yang setara dengan kerja empat jam dan karenanya merepresentasikan nilai sebesar 2 sh. – maka nilai keseluruhan dari alat-alat produksi yang terpakai dalam pemintalan akan berjumlah 12 sh. yang setara dengan 24 jam kerja. Dalam proses pemintalan, kapas "menyerap" lagi tambahan 6 jam kerja: oleh karena itu benang jadi secara keseluruhan merupakan produk dari 30 jam kerja dan dengan demikian akan memiliki nilai sebesar 15 sh. Dengan andaian bahwa kapitalis membiarkan pekerja yang disewanya bekerja hanya 6 jam sehari, maka pembuatan benang itu telah pula menelan biaya bagi kapitalis sepenuhnya sebesar 15 sh.: 10 sh. untuk kapas, 2 sh. untuk keausan peralatan, 3 sh. untuk upah kerja. Nilai lebih tidak muncul.

Sama sekali lain halnya, jika kapitalis membiarkan pekerja bekerja 12 jam sehari. Dalam 12 jam, pekerja mengolah 20 pon kapas, yang di dalamnya sebelumnya telah terwujud 40 jam kerja dan karenanya bernilai 20 sh., selanjutnya mengausi peralatan sebanyak produk dari 8 jam kerja senilai 4 sh., tetapi menambahkan kepada bahan baku itu selama satu hari 12 jam kerja, yakni suatu nilai baru sebesar 6 sh. Sekarang neracanya berdiri sebagai berikut. Benang yang dihasilkan selama satu hari secara keseluruhan telah menelan 60 jam kerja, oleh karena itu memiliki nilai sebesar 30 sh.; pengeluaran kapitalis berjumlah 20 sh. untuk kapas, 4 sh. untuk keausan peralatan, dan 3 sh. untuk upah, jadi seluruhnya hanya 27 sh.; kini tersisa "nilai lebih" sebesar 3 sh.

Oleh karena itu, menurut Marx, nilai lebih merupakan akibat dari kenyataan bahwa kapitalis membiarkan pekerja bekerja baginya selama sebagian dari hari itu tanpa membayarnya untuk itu. Dalam hari kerja pekerja dapat dibedakan dua bagian. Pada bagian pertama, "waktu kerja yang niscaya", pekerja memproduksi nafkah hidupnya sendiri, atau nilainya; untuk bagian kerjanya ini ia menerima suatu ekuivalen dalam upah. Selama bagian kedua, "waktu kerja surplus", ia "dieksploitasi", ia menghasilkan "nilai lebih", tanpa sendiri memperoleh ekuivalen apa pun untuk itu (I. 205 dst.). "Segenap nilai lebih … menurut substansinya adalah materiatur dari waktu kerja yang tak terbayar" (I. 554).

Sangat penting dan khas bagi sistem Marx ialah penetapan-penetapan besaran nilai lebih yang kini menyusul. Besaran nilai lebih dapat dihubungkan dengan berbagai besaran lain. Perbandingan-perbandingan dan angka-angka perbandingan yang berkembang darinya harus dibedakan secara tajam satu sama lain.

Pertama-tama, di dalam modal yang melayani kapitalis untuk menyabet nilai lebih, harus dibedakan dua unsur yang dalam kaitan dengan timbulnya nilai lebih memainkan peran yang sama sekali berbeda. Sebab yang dapat menciptakan nilai lebih yang sungguh-sungguh baru hanyalah kerja hidup, yang dibiarkan kapitalis dilakukan oleh para pekerja, sementara nilai dari alat-alat produksi yang terpakai sekadar dipertahankan, dengan muncul kembali dalam wujud yang berubah di dalam nilai produk, tetapi tidak dapat menambahkan nilai lebih. "Maka bagian dari modal yang mengalih-rupa menjadi alat-alat produksi, yakni menjadi bahan baku, bahan penolong, dan sarana kerja, tidak mengubah besaran nilainya dalam proses produksi" – itulah sebabnya Marx menyebutnya "modal konstan". "Sebaliknya, bagian dari modal yang mengalih-rupa menjadi tenaga kerja mengubah nilainya dalam proses produksi. Ia mereproduksi ekuivalennya sendiri dan suatu surplus di atasnya", justru nilai lebih itu. Karena itu Marx menyebutnya "bagian modal variabel" atau "modal variabel" (I. 199) (I. hlm. 244). Adapun perbandingan, di mana nilai lebih berdiri terhadap bagian modal variabel yang dimajukan, yang di dalamnya bagian itu "menilai-lebihkan dirinya", oleh Marx disebut tingkat (rate) nilai lebih. Ia identik dengan perbandingan, di mana waktu kerja surplus berdiri terhadap waktu kerja yang niscaya, atau kerja yang tak terbayar terhadap kerja yang terbayar, dan karena itu bagi Marx berlaku sebagai "ungkapan yang persis bagi derajat eksploitasi kerja" (I. 207 dst.). Jika, misalnya, waktu kerja yang niscaya, yang di dalamnya pekerja menghasilkan nilai upah hariannya sebesar 3 sh., berjumlah 6 jam, sedangkan waktu kerja harian 12 jam, di mana pekerja selama 6 jam yang kedua, sebagai waktu kerja surplus, juga menghasilkan suatu nilai sebesar 3 sh. sebagai nilai lebih, maka nilai lebih itu berjumlah sama besar dengan modal variabel yang dimajukan untuk keperluan upah, dan tingkat nilai lebih terhitung sebesar 100 %.

Sama sekali berbeda dari itu ialah tingkat profit (rate of profit). Sebab kapitalis menghitung nilai lebih yang ia sabet bukan hanya atas bagian modal variabel, melainkan atas seluruh modal yang ia gunakan. Jika, misalnya, modal konstan berjumlah 410 Pd. St., modal variabel 90 Pd. St., dan nilai lebih juga 90 Pd. St., maka tingkat nilai lebih memang, seperti di atas, 100 %, tetapi tingkat profit hanya 18 %, yakni profit 90 Pd. St. atas modal keseluruhan yang diinvestasikan sebesar 500 Pd. St.

Selanjutnya, sudah jelas bahwa satu dan tingkat nilai lebih yang sama dapat dan harus terwujud dalam tingkat laba yang sangat berbeda-beda, bergantung pada komposisi kapital yang bersangkutan: tingkat laba akan semakin tinggi apabila bagian kapital variabel terwakili semakin kuat dan bagian kapital konstan semakin lemah, sebab bagian kapital konstan yang terakhir ini tidak berkontribusi pada terbentuknya nilai lebih, melainkan justru memperbesar basis yang menjadi dasar penghitungan nilai lebih sebagai laba, padahal nilai lebih itu semata-mata ditentukan oleh bagian kapital variabel. Misalnya, jika – sesuatu yang dalam praktiknya memang hampir tidak mungkin – kapital konstan sama dengan nol dan kapital variabel sebesar 50 Pfd. St., dan jika, menurut asumsi di atas, tingkat nilai lebihnya 100 %, maka nilai lebih yang dihasilkan juga sebesar 50 Pfd. St., dan karena nilai lebih itu harus dihitung atas kapital keseluruhan yang hanya 50 Pfd. St., maka dalam hal ini tingkat laba pun akan mencapai penuh 100 %. Sebaliknya, jika kapital keseluruhan tersusun dari kapital konstan dan kapital variabel dengan perbandingan 4 : 1, dengan kata lain jika pada kapital variabel sebesar 50 Pfd. St. ditambahkan kapital konstan sebesar 200 Pfd. St., maka nilai lebih sebesar 50 Pfd. St. yang terbentuk pada tingkat nilai lebih 100 % itu harus dibagikan atas kapital keseluruhan sebesar 250 Pfd. St. dan dengan demikian hanya merepresentasikan tingkat laba 20 % bagi kapital itu. Akhirnya, seandainya perbandingan komposisinya 9 : 1, yaitu 450 Pfd. St. kapital konstan terhadap 50 Pfd. St. kapital variabel, maka nilai lebih sebesar 50 Pfd. St. akan jatuh atas kapital keseluruhan sebesar 500 Pfd. St., dan tingkat labanya hanya 10 %.

Hal ini kini membawa pada suatu konsekuensi yang sangat menarik dan penting, dan dalam penelusuran lebih lanjutnya membawa pada suatu tahap yang sepenuhnya baru dari sistem Marx, yaitu pembaruan terpenting dari jilid ketiga.

Chapter II.

TEORI TINGKAT LABA RATA-RATA DAN HARGA PRODUKSI

Adapun konsekuensi tersebut ialah sebagai berikut. "Komposisi organik" (III. 124) dari kapital, karena alasan teknis, dengan sendirinya berbeda-beda di berbagai "lingkup produksi". Di berbagai industri, yang memang menuntut manipulasi teknis yang sangat berlainan, dengan satu hari kerja diolah kuantum bahan mentah yang sangat tidak sama; atau, kalaupun pada manipulasi yang serupa kuantum bahan mentahnya kurang lebih sama, nilainya toh dapat sangat berbeda, seperti misalnya antara tembaga dan besi sebagai bahan mentah industri logam; atau akhirnya, jumlah dan nilai perangkat kerja, perkakas, dan mesin yang jatuh pada setiap pekerja yang dipekerjakan dapat berbeda-beda. Semua faktor perbedaan ini, sejauh tidak secara kebetulan saling mengompensasi – yang hanya terjadi dalam kasus-kasus pengecualian yang langka – menyebabkan adanya perbandingan yang berbeda antara kapital konstan yang diinvestasikan dalam alat-alat produksi dan kapital variabel yang digunakan untuk membeli tenaga kerja bagi berbagai cabang produksi. Karena itu, setiap cabang produksi suatu perekonomian rakyat memiliki "komposisi organik" yang menyimpang dan khas dari kapital yang digunakan di dalamnya. Menurut uraian yang telah dikemukakan sejauh ini, maka pada tingkat nilai lebih yang sama, setiap cabang produksi seharusnya dan mestinya juga menunjukkan tingkat laba yang lain dan menyimpang, seandainya benar bahwa, sebagaimana selama ini selalu diandaikan Marx, barang-barang dipertukarkan "menurut nilainya" atau menurut perbandingan kerja yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian Marx tiba di hadapan karang besar yang termasyhur dari teorinya, yang kemungkinan untuk dilayari mengelilinginya menjadi pokok perdebatan terpenting dalam literatur Marx selama sepuluh tahun terakhir. Teorinya menuntut agar kapital-kapital yang besarnya sama tetapi komposisi organiknya tidak sama menunjukkan laba yang tidak sama; namun dunia nyata memperlihatkan dirinya dengan sangat jelas dikuasai oleh hukum bahwa kapital-kapital yang besarnya sama, tanpa memandang kemungkinan perbedaan komposisi organiknya, menghasilkan laba yang sama. Marilah kita biarkan Marx menetapkan pertentangan ini dengan kata-katanya sendiri:

"Jadi kita telah menunjukkan: bahwa di berbagai cabang industri, sesuai dengan komposisi organik kapital yang berbeda-beda, dan dalam batas-batas yang telah disebutkan juga sesuai dengan waktu perputarannya yang berbeda-beda, berlaku tingkat laba yang tidak sama, dan bahwa oleh karena itu, bahkan pada tingkat nilai lebih yang sama, hanya bagi kapital-kapital dengan komposisi organik yang sama – dengan mengandaikan waktu perputaran yang sama – berlaku hukum (menurut kecenderungan umumnya) bahwa laba berbanding lurus dengan besarnya kapital, dan karenanya kapital-kapital yang sama besar dalam jangka waktu yang sama menghasilkan laba yang sama besar. Apa yang dikemukakan ini berlaku atas dasar yang sejauh ini memang menjadi dasar uraian kita: bahwa barang-barang dijual menurut nilainya. Di pihak lain, tidak diragukan lagi bahwa dalam kenyataan, dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang tidak hakiki, kebetulan, dan saling meniadakan, perbedaan tingkat laba rata-rata bagi berbagai cabang industri tidak ada dan tidak mungkin ada tanpa meniadakan seluruh sistem produksi kapitalis. Tampaknya, dengan demikian, teori nilai di sini tidak dapat dipersatukan dengan gerak yang sesungguhnya, tidak dapat dipersatukan dengan gejala-gejala produksi yang nyata, dan bahwa oleh karena itu sama sekali harus ditinggalkan upaya untuk memahami gejala-gejala yang terakhir itu." (III. 131 dst.)

Bagaimanakah kini Marx sendiri berupaya memecahkan pertentangan ini? Hal itu terjadi, singkatnya, dengan mengorbankan andaian yang selama ini selalu menjadi titik tolak Marx, yaitu bahwa barang-barang dijual menurut nilainya. Marx kini begitu saja menanggalkan andaian ini. Apa makna penanggalan ini bagi sistem Marx, mengenai hal itu kita akan membentuk penilaian kritis kita sedikit kemudian. Untuk sementara saya melanjutkan paparan ringkas saya tentang jalan pikiran Marx, dan memang dengan suatu contoh tabular yang juga dijadikan dasar oleh Marx bagi penjelasannya.

Contoh itu memperbandingkan lima lingkup produksi yang berbeda, masing-masing dengan komposisi organik yang berbeda dari kapital yang ditanamkan di dalamnya, dan untuk sementara masih mempertahankan andaian sebelumnya bahwa barang-barang dijual menurut nilainya. Sebagai keterangan atas tabel berikut, yang memaparkan hasil dari asumsi ini, perlu dicatat bahwa c berarti kapital konstan, v berarti kapital variabel, dan bahwa, untuk berbuat adil terhadap keragaman kenyataan kehidupan yang sesungguhnya, dalam contoh ini (bersama Marx) diandaikan bahwa kapital konstan yang digunakan "aus" dengan kecepatan yang tidak sama, sehingga hanya sebagian dari kapital konstan, dan memang dengan besaran yang tidak sama di berbagai lingkup produksi, yang setiap tahun terpakai. Ke dalam nilai produk, tentu saja, hanya masuk bagian kapital konstan yang terpakai, yaitu "c yang dipakai", sedangkan untuk penghitungan tingkat laba seluruh "c yang digunakan" yang diperhitungkan.

Tabel 1

Kapital No Tingkat nilai lebih Nilai lebih Tingkat laba c yang dipakai Nilai barang
I 80 c + 20 v 100% 20 20% 50 90
II 70 c + 30 v 100% 30 30% 51 111
III 85 c + 15 v 100% 15 15% 40 70
IV 60 c + 40 v 100% 40 40% 51 131
V 95 c + 5 v 100% 5 5% 10 20

Sebagaimana terlihat, tabel ini menunjukkan, bagi berbagai lingkup produksi pada tingkat eksploitasi kerja yang seragam, tingkat laba yang sangat berbeda-beda, sesuai dengan komposisi organik kapital yang berbeda-beda. Namun fakta dan data yang sama itu dapat pula ditinjau dari sudut pandang yang lain.

"Jumlah keseluruhan kapital yang ditanamkan dalam lima lingkup itu = 500; jumlah keseluruhan nilai lebih yang dihasilkannya = 110; nilai keseluruhan barang yang dihasilkannya = 610. Jika kita memandang 500 itu sebagai satu kapital tunggal, yang dari padanya I – V hanya membentuk bagian-bagian yang berbeda (seperti misalnya di sebuah pabrik kapas terdapat perbandingan kapital variabel dan konstan yang berbeda di berbagai bagian, di ruang carding, ruang pemintalan awal, ruang pemintalan, dan ruang tenun, dan perbandingan rata-rata bagi seluruh pabrik baru harus dihitung), maka pertama-tama komposisi rata-rata kapital sebesar 500 = 390 c + 110 v, atau secara persentase 78 c + 22 v. Jika masing-masing kapital sebesar 100 dipandang hanya sebagai 1/5 dari kapital keseluruhan, maka komposisinya adalah komposisi rata-rata 78 c + 22 v itu; demikian pula pada setiap 100 jatuh nilai lebih rata-rata sebesar 22; karena itu tingkat laba rata-rata = 22 %" (III. 133/4)

Pada harga berapakah kini masing-masing barang harus dijual agar setiap satu dari kelima kapital bagian itu sungguh-sungguh mencapai tingkat laba rata-rata yang sama ini? Hal itu ditunjukkan oleh tabel berikut. Di dalamnya, sebagai mata rantai antara, disisipkan rubrik "harga pokok", yang dengannya Marx memaksudkan bagian nilai barang yang menggantikan bagi kapitalis harga alat-alat produksi yang terpakai dan harga tenaga kerja yang digunakan, tetapi belum mengandung nilai lebih atau laba, sehingga sama dengan jumlah dari v + c yang dipakai.

Tabel 2

20 v | 20 | 50 | 90 | 70 | 92 | 22% | + 2 | | II

70 c +

30 v | 30 | 51 | 111 | 81 | 103 | 22% | - 8 | | III

40 v | 40 | 51 | 131 | 91 | 113 | 22% | - 18 | | IV

Kapital No. Nilai lebih c yang dipakai Nilai barang Harga pokok barang Harga barang Tingkat laba Penyimpangan harga dari nilai
I
80 c +
60 c +
85 c +
95 c + 5
v 5 10 20 15 37 22% + 17

"Secara keseluruhan" – demikian Marx mengomentari hasil tabel ini – "barang-barang dijual 2 + 7 + 17 = 26 di atas dan 8 + 18 = 26 di bawah nilainya, sehingga penyimpangan-penyimpangan harga itu saling meniadakan melalui pembagian nilai lebih yang merata atau melalui penambahan laba rata-rata sebesar 22 atas 100 kapital yang dikeluarkan pada harga-harga pokok masing-masing barang I – V; dalam perbandingan yang sama, yang dengannya sebagian barang dijual di atas nilainya, sebagian lain dijual di bawah nilainya. Dan hanya penjualan pada harga-harga seperti itulah yang memungkinkan tingkat laba bagi I – V menjadi seragam, 22 %, tanpa memandang komposisi organik kapital I – V yang berbeda-beda" (III, 135).

Semua ini, sebagaimana diuraikan lebih lanjut oleh Marx, kini bukan sekadar asumsi hipotetis, melainkan kenyataan sepenuhnya. Agen yang bekerja adalah persaingan. Memang benar, akibat susunan organik yang berbeda-beda dari kapital yang ditanamkan dalam berbagai cabang produksi, "tingkat-tingkat laba yang berlaku dalam berbagai cabang produksi pada mulanya sangat berbeda-beda". Akan tetapi "tingkat-tingkat laba yang berbeda-beda ini diratakan oleh persaingan menjadi suatu tingkat laba umum, yang merupakan rata-rata dari semua tingkat laba yang berbeda-beda ini. Laba yang, sesuai dengan tingkat laba umum ini, jatuh pada suatu kapital dengan besaran tertentu, betapapun susunan organiknya, disebut laba rata-rata. Harga suatu komoditas yang sama dengan harga biayanya ditambah bagian laba rata-rata tahunan yang jatuh padanya menurut perbandingan kondisi perputarannya, atas kapital yang dipakai dalam produksinya (bukan hanya kapital yang dikonsumsi dalam produksi), adalah harga produksinya" (III. 136). Harga ini sesungguhnya identik dengan natural price pada Adam Smith, dengan price of production pada Ricardo, dengan prix nécessaire para Fisiokrat (III. 178). Dan perbandingan pertukaran aktual dari masing-masing komoditas tidak lagi ditentukan oleh nilainya, melainkan oleh harga produksinya, atau, sebagaimana Marx gemar mengungkapkannya: "nilai-nilai berubah menjadi harga-harga produksi" (mis. III. 176). Nilai dan harga produksi hanya bertemu secara kebetulan dan seolah-olah secara acak pada komoditas-komoditas yang diproduksi dengan bantuan suatu kapital yang susunan organiknya kebetulan tepat sama dengan susunan rata-rata dari keseluruhan kapital masyarakat. Dalam semua kasus lain, nilai dan harga produksi secara niscaya dan pada dasarnya menyimpang satu sama lain. Yakni dalam pengertian berikut. Mengikuti Marx, kita menyebut "kapital yang secara persentase mengandung lebih banyak kapital konstan, jadi lebih sedikit kapital variabel daripada kapital rata-rata masyarakat: kapital dengan susunan lebih tinggi; sebaliknya kapital yang di dalamnya kapital konstan menempati ruang yang relatif kecil dan kapital variabel ruang yang lebih besar daripada pada kapital rata-rata masyarakat, kapital dengan susunan rendah". Maka, pada semua komoditas yang dihasilkan dengan bantuan suatu kapital dengan susunan "lebih tinggi" daripada susunan rata-rata, harga produksinya akan berada di atas nilainya, dan dalam kasus sebaliknya di bawah nilainya. Atau: komoditas jenis pertama akan secara niscaya dan teratur dijual di atas nilainya, sedangkan komoditas jenis kedua dijual di bawah nilainya (III. 142 dst. dan di tempat lain).

"Walaupun para kapitalis dari berbagai lingkup produksi, ketika menjual komoditasnya, menarik kembali nilai-nilai kapital yang dikonsumsi dalam produksi komoditas itu, mereka tidak merealisasikan nilai-lebih, dan karena itu laba, yang dihasilkan dalam lingkupnya sendiri pada produksi komoditas itu, melainkan hanya sebanyak nilai-lebih dan karena itu laba yang, dari keseluruhan nilai-lebih atau keseluruhan laba yang dihasilkan oleh keseluruhan kapital masyarakat dalam semua lingkup produksi secara bersama-sama dalam suatu periode waktu tertentu, jatuh pada setiap bagian alikuot dari keseluruhan kapital bila dibagi secara merata. Per 100, setiap kapital yang dimajukan, betapapun susunannya, menarik dalam setiap tahun atau periode waktu lain laba yang, untuk periode itu, jatuh pada 100 sebagai sekian bagian dari keseluruhan kapital. Para kapitalis yang berbeda-beda, sejauh menyangkut laba, di sini bersikap seperti sekadar pemegang saham dari suatu perseroan saham, yang di dalamnya bagian-bagian laba dibagikan secara merata per 100, dan karena itu bagi para kapitalis yang berbeda-beda hanya berbeda menurut besarnya kapital yang ditanamkan oleh masing-masing ke dalam keseluruhan perusahaan, menurut keikutsertaannya yang berbanding lurus dalam keseluruhan perusahaan, menurut jumlah sahamnya." (III. 136 dst.)

Keseluruhan laba dan keseluruhan nilai-lebih adalah besaran yang identik (III. 151, 152). Dan laba rata-rata tidak lain adalah "keseluruhan massa nilai-lebih, yang dibagikan kepada massa-massa kapital di setiap lingkup produksi menurut perbandingan besarnya" (III. 153).

Suatu konsekuensi penting yang muncul dari hal ini adalah bahwa laba yang ditarik oleh masing-masing kapitalis sama sekali tidak berasal semata-mata dari kerja yang dipekerjakannya sendiri (III. 149), melainkan sering kali sebagian besarnya, dan kadang-kadang, mis. pada kapital pedagang (III. 265), seluruhnya berasal dari para pekerja yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kapitalis yang bersangkutan. Akhirnya Marx masih menemukan satu pertanyaan untuk diajukan dan dijawab, yang dipandangnya sebagai "pertanyaan yang sesungguhnya sulit": yakni pertanyaan, bagaimana sebenarnya "pemerataan laba menjadi tingkat laba umum ini berlangsung, mengingat ia jelas merupakan suatu hasil, dan tidak mungkin menjadi titik tolak?" (III. 153)

Pertama-tama ia mengembangkan pandangan bahwa dalam suatu keadaan masyarakat, yang di dalamnya cara produksi kapitalis belum berkuasa, jadi yang di dalamnya para pekerja sendiri menguasai alat-alat produksi yang diperlukan, komoditas-komoditas secara faktual akan saling dipertukarkan menurut nilainya yang sebenarnya dan tingkat-tingkat laba dengan demikian tidak akan diratakan. Akan tetapi perbedaan tingkat laba yang sungguh-sungguh ada itu, karena para pekerja toh selalu memperoleh nilai-lebih yang sama untuk waktu kerja yang sama, yakni nilai yang sama melampaui kebutuhan-kebutuhan mereka yang niscaya, dan dapat menyimpannya untuk diri sendiri, akan menjadi "suatu keadaan yang tidak penting, persis seperti dewasa ini bagi buruh-upahan merupakan keadaan yang tidak penting, dalam tingkat laba berapa kuantum nilai-lebih yang diperas darinya itu terungkap" (III. 155). Karena hubungan-hubungan semacam itu, yang di dalamnya alat-alat produksi menjadi milik pekerja, secara historis merupakan yang lebih dahulu dan dijumpai baik di dunia kuno maupun dunia modern, mis. pada petani pemilik tanah yang bekerja sendiri dan pada perajin, maka Marx menganggap dirinya berhak menyatakan, bahwa "sepenuhnya tepat secara keilmuan untuk memandang nilai-nilai komoditas tidak hanya secara teoretis, melainkan juga secara historis sebagai prius dari harga-harga produksi" (III. 156)

Akan tetapi dalam masyarakat yang terorganisasi secara kapitalis, perubahan nilai menjadi harga produksi ini, dan pemerataan tingkat laba yang terkait dengannya, memang berlangsung. Mengenai kekuatan-kekuatan pendorong dari proses pemerataan ini dan mengenai cara kerjanya, Marx mengungkapkan dirinya, setelah pembahasan-pembahasan persiapan yang panjang, yang di dalamnya dibahas tentang pembentukan nilai pasar dan harga pasar, khususnya dalam hal diproduksinya berbagai bagian dari komoditas yang masuk ke pasar di bawah kondisi-kondisi produksi yang berbeda-beda keuntungannya, dengan sangat jelas dan ringkas dalam kata-kata berikut: "Jika komoditas-komoditas ... dijual menurut nilainya, maka timbullah ... tingkat-tingkat laba yang sangat berbeda-beda ... Akan tetapi kapital menarik diri dari suatu lingkup dengan tingkat laba rendah dan melemparkan dirinya ke lingkup lain yang melemparkan laba lebih tinggi. Melalui keluar-masuk yang terus-menerus ini, dengan satu kata melalui pendistribusiannya di antara berbagai lingkup, sesuai dengan turunnya tingkat laba di sana dan naiknya di sini, ia menimbulkan perbandingan antara penawaran dan permintaan sedemikian rupa, sehingga laba rata-rata di berbagai lingkup produksi menjadi sama dan karena itu nilai-nilai berubah menjadi harga-harga produksi" (III. 175/6)2

15 v | 15 | 40 | 70 | 55 | 77 | 22% | + 7 | | V

Chapter III.

PERSOALAN KONTRADIKSI

Penulis baris-baris ini, bertahun-tahun yang lampau, jauh sebelum berkembangnya literatur yang dilukiskan di awal mengenai keselarasan antara tingkat laba rata-rata yang sama dengan hukum nilai Marx, telah merumuskan pandangannya tentang pokok ini dalam kata-kata berikut: "Entah produk-produk benar-benar saling dipertukarkan dalam jangka panjang menurut perbandingan kerja yang melekat padanya ... – maka penyamarataan keuntungan kapital adalah mustahil. Atau terjadilah penyamarataan keuntungan kapital – maka mustahil bahwa produk-produk terus saling dipertukarkan menurut perbandingan kerja yang melekat padanya".⁹

Ketidakselarasan faktual dari kedua prasyarat ini untuk pertama kalinya diakui dari kubu Marx beberapa tahun yang lalu oleh Conrad Schmidt.¹⁰ Kini kita memiliki penegasan autentik dari sang Mahaguru sendiri. Secara sepenuhnya gamblang dan jelas ia telah menyatakan, bahwa tingkat laba yang merata hanya dimungkinkan melalui penjualan komoditas pada harga-harga sedemikian rupa, yang di dalamnya sebagian komoditas dipertukarkan di atas nilainya, sebagian lagi di bawah nilainya, jadi secara menyimpang dari perbandingan kerja yang terkandung di dalamnya. Mengenai hal ini pun ia tidak meninggalkan kita dalam keraguan, manakah dari kedua ketetapan yang tak selaras itu yang dipandangnya sebagai yang sesuai dengan kenyataan. Ia mengajarkan dengan kejelasan dan keterusterangan yang patut disyukuri, bahwa inilah penyamarataan keuntungan kapital. Dan ia tidak ragu untuk mengajarkan, dengan kejelasan dan keterusterangan yang sama, bahwa secara faktual masing-masing komoditas saling dipertukarkan satu sama lain tidak menurut perbandingan kerja yang melekat padanya, melainkan menurut perbandingan lain yang menyimpang darinya, yang dituntut oleh penyamarataan keuntungan kapital.

Dalam hubungan apakah ajaran jilid ketiga ini berdiri terhadap hukum nilai yang termasyhur dari jilid pertama? Apakah ia mengandung penyelesaian – yang dinanti dengan begitu banyak ketegangan – atas kontradiksi yang "tampaknya" itu? Apakah ia mengandung pembuktian, "bagaimana tidak hanya tanpa pelanggaran terhadap hukum nilai, melainkan justru atas dasar hukum itu sendiri, suatu tingkat laba rata-rata yang sama dapat dan harus terbentuk"? Ataukah ia justru mengandung kebalikannya: yakni penegasan akan suatu kontradiksi nyata yang tak terdamaikan dan pembuktian, bahwa tingkat laba rata-rata yang sama hanya dapat terbentuk jika dan karena hukum nilai yang diklaim itu tidak berlaku?

Saya percaya, siapa pun yang mengamati secara tidak berprasangka dan jernih, tidak akan lama tinggal dalam keraguan. Dalam jilid pertama telah diajarkan dengan penekanan sebesar-besarnya, bahwa semua nilai berlandaskan kerja dan hanya pada kerja, bahwa nilai-nilai komoditas berbanding satu sama lain seperti waktu kerja yang niscaya untuk produksinya; dalil-dalil ini telah diturunkan dan disuling justru dan secara eksklusif dari perbandingan-perbandingan pertukaran komoditas, yang baginya nilai-nilai itu bersifat "imanen"; kita telah dituntun untuk "berangkat dari nilai-tukar dan perbandingan pertukaran komoditas guna melacak nilai yang tersembunyi di dalamnya" (I. 23); nilai dijelaskan kepada kita sebagai unsur bersama, "yang menyatakan dirinya dalam perbandingan pertukaran komoditas" (I. 13); dalam bentuk dan dengan penekanan suatu kesimpulan yang memaksa, yang tidak membolehkan pengecualian, telah dikatakan kepada kita, bahwa penyetaraan dua komoditas dalam pertukaran menyatakan, bahwa "suatu unsur bersama dengan besaran yang sama" ada di dalamnya, yang masing-masing dari kedua komoditas itu "harus dapat direduksi" padanya (I. 11); oleh karena itu, dengan mengabaikan penyimpangan-penyimpangan sesaat dan kebetulan, yang justru "tampak sebagai pelanggaran terhadap hukum pertukaran komoditas" (I. 142), dalam jangka panjang dan pada dasarnya, komoditas yang mewujudkan kerja sama banyaknya harus saling dipertukarkan satu sama lain. – Dan kini, dalam jilid ketiga, dinyatakan kepada kita secara ringkas dan kering, bahwa apa yang menurut ajaran jilid pertama harus ada, ternyata tidak ada dan tidak mungkin ada; bahwa, dan memang tidak secara kebetulan atau sementara, melainkan secara niscaya dan terus-menerus, masing-masing komoditas saling dipertukarkan dan harus saling dipertukarkan satu sama lain dalam perbandingan lain selain perbandingan kerja yang terwujud di dalamnya!

Saya tidak dapat berbuat lain, di sini saya sama sekali tidak melihat suatu penjelasan dan pendamaian atas suatu pertentangan, melainkan kontradiksi telanjang itu sendiri. Jilid ketiga Marx menyangkal jilid pertama. Teori tentang tingkat laba rata-rata dan harga-harga produksi tidak sejalan dengan teori tentang nilai. Itulah kesan yang, saya percaya, harus diterima oleh setiap orang yang berpikir secara logis. Kesan ini tampaknya juga telah cukup umum muncul. Loria, dalam gaya pengungkapannya yang hidup dan kaya akan kiasan, merasa terpaksa pada "penilaian yang keras tetapi adil", bahwa Marx "alih-alih suatu penyelesaian justru menyuguhkan suatu mistifikasi"; ia melihat dalam penerbitan jilid ketiga "kampanye Rusia" dari sistem Marx, "kebangkrutan teoretisnya yang paling lengkap", suatu "bunuh diri ilmiah", "penyerahan paling formal atas ajarannya sendiri" (l'abdicazione più esplicita alla dottrina stessa) dan "penggabungan penuh dan seutuhnya pada ajaran-ajaran paling ortodoks dari para ekonom yang dibencinya".¹¹

Namun bahkan seorang yang berdiri begitu dekat dengan sistem Marx seperti Werner Sombart pun harus menyebut "gelengan kepala secara umum" sebagai pengaruh yang paling mungkin akan ditimbulkan jilid ketiga pada sebagian besar pembaca. "Kebanyakan orang cenderung tidak akan menganggap 'pemecahan' atas 'teka-teki tingkat laba rata-rata', sebagaimana yang kini disuguhkan, sebagai suatu 'pemecahan' sama sekali; mereka akan berpendapat bahwa simpul itu ditebas, tetapi sama sekali tidak diurai. Sebab apabila kini tiba-tiba muncul dari kedalaman suatu teori biaya produksi yang 'sangat lazim', maka hal itu berarti bahwa ajaran nilai yang termasyhur itu telah jatuh ke kolong meja. Sebab apabila pada akhirnya saya toh sampai pada biaya produksi untuk menjelaskan laba, lalu untuk apa seluruh aparatus teori nilai dan nilai-lebih yang berat dan rumit itu?"¹² Bagi dirinya sendiri, tentu saja, Sombart menyimpan suatu penilaian yang lain. Ia melakukan suatu upaya penyelamatan yang khas, namun dalam upaya itu begitu banyak dari apa yang hendak diselamatkan dibuang ke laut, sehingga bagi saya sangat dipertanyakan apakah dengan demikian ia akan memperoleh ucapan terima kasih dari pihak mana pun yang berkepentingan. Upaya penyelamatan yang bagaimanapun menarik dan mengandung pelajaran ini akan saya bahas lebih dekat lagi. Namun kita belum sampai sejauh itu; sebelum membahas si pembela anumerta, kita masih harus mendengarkan sang guru sendiri, dan justru dengan segala perhatian dan kecermatan yang layak diberikan kepada perkara sepenting ini.

Sebagaimana sudah sangat dapat dimengerti, Marx sendiri tentu telah harus meramalkan bahwa "pemecahannya" akan dituduh bukan sebagai "pemecahan", melainkan sebagai penyerahan hukum nilainya. Pada ramalan inilah agaknya berakar suatu pembelaan-diri yang diantisipasi, yang, kalaupun tidak menurut bentuknya, setidaknya menurut isinya, terdapat dalam karya Marx. Sebab Marx tidak lalai untuk menyisipkan di sejumlah tempat pernyataan yang tegas bahwa, terlepas dari penguasaan langsung atas hubungan-hubungan pertukaran oleh harga produksi yang menyimpang dari nilai, toh segala sesuatunya masih bergerak dalam kerangka hukum nilai, dan bahwa hukum nilai inilah yang, setidaknya "dalam analisis terakhir", masih menjalankan penguasaan atas harga. Ia berupaya membuat pandangan ini masuk akal melalui berbagai pemaparan dan keterangan. Pemaparan-pemaparan itu tidak menampilkan corak yang seragam. Mengenai pokok bahasan ini, Marx tidak menjalankan, sebagaimana lazimnya kebiasaannya, suatu alur pembuktian yang formal dan utuh, melainkan hanya memberikan sejumlah keterangan sambil lalu yang berjalan berdampingan, yang memuat berbagai dasar pembuktian atau gagasan yang dapat ditafsirkan sebagai dasar pembuktian. Dalam keadaan demikian tidak dapat dinilai pada dasar pembuktian yang manakah Marx sendiri hendak meletakkan bobot utamanya, dan bagaimana pula ia membayangkan hubungan timbal balik antara berbagai dasar pembuktian yang berlainan jenis itu. Bagaimanapun juga, apabila kita hendak berlaku adil baik terhadap sang guru maupun terhadap tugas kritis kita, kita berkewajiban memberikan perhatian yang paling saksama dan penghargaan yang tidak berat sebelah kepada masing-masing dasar pembuktian itu.

Argumen: sekalipun masing-masing barang terjual satu sama lain di atas atau di bawah nilainya, penyimpangan-penyimpangan yang berlawanan arah ini toh saling meniadakan, dan di dalam masyarakat itu sendiri – yakni jika ditinjau totalitas seluruh cabang produksi – maka toh jumlah harga produksi dari barang-barang yang dihasilkan tetap sama dengan jumlah nilainya.

Argumen: hukum nilai menguasai gerak harga, dengan cara bahwa pengurangan atau penambahan waktu kerja yang dituntut untuk produksi membuat harga produksi naik atau turun (III. 158, serupa III. 156).

Argumen: hukum nilai menguasai, menurut pernyataan Marx, dengan otoritas yang tak berkurang, pertukaran barang pada tahap-tahap "purba" tertentu, di mana perubahan nilai menjadi harga produksi belum lagi berlangsung.

Argumen: Dalam perekonomian yang rumit, hukum nilai setidaknya secara tidak langsung dan "dalam analisis terakhir" "mengatur" harga produksi, dengan cara bahwa nilai total barang yang ditetapkan menurut hukum nilai mengatur nilai-lebih total, sedangkan nilai-lebih total ini mengatur besarnya laba rata-rata dan karena itu tingkat laba umum (III. 159).

Marilah kita uji argumen-argumen ini, masing-masing tersendiri, mengenai kandungan isinya.

ARGUMEN PERTAMA

Oleh Marx diakui bahwa masing-masing barang, bergantung pada apakah dalam produksinya turut berperan kapital konstan dengan proporsi di atas atau di bawah rata-rata, saling dipertukarkan satu sama lain di atas atau di bawah nilainya. Namun ditekankan bahwa penyimpangan-penyimpangan individual ini, yang terjadi ke arah yang berlawanan, setiap saat saling mengompensasi atau meniadakan, sehingga jumlah seluruh harga yang dibayarkan toh persis sesuai dengan jumlah seluruh nilai. "Dalam perbandingan yang sama dengan yang membuat sebagian barang terjual di atas nilainya, sebagian lain terjual di bawah nilainya" (III. 135). "Harga total barang I – V (dalam contoh tabel yang dipakai Marx) dengan demikian akan sama dengan nilai totalnya, ... jadi pada kenyataannya merupakan ungkapan-uang bagi kuantum total kerja, yang lampau maupun yang baru ditambahkan, yang terkandung dalam barang I – V. Dan dengan cara inilah, di dalam masyarakat itu sendiri – jika ditinjau totalitas seluruh cabang produksi – jumlah harga produksi dari barang-barang yang dihasilkan sama dengan jumlah nilainya" (III. 138). Dari sini akhirnya ditarik – kurang lebih secara jelas – argumen bahwa setidaknya bagi jumlah seluruh barang, atau bagi masyarakat secara keseluruhan, hukum nilai membuktikan keberlakuannya. "Namun hal ini selalu terurai sedemikian rupa sehingga apa yang pada barang yang satu terlalu banyak masuk sebagai nilai-lebih, pada barang yang lain terlalu sedikit, dan bahwa karena itu penyimpangan-penyimpangan dari nilai yang terkandung dalam harga produksi barang pun saling meniadakan. Pada umumnya, dalam keseluruhan produksi kapitalis, hukum umum itu selalu hanya dengan cara yang sangat rumit dan secara hampiran menegakkan dirinya sebagai kecenderungan yang menguasai, sebagai rata-rata yang tak pernah dapat dipastikan dari fluktuasi-fluktuasi yang abadi." (III. 140)

Argumen ini bukanlah hal baru dalam literatur Marxis. Beberapa tahun lalu, dalam situasi yang serupa, argumen ini telah dikemukakan oleh Conrad Schmidt dengan tekanan yang besar dan barangkali dengan kejernihan asas yang bahkan lebih besar daripada yang kini dikemukakan Marx sendiri. Dalam upayanya memecahkan teka-teki tingkat laba rata-rata, Schmidt pun, sekalipun dengan motivasi-perantara yang berbeda dari Marx, sampai pada hasil bahwa masing-masing barang tidak dapat saling dipertukarkan satu sama lain dalam perbandingan kerja yang melekat padanya. Ia pun harus mengajukan kepada dirinya pertanyaan apakah dan bagaimana, mengingat hal itu, masih dapat dibicarakan keberlakuan hukum nilai Marx, dan ia menyandarkan pandangannya yang membenarkan justru pada argumen yang baru saja dipaparkan tadi.3

Saya menganggap argumen itu sepenuhnya tidak tepat. Hal ini telah saya nyatakan dahulu terhadap Conrad Schmidt dengan suatu alasan, yang hingga hari ini, dan juga terhadap Marx sendiri, tidak ada satu kata pun yang saya rasa perlu diubah. Oleh karena itu saya dapat puas dengan sekadar mengulanginya secara harfiah. Terhadap Schmidt saya telah bertanya, seberapa banyak atau seberapa sedikit yang masih tersisa dari hukum nilai yang termasyhur itu setelah pengakuan faktual tersebut, lalu saya lanjutkan demikian:

"Bahwa tidak banyak yang tersisa, justru paling baik diperlihatkan oleh upaya-upaya yang dikerahkan oleh sang penulis untuk membuktikan bahwa hukum nilai, kendati semua itu, tetap berlaku. Sebab setelah ia mengakui bahwa harga barang yang sebenarnya dapat menyimpang dari nilainya, ia mengamati bahwa penyimpangan ini toh hanya berkaitan dengan harga-harga yang diperoleh masing-masing barang; bahwa penyimpangan itu, sebaliknya, lenyap begitu kita meninjau jumlah seluruh barang individual, yakni produk nasional tahunan. Jumlah harga yang dibayarkan untuk seluruh produk nasional secara keseluruhan, demikianlah, memang sepenuhnya berimpit dengan jumlah nilai yang sungguh-sungguh terkristalisasi di dalamnya." (Böhm-Bawerk, hlm. 51)

Saya tidak tahu apakah saya akan berhasil mengilustrasikan secara semestinya jangkauan dari pernyataan ini. Setidaknya saya ingin mencoba memberikan suatu petunjuk tentangnya.

"Apakah sebenarnya tugas 'hukum nilai' itu? Tidak lain daripada menjelaskan hubungan pertukaran barang yang teramati dalam kenyataan. Kita ingin mengetahui mengapa dalam pertukaran, misalnya, satu jas bernilai persis sama dengan 20 ela kain linen, mengapa 10 pon teh bernilai sama dengan 1/2 ton besi, dan seterusnya. Demikian pula Marx sendiri telah memahami tugas penjelasan dari hukum nilai. Suatu hubungan pertukaran kini jelas hanya dapat dibicarakan antara berbagai barang individual yang berlainan satu sama lain. Namun begitu kita menatap seluruh barang yang diambil bersama-sama dan menjumlahkan harganya, maka kita dengan sendirinya dan dengan sengaja mengabaikan hubungan yang ada di dalam keseluruhan itu. Perbedaan-perbedaan harga relatif di dalamnya toh saling mengompensasi dalam jumlah. Misalnya, sebesar apa teh bernilai lebih tinggi dibanding besi, sebesar itu pula besi bernilai lebih rendah dibanding teh, dan sebaliknya. Bagaimanapun, sama sekali bukan jawaban atas pertanyaan kita, apabila kita menanyakan tentang hubungan pertukaran barang dalam perekonomian, lalu kita dijawab dengan jumlah harga yang diperoleh semuanya bersama-sama; sama tidak menjawabnya seperti apabila kita menanyakan berapa menit atau detik pemenang suatu lomba lari telah membutuhkan lebih sedikit untuk menempuh lintasan lari dibanding para pesaingnya, lalu kita dijawab: seluruh pesaing yang diambil bersama-sama telah membutuhkan 25 menit 13 detik" (Böhm-Bawerk).

"Kini perkaranya berdiri demikian. Atas pertanyaan masalah nilai, mula-mula kaum Marxis menjawab dengan hukum nilai mereka, bahwa barang saling dipertukarkan dalam perbandingan terhadap waktu kerja yang terwujud di dalamnya; lalu mereka menarik kembali – entah secara terselubung atau terang-terangan – jawaban ini untuk ranah pertukaran masing-masing barang, yakni justru untuk ranah yang padanya pertanyaan itu sama sekali bermakna, dan mereka mempertahankannya dalam kemurnian penuh hanya untuk seluruh produk nasional yang diambil bersama-sama, yakni untuk suatu ranah yang padanya pertanyaan itu, karena tak berobjek, sama sekali tidak dapat diajukan. Sebagai jawaban atas pertanyaan masalah nilai yang sesungguhnya, dengan demikian 'hukum nilai' itu, menurut pengakuan sendiri, didustakan oleh fakta-fakta, dan dalam satu-satunya penerapan di mana ia tidak didustakan, ia bukan lagi jawaban atas pertanyaan yang sesungguhnya menuntut pemecahan, melainkan paling-paling hanya dapat menjadi jawaban atas suatu pertanyaan lain yang manapun" (Böhm-Bawerk).

"Namun ia bahkan bukanlah jawaban atas suatu pertanyaan lain, melainkan sama sekali bukan jawaban, ia hanyalah suatu tautologi belaka. Sebab, sebagaimana diketahui setiap ekonom, apabila kita menembus pandangan melewati bentuk-bentuk lalu lintas uang yang menyelubungi, barang pada akhirnya kembali dipertukarkan dengan barang. Setiap barang yang masuk ke dalam pertukaran sekaligus adalah barang, tetapi juga merupakan harga bagi imbalannya. Jumlah barang dengan demikian identik dengan jumlah harga yang dibayarkan untuknya. Atau: harga untuk seluruh produk nasional yang diambil bersama-sama tidak lain adalah – produk nasional itu sendiri. Dalam keadaan demikian, memang benar sepenuhnya bahwa jumlah harga yang dibayarkan untuk seluruh produk nasional bersama-sama persis berimpit dengan jumlah nilai atau kerja yang terkristalisasi di dalam produk nasional itu. Hanya saja, ucapan tautologis ini tidak berarti adanya pertambahan pengetahuan yang sungguh-sungguh, dan khususnya tidak dapat berfungsi sebagai uji-arah bagi hukum yang konon menyatakan bahwa barang saling dipertukarkan menurut perbandingan kerja yang terwujud di dalamnya. Sebab dengan cara ini dapat pula diverifikasi sama baiknya – atau lebih tepatnya sama buruknya – setiap 'hukum' lain yang manapun, misalnya 'hukum' bahwa barang saling dipertukarkan menurut ukuran berat jenisnya! Sebab sekalipun memang satu pon emas, sebagai 'barang individual', tidak dipertukarkan dengan satu pon besi, melainkan dengan 40.000 pon besi, toh jumlah harga yang dibayarkan untuk satu pon emas dan 40.000 pon besi bersama-sama tidak lebih dan tidak kurang dari 40.000 pon besi dan 1 pon emas. Jadi berat total dari jumlah harga – 40.001 pon – persis sesuai dengan berat total sebesar 40.001 pon pula yang terwujud dalam jumlah barang, dan oleh karena itu beratlah yang merupakan ukuran sejati yang menurutnya hubungan pertukaran barang ditetapkan?!" (Böhm-Bawerk)

Dari penilaian ini, yang kini saya arahkan kepada Marx sendiri, tidak ada yang perlu saya kurangi maupun tambahkan, kecuali barangkali bahwa Marx, ketika mengajukan argumen yang dinilai di sini, masih melakukan suatu kekeliruan tambahan tertentu yang pada masanya tidak dilakukan oleh Schmidt. Dalam kutipan yang baru saja disebutkan pada hlm. 140 jilid ketiga, Marx berusaha menciptakan suasana yang mendukung gagasan bahwa hukum nilainya tetap dapat dianggap memiliki suatu penguasaan yang nyata, sekalipun kasus-kasus tunggal tidak mematuhinya, melalui sebuah pernyataan umum yang menjadikan cara kerja hukum ini sebagai pokoknya. Setelah ia berbicara tentang bahwa "penyimpangan-penyimpangan dari nilai yang terkandung dalam harga-harga produksi saling meniadakan satu sama lain", ia menambahkan keterangan bahwa hukum umum itu, dalam keseluruhan produksi kapitalistik, "umumnya selalu hanya menerapkan dirinya dengan cara yang sangat rumit dan kira-kira, sebagai suatu rata-rata yang harus dipastikan dari fluktuasi-fluktuasi yang tiada henti, sebagai kecenderungan yang menguasai".

Di sini Marx mencampuradukkan dua hal yang sangat berbeda: suatu rata-rata dari fluktuasi-fluktuasi dan suatu rata-rata di antara besaran-besaran yang secara tetap dan pada dasarnya tidak sama. Ia memang benar sepenuhnya bahwa banyak hukum umum hanya menerapkan dirinya dengan cara bahwa rata-rata yang dihasilkan dari fluktuasi-fluktuasi yang terus-menerus sesuai dengan norma yang dinyatakan oleh hukum tersebut. Setiap ekonom mengenal hukum-hukum semacam itu, misalnya hukum bahwa harga-harga setara dengan biaya produksi, bahwa besarnya upah kerja dalam berbagai cabang pekerjaan, besarnya laba modal dalam berbagai cabang produksi cenderung menempatkan diri pada tingkat yang sama, terlepas dari alasan-alasan khusus ketidaksamaan, dan setiap ekonom cenderung mengakui hukum-hukum ini sebagai "hukum", meskipun barangkali tidak ada satu pun kasus yang sesuai dengannya dengan ketelitian yang sangat teliti. Karena itulah, dalam rujukan kepada cara kerja yang hanya menampakkan diri pada rata-rata dan secara keseluruhan, terdapat suatu unsur yang sangat memikat. Tetapi kasus yang demi kepentingannya Marx menggunakan rujukan yang memikat ini sama sekali berlainan jenisnya. Dalam kasus harga-harga produksi yang menyimpang dari "nilai-nilai", yang dipersoalkan bukanlah fluktuasi-fluktuasi, melainkan perbedaan-perbedaan yang niscaya dan tetap. Dari dua barang A dan B, yang mewujudkan jumlah kerja yang sama, tetapi dihasilkan dengan modal-modal yang susunan organisnya tidak sama, bukan masing-masing berfluktuasi di sekitar satu dan rata-rata yang sama, misalnya di sekitar rata-rata 50 fl., melainkan masing-masing secara tetap menempati tingkat harga yang berbeda, misalnya barang A, yang di dalamnya hanya sedikit modal konstan turut berperan dan menuntut bunga, menempati tingkat 40 fl., barang B, yang harus membungai banyak modal konstan, menempati tingkat 60 fl., dengan kemungkinan fluktuasi di sekitar tingkat-tingkat yang berbeda ini. Seandainya kita hanya berurusan dengan fluktuasi di sekitar tingkat yang sama, sehingga misalnya kadang barang A bernilai 48 fl. dan barang B 52 fl., kadang sebaliknya barang A 52 dan barang B hanya 48 fl., maka memang dapat dikatakan bahwa secara rata-rata kedua barang itu berada pada harga yang sama tinggi, dan dalam keadaan demikian, andai dapat diamati secara umum, terlepas dari fluktuasi-fluktuasi itu, orang dapat melihat suatu verifikasi atas "hukum" bahwa barang-barang yang di dalamnya terwujud jumlah kerja yang sama saling dipertukarkan atas dasar yang setara.

Tetapi apabila dari dua barang yang mewujudkan jumlah kerja yang sama, yang satu secara tetap dan teratur mempertahankan harga 40 dan yang lain sama tetap dan teraturnya mempertahankan harga 60 fl., maka memang seorang matematikawan dapat menarik suatu rata-rata 50 fl. di antara besaran-besaran yang tidak sama ini pula. Tetapi rata-rata semacam itu mempunyai makna yang sama sekali lain, atau lebih tepat dikatakan, bagi hukum kita ia sama sekali tidak mempunyai makna. Suatu rata-rata matematis memang selalu dapat ditarik juga di antara besaran-besaran yang paling tidak sama, dan setelah ditarik, penyimpangan-penyimpangan yang berlawanan darinya selalu "saling meniadakan" menurut besarnya: sebesar mana yang satu melampaui rata-rata, sebesar itu pula yang lain niscaya harus tertinggal di bawahnya! Tetapi jelaslah, melalui permainan dengan "rata-rata" dan "penyimpangan-penyimpangan yang saling meniadakan" semacam itu, kenyataan bahwa di antara barang-barang yang biaya kerjanya sama tetapi susunan modalnya tidak sama terdapat selisih-selisih harga yang niscaya dan tetap, sama sekali tidak dapat ditafsirkan ulang dari suatu penyangkalan menjadi suatu penegasan atas hukum nilai yang diklaim itu, sebagaimana orang barangkali boleh berkecenderungan dan berhak membuktikan dengannya dalil bahwa semua jenis hewan, termasuk lalat sehari dan gajah, memiliki rentang hidup yang sama. Sebab tentu saja gajah rata-rata hidup 100 tahun, lalat sehari hanya satu hari saja. Tetapi di antara besaran-besaran ini dapat ditarik suatu rata-rata bersama 50 tahun; sebesar mana gajah hidup lebih lama, sebesar itu pula lalat sehari hidup lebih singkat; penyimpangan-penyimpangan dari rata-rata "jadi saling meniadakan", dan secara keseluruhan serta secara rata-rata pun berlakulah hukum bahwa semua jenis hewan memiliki rentang hidup yang sama! –

Mari kita lanjutkan.

ARGUMEN KEDUA

Di berbagai tempat dalam jilid ketiga Marx menuntut bagi hukum nilai bahwa ia "menguasai gerak harga-harga", dan ia menganggap kenyataan bahwa, di mana waktu kerja yang dibutuhkan untuk produksi barang-barang turun, harga-harga pun turun, di mana ia naik, harga-harga pun naik, dalam keadaan-keadaan yang selebihnya tetap sama, sebagai bukti penguasaan ini.4

Kesimpulan ini pun bertumpu pada suatu kekeliruan berpikir yang demikian menyolok sehingga mengherankan bagaimana hal itu dapat luput dari Marx sendiri. Bahwa, dalam keadaan-keadaan yang selebihnya tetap sama, harga-harga naik dan turun bersama besarnya pengeluaran kerja, jelas membuktikan tidak lebih dan tidak kurang daripada bahwa kerja merupakan salah satu faktor penentu harga. Jadi ia membuktikan suatu kenyataan yang disepakati oleh semua orang, yang bukan pendapat khusus Marx, melainkan juga sama persis diakui dan diajarkan oleh kaum klasik dan "ekonom vulgar". Tetapi Marx dengan hukum nilainya telah mengklaim jauh lebih banyak: ia telah mengklaim bahwa pengeluaran kerja adalah satu-satunya keadaan yang mengatur hubungan-hubungan pertukaran barang-barang (terlepas dari fluktuasi sesaat yang kebetulan dari penawaran dan permintaan). Bahwa hukum ini menguasai gerak harga-harga, jelas baru dapat dikatakan apabila suatu perubahan harga (yang tetap) tidak dapat ditimbulkan atau diperantarai oleh sebab lain mana pun selain oleh suatu perubahan dalam besarnya waktu kerja. Tetapi hal itu sama sekali tidak diklaim Marx dan tidak dapat ia klaim; sebab terletak dalam konsekuensi ajarannya sendiri bahwa suatu perubahan harga, misalnya, harus terjadi pula apabila pengeluaran kerja tetap tidak berubah, tetapi akibat pemendekan proses produksi dan semacamnya susunan organis modal berubah. Jadi terhadap dalil yang dikemukakan Marx dapat begitu saja disandingkan dalil lain dengan kesahihan yang sepenuhnya setara: bahwa harga-harga naik dan turun, di mana dalam keadaan-keadaan yang selebihnya tetap sama lamanya penanaman modal naik dan turun. Tetapi sejauh dengan dalil yang belakangan ini jelas-jelas tidak dapat dibuktikan atau diverifikasi bahwa lamanya penanaman modal adalah satu-satunya keadaan yang menguasai hubungan-hubungan pertukaran, sama sekali sebegitu sedikit pula sebaliknya orang dapat melihat dalam keadaan bahwa perubahan-perubahan dalam besarnya pengeluaran kerja sama sekali meninggalkan jejak pada gerak harga, suatu pengukuhan atas hukum yang diklaim bahwa kerja sajalah yang menguasai hubungan-hubungan pertukaran.

ARGUMEN KETIGA

Argumen ini tidak dikembangkan oleh Marx dengan kejelasan yang tegas, tetapi bahan-bahan untuknya terjalin ke dalam uraian-uraian yang menjadikan penjelasan atas "pertanyaan yang sesungguhnya sulit", "bagaimana penyetaraan tingkat laba menjadi tingkat laba umum berlangsung", sebagai pokoknya (III. 153 dst.)

Inti argumen itu paling singkat dapat dikuliti dengan cara berikut. Marx mengklaim - dan harus mengklaim -, bahwa "tingkat-tingkat laba pada mulanya sangat berbeda" (III. 136), dan bahwa penyetaraannya menjadi suatu tingkat laba umum baru "merupakan suatu hasil dan tidak dapat menjadi suatu titik tolak" (III. 153). Tesis ini selanjutnya memuat klaim bahwa terdapat suatu keadaan "asali" tertentu, yang di dalamnya "transformasi nilai-nilai menjadi harga-harga produksi" yang menuju penyetaraan tingkat-tingkat laba belum berlangsung, dan yang oleh karenanya masih berada di bawah penguasaan hukum nilai yang penuh dan harfiah. Jadi bagi hukum ini dituntut suatu wilayah keberlakuan tertentu yang sepenuhnya patuh kepadanya.

Marilah kita amati lebih cermat, wilayah-wilayah mana yang seharusnya itu, dan bukti-bukti apa yang dikemukakan Marx untuk menunjukkan bahwa di dalamnya hubungan-hubungan pertukaran benar-benar hanya dinormakan oleh kerja yang terwujud dalam barang-barang.

Menurut Marx, penyetaraan tingkat-tingkat laba terikat pada dua prasyarat: pertama, bahwa pada umumnya sudah berkuasa suatu cara produksi kapitalistik (III. 154), dan kedua, bahwa persaingan menjalankan kegiatan perataannya secara efektif (III. 136, 151, 159, 175/76). Oleh karena itu, secara logis, "keadaan-keadaan asali" dengan rezim murni hukum nilai harus kita cari di tempat yang kekurangan salah satu dari kedua prasyarat itu (atau tentu saja kedua-duanya sekaligus).

Mengenai kasus pertama Marx sendiri telah menyatakan diri secara panjang lebar. Ia menjadikan proses-proses dalam suatu keadaan masyarakat yang di dalamnya produksi belum dilakukan secara kapitalistik, melainkan "di mana alat-alat produksi menjadi milik pekerja", sebagai pokok dari suatu lukisan yang terperinci, yang memang menunjukkan harga-harga barang pada tahap ini dikuasai secara eksklusif oleh nilai-nilainya. Untuk memungkinkan pembaca membuat penilaian yang tak berprasangka tentang seberapa banyak klaim atas daya pembuktian yang melekat pada lukisan ini, saya harus menyajikannya dalam keseluruhan bunyinya.

"Punctum saliens akan paling jelas tampak apabila kita memahami persoalannya demikian: Andaikan para pekerja itu sendiri memiliki alat produksi mereka masing-masing dan saling mempertukarkan komoditas mereka. Komoditas-komoditas itu kemudian bukanlah produk kapital. Sesuai dengan sifat teknis pekerjaan mereka, nilai alat kerja dan bahan kerja yang digunakan dalam berbagai cabang kerja akan berbeda-beda; demikian pula, terlepas dari nilai yang tidak sama dari alat produksi yang digunakan, dibutuhkan massa alat produksi yang berbeda-beda untuk massa kerja tertentu, bergantung pada apakah suatu komoditas tertentu dapat diselesaikan dalam satu jam, sedangkan komoditas lain baru selesai dalam satu hari, dan seterusnya. Andaikan selanjutnya bahwa para pekerja ini bekerja rata-rata dengan jumlah waktu yang sama, terhitung pula penyetaraan-penyetaraan yang timbul dari perbedaan intensitas kerja dan sebagainya. Maka dua orang pekerja, dalam komoditas yang menjadi produk kerja harian mereka, pertama-tama akan menggantikan pengeluaran mereka, yakni harga pokok alat produksi yang dipakai. Ini akan berbeda-beda menurut sifat teknis cabang kerja mereka. Kedua, keduanya akan menciptakan nilai baru dalam jumlah yang sama, yaitu hari kerja yang ditambahkan pada alat produksi. Ini mencakup upah kerja mereka ditambah nilai lebih, yaitu kerja lebih yang melampaui kebutuhan-kebutuhan pokok mereka, yang hasilnya namun menjadi milik mereka sendiri. Jika kita merumuskannya secara kapitalistik, maka keduanya memperoleh upah kerja yang sama ditambah laba yang sama, tetapi juga nilai yang sama, yang dinyatakan misalnya dalam produk hari kerja sepuluh jam. Tetapi pertama-tama nilai komoditas mereka akan berbeda. Dalam komoditas I, misalnya, terkandung bagian nilai yang lebih besar untuk alat produksi yang dikeluarkan daripada dalam komoditas II. Tingkat laba pun akan sangat berbeda untuk I dan II, jika di sini kita menamai perbandingan nilai lebih terhadap nilai keseluruhan alat produksi yang dikeluarkan sebagai tingkat laba. Bahan-bahan kehidupan yang dikonsumsi I dan II setiap hari selama produksi, dan yang menggantikan upah kerja, di sini akan membentuk bagian dari alat produksi yang dimajukan, yang biasanya kita namai kapital variabel. Tetapi nilai-nilai lebih untuk waktu kerja yang sama akan tetap sama bagi I dan II, atau lebih tepat lagi: karena I dan II masing-masing memperoleh nilai produk satu hari kerja, mereka, setelah dikurangi nilai unsur-unsur "konstan" yang dimajukan, memperoleh nilai yang sama, yang sebagiannya dapat dipandang sebagai penggantian bahan kehidupan yang dikonsumsi dalam produksi, dan bagian lainnya sebagai nilai lebih yang berlebih di atasnya. Jika I memiliki pengeluaran yang lebih besar, maka pengeluaran itu digantikan oleh bagian nilai yang lebih besar dari komoditasnya, yang menggantikan bagian "konstan" tersebut, dan karena itu ia juga harus mengubah kembali bagian yang lebih besar dari nilai keseluruhan produknya menjadi unsur-unsur material dari bagian konstan ini, sedangkan II, jika ia menerima lebih sedikit untuk itu, juga semakin sedikit yang harus diubahnya kembali. Perbedaan tingkat laba di bawah pengandaian ini dengan demikian merupakan suatu keadaan yang tidak relevan, persis seperti halnya bagi pekerja upahan dewasa ini tidak relevan dalam tingkat laba mana kuantitas nilai lebih yang diperas darinya itu dinyatakan, dan persis seperti dalam perdagangan internasional perbedaan tingkat laba pada berbagai bangsa merupakan keadaan yang tidak relevan bagi pertukaran komoditas mereka." (III. 154 dst.)

Dan kini Marx, dari cara bertutur hipotetis "pengandaian" dengan kata "andaikan" dan "akan", sekaligus beralih ke kesimpulan-kesimpulan yang sepenuhnya positif. "Pertukaran komoditas menurut nilainya atau kira-kira menurut nilainya dengan demikian menuntut tahap yang jauh lebih rendah daripada pertukaran menurut harga produksi ..." .. dan "oleh karena itu sepenuhnya tepat untuk memandang nilai komoditas bukan hanya secara teoretis, melainkan juga secara historis sebagai prius dari harga produksi. Ini berlaku bagi keadaan-keadaan di mana alat produksi menjadi milik pekerja, dan keadaan ini terdapat baik di dunia kuno maupun di dunia modern, pada petani pemilik tanah yang bekerja sendiri dan pada perajin" (III. 155, 156).

Apa yang harus kita pikirkan tentang uraian-uraian ini?

Pertama-tama saya memohon kepada pembaca untuk meyakinkan diri dan menetapkan bahwa bagian yang ditulis dalam nada "pengandaian" itu memang memuat suatu gambaran yang dipertahankan dengan sangat konsisten tentang bagaimana lalu lintas pertukaran dalam keadaan-keadaan masyarakat primitif itu seharusnya tampak, andaikan segala sesuatu berlangsung menurut hukum nilai Marx, tetapi di dalamnya tidak terkandung sedikit pun bayangan sebuah pembuktian atau bahkan upaya pembuktian bahwa di bawah pengandaian yang diberikan segala sesuatu memang harus berlangsung demikian. Marx menuturkan, "mengandaikan", menyatakan, tetapi ia tidak membuktikan dengan sepatah kata pun. Oleh karena itu merupakan lompatan yang berani, untuk tidak mengatakan naif, ketika Marx atas dasar itu, seakan-akan ia telah berhasil melaksanakan suatu jalan pembuktian yang sebenarnya, memproklamasikan sebagai hasil yang sudah pasti bahwa "oleh karena itu" sepenuhnya tepat untuk memandang nilai juga secara historis sebagai prius dari harga produksi. Pada kenyataannya tidak dapat dikatakan bahwa Marx dengan "pengandaian"-nya telah membuktikan keberadaan historis suatu keadaan semacam itu; ia semata-mata mempostulatkannya dari teorinya sendiri sebagai sebuah hipotesis, yang mengenai kredibilitasnya tentu saja harus tetap terbuka bagi kita untuk membentuk penilaian yang berdasar.

Pada kenyataannya kini terdapat keberatan-keberatan internal maupun eksternal yang paling serius terhadap kredibilitasnya. Hipotesis itu secara internal tidak mungkin, dan sejauh di sini dapat dibicarakan suatu uji pengalaman, uji itu pun berbicara melawannya.

Hipotesis itu secara internal sama sekali tidak mungkin. Sebab ia akan menuntut bahwa bagi para produsen, waktu di mana mereka menerima imbalan atas kegiatan mereka merupakan sesuatu yang sepenuhnya tidak relevan – dan hal itu secara ekonomis dan psikologis mustahil. Marilah kita perjelas hal ini dengan menyusun secara angka contoh yang dipakai Marx sendiri. Marx membandingkan dua pekerja, I dan II. Pekerja I mewakili suatu cabang produksi yang secara teknis membutuhkan alat produksi persiapan, bahan mentah, perkakas, dan bahan penolong yang relatif banyak dan bernilai tinggi. Marilah kita andaikan, untuk menyusun contoh itu secara angka, bahwa pembuatan alat produksi persiapan menuntut lima tahun kerja, sedangkan pengolahannya menjadi produk jadi berlangsung pada tahun kerja keenam. Marilah kita andaikan selanjutnya, yang tentu tidak bertentangan dengan semangat hipotesis Marx yang justru hendak menggambarkan suatu keadaan yang cukup primitif dan asli, bahwa pekerja I melaksanakan kedua macam pekerjaan itu sendiri, baik pembuatan alat produksi persiapan maupun pengolahannya menjadi produk jadi. Dalam keadaan ini ia jelas akan menerima imbalan, juga untuk kerja persiapan tahun-tahun pertama, dari penjualan produk jadi, yang tidak dapat terjadi lebih awal daripada akhir tahun kerja keenam, atau dengan kata lain, ia harus menunggu imbalan untuk kerja tahun pertama selama lima tahun, untuk kerja tahun kedua selama empat tahun, untuk kerja tahun ketiga selama tiga tahun, dan seterusnya, atau rata-rata atas keenam tahun kerja itu ia harus menunggu kira-kira tiga tahun sesudah kerja dilakukan untuk memperoleh imbalan. Sebaliknya pekerja II, yang mewakili suatu cabang produksi yang membutuhkan alat produksi persiapan relatif sedikit, mungkin akan menyelesaikan seluruh pekerjaan persiapan dan penyelesaian dalam satu putaran yang hanya berlangsung satu bulan, dan karena itu hampir segera sesudah menunaikan kerjanya ia pun akan menerima imbalan untuk kerja itu dari hasil produknya.

Hipotesis Marx kini mengandaikan bahwa harga jenis komoditas I dan II ditetapkan persis menurut perbandingan jumlah kerja yang dikeluarkan, sehingga produk enam tahun kerja dalam jenis I dijual persis sama mahalnya dengan jumlah produk enam tahun kerja dalam jenis II. Dari situ lebih lanjut mengikuti bahwa dalam jenis I si pekerja, untuk setiap tahun kerja, merasa puas dengan pembayaran jumlah yang sama yang tertunda rata-rata tiga tahun, yang oleh pekerja dalam jenis II diterima tanpa penundaan apa pun; bahwa karena itu penundaan waktu dalam penerimaan upah merupakan suatu keadaan yang sama sekali tidak berperan dalam hipotesis Marx dan khususnya tidak mampu memberikan pengaruh apa pun terhadap persaingan, terhadap penempatan yang lebih kuat atau lebih lemah pada berbagai cabang produksi, sehubungan dengan apakah cabang-cabang itu, karena panjangnya periode produksinya, membebankan waktu tunggu yang lebih pendek atau lebih panjang.

Apakah ini mungkin, saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Pada kesempatan lain Marx mengakui dengan tepat bahwa keadaan-keadaan sampingan tertentu yang melekat pada kerja suatu cabang produksi, intensitas khusus, kerahan tenaga, ketidaknyamanan suatu pekerjaan, melalui permainan persaingan memaksakan suatu kompensasi dalam tingginya upah kerja. Apakah penundaan imbalan kerja selama bertahun-tahun tidak juga seharusnya merupakan suatu keadaan yang membutuhkan kompensasi? Dan lebih lanjut: andaikan benar-benar semua produsen sama-sama rela menunggu upah mereka selama tiga tahun seolah-olah tidak menunggu sama sekali, dapatkah mereka semua memang menunggu? Marx memang mengandaikan "para pekerja memiliki alat produksi mereka masing-masing", tetapi ia tidak mengandaikan dan tampaknya juga tidak boleh mengandaikan bahwa masing-masing dari mereka memiliki alat produksi sebanyak yang dibutuhkan untuk menjalankan cabang produksi yang, karena alasan teknis, menuntut penguasaan atas jumlah alat produksi terbesar. Oleh karena itu berbagai cabang produksi sama sekali tidak sama-sama dapat dijangkau oleh semua produsen. Sebaliknya, cabang-cabang yang menuntut uang muka alat produksi paling sedikit adalah yang paling umum dapat dijangkau, sedangkan cabang-cabang dengan kebutuhan kapital yang lebih besar hanya dapat dijangkau oleh minoritas yang semakin kecil. Apakah ini sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap kenyataan bahwa penawaran dalam cabang-cabang yang disebut belakangan mengalami pembatasan tertentu, yang melaluinya pada akhirnya harga produknya dinaikkan melampaui tingkat sebanding dari cabang-cabang yang dijalankan tanpa syarat sampingan yang menjengkelkan berupa menunggu, dan yang dapat dijangkau oleh lingkaran pesaing yang jauh lebih luas?

Bahwa di sini ada suatu ketidakmungkinan tertentu yang bermain, juga dirasakan oleh Marx sendiri. Pertama-tama ia pun mencatat, meski dalam bentuk lain, bahwa pengukuran harga semata-mata menurut perbandingan terhadap jumlah kerja menuju ke suatu ketidaksebandingan dalam arah yang lain. Ia mencatat hal ini dalam bentuk – yang lagi pula juga tepat – bahwa "nilai lebih" yang dicapai para pekerja kedua cabang produksi melampaui kebutuhan penghidupan mereka, jika diperhitungkan atas alat produksi yang dimajukan, menampilkan tingkat laba yang tidak sama. Tentu saja muncul pertanyaan, mengapa ketidaksamaan ini tidak seharusnya diratakan oleh persaingan, sebagaimana halnya dalam masyarakat "kapitalistik"? Marx merasakan keharusan untuk memberikan jawaban atas hal ini, dan inilah pula satu-satunya unsur yang membawa sifat suatu upaya pemberian dasar di samping sekadar pernyataan-pernyataan belaka. Apa yang kini dijawabnya? Yang esensial, katanya, adalah bahwa kedua pekerja itu untuk waktu kerja yang sama memperoleh nilai-nilai lebih yang sama, atau lebih tepat lagi dirumuskan: bahwa mereka untuk waktu kerja yang sama "setelah dikurangi nilai unsur-unsur konstan yang dimajukan, memperoleh nilai yang sama", dan di bawah pengandaian ini perbedaan tingkat laba bagi mereka merupakan "suatu keadaan yang tidak relevan, persis seperti halnya bagi pekerja upahan dewasa ini tidak relevan dalam tingkat laba mana kuantitas nilai lebih yang diperas darinya itu dinyatakan"

Apakah ini suatu perbandingan yang tepat? Apabila saya tidak memperoleh sesuatu, maka memang dapat sepenuhnya tidak relevan bagi saya, apakah hal yang tidak saya peroleh itu, jika diperhitungkan atas kapital pihak ketiga, merupakan persentase yang tinggi atau rendah. Tetapi apabila saya pada dasarnya memperoleh sesuatu, sebagaimana pekerja dalam hipotesis non-kapitalistik seharusnya memperoleh nilai lebih sebagai laba, maka bagi saya sama sekali tidak tidak relevan, menurut ukuran mana laba ini harus diukur dan dibagikan. Boleh jadi merupakan pertanyaan terbuka, apakah laba ini harus diukur dan dibagikan semata-mata menurut ukuran kerja yang dilakukan ataukah juga menurut ukuran alat produksi yang dimajukan: tetapi bahwa hal ini "tidak relevan" begitu saja bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tentu tidak demikian, dan oleh karena itu apabila dinyatakan kenyataan yang agak tidak mungkin bahwa tingkat laba yang tidak sama dapat terus berdampingan secara tetap tanpa diratakan oleh persaingan, maka hal ini tentu tidak dapat dimotivasi dengan alasan bahwa tinggi-rendahnya tingkat laba merupakan sesuatu yang sama sekali tidak relevan bagi kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan.

Namun, apakah para pekerja dalam hipotesis Marx benar-benar diperlakukan secara setara, bahkan hanya sebagai pekerja? Untuk waktu kerja yang sama mereka memang menerima nilai dan nilai lebih yang sama sebagai upah, tetapi mereka menerimanya pada waktu yang berbeda: yang seorang langsung sesudah pekerjaan dilakukan, sedangkan yang lain harus menunggu imbalannya selama bertahun-tahun. Apakah ini sungguh-sungguh suatu perlakuan yang setara, ataukah proses ini justru mengandung suatu ketidaksetaraan dalam keadaan sampingan dari pengupahan, suatu keadaan yang tidak mungkin tidak penting bagi para pekerja, melainkan sebaliknya — sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman, dan memang dengan hak penuh — sangat mereka rasakan dengan peka? Pekerja mana pun pada masa kini, akankah ia menganggap tidak penting apakah ia menerima upah mingguannya pada Sabtu malam atau justru setahun kemudian atau tiga tahun kemudian? Dan ketidaksetaraan yang begitu peka itu dianggap tidak akan diratakan oleh persaingan? Ini adalah suatu ketidakmungkinan yang penjelasannya tetap menjadi utang Marx kepada kita.

Akan tetapi, hipotesisnya bukan hanya tidak mungkin secara internal, melainkan juga bertentangan dengan fakta-fakta pengalaman. Memang, mengenai kasus yang diandaikan dalam kemurnian tipikalnya yang penuh, tentu kita sama sekali tidak memiliki pengalaman langsung, sebab suatu keadaan di mana kerja upahan sama sekali tidak ada, dan setiap produsen merupakan pemilik mandiri atas alat-alat produksinya, dalam kemurniannya yang penuh tidak lagi dapat diamati di mana pun. Namun, bahkan "di dalam dunia modern" pun terdapat keadaan dan hubungan yang setidaknya secara mendekati sesuai dengan hipotesis Marx. Hubungan-hubungan itu, sebagaimana ditekankan sendiri oleh Marx (III. 156), terdapat "pada petani pemilik tanah yang menggarap sendiri dan pada tukang". Menurut hipotesis Marx, kini seharusnya dapat diamati bahwa besarnya pendapatan orang-orang ini sepenuhnya tidak bergantung pada besarnya modal yang mereka pergunakan dalam produksi mereka. Masing-masing seharusnya memperoleh jumlah upah kerja dan nilai lebih yang sama, tidak peduli apakah modal yang diwakili oleh alat-alat produksi mereka bernilai 10 fl. atau 10.000 fl. Akan tetapi, saya kira tidak akan menemui keraguan dari pembaca mana pun apabila saya menegaskan bahwa di kalangan yang digambarkan tadi memang jarang terdapat pembukuan yang begitu cermat sehingga keadaannya dapat ditetapkan dengan ketepatan angka, tetapi kesan yang berlaku tentu tidak akan menegaskan hipotesis Marx, melainkan sebaliknya akan mengarah pada kenyataan bahwa secara umum pada cabang-cabang usaha dan orang-orang yang bekerja dengan dukungan modal yang cukup besar juga ditemukan pendapatan yang lebih melimpah dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki apa pun selain lengan sang produsen.

Uji fakta yang tidak menguntungkan bagi hipotesis Marx ini akhirnya memperoleh penguatan tidak langsung yang tidak sedikit dari kenyataan bahwa juga dalam kasus kedua — yang menurut teori Marx semestinya menunjukkan kekuasaan murni hukum nilai, dan yang jauh lebih terbuka bagi uji fakta langsung — pada kenyataannya tidak dapat ditemukan jejak sedikit pun dari jalannya gejala yang diklaim oleh Marx.

Sebab Marx mengajarkan, sebagaimana kita ketahui, bahwa juga dalam suatu perekonomian yang telah berkembang penuh, perataan tingkat-tingkat laba yang semula berbeda baru terjadi melalui pengaruh persaingan. "Jika komoditas dijual menurut nilainya" — demikian tulisnya pada bagian yang paling rinci dari tempat-tempat yang bersangkutan5 —, "maka, sebagaimana telah diuraikan, timbullah tingkat laba yang sangat berbeda-beda dalam berbagai lingkup produksi, sesuai dengan susunan organik yang berbeda dari massa modal yang ditanamkan di dalamnya. Akan tetapi, modal menarik diri dari suatu lingkup dengan tingkat laba rendah dan melemparkan dirinya ke lingkup lain yang menghasilkan laba lebih tinggi. Melalui perpindahan keluar-masuk yang tak henti-henti ini, dengan satu kata: melalui pembagiannya di antara berbagai lingkup, sesuai dengan apakah di sana tingkat laba turun, di sini naik, modal menimbulkan hubungan antara penawaran dan permintaan sedemikian rupa sehingga laba rata-rata dalam berbagai lingkup produksi menjadi sama".

Secara logis, kini kita seharusnya mengharapkan bahwa di mana pun jenis persaingan modal ini belum, atau setidaknya belum sepenuhnya, menjadi efektif, di situ juga akan dijumpai bentuk semula pembentukan harga dan laba yang ditegaskan oleh Marx, dalam kemurniannya yang penuh atau setidaknya secara mendekati. Dengan kata lain, seharusnya muncul jejak-jejak faktual bahwa sebelum perataan tingkat-tingkat laba, cabang-cabang produksi dengan modal konstan yang relatif terbesar memperoleh tingkat laba yang terkecil, dan cabang-cabang dengan modal konstan terkecil memperoleh tingkat laba yang terbesar. Jejak-jejak semacam itu pada kenyataannya tidak dapat ditemukan di mana pun, baik dalam masa lampau historis maupun pada masa kini. Hal ini belum lama berselang telah dipaparkan secara begitu meyakinkan oleh seorang sarjana yang dalam hal-hal lain sangat condong kepada Marx, sehingga saya tidak dapat berbuat lebih baik selain sekadar mengutip kata-kata Werner Sombart.

"Tidak pernah dan sama sekali tidak pernah perkembangan itu berlangsung dengan cara yang dikemukakan tadi, dan tidak pula sedang berlangsung demikian — padahal hal itu setidaknya semestinya terjadi pada setiap cabang usaha yang baru muncul. Andaikan pandangan itu benar, maka kemajuan kapitalisme secara historis tentu harus dibayangkan demikian: bahwa ia mula-mula menduduki lingkup dengan kerja hidup yang dominan, jadi dengan susunan modal di bawah rata-rata (c kecil, v besar), dan kemudian perlahan-lahan beralih ke lingkup-lingkup lain seiring turunnya harga akibat melimpahnya produksi dalam lingkup-lingkup pertama tadi. Dalam suatu lingkup di mana alat-alat produksi menonjol dibandingkan kerja hidup, kapitalisme — apabila bergantung pada nilai lebih yang dihasilkan secara individual — secara wajar pada awalnya akan merealisasikan laba yang demikian kecil sehingga tidak ada yang menggodanya untuk berpindah ke lingkup itu. Akan tetapi, secara historis produksi kapitalis justru sebagian mulai berkembang tepat dalam cabang-cabang produksi jenis yang terakhir ini: pertambangan dan sebagainya. Modal tidak akan mempunyai alasan untuk beralih dari lingkup sirkulasi, tempat ia merasa sangat nyaman, ke lingkup produksi, tanpa harapan akan suatu "laba yang lazim di negeri itu", yang — hal ini toh harus dipertimbangkan — sudah ada sebelum segala produksi kapitalis dalam bentuk laba komersial. Tetapi kekeliruan asumsi itu juga dapat dibuktikan dari sisi yang lain: Andaikan dalam lingkup dengan kerja hidup yang dominan, pada awal produksi kapitalis, diperoleh laba yang luar biasa tinggi, maka itu mengandaikan bahwa modal seketika itu juga mempekerjakan kalangan produsen yang bersangkutan, yang sampai saat itu mandiri, sebagai pekerja upahan — yakni, katakanlah, dengan upah setengah dari yang sebelumnya mereka peroleh — dan memasukkan seluruh selisihnya ke kantungnya sendiri, dengan harga komoditas yang mula-mula sesuai dengan nilai. Lebih jauh, ini akan menjadi suatu gambaran yang sepenuhnya tidak realistis: produksi kapitalis dimulai dengan keberadaan orang-orang yang telah merosot status sosialnya dalam cabang-cabang produksi yang sebagian sama sekali baru diciptakan, dan dalam penetapan harga sudah pasti sejak semula bertolak dari pengeluaran modal" (Werner Sombart).

"Akan tetapi, sebagaimana asumsi tentang adanya keterkaitan empiris antara tingkat laba dan tingkat nilai lebih itu keliru secara historis, yakni bagi awal-mula kapitalisme, demikian pula — bahkan lebih lagi — keliru bagi keadaan cara produksi kapitalis yang telah berkembang. Apakah dewasa ini suatu usaha didirikan dengan susunan modal yang sangat tinggi atau pun sangat rendah: penetapan harga produknya serta perhitungan (dan realisasi) labanya berlangsung semata-mata berdasarkan pengeluaran modal".

"Apabila pada setiap masa, dahulu maupun sekarang, modal-modal tak henti-hentinya memang berpindah dari satu lingkup produksi ke lingkup yang lain, maka hal itu tentu sebab utamanya terletak pada ketidaksetaraan tingkat-tingkat laba. Namun, ketidaksetaraan ini sudah pasti tidak berasal dari susunan organik modal, melainkan dari sebab-sebab persaingan apa pun. Cabang-cabang produksi yang dewasa ini paling cenderung berkembang pesat sebagian justru adalah cabang-cabang dengan susunan modal yang sangat tinggi, seperti pertambangan, pabrik kimia, pabrik bir, penggilingan bertenaga uap, dan sebagainya. Apakah itu bidang-bidang yang dari sana modal telah ditarik kembali, telah berpindah keluar, sampai produksi menyusut sebagaimana mestinya, dan harga naik?"6

Paparan ini akan menyediakan bahan bagi sejumlah penerapan praktis yang berbalik melawan teori Marx. Untuk sementara saya hanya menarik satu penerapan saja, yang berkaitan langsung dengan argumen di mana penyelidikan kita justru sedang berhenti: hukum nilai, yang sebagaimana diakui dalam perekonomian nasional yang tunduk pada persaingan penuh harus menyerahkan kekuasaannya yang diklaim kepada harga produksi, ternyata juga tidak pernah dan tidak pernah dapat menjalankan kekuasaan yang nyata dalam keadaan-keadaan semula.

Dengan demikian, kita telah menyaksikan secara berturut-turut kegagalan tiga klaim yang menegaskan adanya wilayah-wilayah kekuasaan tertentu yang dicadangkan, di mana hukum nilai semestinya berlaku secara langsung: penerapan hukum nilai pada jumlah seluruh komoditas dan harga komoditas alih-alih pada hubungan pertukaran individualnya (argumen pertama) ternyata sama sekali merupakan kemustahilan konseptual; pergerakan harga (argumen kedua) pada kenyataannya tidak mematuhi hukum nilai yang diklaim itu, dan demikian pula hukum nilai itu tidak menjalankan kekuasaan yang nyata dalam keadaan "semula" (argumen ketiga). Kini hanya tersisa satu kemungkinan: apakah hukum nilai, yang tidak menampakkan diri di mana pun dalam keberlakuan yang nyata dan langsung, mungkin setidaknya menjalankan suatu kekuasaan tidak langsung, semacam kerajaan tertinggi?

Marx tidak lupa untuk menegaskan hal ini pula. Inilah bahan dari argumen keempat, yang kepada pengamatannya kini kita harus mengarahkan diri.

ARGUMEN KEEMPAT

Argumen ini sering disinggung oleh Marx secara sepintas dalam bentuk slogan, namun, sejauh yang saya lihat, hanya pada satu tempat saja dijelaskan secara lebih cermat. Pada intinya argumen itu mengarah pada gagasan bahwa "harga produksi" yang menguasai pembentukan harga aktual, pada gilirannya, sekali lagi berada di bawah pengaruh hukum nilai, dan dengan demikian hukum nilai itu — melalui sarana harga produksi — menguasai hubungan pertukaran yang faktual. Nilai-nilai "berdiri di belakang harga produksi" dan "menentukannya pada instansi terakhir" (III. 188); harga produksi, sebagaimana sering diungkapkan Marx, hanyalah "nilai yang telah berubah bentuk" atau "bentuk nilai yang telah berubah" (III. 142, 147, 152 dan lebih sering lagi). Akan tetapi, jenis dan ukuran pengaruh yang dijalankan hukum nilai atas harga produksi memperoleh penjelasannya yang cermat dalam sebuah tempat pada hlm. 158 dan 159. "Laba rata-rata, yang menentukan cara produksi, senantiasa harus kurang-lebih sama dengan kuantitas nilai lebih yang jatuh pada suatu modal tertentu sebagai bagian alikuot dari modal total masyarakat. Karena kini nilai total komoditas mengatur nilai lebih total, sedangkan nilai lebih total ini mengatur tinggi laba rata-rata dan oleh karena itu tingkat laba umum — sebagai hukum umum atau sebagai yang menguasai fluktuasi-fluktuasinya —, maka hukum nilai mengatur harga produksi".

Marilah kita menelusuri jalan pikiran ini langkah demi langkah dengan menelitinya. Laba rata-rata, kata Marx pada awalnya, menentukan harga produksi. Dalam pengertian ajaran Marx hal itu benar, tetapi tidak lengkap. Marilah kita perjelas hubungan itu secara lengkap.

Harga produksi suatu komoditas mula-mula tersusun dari "harga pokok" alat-alat produksi bagi pengusaha dan dari laba rata-ratanya atas modal yang dikeluarkannya. Harga pokok alat-alat produksi, pada gilirannya, tersusun lagi dari dua komponen: dari pengeluaran untuk modal variabel, yaitu dari upah-upah yang dibayarkan secara langsung, dan dari pengeluaran untuk modal konstan yang dikonsumsi atau dipakai habis, yakni bahan mentah, mesin, dan sejenisnya. Sebagaimana selanjutnya dijelaskan Marx dengan sangat tepat pada hlm. 138 dst., 144, dan 186, dalam suatu masyarakat di mana nilai-nilai telah berubah menjadi harga produksi, harga pengadaan atau harga pokok alat-alat produksi kebendaan ini pun tidak sesuai dengan nilainya, melainkan dengan jumlah pengeluaran yang pada gilirannya telah dikeluarkan oleh para produsen alat-alat produksi ini untuk upah dan sarana bantu kebendaan, ditambah laba rata-rata atas pengeluaran-pengeluaran ini. Apabila analisis ini diteruskan lebih jauh, maka — persis seperti pada natural price Adam Smith, yang dengannya Marx memang secara tegas mengidentikkan harga produksinya (III. 178) — pada akhirnya kita sampai pada penguraian harga produksi menjadi dua komponen atau penentu: menjadi jumlah seluruh upah yang dibayarkan selama berbagai tahap produksi, yang secara keseluruhan merupakan harga pokok sesungguhnya dari komoditas itu7, dan menjadi jumlah seluruh laba yang dihitung dari pengeluaran-pengeluaran upah ini secara pro rata temporis, dan tepatnya dihitung menurut tingkat laba rata-rata.

Jadi, laba rata-rata yang timbul dalam produksi suatu komoditas memang merupakan salah satu penentu harga produksi komoditas yang bersangkutan. Mengenai penentu kedua, yaitu jumlah upah yang dibayarkan, di tempat ini Marx tidak berbicara lebih lanjut. Akan tetapi, karena ia — sebagaimana telah disebutkan — di tempat lain berbicara secara sangat umum bahwa "nilai-nilai berdiri di belakang harga produksi" dan "hukum nilai menentukan harga produksi itu pada instansi terakhir", maka kita, agar tidak meninggalkan celah, harus pula memasukkan faktor kedua ini ke dalam penyelidikan kita, dan sesuai dengan itu menyelidiki apakah dan sampai sejauh mana dapat ditegaskan tentangnya bahwa ia ditentukan oleh hukum nilai.

Jelas bahwa jumlah upah yang dibayarkan merupakan hasil perkalian antara kuantitas kerja yang dikeluarkan dengan tingkat upah. Karena menurut hukum nilai rasio pertukaran semestinya ditentukan semata-mata oleh kuantitas kerja yang dikeluarkan, dan Marx berulang kali menyangkal dengan penekanan terbesar adanya pengaruh apa pun dari tinggi rendahnya upah kerja terhadap nilai barang,8 maka sama jelasnya bahwa dari kedua komponen faktor „pengeluaran upah" hanya satu, yaitu kuantitas kerja yang dikeluarkan, yang selaras dengan hukum nilai, sementara dalam komponen kedua, yaitu tinggi rendahnya upah kerja, masuklah sebuah faktor penentu yang asing bagi hukum nilai ke dalam jajaran faktor penentu harga produksi.

Jenis dan ukuran cara kerja unsur ini, untuk menghindari segala kesalahpahaman, akan diilustrasikan lagi dengan sebuah contoh angka yang sederhana.

Marilah kita mengambil tiga barang A, B, dan C, yang pada mulanya mewakili harga produksi yang sama, masing-masing 100 mark, tetapi dengan susunan tipikal komponen biaya yang berbeda-beda. Marilah kita mengandaikan selanjutnya bahwa upah kerja untuk satu hari pada mulanya sebesar 5 mark, tingkat nilai-lebih atau derajat eksploitasi sebesar 100 %, sehingga dari keseluruhan nilai barang sebesar 300 mark, 150 mark jatuh pada upah, dan 150 mark lainnya jatuh pada nilai-lebih; keseluruhan kapital (yang diterapkan pada ketiga barang itu dalam proporsi yang tidak sama) sebesar 1500 mark, dan dengan demikian rata-rata laba sebesar 10 %. Pengandaian ini bersesuaian dengan penyajian tabel berikut:

Tabel 3

Barang Hari kerja yang dikeluarkan Upah kerja yang dikeluarkan Kapital yang diterapkan Rata-rata laba yang jatuh Harga produksi
A 10 50 500 50 100
B 6 30 700 70 100
C 14 70 300 30 100
Jumlah 30 150 1500 150 300

Sekarang kita andaikan terjadi kenaikan upah kerja dari 5 menjadi 6 mark. Dengan keadaan lain yang tidak berubah, kenaikan itu menurut Marx hanya dapat terjadi dengan mengorbankan nilai-lebih.9 Oleh karena itu, dari keseluruhan produk yang tetap sama sebesar 300 mark akan jatuh – dengan berkurangnya derajat eksploitasi – sebesar 180 mark pada upah kerja, dan hanya 120 mark pada nilai-lebih, sehingga tingkat rata-rata laba untuk kapital yang digunakan sebesar 1500 mark turun menjadi 8 %. Pergeseran yang dengan demikian terjadi dalam susunan komponen kapital dan dalam harga produksi ditunjukkan oleh tabel berikut.

Tabel 4

Barang Hari kerja yang dikeluarkan Upah kerja yang dikeluarkan Kapital yang diterapkan Rata-rata laba yang jatuh Harga produksi
A 10 60 500 40 100
B 6 36 700 56 92
C 14 84 300 24 108
Jumlah 30 180 1500 120 300

Dengan demikian tampaklah bahwa kenaikan upah kerja, dengan kuantitas kerja yang tidak berubah, telah menimbulkan pergeseran yang nyata pada harga produksi dan rasio pertukaran yang semula sama. Pergeseran ini sebagian, tetapi jelas tidak seluruhnya, dapat dikembalikan pada perubahan yang bersamaan dan niscaya terjadi pada tingkat rata-rata laba yang turut terkena dampak akibat penurunan laba karena kenaikan upah. Tentu tidak seluruhnya, saya katakan, karena misalnya harga produksi barang C, meskipun jumlah laba yang terkandung di dalamnya menurun, justru naik, sehingga perubahan harga ini tentu tidak mungkin ditimbulkan oleh perubahan laba semata. Saya menyoroti hal ini – yang sebenarnya sudah jelas dengan sendirinya – hanya untuk menegaskan tanpa keraguan bahwa pada tinggi rendahnya upah kita berhadapan dengan sebuah faktor penentu harga yang daya kerjanya tidak habis pada pengaruhnya terhadap tinggi rendahnya laba, melainkan juga melancarkan pengaruhnya sendiri secara langsung, dan bahwa karena itu kita memang berasalan untuk menjadikan mata rantai faktor penentu harga yang dilewati oleh Marx pada bagian yang dikutip di atas sebagai objek pertimbangan tersendiri. Untuk merangkum hasil-hasil akhir pertimbangan ini, saya simpan untuk kemudian. Sementara itu, marilah kita mengikuti, sambil memeriksa langkah demi langkah, pemaparan yang diberikan Marx tentang cara bagaimana faktor penentu kedua dari harga produksi, yaitu rata-rata laba, semestinya diatur oleh hukum nilai.

barang;10 keseluruhan nilai barang menentukan keseluruhan nilai-lebih yang terkandung di dalamnya; nilai-lebih ini, jika dibagikan atas keseluruhan kapital masyarakat, mengatur tingkat rata-rata laba; tingkat ini, jika diterapkan pada kapital yang dipekerjakan dalam produksi suatu barang tunggal, menghasilkan rata-rata laba konkret, yang akhirnya masuk sebagai unsur ke dalam harga produksi barang yang bersangkutan. Dengan cara inilah faktor yang berdiri di awal rangkaian ini, yaitu „hukum nilai", „mengatur" mata rantai penutup, yaitu harga produksi.

Marilah kita mengiringi rantai logis ini dengan catatan-catatan kita.

Pertama-tama mencolok dan perlu ditegaskan bahwa Marx sama sekali tidak menyatakan adanya kaitan antara rata-rata laba yang masuk ke dalam harga produksi barang dengan nilai yang berdasarkan hukum nilai terwujud dalam barang-barang tunggal tertentu. Sebaliknya, ia di banyak tempat menyoroti dengan penekanan bahwa kuantum nilai-lebih yang masuk ke dalam harga produksi suatu barang itu bersifat independen, bahkan pada prinsipnya berbeda dari „nilai-lebih yang benar-benar dihasilkan dalam ranah produksi tertentu" (III. 146; serupa III. 144 dan kerap kali). Oleh karena itu, ia sama sekali tidak mengaitkan pengaruh yang disandangkan pada hukum nilai itu dengan fungsi khas hukum nilai yang berkat fungsi itu hukum nilai menormakan rasio pertukaran barang-barang tunggal, melainkan semata-mata dengan suatu fungsi lain yang dianggapnya ada, yang tentang sifatnya yang sangat problematis itu kita telah membentuk penilaian kita lebih dahulu: yaitu penentuan keseluruhan nilai dari semua barang yang diambil bersama-sama. Dalam penerapan ini, sebagaimana telah kita yakini, hukum nilai sama sekali tanpa isi. Apabila orang, sebagaimana toh juga dilakukan Marx, menerapkan konsep dan hukum nilai pada rasio pertukaran barang,11 maka tidaklah bermakna menerapkan konsep dan hukum itu pada suatu keseluruhan yang sebagai keseluruhan tidak pernah dapat masuk ke dalam rasio-rasio itu: bagi pertukaran keseluruhan ini yang memang tidak terjadi, tentu tidak ada ukuran maupun faktor penentu, dan karena itu juga tidak mungkin ada isi bagi suatu „hukum nilai". Namun, apabila hukum nilai sama sekali tidak memiliki pengaruh riil atas suatu „keseluruhan nilai dari semua barang yang diambil bersama-sama" yang khayali itu, maka tentu pengaruh semacam itu juga tidak dapat diteruskan ke rasio-rasio lain, dan seluruh rantai yang bercabang-cabang banyak, yang berupaya disambung-sambung lebih lanjut oleh Marx dengan logika yang secara lahiriah rapi, karena itu menggantung di udara.

Tetapi marilah kita sepenuhnya mengesampingkan cacat fundamental yang pertama ini, dan memeriksa mata rantai lainnya secara terlepas darinya menurut keajegannya sendiri. Jadi, marilah kita mengandaikan bahwa keseluruhan nilai barang itu sungguh-sungguh merupakan besaran yang riil dan memang ditentukan oleh hukum nilai: maka mata rantai kedua menyatakan bahwa keseluruhan nilai barang ini mengatur keseluruhan nilai-lebih. Apakah ini benar?

Nilai-lebih tidak diragukan lagi bukan merupakan kuota yang tetap atau tidak berubah dari keseluruhan produk nasional, melainkan dihasilkan dari selisih antara „keseluruhan nilai" produk nasional dengan jumlah upah yang dibayarkan kepada para pekerja. Jadi, keseluruhan nilai itu bagaimanapun bukan dengan sendirinya saja yang mengatur besaran keseluruhan nilai-lebih, melainkan paling banter mampu memberikan satu faktor penentu bagi besarannya, yang di sampingnya muncul tinggi rendahnya upah kerja sebagai faktor penentu kedua yang asing. Tetapi tidakkah barangkali faktor ini pun tunduk pada hukum nilai Marxis?

Dalam jilid pertama, Marx masih menyatakan hal ini tanpa syarat. „Nilai tenaga kerja", tulisnya pada hlm. 155, „sama seperti setiap barang lainnya, ditentukan oleh waktu kerja yang diperlukan untuk produksi, jadi juga reproduksi, artikel spesifik ini". Dan pada halaman berikutnya ia melanjutkan, sambil menentukan kalimat ini secara lebih saksama: „Untuk pemeliharaannya, individu yang hidup memerlukan sejumlah tertentu bahan kebutuhan hidup. Maka waktu kerja yang diperlukan untuk produksi tenaga kerja terurai menjadi waktu kerja yang diperlukan untuk produksi bahan kebutuhan hidup ini, atau nilai tenaga kerja adalah nilai bahan kebutuhan hidup yang diperlukan untuk pemeliharaan pemiliknya". Akan tetapi, dalam jilid ketiga Marx terpaksa mengendurkan secara cukup besar ketegasan pernyataan ini pula. Sebab, pada hlm. 186 jilid ketiga ia menarik perhatian dengan sepenuhnya benar pada kemungkinan bahwa bahan kebutuhan hidup para pekerja yang diperlukan itu pun dapat terjual menurut harga produksi yang menyimpang dari waktu kerja yang diperlukan. Dalam kasus ini, ajar Marx, bagian variabel kapital pun (yaitu upah yang dibayarkan) „dapat menyimpang dari nilainya". Dengan kata lain: upah kerja pun (sama sekali terlepas dari osilasi yang hanya sementara) dapat menyimpang secara tetap dari tingkat yang akan bersesuaian dengan kuantitas kerja yang terwujud dalam bahan kebutuhan hidup yang diperlukan, atau dengan tuntutan ketat hukum nilai. Jadi, sudah pada penentuan keseluruhan nilai-lebih pun turut berperan sekurang-kurangnya satu faktor penentu yang asing bagi hukum nilai.

Faktor keseluruhan nilai-lebih yang ditentukan demikian itu, menurut Marx, „mengatur" tingkat rata-rata laba. Tetapi jelas lagi-lagi hanya dengan cara bahwa keseluruhan nilai-lebih memberikan salah satu faktor penentunya, sementara sebagai faktor penentu kedua yang sama sekali independen darinya dan juga dari hukum nilai bekerjalah besaran kapital yang ada dalam masyarakat. Jika, seperti dalam tabel di atas, dengan nilai-lebih sebesar 100 % keseluruhan nilai-lebih adalah 150 mark, maka tingkat laba sebesar 10 %, jika dan karena keseluruhan kapital yang digunakan dalam semua cabang produksi sebesar 1.500 mark; tingkat itu jelas, dengan keseluruhan nilai-lebih yang sama sekali tidak berubah, hanya akan sebesar 5 % seandainya keseluruhan kapital yang berpartisipasi di dalamnya berjumlah 3.000 mark, dan genap 20 % seandainya keseluruhan kapital hanya berjumlah 750 mark. Jadi, jelas sekali lagi masuklah ke dalam rantai pengaruh itu sebuah faktor penentu yang sama sekali asing bagi hukum nilai.

Tingkat rata-rata laba, demikian harus kita simpulkan selanjutnya, mengatur besaran rata-rata laba konkret yang terhimpun pada produksi suatu barang tertentu. Hal ini lagi-lagi hanya benar dengan pembatasan yang sama seperti pada mata rantai sebelumnya. Yaitu, jumlah rata-rata laba yang terhimpun pada suatu barang tertentu merupakan hasil perkalian dua faktor: besaran kapital yang dimajukan dikalikan dengan tingkat rata-rata laba. Namun, besaran kapital yang harus dimajukan pada berbagai tahapan ditentukan lagi menurut dua faktor: yaitu menurut kuantitas kerja yang harus dibayar (sebuah faktor yang memang tidak berada dalam ketidakselarasan dengan hukum nilai Marxis), tetapi juga menurut tinggi rendahnya upah yang harus diberikan, dan pada faktor ini, sebagaimana baru saja kita yakini, masuklah ke dalam permainan sebuah faktor yang asing bagi hukum nilai.

Dengan mata rantai berikutnya kita kembali menuju ke awal. Rata-rata laba yang ditentukan menurut mata rantai 4 semestinya mengatur harga produksi barang. Hal ini benar, dengan koreksi yang telah dikemukakan lebih dahulu pada awal, bahwa rata-rata laba hanyalah satu faktor penentu harga di samping pengeluaran upah, yang dalam pengeluaran upah ini, sebagaimana berulang kali dipaparkan, sebuah unsur yang asing bagi hukum nilai Marxis turut berperan menentukan.

Marilah kita merangkum. Apakah tema pembuktian yang ditegakkan oleh Marx? Bunyinya: „Hukum nilai mengatur harga produksi", atau, menurut rumusan lain, „nilai pada akhirnya menentukan harga produksi". Atau, apabila kita memasukkan ke dalam rumus itu isi dari nilai dan hukum nilai sebagaimana ditentukan Marx dalam jilid pertama, maka pernyataannya berbunyi: Harga produksi „pada akhirnya" dikuasai oleh dalil bahwa kuantitas kerja adalah satu-satunya keadaan yang menjadi dasar rasio pertukaran barang.

Dan apa yang ditunjukkan oleh pemeriksaan ulang atas masing-masing mata rantai dalam alur pembuktian itu? Pemeriksaan itu menunjukkan bahwa harga produksi pertama-tama tersusun dari dua komponen. Komponen yang satu, yaitu pengeluaran upah, merupakan hasil perkalian dua faktor, yang salah satunya, yakni jumlah kerja, bersifat homogen dengan substansi nilai menurut Marx, sedangkan faktor yang kedua, yaitu besaran upah, tidak. Mengenai komponen yang kedua, yakni jumlah laba rata-rata yang terkumpul, Marx sendiri hanya mampu menyatakan adanya hubungan dengan hukum nilai dengan bantuan suatu pemelintiran hukum itu secara paksa, yaitu dengan menisbahkan kepadanya suatu daya kerja pada bidang yang sama sekali tidak mengenal perbandingan pertukaran. Namun, terlepas dari itu pun, faktor "nilai keseluruhan barang", yang masih hendak diturunkan Marx dari hukum nilai, bagaimanapun harus berbagi dalam penentuan mata rantai berikutnya, yakni nilai lebih keseluruhan, dengan faktor "besaran upah kerja" yang sudah tidak lagi homogen dengan hukum nilai; "nilai lebih keseluruhan" harus berbagi dengan suatu unsur yang sepenuhnya asing, yakni massa modal masyarakat, dalam penentuan tingkat laba rata-rata; dan tingkat ini akhirnya harus berbagi dengan unsur yang sebagian asing, yakni pengeluaran upah, dalam penentuan jumlah laba yang terkumpul. Karena itu, faktor "nilai keseluruhan semua barang", yang dengan pembenaran yang sangat meragukan dicatatkan sebagai keuntungan bagi hukum nilai Marx, baru turut berperan setelah pengaruhnya mengalami pengenceran homeopatik sebanyak tiga kali, dan tentu saja dengan andil yang sesuai dengan pengenceran itu, yakni andil yang kecil, dalam penentuan laba rata-rata dan selanjutnya harga produksi. Suatu pelukisan keadaan yang sadar dan tenang dengan demikian harus berbunyi sebagai berikut: jumlah kerja, yang menurut hukum nilai Marx seharusnya menguasai perbandingan pertukaran barang secara penuh dan eksklusif, ternyata sesungguhnya hanyalah salah satu dasar penentu harga produksi di samping dasar-dasar penentu lainnya. Ia mempunyai pengaruh yang kuat dan cukup langsung atas salah satu komponen harga produksi, yaitu komponen yang terdiri atas pengeluaran upah, tetapi pengaruh yang jauh lebih kecil, lebih lemah, dan untuk sebagian besar12 bahkan meragukan atas komponen yang kedua, yakni laba rata-rata.

Saya kini bertanya: apakah keadaan ini mengandung suatu peneguhan ataukah suatu sangkalan terhadap tuntutan bahwa pada akhirnya tetaplah hukum nilai yang menentukan harga produksi? – Saya kira jawabannya tidak boleh ragu sesaat pun: hukum nilai menuntut bahwa jumlah kerja sajalah yang menentukan perbandingan pertukaran, sedangkan kenyataan-kenyataan itu menyatakan bahwa bukan jumlah kerja atau faktor-faktor homogennya saja yang menentukan perbandingan pertukaran. Kedua pernyataan ini berhubungan satu sama lain seperti ya dan tidak, seperti dalil dan sangkalan. Barang siapa mengakui pernyataan yang kedua – dan teori Marx tentang harga produksi mengandung pengakuan itu – pada hakikatnya menyangkal yang pertama. Dan andai kata Marx benar-benar meyakini bahwa ia tidak bertentangan dengan dirinya sendiri dan dengan pernyataan pertamanya, maka ia telah tertipu oleh suatu kekeliruan yang kasar. Dalam hal itu ia tidak melihat bahwa toh ada dua hal yang sangat berbeda: apakah suatu faktor yang disebutkan dalam suatu hukum menjalankan semacam pengaruh dalam derajat tertentu, ataukah hukum itu sendiri yang menjalankan kekuasaannya.

Contoh yang paling sederhana barangkali yang terbaik dalam soal yang begitu kasatmata. Orang membicarakan pengaruh meriam terhadap pelindung baja kapal, lalu seseorang mengajukan dalil bahwa derajat daya rusak suatu tembakan semata-mata hanya bergantung pada besarnya muatan mesiu yang digunakan. Ia dimintai pertanggungjawaban, dan dengan berpegang pada pengalaman nyata, dengan persetujuannya sendiri yang diberikan selangkah demi selangkah, ditunjukkan kepadanya bahwa daya tembak tidak hanya bergantung pada jumlah mesiu yang dimuatkan, melainkan juga pada kekuatannya, selanjutnya pada konstruksi, panjang, dan sebagainya dari laras meriam, kemudian pada bentuk dan kekerasan proyektil, selanjutnya pada jarak sasaran, dan akhirnya tidak kurang pentingnya pada tebal serta kekuatan pelat baja pelindung. Dan kini, setelah semua itu diakui selangkah demi selangkah, orang kita itu akan berkata bahwa ia toh benar dengan dalilnya yang semula; sebab, sebagaimana telah terbukti, faktor jumlah mesiu yang ia sebut itu toh menjalankan pengaruh yang menentukan atas daya tembak, yang antara lain terbukti dari kenyataan bahwa, dengan keadaan lain yang sama, daya tembak meningkat seiring kekuatan muatan mesiu, dan sebaliknya!

Tidak berbeda halnya dengan Marx. Mula-mula ia berpidato dengan penekanan sebesar yang dapat dibayangkan, bahwa tidak ada yang dapat menjadi dasar perbandingan pertukaran barang selain semata-mata jumlah kerja; ia berpolemik dengan setajam-tajamnya melawan para ekonom yang, di samping jumlah kerja – yang pengaruhnya atas nilai tukar barang yang dapat direproduksi sesuka hati memang tak seorang pun menyangkalnya – masih juga mengakui dasar-dasar penentu nilai dan harga yang lain; di atas kedudukan jumlah kerja yang eksklusif sebagai satu-satunya dasar penentu perbandingan pertukaran, ia membangun selama dua jilid penuh kesimpulan-kesimpulan teoretis dan praktis yang paling penting, yaitu teori nilai lebihnya dan kutukannya terhadap tata organisasi masyarakat kapitalis – untuk kemudian, dalam jilid ketiga, mengembangkan suatu teori harga produksi yang secara substansial juga mengakui pengaruh dasar-dasar penentu lainnya. Namun, alih-alih menganalisis dasar-dasar penentu lain itu secara tuntas, ia selalu hanya menudingkan jari dengan gerak penuh kemenangan pada titik-titik di mana berhalanya, yakni jumlah kerja, sampai sekarang pun secara nyata atau menurut anggapannya masih menjalankan pengaruh: pada perubahan harga apabila jumlah kerja berubah, pada pengaruh "nilai keseluruhan" atas tingkat laba rata-rata, dan sebagainya. Mengenai pengaruh yang sederajat dari dasar-dasar penentu asing, seperti pengaruh besarnya modal masyarakat atas tingkat laba, perubahan harga akibat perubahan susunan organik modal atau akibat perubahan besaran upah, ia bungkam dalam konteks ini. Pembahasan-pembahasan yang di dalamnya ia mengakui pengaruh-pengaruh ini tidak absen dalam karyanya. Pengaruh besaran upah atas harga, misalnya, dikembangkan dengan tepat pada hlm. 179 dst., kemudian 186; pengaruh besarnya modal masyarakat atas tinggi tingkat laba rata-rata pada hlm. 145, 184, 191 dst., 197 dst., 203, dan kerap pula; pengaruh susunan organik modal atas harga produksi pada hlm. 142 dst. Akan tetapi, secara khas, pada bagian-bagian yang dikhususkan untuk pembelaan hukum nilai, Marx melewati pengaruh-pengaruh yang berlainan jenis itu tanpa sepatah kata pun, dan secara sepihak hanya menonjolkan andil jumlah kerja, demi menarik dari premis yang benar dan tak disangkal siapa pun – bahwa faktor jumlah kerja pada beberapa titik turut menentukan terbentuknya harga produksi – kesimpulan yang sama sekali tidak berdasar, yaitu bahwa toh "pada akhirnya" hukum nilai, yang menyatakan kekuasaan tunggal kerja, menentukan harga produksi! Itu berarti mengelakkan pengakuan akan kontradiksi, tetapi sama sekali tidak menghindari kontradiksi itu sendiri!

Chapter IV.

KEKELIRUAN DALAM SISTEM MARX; ASAL-USUL DAN PERCABANGANNYA

Pembuktian bahwa seorang penulis telah bertentangan dengan dirinya sendiri dapat menjadi suatu tahap yang perlu, tetapi tidak pernah boleh menjadi tujuan akhir suatu kritik yang faktual dan berbuah. Hanya merupakan suatu derajat pengetahuan kritis yang relatif miskin untuk mengetahui bahwa di dalam suatu sistem terdapat suatu kesalahan, yang barangkali saja dapat pula sekadar merupakan kesalahan kebetulan dan pribadi sang pengarang. Suatu pengatasan yang sesungguhnya atas suatu sistem yang tersusun kukuh tidak mungkin terjadi dengan cara lain selain apabila berhasil ditunjukkan secara setajam-tajamnya titik tempat kekeliruan itu menyusup masuk ke dalam sistem, serta jalur-jalur yang dilaluinya untuk menyebar dan bercabang di dalamnya. Orang harus memahami titik tolak, perkembangan, dan malapetaka kekeliruan itu, yang memuncak dalam kontradiksi-diri, sebaik mungkin, dan – hampir hendak saya katakan – bahkan sebagai lawan pun dengan penuh empati sebagaimana sebaliknya orang berusaha memahami hubungan-hubungan suatu sistem yang ia abdikan dirinya kepadanya.

Keadaan-keadaan yang berbentuk sangat khas dan runcing telah menyebabkan bahwa, dalam kasus Marx, persoalan kontradiksi-diri memperoleh bobot yang jauh lebih besar daripada yang lazimnya dimilikinya, dan sesuai dengan itu saya pun telah mencurahkan ruang yang luas bagi persoalan itu. Justru terhadap seorang pemikir yang begitu penting dan berpengaruh, kita semakin tidak boleh mengelakkan diri dari bagian kedua tugas kritis itu, yang menurut saya, juga dalam kasus ini, secara faktual masih lebih berbuah dan lebih banyak memberi pelajaran.

Marilah kita mulai dengan suatu pertanyaan yang segera membawa kita ke persoalan pokok: melalui jalan manakah Marx sampai pada dalil fundamental teoretis dari ajarannya, yakni dalil bahwa segala nilai semata-mata hanya berlandaskan pada jumlah kerja yang terkandung di dalamnya?

Bahwa dalil ini bukanlah suatu aksioma yang dengan sendirinya jelas dan karenanya sama sekali tidak memerlukan pembuktian, adalah hal yang tak diragukan lagi. Nilai dan jerih payah, sebagaimana telah saya uraikan sekali di tempat lain, sama sekali bukanlah dua pengertian yang demikian erat bertalian sehingga orang harus langsung tergerak oleh wawasan bahwa jerih payah adalah dasar nilai. "Bahwa saya telah bersusah payah untuk suatu benda adalah satu kenyataan; bahwa benda itu memang sepadan dengan susah payah itu adalah kenyataan kedua yang berbeda dari yang pertama; dan bahwa kedua kenyataan itu tidak selalu berjalan seiring, telah diteguhkan oleh pengalaman secara jauh terlampau pasti untuk memungkinkan keraguan apa pun mengenainya. Setiap dari sekian banyak susah payah tanpa hasil yang setiap hari disia-siakan untuk suatu hasil yang tak bernilai – karena ketidakcakapan teknis, atau spekulasi yang gagal, atau sekadar nasib buruk – memberikan kesaksian akan hal itu. Tetapi tidak kurang pula setiap dari sekian banyak kasus di mana sedikit susah payah membuahkan nilai yang tinggi."²³

Jika dengan demikian untuk suatu bidang tertentu tetap dinyatakan adanya keselarasan yang niscaya dan menurut hukum antara kedua besaran itu, maka orang harus mempertanggungjawabkan kepada diri sendiri dan kepada para pembacanya alasan-alasan apa pun yang mampu menopang dalil semacam itu.

Marx kini memang juga mengemukakan suatu pendasaran dalam sistemnya. Akan tetapi, saya kira saya dapat meyakinkan pembaca bahwa jalan pendasaran yang ditempuhnya sejak semula merupakan jalan yang tidak wajar, yang tidak sesuai dengan sifat masalahnya; selanjutnya bahwa pendasaran yang dikemukakan dalam sistem itu nyata-nyata bukanlah pendasaran yang dengannya Marx sendiri sampai pada keyakinannya, – melainkan bahwa pendasaran itu kemudian direka-reka sebagai penopang yang dipoles secara artifisial bagi suatu pendapat prasangka yang ditimba dari kesan-kesan lain; bahwa akhirnya – dan inilah yang paling menentukan – jalannya pembuktian itu dipenuhi oleh sederet bertumpuk kesalahan logis dan metodis yang paling kentara, yang merampas segenap daya pembuktiannya.

Marilah kita cermati lebih saksama.

Tesis fundamental yang disodorkan Marx kepada para pembacanya untuk dipercayai adalah bahwa nilai tukar barang – sebab hanya pada nilai tukar inilah, bukan pada nilai pakai, analisisnya tertuju – menemukan dasar dan ukurannya pada jumlah kerja yang terkandung di dalam barang itu.

Nah, baik nilai tukar, atau lebih tepatnya harga barang, maupun kuantitas kerja yang diperlukan untuk reproduksinya, merupakan besaran-besaran yang tampak secara lahiriah, yang secara garis besar cukup terbuka bagi penetapan berdasarkan pengalaman. Karena itu, jelas yang paling dekat bagi Marx tentu adalah, demi memperoleh keyakinan akan suatu dalil yang benar atau salahnya pasti tercermin dalam kenyataan-kenyataan pengalaman, untuk mengimbau pada pengalaman; dengan kata lain: untuk tesisnya yang terbuka bagi pembuktian yang murni empiris, ia mestinya juga menempuh pembuktian yang murni empiris pula. Akan tetapi, Marx tidak melakukannya. Bahkan tidak dapat dikatakan bahwa ia melewatkan sumber pengetahuan dan pembuktian yang mungkin serta sudah barang tentu cocok ini tanpa peduli. Sebaliknya, sebagaimana ditunjukkan oleh uraian-uraian dalam jilid ketiganya, ia tahu betul bagaimana keadaan kenyataan-kenyataan empiris itu dan bahwa kenyataan-kenyataan itu bertentangan dengan tesisnya. Ia tahu bahwa harga barang tidak ditetapkan menurut perbandingan dengan jumlah kerja yang terkandung di dalamnya, melainkan menurut perbandingan dengan keseluruhan biaya produksi, yang juga mencakup unsur-unsur lain. Karena itu, ia mengelakkan pengujian yang paling wajar atas tesisnya, sudah barang tentu bukan secara kebetulan, melainkan dalam kesadaran yang jelas bahwa pada jalan inilah tidak akan dapat dicapai hasil yang menguntungkan tesisnya.

Namun, masih terdapat jalur pembuktian dan penyimpulan kedua yang juga sepenuhnya wajar bagi tesis semacam itu, yakni jalur psikologis. Sebab, dengan perpaduan antara induksi dan deduksi yang sangat lazim dalam ilmu kita, orang dapat menelaah motif-motif yang membimbing manusia, di satu sisi pada saat melaksanakan transaksi pertukaran dan menetapkan harga tukar, dan di sisi lain pada saat turut serta dalam produksi; dan dari sifat motif-motif itu orang dapat menarik kesimpulan mengenai pola tindakan tipikal manusia, yang di antaranya secara terbayangkan juga dapat menghasilkan suatu kaitan antara harga-harga yang secara teratur diminta dan disepakati dengan kuantitas kerja yang diperlukan untuk menghasilkan barang-barang itu. Metode ini justru telah sering diterapkan dengan keberhasilan terbaik pada persoalan-persoalan serupa – pembenaran yang lazim, misalnya atas hukum penawaran dan permintaan, hukum biaya produksi, penjelasan tentang sewa tanah, dan sebagainya bersandar pada metode ini – dan Marx sendiri pun, setidaknya secara kasar, tidak jarang menggunakannya. Hanya justru pada tesis fundamentalnya ia kembali menghindarinya. Meskipun jelas bahwa kaitan lahiriah yang ditegaskannya antara nilai tukar dan kuantitas kerja baru dapat memperoleh pemahaman penuh melalui penyingkapan mata rantai psikologis yang menautkan keduanya, ia tidak melakukan pemaparan kaitan-kaitan batiniah ini; ia bahkan sesekali menyatakan bahwa „analisis yang lebih mendalam“ atas „kedua daya gerak masyarakat“, yaitu „permintaan dan penawaran“, yang justru akan menuntun pada penautan batiniah itu, „di sini tidak pada tempatnya“ (III. 169), di mana kata „di sini“ pada mulanya memang hanya mengacu pada suatu uraian sisipan tentang pengaruh permintaan dan penawaran terhadap pembentukan harga, tetapi secara faktual dan praktis, sejauh menyangkut suatu analisis yang benar-benar „mendalam“ dan menyeluruh, meluas ke seluruh sistem Marxian dan khususnya juga ke peletakan dasar gagasan pokoknya yang terpenting.

Namun, di sini pun kembali ada sesuatu yang khas untuk dicermati. Sebab Marx melewati metode penyelidikan kedua yang mungkin dan wajar ini bukan dengan kelalaian yang tanpa prasangka. Sebaliknya, ia sekali lagi menghindarinya secara sengaja dan dengan kesadaran penuh akan hasil apa yang akan ditimbulkannya serta bahwa hasil itu tidak akan menguntungkan bagi tesisnya. Sebab dalam jilid ketiga ia sesungguhnya membangkitkan dorongan-dorongan yang bekerja dalam produksi dan pertukaran itu, yang „analisis yang lebih mendalam“-nya ia tinggalkan di sini dan di tempat lain, di bawah nama himpunan kasarnya „persaingan“, dan ia mengetahui serta memaparkan bahwa dorongan-dorongan ini pada kenyataannya tidak menuntun pada penyesuaian harga terhadap kuantitas kerja yang terwujud dalam barang-barang, melainkan sebaliknya mendorongnya menjauh dari ukuran itu dan ke arah suatu tingkat yang sesuai dengan turut bekerjanya setidaknya satu faktor kedua yang terkoordinasi. „Persaingan“-lah yang, menurut Marx, menimbulkan pembentukan tingkat laba rata-rata yang termasyhur itu serta „transformasi“ nilai-nilai kerja murni menjadi „harga-harga produksi“ yang menyimpang darinya dan mencakup sebagian laba rata-rata.

Alih-alih membenarkan tesisnya secara empiris dari pengalaman atau secara psikologis dari motif-motif yang bekerja di dalamnya, Marx lebih memilih menempuh jalur pembuktian ketiga yang tentu agak ganjil bagi bahan semacam itu: jalan pembuktian yang murni logis, suatu deduksi dialektis dari hakikat pertukaran itu sendiri.

Marx telah menemukan pada Aristoteles tua gagasan bahwa „pertukaran tidak mungkin terjadi tanpa kesetaraan, dan kesetaraan tidak mungkin tanpa keterbandingan (Kommensurabilität)“ (I. 35). Pada gagasan inilah ia bertaut. Ia membayangkan pertukaran dua barang dalam citra suatu persamaan, menyimpulkan bahwa dalam kedua benda yang dipertukarkan dan dengan demikian disetarakan itu mesti terdapat „suatu unsur bersama dengan besaran yang sama“, dan kemudian berupaya mencari unsur bersama ini, yang ke arahnya benda-benda yang disetarakan itu sebagai nilai tukar mesti „dapat direduksi“ (I. 11).

Sebagai sisipan, saya ingin mengemukakan bahwa sudah pengandaian pertama itu, yang menurutnya dalam pertukaran dua benda mesti termanifestasi suatu „kesetaraan“ di antara keduanya, tampak bagi saya sangat ketinggalan zaman – yang pada akhirnya memang tidak terlalu penting –, tetapi juga sangat tidak realistis atau, untuk mengatakannya secara tegas, dipikirkan secara keliru. Di mana kesetaraan dan keseimbangan yang persis berkuasa, di situ lazimnya tidak terjadi perubahan apa pun atas keadaan diam yang ada. Karena itu, apabila dalam hal pertukaran perkaranya berakhir dengan barang-barang berpindah pemilik, maka hal itu justru lebih merupakan tanda bahwa suatu ketidaksetaraan atau ketimpangan tengah bekerja, yang melalui simpangannya perubahan itu dipaksakan – persis seperti di antara komponen-komponen benda majemuk yang saling didekatkan terjadi ikatan kimia baru, apabila „pertalian kimiawi“ terhadap komponen-komponen benda asing yang didekatkan itu justru tidak sama kuatnya, melainkan lebih kuat daripada terhadap komponen-komponen susunan yang ada. Sesungguhnya, ilmu ekonomi nasional modern pun bulat sependapat bahwa pandangan skolastik-teologis lama tentang „ekuivalensi“ nilai-nilai yang dipertukarkan adalah tidak tepat. Namun, saya tidak hendak memberi bobot lebih jauh pada pokok ini dan beralih ke penelaahan kritis atas operasi-operasi logis dan metodis yang dengannya Marx menyuling kerja sebagai „unsur bersama“ yang dicari itu.

Operasi-operasi inilah yang telah saya isyaratkan di atas tampak bagi saya membentuk titik paling lemah dari teori Marxian. Operasi-operasi itu menunjukkan hampir sama banyaknya kesalahan ilmiah yang mendasar dengan mata rantai pemikirannya – yang sama sekali tidak sedikit –, dan padanya terdapat jejak-jejak yang kentara bahwa semuanya itu disusun-rumitkan dan diada-adakan secara belakangan, demi memunculkan suatu pendapat yang telah ditetapkan sebelumnya seolah-olah sebagai hasil wajar dari suatu jalur penelitian yang sesungguhnya.

Dalam pencarian „unsur bersama“ yang khas bagi nilai tukar, Marx menempuh cara berikut. Ia mengulas berbagai sifat yang sama sekali dimiliki oleh objek-objek yang disetarakan dalam pertukaran, lalu menyisihkan menurut metode pengeluaran semua sifat yang tidak lulus uji, hingga pada akhirnya hanya tersisa satu sifat tunggal. Sifat ini – yaitu sifat sebagai produk kerja – mestilah merupakan sifat bersama yang dicari itu.

Cara ini agak ganjil, tetapi pada dirinya sendiri tidak tercela. Tentu agak ganjil apabila, alih-alih menguji secara positif sifat khas yang diduga itu – yang memang akan menuntun pada salah satu dari kedua metode yang telah dibahas sebelumnya, yang sengaja dihindari Marx –, orang memperoleh keyakinan bahwa justru sifat itulah yang dicari semata-mata melalui jalan negatif, yaitu bahwa semua sifat lainnya bukan itu, sedangkan satu sifat toh mesti merupakannya. Bagaimanapun, metode ini dapat menuntun pada tujuan yang diharapkan apabila ditangani dengan kehati-hatian dan kelengkapan yang diperlukan; yakni apabila orang dengan kesaksamaan yang teliti memperhatikan bahwa segala sesuatu yang termasuk di dalamnya benar-benar dimasukkan pula ke dalam saringan logis itu, dan kemudian tidak ada satu pun mata rantai yang dikeluarkan melalui proses penyaringan itu yang luput dari kekeliruan.

Tetapi bagaimana cara Marx melangkah?

Sejak awal ia hanya memasukkan ke dalam saringan benda-benda bernilai tukar yang memiliki sifat yang akhirnya hendak ia saring keluar sebagai sifat „bersama“, dan membiarkan semua benda berjenis lain berada di luar. Ia berbuat seperti seseorang yang sangat berhasrat agar dari guci keluar bola putih, dan secara cermat menunjang hasil itu dengan tidak memasukkan ke dalam guci bola apa pun selain bola putih. Sebab ia membatasi cakupan penyelidikannya tentang substansi nilai tukar sejak awal pada „barang-dagangan“, di mana ia memahami konsep ini, tanpa mendefinisikannya secara saksama, bagaimanapun lebih sempit daripada konsep „barang ekonomi (Güter)“ dan membatasinya pada produk kerja sebagai lawan dari karunia alam. Padahal sudah jelas: apabila pertukaran benar-benar berarti suatu penyetaraan yang mengandaikan keberadaan „suatu unsur bersama dengan besaran yang sama“, maka unsur bersama ini tentu mesti dicari dan ditemukan pada semua golongan barang yang memasuki pertukaran; bukan hanya pada produk kerja, melainkan juga pada karunia alam, seperti tanah dan lahan, kayu yang masih berdiri, pada tenaga air, lapisan batu bara, tambang batu, lapisan minyak bumi, air mineral, tambang emas, dan sebagainya13. Mengeluarkan barang-barang bernilai tukar yang bukan produk kerja dari pencarian unsur bersama yang mendasari nilai tukar, dalam keadaan demikian, merupakan suatu dosa metodis yang mematikan. Hal itu tidak berbeda dengan seandainya seorang fisikawan hendak menelaah dasar suatu sifat yang bersama bagi semua benda, misalnya gaya berat, dari penyaringan sifat-sifat satu kelompok benda tunggal saja, misalnya benda-benda tembus pandang, dengan mengulas semua sifat yang bersama bagi benda-benda tembus pandang, membuktikan dari semua sifat lainnya bahwa sifat-sifat itu tidak mungkin menjadi dasar gaya berat, dan atas dasar itu akhirnya memaklumkan bahwa ketembuspandangan mestilah menjadi sebab gaya berat!

Pengeluaran karunia alam (yang tentu tidak akan terlintas dalam benak Aristoteles, bapak gagasan tentang penyetaraan dalam pertukaran) semakin sukar dibenarkan, mengingat sebagian karunia alam, seperti tanah dan lahan, termasuk objek kekayaan dan lalu lintas yang paling penting, dan mengingat sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa pada karunia alam nilai tukar selalu hanya ditetapkan secara serba kebetulan dan sewenang-wenang. Di satu sisi, harga-harga kebetulan terjadi pula pada produk kerja, dan di sisi lain, harga karunia alam kerap menunjukkan kaitan yang paling jelas dengan titik acuan atau dasar penentu yang pasti. Bahwa, misalnya, harga beli tanah membentuk kelipatan dari sewanya yang menyesuaikan diri dengan suku bunga yang lazim di negeri bersangkutan, sama dikenalnya seperti pastinya bahwa kayu yang masih berdiri atau batu bara di dalam tambang, pada mutu yang berbeda atau pada letak berbeda dengan kondisi pengangkutan yang tidak sama, tidak memperoleh harga yang berbeda sekadar karena kebetulan, dan sebagainya.

Marx pun menjaga diri untuk tidak memberikan pertanggungjawaban yang tegas mengenai bahwa dan mengapa ia sejak awal telah mengeluarkan sebagian barang bernilai tukar dari penyelidikan. Di sini pun, seperti begitu sering, ia pandai meluncur melewati bagian-bagian rumit dari penalarannya dengan kepiawaian dialektis yang licin bak belut. Pertama-tama ia menghindari untuk mengingatkan pembacanya bahwa konsep „barang-dagangan“-nya lebih sempit daripada konsep barang bernilai tukar pada umumnya. Ia mempersiapkan suatu titik tautan yang wajar bagi pembatasan penyelidikan kelak pada barang-dagangan dengan sangat piawai melalui ungkapan umum yang ditempatkan di awal bukunya, yang tampak sama sekali tak berbahaya, bahwa „kekayaan masyarakat-masyarakat yang di dalamnya berkuasa cara produksi kapitalis tampil sebagai suatu himpunan barang-dagangan yang sangat besar“. Kalimat ini sepenuhnya keliru apabila ungkapan barang-dagangan dipahami dalam pengertian produk kerja yang kemudian diberikan Marx kepadanya. Sebab karunia alam, termasuk tanah dan lahan, merupakan bagian yang sangat berarti dan sama sekali tidak dapat diabaikan dari kekayaan nasional. Tetapi pembaca yang tanpa prasangka mudah melewati ketidakcermatan ini, karena ia tentu tidak mengetahui bahwa Marx kelak akan memberikan pengertian yang jauh lebih sempit kepada ungkapan barang-dagangan.

Bahkan dalam uraian selanjutnya hal ini masih belum diperjelas. Sebaliknya, dalam alinea-alinea pertama bab pertama, secara silih berganti dibicarakan tentang "benda", tentang "nilai pakai", tentang "barang ekonomis" dan tentang "komoditas", tanpa ditarik suatu pembedaan yang tajam antara yang terakhir ini dan yang sebelumnya. "Kegunaan suatu benda" – demikian dinyatakan pada hlm. 10 – "menjadikannya nilai pakai". "Tubuh komoditas ... adalah suatu nilai pakai atau barang ekonomis". Pada hlm. 11 kita membaca: "Nilai tukar tampak ... sebagai hubungan kuantitatif ..., yang di dalamnya nilai-nilai pakai dari satu jenis dipertukarkan dengan nilai-nilai pakai dari jenis lain". Perhatikan, di sini sebagai medan dari fenomena nilai tukar masih disebut justru nilai pakai = barang ekonomis. Dan dengan ungkapan: "Mari kita tinjau persoalan ini lebih dekat", yang pasti tidak cocok untuk mengisyaratkan suatu lompatan ke wilayah penyelidikan lain yang lebih sempit, Marx melanjutkan: "Suatu komoditas tunggal, misalnya satu quarter gandum, dipertukarkan dalam proporsi-proporsi yang paling beragam dengan artikel-artikel lain". Dan "Mari kita ambil selanjutnya dua komoditas" dan seterusnya. Dalam alinea yang sama bahkan sekali lagi muncul kembali istilah "benda", dan justru tepat dalam ungkapan yang penting bagi persoalan itu, bahwa "suatu kesamaan dengan besaran yang sama terdapat pada dua benda yang berbeda" (yang justru disetarakan satu sama lain dalam pertukaran). Namun pada halaman 12 berikutnya Marx menjalankan pencarian akan "kesamaan" itu hanya untuk "nilai tukar komoditas", tanpa dengan sepatah kata pun mengingatkan bahwa dengan itu ia hendak mempersempit medan penyelidikan menjadi sebagian dari benda-benda bernilai tukar.14 Dan segera pada halaman berikutnya, hlm. 13, pembatasan itu kembali ditinggalkan dan hasil yang baru saja diperoleh untuk lingkup komoditas yang lebih sempit diterapkan pada lingkaran nilai pakai barang yang lebih luas. "Suatu nilai pakai atau barang ekonomis dengan demikian hanya memiliki nilai, karena kerja manusia abstrak terobjektivasi atau termaterialisasi di dalamnya!"

Seandainya Marx pada titik yang menentukan itu tidak mempersempit penyelidikan pada produk-produk kerja, melainkan juga mencari kesamaan pada barang-barang alam yang bernilai tukar, niscaya akan menjadi kasatmata bahwa kerja tidak mungkin menjadi kesamaan itu. Seandainya ia melakukan penyempitan itu secara tegas dan terbuka, maka ia sendiri dan para pembacanya pasti akan tersandung pada kekeliruan metodis yang kasar itu, mereka akan terpaksa tersenyum atas trik naif yang dengannya sifat "menjadi produk kerja" dengan berhasil disuling keluar sebagai sifat bersama dari suatu lingkaran, setelah sebelumnya semua benda bernilai tukar yang secara alamiah sama-sama termasuk ke dalamnya, namun bukan produk kerja, dengan sengaja disingkirkan dari lingkaran itu. Trik itu hanya dapat dilakukan sebagaimana Marx melakukannya, yaitu secara tak terasa, dengan dialektika yang meluncur cepat dan ringan melewati titik yang peka itu. Sembari menyatakan kekaguman tulus saya atas keterampilan yang dengannya Marx mampu menyajikan suatu prosedur yang demikian cacat agar tampak dapat diterima, tentu saja saya tetap hanya dapat menetapkan bahwa prosedur itu sepenuhnya cacat.

Tetapi mari kita lihat lebih jauh. Dengan trik yang baru saja digambarkan itu, Marx baru saja mencapai bahwa kerja sama sekali dapat masuk ke dalam persaingan. Melalui penyempitan lingkaran yang dibuat-buat itulah kerja baru menjadi suatu sifat yang "bersama" bagi lingkaran sempit ini. Namun di samping kerja, bisa pula ada sifat-sifat lain yang turut dipertanyakan sebagai sifat bersama. Lalu bagaimana para pesaing lain ini disingkirkan?

Hal itu terjadi melalui dua mata rantai pemikiran selanjutnya, yang masing-masing hanya memuat beberapa kata, tetapi di dalamnya terkandung salah satu kesalahan logis yang paling berat.

Dalam mata rantai pertama, Marx menyingkirkan semua "sifat geometris, fisik, kimia, atau sifat alami lainnya dari komoditas". Sebab "sifat-sifat jasmaniahnya hanya menjadi pertimbangan sejauh sifat-sifat itu menjadikannya berguna, jadi menjadikannya nilai pakai. Di sisi lain, hubungan pertukaran komoditas justru jelas ditandai oleh abstraksi dari nilai-nilai pakainya". Sebab "di dalamnya (di dalam hubungan pertukaran) suatu nilai pakai berlaku persis sama banyaknya dengan setiap nilai pakai lain, asalkan ia hadir dalam proporsi yang semestinya" (I. 12).

"Apa yang akan dikatakan Marx terhadap argumentasi berikut? Di sebuah panggung opera ada tiga penyanyi yang sangat unggul, seorang tenor, seorang bas, dan seorang bariton, masing-masing dengan gaji sebesar 20.000 fl. Orang bertanya: apakah keadaan bersama yang karenanya mereka disetarakan satu sama lain dalam hal gaji? dan saya menjawab: Dalam soal gaji, suara yang bagus berlaku persis sama banyaknya dengan suara bagus lainnya, suara tenor yang bagus sama banyaknya dengan suara bas yang bagus atau suara bariton yang bagus, asalkan ia hadir dalam proporsi yang semestinya. Maka, dalam soal gaji orang "jelas" mengabstraksikan diri dari suara yang bagus, maka suara yang bagus tidak mungkin menjadi sebab bersama dari gaji yang tinggi. – Bahwa argumentasi ini keliru sudahlah jelas. Sama jelasnya pula bahwa kesimpulan Marx, yang persis ditiru dari pola itu, tidak sedikit pun lebih benar. Keduanya mengidap kesalahan yang sama. Keduanya mencampuradukkan abstraksi dari suatu keadaan secara keseluruhan dengan abstraksi dari modalitas-modalitas khusus yang dengannya keadaan itu muncul. Apa yang dalam contoh kita tidak relevan bagi soal gaji jelas hanyalah modalitas khusus yang dengannya suara yang bagus itu muncul, apakah sebagai tenor, sebagai bas, atau sebagai suara bariton, tetapi sama sekali bukan suara yang bagus itu sendiri secara keseluruhan. Dan demikian pula, bagi hubungan pertukaran komoditas memang diabstraksikan dari modalitas khusus yang dengannya nilai pakai komoditas dapat muncul, apakah komoditas itu berfungsi untuk pangan, papan, sandang, dsb., tetapi sama sekali bukan dari nilai pakai itu sendiri secara keseluruhan. Bahwa orang tidak mengabstraksikan diri begitu saja dari yang terakhir ini, sebenarnya sudah bisa disimpulkan Marx dari kenyataan bahwa tidak mungkin ada nilai tukar di mana tidak ada nilai pakai, suatu fakta yang Marx sendiri berulang kali terpaksa mengakuinya." (Böhm-Bawerk)15

Namun keadaannya jauh lebih buruk lagi dengan mata rantai berikutnya dari jalur pembuktian itu. "Jika orang mengesampingkan nilai pakai dari tubuh-tubuh komoditas" – demikian Marx melanjutkan secara harfiah – "maka tersisa pada mereka hanya satu sifat lagi, yaitu sifat sebagai produk-produk kerja". Sungguhkah? saya bertanya hari ini, sebagaimana telah saya tanyakan 12 tahun yang lalu: hanya satu sifat lagi? Tidakkah pada barang-barang bernilai tukar itu, misalnya, juga melekat secara bersama sifat bahwa mereka langka dalam hubungannya dengan kebutuhan? Atau bahwa mereka merupakan objek permintaan dan penawaran? Atau bahwa mereka telah dimiliki (diapropriasi)? Atau bahwa mereka adalah "produk-produk alam"? Sebab bahwa mereka sama-sama merupakan produk alam dan produk kerja, tidak ada yang mengatakannya lebih jelas daripada Marx sendiri, ketika ia pada suatu saat menyatakan: "Tubuh-tubuh komoditas adalah gabungan dari dua unsur, bahan alam dan kerja". Atau tidakkah juga melekat secara bersama pada nilai-nilai tukar itu sifat bahwa mereka menimbulkan biaya bagi para produsennya – suatu sifat yang Marx dalam jilid ketiga ingat dengan begitu cermat?

Mengapa, saya bertanya juga hari ini lagi, prinsip nilai itu tidak boleh sama baiknya terletak pada salah satu sifat bersama ini, alih-alih pada sifat menjadi produk kerja? Sebab untuk membela yang terakhir ini Marx bahkan tidak mengajukan sedikit pun jejak alasan positif; satu-satunya alasannya adalah alasan negatif, yaitu bahwa nilai pakai yang dengan berhasil telah diabstraksikan keluar itu bukanlah prinsip dari nilai tukar. Namun bukankah alasan negatif ini berlaku dengan kadar yang persis sama bagi semua sifat bersama lain yang diabaikan Marx?

Bahkan lebih dari itu! Pada halaman 12 yang sama, yang di atasnya Marx mengabstraksikan keluar pengaruh nilai pakai terhadap nilai tukar dengan dalih bahwa suatu nilai pakai berlaku sama banyaknya dengan setiap nilai pakai lain, asalkan ia hadir dalam proporsi yang semestinya, ia menceritakan kepada kita tentang produk-produk kerja sebagai berikut:

"Namun, produk kerja itu pun sudah berubah di tangan kita. Jika kita mengabstraksikan diri dari nilai pakainya, maka kita pun mengabstraksikan diri dari bagian-bagian jasmaniah dan bentuk-bentuk yang menjadikannya nilai pakai. Ia bukan lagi meja atau rumah atau benang atau benda berguna lainnya. Semua sifat inderawinya telah terhapus. Ia juga bukan lagi produk kerja tukang kayu atau kerja bangunan atau kerja memintal atau kerja produktif tertentu lainnya. Bersama lenyapnya karakter berguna dari produk-produk kerja, lenyap pula karakter berguna dari kerja-kerja yang terwujud di dalamnya, jadi lenyap pula berbagai bentuk konkret dari kerja-kerja itu; mereka tidak lagi berbeda satu sama lain, melainkan seluruhnya direduksi menjadi kerja manusia yang sama, kerja manusia abstrak."

Dapatkah dikatakan lebih jelas dan lebih tegas bahwa bagi hubungan pertukaran bukan hanya suatu nilai pakai, melainkan juga suatu jenis kerja dan produk kerja "berlaku persis sama banyaknya dengan setiap yang lain, asalkan ia hadir dalam proporsi yang semestinya"? Bahwa dengan kata lain keadaan yang persis sama, yang atas dasarnya Marx baru saja menjatuhkan vonis penyingkirannya terhadap nilai pakai, juga berlaku berkenaan dengan kerja? Kerja dan nilai pakai memiliki sisi kualitatif dan sisi kuantitatif. Sebagaimana nilai pakai sebagai meja, rumah, atau benang berbeda secara kualitatif, demikian pula kerja sebagai kerja tukang kayu, kerja bangunan, atau kerja memintal. Dan sebagaimana orang dapat membandingkan kerja dari berbagai jenis menurut jumlahnya, persis demikian pula orang dapat membandingkan nilai pakai dari berbagai jenis menurut besarnya nilai pakai. Sama sekali tak terpahami mengapa keadaan yang identik itu bagi pesaing yang satu berujung pada penyingkiran, sedangkan bagi yang lain berujung pada penobatan dengan hadiah! Seandainya secara kebetulan Marx membalikkan urutan penyelidikannya, maka dengan aparatus penyimpulan yang persis sama, yang dengannya ia menyingkirkan nilai pakai, ia dapat menyingkirkan kerja, dan kemudian kembali dengan aparatus penyimpulan yang sama, yang dengannya ia menobatkan kerja, ia dapat memproklamasikan nilai pakai sebagai satu-satunya sifat bersama yang tersisa dan dengan demikian yang dicari, serta menyatakan nilai sebagai suatu "agar-agar nilai pakai". Saya percaya, dapat ditegaskan bukan sebagai gurauan, melainkan dengan sepenuh kesungguhan, bahwa dalam kedua alinea pada hlm. 12, yang pada alinea pertamanya pengaruh nilai pakai diabstraksikan keluar dan pada alinea keduanya kerja didemonstrasikan sebagai kesamaan yang dicari, subjek-subjeknya dapat dipertukarkan satu sama lain tanpa perubahan apa pun dalam ketepatan logis lahiriahnya; bahwa ke dalam struktur kalimat alinea pertama yang tak diubah, alih-alih nilai pakai, di mana-mana dapat disisipkan kerja dan produk kerja, dan ke dalam struktur alinea kedua, alih-alih kerja, di mana-mana dapat disisipkan nilai pakai!

Demikianlah logika dan metodologi yang dengannya Marx memperkenalkan dalil fundamentalnya – tentang kerja sebagai satu-satunya dasar nilai – ke dalam sistemnya. Saya menganggap sama sekali mustahil bahwa permainan sulap dialektis ini, bagi Marx sendiri, merupakan dasar dan sumber keyakinan. Seorang pemikir sekaliber Marx – dan saya menghargainya sebagai daya pikir kelas paling utama – seandainya yang menjadi persoalan baginya adalah membentuk keyakinannya sendiri terlebih dahulu dan benar-benar baru mencari pertautan faktual segala hal dengan pandangan yang bebas dan tak berpihak, sungguh mustahil sejak awal akan mencari di jalan yang demikian bengkok dan bertentangan dengan kodrat; ia sungguh mustahil, semata-mata karena ketidaksengajaan yang malang, akan tergelincir berturut-turut ke dalam semua kekeliruan logis dan metodis yang telah digambarkan itu, lalu membawa pulang tesis tentang kerja sebagai satu-satunya sumber nilai sebagai hasil yang tumbuh alamiah, yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki sebelumnya, dari suatu jalan penelitian semacam itu.

Saya percaya, keadaan yang sebenarnya berbeda. Saya sama sekali tidak ragu bahwa Marx benar-benar dan jujur diyakinkan oleh tesisnya. Namun alasan-alasan keyakinannya bukanlah yang ia tuliskan ke dalam sistem. Alasan-alasan itu agaknya lebih merupakan kesan-kesan daripada alasan-alasan.

Terutama kesan-kesan dari otoritas. Smith dan Ricardo, otoritas-otoritas besar itu, sebagaimana setidaknya diyakini pada masa itu, telah mengajarkan dalil yang sama. Memang mereka tidak lebih banyak memberikan landasan baginya daripada Marx, melainkan hanya mempostulatkannya berdasarkan kesan-kesan tertentu yang umum dan kabur. Sebaliknya, di mana mereka mengamati secara cermat, dan untuk bidang-bidang yang pengamatan lebih cermatnya tidak dapat dihindari, mereka justru secara tegas membantahnya. Untuk perekonomian empiris yang telah berkembang, Smith, persis seperti Marx dalam jilid ketiganya, mengajarkan adanya gravitasi nilai dan harga menuju suatu tingkat biaya yang, selain mencakup kerja, juga mencakup laba kapital rata-rata, dan Ricardo dalam Seksi IV yang termasyhur dari bab „On value“ pun dengan segala kejelasan dan ketegasan memaparkan bahwa, di samping kerja langsung dan tidak langsung, besaran dan jangka waktu investasi kapital juga turut menentukan secara berpengaruh terhadap nilai barang-barang. Agar dapat terus menggandrungi gagasan filosofis kesayangan tentang kerja sebagai sumber nilai yang „sejati“ tanpa kontradiksi yang kasatmata, mereka harus melarikan diri bersamanya ke negeri dongeng dan ke zaman dongeng, di mana belum ada kapitalis dan pemilik tanah. Di situ dalil itu dapat dikemukakan tanpa terbantah, karena tidak terkontrol. Tidak terkontrol oleh pengalaman, yang untuk hal itu memang tidak ada, dan tidak terkontrol oleh analisis psikologis-ilmiah, karena analisis semacam itu mereka hindari – persis seperti Marx: mereka tidak memberikan landasan, mereka mempostulatkan suatu idilium nilai-kerja sebagai keadaan yang „alamiah“.16

Ke dalam suasana hati dan pandangan semacam itu, yang melalui otoritas Smith dan Ricardo telah memperoleh wibawa yang luar biasa besar, meskipun bukannya tanpa perselisihan, Marx masuk sebagai ahli waris. Dan sebagai seorang sosialis yang berkobar-kobar, ia dengan senang hati memercayainya. Tak heran bahwa terhadap suatu gagasan yang begitu tepat untuk menopang pandangan dunia ekonominya, ia tidak bersikap lebih skeptis daripada seorang Ricardo, padahal gagasan itu pasti sangat bertentangan dengan kecenderungannya. Tak heran pula bahwa pernyataan-pernyataan kaum klasik yang saling bertentangan tidak menggerakkannya pada keraguan kritis terhadap tesis nilai-kerja, melainkan hanya ditafsirkannya sebagai upaya kaum klasik untuk mengelak, lewat jalan memutar, dari konsekuensi-konsekuensi yang tidak disukai dari suatu kebenaran yang tidak nyaman. Singkatnya, tak heran bahwa atas dasar bahan yang sama, yang telah menggoda kaum klasik pada pernyataan-pernyataan mereka yang sepihak, setengah kabur, setengah dibantah, dan sama sekali tanpa landasan itu, ia bagi dirinya sendiri memercayai dalil-dalil yang sama, namun dengan kuat, mutlak, dan dengan keyakinan yang berkobar-kobar. Bagi dirinya sendiri ia tidak membutuhkan alasan lebih lanjut. Hanya bagi sistemnya ia membutuhkan suatu landasan formal.

Bahwa dalam hal ini ia tidak dapat begitu saja bersandar pada kaum klasik, dapat dipahami, sebab mereka memang tidak memberikan landasan apa pun. Bahwa ia tidak dapat menyeru kepada pengalaman, dan tidak pula dapat mencoba suatu landasan psikologis-ekonomi, juga kita ketahui, sebab jalan-jalan ini jelas akan membawanya pada justru kebalikan dari pokok pembuktiannya. Maka berpalinglah ia kepada spekulasi logis-dialektis yang memang sesuai dengan arah pemikirannya. Dan di sini berlakulah: tolong, apa pun yang bisa menolong! Ia tahu apa yang hendak dan harus ia hasilkan, dan demikianlah ia mengutak-atik dan memuntir konsep-konsep dan premis-premis yang sabar itu dengan kecerdikan yang mengagumkan, begitu lama hingga hasil yang sudah diketahui sebelumnya benar-benar muncul dalam bentuk kesimpulan yang secara lahiriah terpandang. Mungkin ia begitu disilaukan oleh keyakinannya sehingga sama sekali tidak menyadari kejanggalan-kejanggalan logis dan metodis yang mau tak mau menyelinap di dalamnya; mungkin ia menyadarinya, tetapi membenarkannya di hadapan dirinya sendiri sebagai sekadar bantuan formal, demi membantu suatu kebenaran yang menurut keyakinannya yang terdalam berlandaskan materi untuk juga memperoleh balutan sistematis yang layak baginya: tentang hal itu aku tidak dapat menghakimi, dan hari ini agaknya tidak seorang pun lagi yang dapat menghakiminya. Namun yang ingin kutegaskan ialah bahwa agaknya tidak pernah ada kepala yang sedemikian dahsyat daya pikirnya, seperti Marx, yang menyuguhkan logika yang demikian beratnya, demikian terus-menerusnya, dan demikian kentaranya keliru, seperti yang dilakukan Marx dalam landasan sistematis dari tesis fundamentalnya.

Tesis yang keliru ini kini ia jalin ke dalam sistemnya. Dengan kepiawaian taktis yang mengagumkan, yang segera kembali terbukti dengan gemilang pada langkah-langkahnya berikutnya. Sebab, meskipun ia telah menurunkan tesisnya semata-mata „dari kedalaman kalbu“ dengan secermat-cermatnya menghindari bukti pengalaman, gagasan itu toh tidak dapat sepenuhnya ditolak: yakni untuk menguji hasil spekulasi aprioristis ini terhadap pengalaman. Andaikan Marx sendiri tidak melakukannya, niscaya para pembacanya akan melakukannya atas inisiatif sendiri. Lalu, bagaimana Marx bertindak?

Ia memilah. Pada satu titik, ketidaksesuaian tesisnya dengan pengalaman tampak mencolok. Titik ini ia sendiri yang menanganinya, dengan mencengkeram banteng pada tanduknya. Sebab, sebagai konsekuensi prinsip dasarnya, ia telah mengajarkan bahwa nilai berbagai komoditas berbanding lurus dengan waktu kerja yang diperlukan untuk menghasilkannya (I. 14). Nah, bahkan bagi pengamat yang sepintas pun sudah jelas bahwa dalil ini tidak bertahan menghadapi fakta-fakta tertentu, bahwa misalnya hasil sehari dari seorang pemahat patung, seorang tukang mebel seni, seorang pembuat biola, seorang pembuat mesin, dan sebagainya, pasti memiliki nilai yang tidak sama besar, melainkan jauh lebih tinggi daripada hasil sehari dari seorang tukang biasa atau buruh pabrik, meskipun pada keduanya „terwujudkan“ waktu kerja yang sama banyaknya. Marx kini mengangkat sendiri fakta-fakta ini dengan putaran dialektis yang piawai. Ia mencatatnya dengan nada seolah-olah fakta-fakta itu tidak mengandung suatu pertentangan terhadap prinsip dasarnya, melainkan hanya suatu variasi ringan darinya, yang masih bertahan di dalam aturan dan hanya memerlukan suatu penjelasan atau penentuan yang lebih cermat atasnya. Sebab ia menyatakan bahwa yang dimaksudnya sebagai kerja dalam pengertian teoremanya ialah „pengerahan tenaga kerja sederhana“, „yang secara rata-rata dimiliki oleh setiap manusia biasa, tanpa pengembangan khusus, dalam organisme jasmaninya“; dengan kata lain, „kerja sederhana rata-rata“ (I. 19), serupa juga sudah (I. 13). „Kerja yang lebih rumit“ – lanjutnya kemudian – „berlaku hanya sebagai kerja sederhana yang dipangkatkan atau, lebih tepatnya, yang dilipatgandakan, sehingga suatu kuantum kecil kerja rumit setara dengan suatu kuantum besar kerja sederhana. Bahwa reduksi ini senantiasa berlangsung, ditunjukkan oleh pengalaman. Suatu komoditas boleh jadi merupakan produk dari kerja yang paling rumit, namun nilainya menyetarakannya dengan produk kerja sederhana dan karena itu nilainya sendiri hanya mewakili suatu kuantum tertentu kerja sederhana. Berbagai proporsi yang dengannya beragam jenis kerja direduksi menjadi kerja sederhana sebagai satuan ukurnya ditetapkan melalui suatu proses kemasyarakatan di belakang punggung para produsen dan karena itu tampak bagi mereka seolah-olah diberikan oleh kebiasaan turun-temurun“.

Bagi pembaca yang berlalu dengan tergesa-gesa, keterangan ini barangkali memang terdengar cukup masuk akal. Namun, jika orang mengamati sedikit saja dengan kepala dingin dan jernih, kesan itu pun berbalik menjadi sebaliknya.

Fakta yang kita hadapi ialah bahwa produk dari sehari atau sejam kerja terampil memiliki nilai yang lebih besar daripada produk dari sehari atau sejam kerja sederhana, bahwa misalnya hasil sehari seorang pemahat patung setara nilainya dengan lima hasil harian seorang pemecah batu. Nah, Marx telah mengajarkan bahwa benda-benda yang dalam pertukaran disetarakan satu sama lain harus mengandung „sesuatu yang sama dalam besaran yang sama“, dan sesuatu yang sama ini seharusnya berupa kerja dan waktu kerja. Kerja begitu saja? Itulah yang dapat disangka dari uraian-uraian Marx yang pertama dan umum sampai dengan hal. 13, tetapi itu jelas tidak berlaku: sebab lima hari kerja pasti bukan „besaran yang sama“ dengan satu hari kerja. Itulah sebabnya Marx kini tidak lagi mengatakan kerja begitu saja, melainkan „kerja sederhana“: jadi sesuatu yang sama itu seharusnya berupa kandungan kerja yang sama banyaknya dari jenis tertentu, yakni kerja sederhana.

Akan tetapi, jika diamati dengan kepala dingin, hal itu malah lebih kurang berlaku lagi, sebab di dalam produk pemahat patung sama sekali tidak terwujudkan „kerja sederhana“ apa pun, apalagi kerja sederhana dalam jumlah yang sama seperti dalam lima hasil harian seorang pemecah batu. Kebenaran yang jernih ialah bahwa kedua produk itu mewujudkan jenis-jenis kerja yang berbeda dalam jumlah yang berbeda, dan itu, sebagaimana akan diakui oleh setiap orang yang tidak berprasangka, justru merupakan kebalikan yang nyata dari keadaan yang dituntut dan harus ditegaskan oleh Marx: yakni bahwa keduanya mewujudkan kerja dari jenis yang sama dalam jumlah yang sama!

Memang Marx mengatakan: kerja yang rumit „berlaku“ sebagai kerja sederhana yang dilipatgandakan, tetapi „berlaku“ bukanlah „adalah“, dan teori bertumpu pada hakikat segala sesuatu. Tentu saja manusia, dalam suatu pertimbangan tertentu, dapat menyetarakan sehari kerja pemahat patung dengan lima hari kerja pemecah batu, sebagaimana mereka misalnya juga dapat menyetarakan seekor rusa dengan lima ekor kelinci. Akan tetapi, sebagaimana penyetaraan semacam itu tidak akan memberikan hak kepada ahli statistik untuk menegaskan dengan kesungguhan ilmiah, tentang suatu kawasan perburuan yang di dalamnya terdapat 100 rusa dan 500 kelinci, bahwa di dalamnya ada 1000 kelinci, sekian pula sedikitnya ahli statistik harga atau teoretikus nilai berhak menegaskan dengan sungguh-sungguh bahwa di dalam hasil sehari seorang pemahat patung terwujudkan lima hari kerja sederhana, dan bahwa inilah alasan riil mengapa hasil itu dalam pertukaran disetarakan dengan lima hasil harian seorang pemecah batu. Segala hal yang dapat dibuktikan, apabila orang membolehkan dirinya, di tempat „adanya“ membiarkannya terlantar, menolong diri dengan „berlakunya“ dan „pemberlakuannya“, akan kucoba ilustrasikan sebentar lagi dengan suatu contoh yang langsung disesuaikan dengan persoalan nilai. Namun sebelumnya aku masih harus menyisipkan suatu pengamatan lain.

Sebab, dalam kutipan tersebut Marx melakukan suatu upaya untuk membenarkan manuvernya dengan „reduksi“ kerja rumit menjadi kerja sederhana, dan itu melalui pengalaman. „Bahwa reduksi ini senantiasa berlangsung, ditunjukkan oleh pengalaman. Suatu komoditas boleh jadi merupakan produk dari kerja yang paling rumit, namun nilainya menyetarakannya dengan produk kerja sederhana dan karena itu nilainya sendiri hanya mewakili suatu kuantum tertentu kerja sederhana“.

Baiklah. Untuk sementara kita biarkan hal itu berlaku, dan marilah kita amati saja dengan sedikit lebih cermat dengan cara apa dan oleh faktor-faktor apa tolok ukur reduksi bagi reduksi berdasarkan pengalaman yang diserukan Marx ini seharusnya ditentukan. Di situ kita terbentur pada pengamatan yang sangat wajar, tetapi sangat merugikan bagi teori Marx, bahwa tolok ukur reduksi itu tidak ditentukan oleh apa pun selain oleh perbandingan-perbandingan pertukaran faktual itu sendiri. Tidak ditentukan atau dapat ditentukan secara a priori dari suatu sifat apa pun yang melekat pada kerja-kerja terampil, dalam perbandingan berapa kerja-kerja itu harus dikonversikan menjadi kerja sederhana pada pembentukan nilai produk-produknya, melainkan tidak ada yang memutuskannya selain hasil faktual, perbandingan-perbandingan pertukaran faktual. Marx sendiri mengatakannya: „nilainya menyetarakannya dengan produk kerja sederhana“, dan ia merujuk pada „suatu proses kemasyarakatan“, yang melaluinya „di belakang punggung para produsen ditetapkan berbagai proporsi yang dengannya beragam jenis kerja direduksi menjadi kerja sederhana sebagai satuan ukurnya“, dan bahwa proporsi-proporsi ini karena itu „tampak diberikan oleh kebiasaan turun-temurun“.

Apa makna, dalam keadaan demikian, dari rujukan kepada "nilai" dan kepada "proses sosial" sebagai faktor-faktor yang menentukan ukuran reduksi? – Lepas dari segala hal lain, rujukan itu berarti suatu lingkaran yang telanjang dan murni dalam penjelasannya. Objek penjelasan tersebut semestinya adalah hubungan-hubungan pertukaran barang, misalnya juga mengapa sebuah patung kecil, yang menelan biaya satu hari kerja pemahat, dipertukarkan dengan satu gerobak batu pecah, yang menelan biaya lima hari kerja pemecah batu, dan bukan barangkali dengan jumlah batu pecah yang lebih besar atau lebih kecil yang menelan biaya sepuluh atau hanya tiga hari kerja. Apa yang dikatakan Marx kepada kita sebagai penjelasan? Hubungan pertukaran itu adalah demikian dan bukan yang lain, karena satu hari kerja pemahat justru harus direduksi menjadi lima hari kerja sederhana. Dan mengapa ia justru harus direduksi menjadi lima hari? Karena pengalaman menunjukkan bahwa ia direduksi demikian melalui suatu proses sosial. Dan proses sosial manakah itu? Proses yang sama yang seharusnya dijelaskan: proses yang sama yang melaluinya produk dari satu hari kerja pemahat justru disamakan nilainya dengan produk dari lima hari kerja biasa. Seandainya secara faktual ia secara teratur dipertukarkan hanya dengan produk dari tiga hari kerja sederhana, maka Marx akan sama saja menyuruh kita mengakui ukuran reduksi 1 : 3 sebagai ukuran yang sesuai pengalaman, dan menyandarkan padanya penjelasan bahwa dan mengapa sebuah patung kecil justru harus dipertukarkan dengan produk dari tiga hari kerja seorang pemecah batu, tidak lebih dan tidak kurang! Singkatnya, jelaslah bahwa dengan jalan ini kita sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang sebab yang sesungguhnya mengapa produk-produk dari berbagai jenis kerja dipertukarkan satu sama lain dalam perbandingan ini atau itu; ia dipertukarkan demikian, kata Marx kepada kita, sekalipun dengan kata-kata yang sedikit berbeda, karena menurut pengalaman ia memang dipertukarkan demikian!

Aku catat sambil lalu bahwa para epigon Marx, barangkali karena menyadari lingkaran yang baru saja digambarkan itu, telah mencoba menempatkan reduksi kerja rumit menjadi kerja sederhana di atas dasar yang lain, yang riil. "Bukanlah suatu fiksi, melainkan suatu fakta" – kata Grabski²⁸ – "bahwa satu jam kerja rumit mengandung di dalam dirinya beberapa jam kerja sederhana". Sebab orang harus, "demi tetap konsekuen, turut memperhitungkan pula kerja yang telah dicurahkan untuk memperoleh keterampilan itu". Aku kira tidak diperlukan banyak kata untuk membuat ketidakcukupan sepenuhnya dari jawaban ini pun menjadi nyata. Terhadap penambahan kuota kerja pembelajaran yang secara proporsional jatuh padanya kepada kerja pelaksanaan, aku sama sekali tidak hendak membantah. Tetapi jelas bahwa perbedaan-perbedaan dalam keberlakuan kerja rumit berhadapan dengan kerja sederhana hanya dapat dijelaskan dari penambahan ini apabila besarnya penambahan tersebut sepadan dengan besarnya perbedaan itu. Misalnya dalam kasus yang kita andaikan, di dalam satu jam kerja pemahatan yang dilaksanakan baru benar-benar terkandung lima jam kerja sederhana apabila pada setiap satu jam pelaksanaan jatuh empat jam pembelajaran, atau, dihitung ulang ke dalam satuan yang lebih besar, apabila dari 50 tahun kehidupan yang dicurahkan seorang pemahat untuk profesinya, baik dengan belajar maupun melaksanakan, ia harus belajar 40 tahun untuk dapat melaksanakan selama 10 tahun. Bahwa suatu perbandingan demikian, atau bahkan yang hanya mendekatinya, berlaku dalam kenyataan, tentu tidak akan ada seorang pun yang hendak menegaskannya. Karena itu aku berpaling dari hipotesis darurat epigon yang jelas tidak mencukupi itu kembali kepada ajaran sang guru sendiri, untuk menggambarkan jenis dan jangkauan kesesatannya dengan sebuah contoh lagi, yang di dalamnya cara penyimpulan Marx yang keliru itu, sebagaimana aku percaya, tampak dengan sejelas-jelasnya.

Sebab dengan jenis argumentasi yang persis sama dapat pula ditegaskan dan dipertahankan proposisi bahwa prinsip dan ukuran nilai tukar terletak pada kandungan materi barang, bahwa barang-barang dipertukarkan dalam perbandingan jumlah materi yang terwujud di dalamnya. Sepuluh kilo materi dalam bentuk barang yang satu setiap saat dipertukarkan dengan sepuluh kilo materi dalam bentuk barang yang lain. Apabila orang tentu saja membantah penegasan ini dengan mengatakan bahwa hal itu jelas keliru, sebab misalnya 10 kilo emas tidak dipertukarkan dengan 10, melainkan dengan 40.000 kilo besi atau dengan lebih banyak lagi kilo batu bara, maka kita menjawab menurut teladan Marx: untuk pembentukan nilai, yang menentukan adalah kandungan materi rata-rata yang biasa. Inilah yang berfungsi sebagai satuan ukuran. Materi yang berkualitas, halus, dan berharga "hanya berlaku sebagai materi sederhana yang dipotensikan atau lebih tepatnya digandakan, sehingga suatu kuantum materi berkualitas yang lebih kecil sama dengan suatu kuantum materi sederhana yang lebih besar. Bahwa reduksi ini berlangsung terus-menerus, ditunjukkan oleh pengalaman. Suatu barang boleh saja terdiri atas materi yang paling istimewa – nilainya menyamakannya dengan barang-barang yang dibentuk dari materi biasa dan karena itu ia sendiri pun hanya mewakili suatu kuantum materi biasa tertentu". Suatu "proses sosial", yang keberadaannya secara faktual sungguh tidak dapat diragukan, secara terus-menerus mereduksi misalnya satu pon emas mentah menjadi 40.000, satu pon perak mentah menjadi 1.500 pon besi mentah. Pengerjaan emas, misalnya oleh seorang pandai emas biasa atau oleh tangan seorang seniman besar, menghasilkan nuansa lebih lanjut dalam kualifikasi materi, yang menurut pengalaman diperlakukan secara adil oleh praktik melalui ukuran-ukuran reduksi khusus. Karena itu, apabila satu pon batang emas dipertukarkan dengan batang besi seberat 40.000 pon, atau apabila sebuah piala emas yang dibentuk oleh Benvenuto Cellini dengan berat yang sama dipertukarkan dengan 4.000.000 pon besi, maka itu bukan suatu pelanggaran, melainkan suatu penegasan terhadap proposisi bahwa barang-barang dipertukarkan dalam perbandingan "materi rata-rata" yang diwakilinya!

Aku kira pembaca yang tidak berprasangka tanpa kesulitan akan mengenali kembali dalam argumentasi-argumentasi ini kedua bahan ramuan resep Marx: penggantian "berlaku" dengan "ada", dan lingkaran penjelasan yang terletak pada penurunan ukuran reduksi dari hubungan-hubungan pertukaran faktual dalam masyarakat yang justru memerlukan penjelasan itu!

Demikianlah Marx telah menyelesaikan pertentangan yang paling mencolok antara fakta dan teorinya – secara dialektis tak terbantahkan dengan kepiawaian besar, namun dalam pokok persoalannya sendiri tentu saja, sebagaimana tidak bisa lain, dengan cara yang sama sekali tidak mencukupi.

Di samping itu masih terdapat ketidaksesuaian lain dengan pengalaman faktual, yang menurut derajatnya kurang mencolok, yakni ketidaksesuaian yang berasal dari peran investasi kapital dalam menentukan harga barang yang faktual, yang sama dengan yang, sebagaimana disebutkan di atas, dibahas Ricardo dalam Seksi IV Capital "On value". Terhadap ketidaksesuaian ini Marx menempuh arah yang lain. Untuk sementara ia sama sekali menutup matanya terhadapnya. Ia mengabaikannya sepanjang dua jilid. Ia berlaku seolah-olah ketidaksesuaian itu tidak ada, dengan mengabstraksikannya secara pengandaian sepanjang seluruh jilid pertama dan kedua. Sebab sepanjang seluruh pemaparan lebih lanjut ajaran nilainya, demikian pula dalam pengembangan teori nilai-lebihnya, ia selalu bertolak dari "pengandaian" yang sebagian dipegang secara diam-diam, sebagian diucapkan secara tegas, bahwa barang-barang sungguh-sungguh dipertukarkan menurut nilainya, yakni tepat dalam perbandingan kerja yang terwujud di dalamnya.17

Abstraksi pengandaian ini pun ia hubungkan kembali dengan suatu siasat dialektis yang luar biasa cerdik. Sebab terdapat penyimpangan-penyimpangan faktual tertentu dari kaidah teoretis, yang darinya seorang ahli teori sungguh boleh berabstraksi: itulah fluktuasi harga pasar yang kebetulan dan sementara di sekitar tingkat tetapnya yang teratur. Maka Marx tidak lupa, pada kesempatan-kesempatan demikian, ketika ia menyatakan hendak berabstraksi dari penyimpangan harga terhadap nilai, mengarahkan perhatian pembaca kepada "keadaan-keadaan kebetulan" semacam itu, yang darinya orang harus "mengabaikan", seperti pada "osilasi harga pasar yang terus-menerus", yang "naik dan turunnya saling mengompensasi", dan yang "mereduksi dirinya sendiri menjadi harga rata-rata sebagai kaidah batiniahnya".18 Melalui rujukan demikian ia memperoleh persetujuan pembaca atas abstraksinya, namun bahwa di situ ia tidak hanya berabstraksi dari fluktuasi yang kebetulan, melainkan juga dari "penyimpangan" yang sepenuhnya tetap, bertahan, dan tipikal, yang keberadaannya justru membentuk suatu bagian yang menyatu dari kaidah yang hendak dijelaskan itu sendiri, tetap tersembunyi bagi pembaca yang tidak benar-benar mencermati, dan ia meluncur tanpa curiga melewati dosa metodologis yang mematikan dari sang pengarang.

Sebab merupakan dosa metodologis yang mematikan, apabila dalam suatu penyelidikan ilmiah orang mengabaikan justru apa yang seharusnya dijelaskan. Padahal teori nilai-lebih Marx tidak bertujuan apa pun selain suatu penjelasan tentang keuntungan kapital yang dirumuskan menurut maknanya sendiri. Akan tetapi keuntungan kapital justru terletak pada penyimpangan-penyimpangan tetap harga barang dari jumlah biaya kerja belaka. Karena itu, apabila orang mengabaikan "penyimpangan" ini, maka ia justru mengabaikan bagian utama dari apa yang seharusnya dijelaskan. Dua belas tahun yang lalu aku telah menegur kekeliruan metodologis yang sama, baik terhadap Rodbertus, yang telah membuat dirinya bersalah dalam hal yang sama, maupun terhadap Marx sendiri.³¹ Izinkan aku mengulang kata-kata penutup kritikku waktu itu:

„Mereka (para penganut teori eksploitasi) menegaskan hukum bahwa nilai semua barang berlandaskan pada waktu kerja yang terwujud di dalamnya, untuk pada saat berikutnya menyerang setiap pembentukan nilai yang tidak selaras dengan „hukum“ ini, misalnya selisih-selisih nilai yang sebagai nilai-lebih jatuh kepada kapitalis, sebagai „melawan hukum“, „tidak wajar“, „tidak adil“, dan menganjurkan pemberantasannya. Jadi mula-mula mereka mengabaikan pengecualian itu, agar dapat memaklumkan hukum nilainya sebagai hukum yang umum. Dan setelah dengan demikian mereka memperoleh keberlakuan umumnya secara curang, mereka kembali menaruh perhatian pada pengecualian-pengecualian itu, untuk mencap mereka sebagai pelanggaran terhadap hukum. Cara penyimpulan semacam ini sungguh tidak lebih baik daripada apabila orang mengamati bahwa ada banyak manusia yang bodoh, mengabaikan bahwa ada pula manusia yang bijaksana, melalui itu sampai pada „hukum yang berlaku umum“ bahwa „semua manusia bodoh“, lalu menuntut pemberantasan orang-orang bijaksana yang keberadaannya „melawan hukum“!“ (Böhm-Bawerk)³²

Untuk pemaparannya, memang Marx memperoleh keuntungan taktis yang besar melalui manuver abstraksinya. Ia telah mengeluarkan kenyataan yang mengganggu secara „pengandaian“ dari sistemnya dan karena itu, selama ia dapat mempertahankan pengeluaran ini, ia tidak jatuh ke dalam konflik apa pun dengannya. Hal ini berlaku untuk bagian selebihnya, yang sejauh ini merupakan bagian terbesar, dari jilid pertama, untuk seluruh jilid kedua, dan juga untuk seperempat pertama jilid ketiga. Pada aliran tengah sistem Marx ini, arus perkembangan dan keterkaitan logisnya mengalir dengan suatu keutuhan dan konsistensi batiniah yang sungguh mengesankan. Marx di sini boleh menjalankan logika yang baik, karena melalui jalan "pengandaian" ia telah lebih dahulu menyelaraskan fakta dengan gagasan-gagasannya, dan karena itu dapat tetap setia kepada gagasan-gagasan ini tanpa berbenturan dengan fakta, dan di mana Marx boleh menjalankan logika yang baik, di situ ia juga mampu melakukannya, dan memang dengan cara yang piawai. Bagian-bagian tengah sistem ini, betapa pun kelirunya titik tolaknya, melalui konsistensi batiniahnya yang luar biasa akan menetapkan untuk selamanya kemasyhuran penulisnya sebagai suatu kekuatan pemikiran tingkat pertama. Dan – sebagai akibat sampingan yang pasti tidak sedikit memberi keuntungan bagi pengaruh praktis sistem Marx – selama aliran tengah yang panjang ini, yang pada hakikatnya sungguh tak tercela dalam konsistensi batiniahnya, para pembaca, yang telah berhasil mengatasi permulaan yang riuh itu dengan selamat, memperoleh waktu untuk menyatu ke dalam dunia pemikiran Marx dan untuk memperoleh kepercayaan terhadap alur-alur gagasan, yang sekarang sungguh begitu indah mengalir yang satu dari yang lain dan begitu tertata rapi terangkai menjadi suatu keseluruhan. Demikianlah para pembaca yang telah teguh dalam kepercayaan itulah yang dihampiri Marx dengan tuntutan-tuntutan keras itu, yang pada akhirnya terpaksa ia ajukan dalam jilid ketiga.

Sebab betapa pun Marx menundanya – pada suatu saat ia harus membuka mata terhadap fakta-fakta kehidupan nyata. Akhirnya ia harus mengakui di hadapan para pembacanya bahwa dalam kehidupan faktual barang-barang dipertukarkan, dan memang secara teratur dan niscaya, tidak dalam perbandingan waktu kerja yang terwujud di dalamnya, melainkan sebagian di bawah, sebagian di atas perbandingan ini, tergantung apakah kapital yang diinvestasikan menuntut jumlah laba rata-rata yang lebih kecil atau lebih besar; singkatnya, bahwa di samping waktu kerja, investasi kapital pun membentuk suatu faktor penentu yang terkoordinasi atas hubungan pertukaran barang. Dari situ tumbuh dua tugas berat bagi Marx. Pertama, ia harus berusaha membenarkan diri di hadapan para pembacanya atas kenyataan bahwa pada mulanya dan begitu lama ia telah mengajarkan bahwa kerja membentuk satu-satunya faktor penentu hubungan pertukaran; dan kedua – yang barangkali merupakan tugas yang bahkan lebih berat – untuk fakta-fakta yang memusuhi teorinya itu ia harus pula memberikan kepada para pembacanya suatu penjelasan teoretis, yang jelas tidak dapat sepenuhnya diserap tanpa sisa ke dalam teori nilai-kerjanya, namun di sisi lain juga tidak boleh bertentangan dengannya.

Bahwa dalam demonstrasi-demonstrasi ini logika yang baik dan lurus tidak lagi memadai, mudah dipahami. Kini kita menyaksikan padanan dari permulaan sistem yang kacau itu. Di sana Marx, untuk menurunkan suatu teorema yang tidak dapat diturunkan dari fakta-fakta melalui jalan yang lurus, terpaksa sebagian memperkosa fakta, sebagian dan terutama memperkosa logika, serta harus menerima beberapa kekeliruan berpikir yang paling sukar dipercaya. Kini situasi itu berulang. Kini teorema-teorema, yang selama dua jilid sendirian dan karenanya tanpa gangguan menguasai medan, kembali bertemu dengan fakta-fakta, yang tentu saja sama sekali tidak cocok dengan teorema-teorema itu sebagaimana halnya pada permulaan. Namun demikian, keselarasan sistem itu harus dipertahankan. Hal itu tidak dapat terjadi dengan cara lain selain sekali lagi dengan mengorbankan logika. Karena itu, dalam sistem Marx kita menyaksikan tontonan yang pada pandangan pertama terasa asing, tetapi dalam keadaan-keadaan yang telah diuraikan itu sebenarnya sepenuhnya wajar, yaitu bahwa bagian sistem yang dari segi cakupannya jauh lebih dominan merupakan suatu mahakarya logika yang ketat dan padu, yang layak bagi daya pikir penulisnya, tetapi yang pada dua tempat – sayangnya justru tempat-tempat yang menentukan – disisipi bagian-bagian dengan alur pikiran yang luar biasa lemah dan ceroboh: yang pertama kalinya pada permulaan sekali, ketika teori untuk pertama kalinya memisahkan diri dari fakta-fakta, dan yang kedua kalinya setelah seperempat pertama jilid ketiga, ketika fakta-fakta kembali dimunculkan ke dalam cakrawala pandang para pembaca; yang terutama menjadi pokok pembahasan di sini adalah bab kesepuluh dari buku ketiga (hlm. 151 – 179).

Sebagian dari isi itu telah kita kenal dan kita nilai; yaitu pembelaan diri Marx terhadap tuduhan adanya pertentangan antara hukum harga produksi dan "hukum nilai".19 Kini masih perlu untuk melontarkan pandangan kepada tugas kedua dari bab yang dimaksud, yaitu kepada penjelasan teoretis yang dengannya Marx memperkenalkan teori harga produksi – yang memperhitungkan keadaan-keadaan faktual20 – ke dalam sistemnya. Tinjauan ini membawa kita lagi kepada salah satu titik yang paling instruktif dan paling khas bagi sistem Marx: kepada kedudukan "persaingan" dalam sistemnya.

"Persaingan" itu, sebagaimana telah saya isyaratkan satu kali di atas, merupakan semacam nama kolektif bagi segala dorongan dan motif psikis yang menuntun pihak-pihak pasar dalam tingkah laku mereka, dan yang dengan cara ini memperoleh pengaruh atas pembentukan harga. Pihak yang berhasrat membeli memiliki motif-motifnya, yang ia kejar saat membeli, dan yang darinya muncul baginya suatu pedoman tertentu mengenai tinggi harga yang pada mulanya atau dalam keadaan paling ekstrem bersedia ia tawarkan. Dan demikian pula penjual dan produsen memiliki motif-motif tertentu yang menentukan baginya untuk melepas barangnya pada harga-harga tertentu dan tidak pada harga-harga lain, untuk melanjutkan atau bahkan memperluas produksinya pada tinggi harga tertentu, tetapi menghentikannya pada tinggi harga yang lain. Dalam persaingan antara pembeli dan penjual, kini semua dorongan dan dasar penentu ini bertemu satu sama lain, dan siapa pun yang untuk menjelaskan suatu pembentukan harga merujuk kepada persaingan, pada dasarnya merujuk – di bawah suatu nama kolektif – kepada permainan dan kerja dari segala motif dan dorongan psikis yang menjadi penuntun pada kedua pihak pasar.

Marx kini secara umum berusaha menempatkan persaingan dan kekuatan-kekuatan yang bekerja di dalamnya pada kedudukan yang sebawah mungkin dalam sistemnya. Ia mengabaikannya, atau setidaknya ia berupaya mengurangi sifat dan kadar pengaruhnya, di mana dan dengan cara apa pun yang ia bisa. Hal itu tampak secara mencolok pada berbagai kesempatan.

Sudah tampak pada penurunan hukum nilai kerjanya. Setiap orang yang tidak berprasangka mengetahui dan melihat bahwa pengaruh yang dimiliki jumlah kerja yang dikeluarkan terhadap bentuk harga barang yang langgeng – pengaruh ini memang tidak bersifat sedemikian eksklusif sebagaimana dinyatakan oleh hukum nilai Marx – hanya diperantarai oleh permainan penawaran dan permintaan, atau oleh persaingan. Pada pertukaran-pertukaran yang terpencil atau pada suatu monopoli dapat muncul harga-harga yang (bahkan terlepas dari tuntutan modal yang diinvestasikan) sama sekali tidak sebanding dengan waktu kerja yang terwujud di dalamnya. Tentu Marx pun mengetahui hal itu. Tetapi pada mulanya, ketika menurunkan hukum nilainya, ia tidak menyinggungnya. Seandainya ia melakukannya, niscaya pertanyaan dan penyelidikan lanjutan tidak dapat diabaikan, yaitu dengan cara apa dan melalui mata-mata rantai antara yang mana, di antara segala motif dan faktor yang bekerja di bawah panji persaingan, justru waktu kerja yang seharusnya memperoleh pengaruh yang satu-satunya menentukan atas tinggi harga. Dan analisis lengkap atas motif-motif itu, yang dalam hal ini tak terhindarkan, niscaya akan menempatkan nilai-guna barang ke latar depan jauh lebih kuat daripada yang dapat menyenangkan Marx, akan memperlihatkan banyak hal dalam penerangan yang lain dan akhirnya banyak hal yang sama sekali tidak ingin Marx beri tempat dalam sistemnya.

Karena itu, pada kesempatan yang seharusnya menjadikan suatu pembenaran yang sistematis dan lengkap atas hukum nilainya mewajibkan ia memaparkan peran perantara persaingan, ia mula-mula melewati titik ini dengan sepenuhnya bungkam. Kemudian ia memang mengingatnya, tetapi menurut tempat dan cara penyebutannya bukan seperti suatu mata rantai penting dalam sistem teoretis, melainkan dalam catatan-catatan sambil lalu dan sekilas, yang menyebut fakta itu dengan beberapa patah kata saja, seolah-olah sebagai sesuatu yang kurang lebih dengan sendirinya sudah jelas, dan tanpa bersusah payah dengan suatu pembenaran yang lebih mendalam.

  • bahwa pertukaran barang bukan sekadar bersifat "kebetulan atau sambil lalu";
  • bahwa barang-barang "diproduksi pada kedua sisi dalam kuantitas yang kurang lebih sebanding dengan kebutuhan timbal balik, yang dibawa serta oleh pengalaman timbal balik mengenai penjualan, dan yang dengan demikian tumbuh sebagai hasil dari pertukaran yang berlanjut itu sendiri", dan bahwa "tidak ada monopoli alamiah atau buatan yang memampukan salah satu pihak yang berkontrak untuk menjual di atas nilai, atau memaksanya untuk melepas di bawah nilai".

Jadi suatu persaingan timbal balik yang hidup, yang juga telah berlangsung cukup lama untuk menyesuaikan produksi menurut penjualan yang teruji oleh pengalaman, atau menurut kebutuhan para pembeli, dituntut Marx di sini sebagai syarat agar hukum nilainya sama sekali dapat menjadi berlaku. Kita harus menyimpan baik-baik tempat ini dalam ingatan.

Suatu pembenaran yang lebih cermat tidak disertakan padanya. Sebaliknya, tak lama kemudian, dan justru di tengah-tengah uraian-uraian itu, yang di dalamnya Marx masih secara relatif paling terperinci berbicara tentang persaingan, kedua "sisi"-nya, yaitu permintaan dan penawaran, serta hubungannya dengan pembentukan harga, ia secara tegas menolak suatu "analisis yang lebih mendalam atas kedua kekuatan pendorong masyarakat ini" sebagai "tidak pada tempatnya di sini"!21

Tetapi lebih dari itu! Untuk lebih jauh merendahkan makna penawaran dan permintaan bagi sistem teoretis, dan agaknya juga untuk membenarkan pengabaian teoretisnya atas faktor-faktor ini, Marx telah mereka-reka suatu teori tersendiri yang aneh, yang ia kembangkan pada hlm. 169 dan 170 jilid ketiga, setelah ia menyinggungnya dalam isyarat-isyarat sambil lalu sebelumnya. Ia berpangkal dari anggapan bahwa, apabila salah satu dari kedua faktor itu melebihi yang lain, misalnya permintaan melebihi penawaran, atau sebaliknya, terbentuklah harga-harga pasar yang tidak teratur, yang menyimpang dari "nilai pasar" yang membentuk "pusat fluktuasi" bagi harga-harga pasar ini; bahwa sebaliknya, apabila barang-barang harus terjual pada nilai pasar normalnya ini, permintaan dan penawaran harus tepat saling menutupi. Dan pada hal itu ia menyambungkan argumentasi yang aneh berikut ini: "Apabila permintaan dan penawaran saling menutupi, keduanya berhenti bekerja. Apabila dua kekuatan bekerja secara sama besar dalam arah yang berlawanan, keduanya saling meniadakan, keduanya sama sekali tidak bekerja keluar, dan gejala-gejala yang terjadi dalam syarat ini harus dijelaskan dengan cara lain selain melalui campur tangan kedua kekuatan ini. Apabila permintaan dan penawaran saling meniadakan, keduanya berhenti menjelaskan apa pun, keduanya tidak bekerja atas nilai pasar dan justru membiarkan kita dalam kegelapan mengenai mengapa nilai pasar itu menyatakan dirinya justru dalam jumlah uang ini dan bukan dalam jumlah yang lain." Karena itu, dari hubungan antara permintaan dan penawaran memang dapat dijelaskan "penyimpangan-penyimpangan dari nilai pasar" yang ditimbulkan oleh dominasi satu kekuatan atas yang lain, tetapi bukan tinggi nilai pasar itu sendiri.

Bahwa teori yang ganjil ini cocok dengan baik ke dalam sistem Marx, sudah jelas. Apabila dari hubungan antara penawaran dan permintaan sama sekali tidak ada yang dapat dijelaskan untuk tinggi harga-harga yang langgeng, maka memang sudah pada tempatnya bahwa Marx, dalam peletakan dasarnya, tidak lagi memedulikan faktor-faktor yang tak berarti ini dan tanpa berbelit-belit memperkenalkan ke dalam sistem itu faktor yang menurut pendapatnya semata-mata memberikan pengaruh nyata atas tinggi nilai, yaitu kerja.

Tetapi, sebagaimana saya percaya, tidak kurang jelas bahwa teori yang ganjil itu sepenuhnya keliru. Argumentasinya bertumpu, sebagaimana begitu sering pada Marx, pada suatu permainan kata.

Sepenuhnya benar bahwa pada penjualan suatu barang pada nilai pasar normalnya, dalam suatu pengertian tertentu, penawaran dan permintaan harus saling menutupi: artinya, bahwa pada harga ini sebanyak barang yang ditawarkan juga diminta secara efektif. Tetapi hal ini berlaku bukan hanya pada penjualan menurut nilai pasar normal, melainkan pada setiap harga pasar, juga pada harga pasar yang menyimpang dan tidak teratur. Selanjutnya, sudah diketahui setiap orang, dan juga Marx tahu betul, bahwa penawaran dan permintaan merupakan besaran-besaran yang elastis. Selain permintaan dan penawaran yang secara faktual mencapai pertukaran, selalu ada pula permintaan dan penawaran yang "tersisihkan"; sejumlah orang yang juga menghendaki barang itu untuk kebutuhan mereka, tetapi tidak mau atau tidak mampu menawarkan harga yang ditawarkan oleh pesaing-pesaing mereka yang lebih kuat, dan sejumlah orang yang juga bersedia menyediakan barang yang diminta itu, tetapi hanya pada harga yang lebih tinggi daripada harga yang dipertanyakan di pasar saat ini. Maka, ungkapan bahwa penawaran dan permintaan "saling menutupi" sama sekali tidak berlaku bagi seluruh permintaan dan penawaran, melainkan hanya bagi bagian yang berhasil. Tetapi akhirnya sudah pula menjadi hal yang diketahui bahwa mekanika pasar justru menemukan tugasnya dalam penyaringan bagian yang berhasil dari keseluruhan permintaan dan keseluruhan penawaran, dan bahwa sarana terpenting dari penyaringan ini adalah pembentukan harga. Tidak dapat lebih banyak barang dibeli daripada dijual. Karena itu, dari kedua sisi hanya sama banyak peminat (atau peminat untuk sama banyak barang) yang dapat sampai pada transaksi. Penyaringan jumlah yang sama ini kini terjadi karena harga secara otomatis digeser ke suatu tinggi yang melaluinya kelebihan jumlah pada kedua sisi tersisihkan, sehingga harga itu sekaligus terlalu tinggi bagi pihak yang berhasrat membeli yang berlebih dan terlalu rendah bagi pihak yang berhasrat menjual yang berlebih. Dalam penentuan tinggi harga ini, kini bukan hanya mereka yang sampai pada transaksi, melainkan juga keadaan-keadaan dari para peminat yang tersisihkan memiliki bagian,22 dan sudah karena itu keliru untuk menyimpulkan, dari kesamaan bagian penawaran dan permintaan yang sampai pada transaksi, suatu peniadaan yang sepenuhnya atas pengaruh yang sama sekali berasal dari penawaran dan permintaan.

Tetapi hal ini juga keliru karena suatu alasan lain. Sekalipun kita andaikan bahwa yang berkaitan dengan pembentukan harga hanyalah bagian yang berhasil dari penawaran dan permintaan, yang secara kuantitatif berada dalam keseimbangan, tetaplah merupakan suatu anggapan yang sepenuhnya sesat dan tidak ilmiah bahwa kekuatan-kekuatan yang justru saling menjaga keseimbangan karena itu "berhenti" bekerja. Sebaliknya, kerja keduanya justru adalah keadaan keseimbangan yang dicapai itu, dan apabila persoalannya adalah menjelaskan keadaan keseimbangan ini dengan segala kekhususannya – di antaranya secara menonjol termasuk tinggi taraf di mana keseimbangan itu ditemukan – maka hal ini tidak dapat terjadi, sebagaimana disangka Marx, hanya "dengan cara lain selain melalui campur tangan kedua kekuatan itu", melainkan sebaliknya hanya dapat terjadi melalui campur tangan kekuatan-kekuatan yang saling menjaga keseimbangan itu. Lagi pula, kalimat-kalimat abstrak semacam itu paling jitu dapat dibuat terang melalui suatu contoh praktis.

Kita biarkan sebuah balon udara naik. Setiap orang tahu bahwa balon udara itu naik manakala dan oleh karena ia diisi dengan suatu gas yang lebih tipis daripada udara atmosfer. Akan tetapi, ia tidak naik tanpa batas, melainkan hanya sampai pada suatu ketinggian tertentu, di mana ia kemudian bertahan melayang, selama tidak ada pengaruh lain, seperti keluarnya gas dan sebagainya, yang mengubah keadaan. Lalu, bagaimanakah ketinggian naik ini mengatur dirinya sendiri, dan oleh faktor-faktor apakah ia ditentukan? Hal itu pun sepenuhnya jelas dan terang. Kerapatan udara atmosfer berkurang ke arah atas. Balon hanya naik selama kerapatan lapisan udara yang sedang mengelilinginya masih lebih besar daripada kerapatannya sendiri, dan ia berhenti naik apabila kerapatannya sendiri dan kerapatan lapisan udara di sekitarnya tepat saling mengimbangi. Dengan demikian, balon udara akan naik semakin tinggi, semakin kecil kerapatan gas pengisinya, dan semakin tinggi lapisan udara yang di dalamnya derajat kerapatan yang sama pada udara atmosfer dijumpai. Dalam keadaan ini sudah terang bahwa penjelasan tentang ketinggian naik sama sekali tidak dapat diperoleh dengan cara lain selain dengan merujuk pada hubungan kerapatan timbal balik antara balon di satu pihak dan udara atmosfer di pihak lain.

Namun, bagaimanakah perkara ini akan tampak menurut lingkaran gagasan Marx? Pada ketinggian naik yang telah tercapai, kedua gaya itu, kerapatan balon dan kerapatan udara di sekitarnya, tepat saling mengimbangi. Karena itu mereka "berhenti bekerja", "mereka berhenti menjelaskan apa pun", mereka "tidak bekerja terhadap ketinggian naik", dan apabila kita oleh karena itu hendak menjelaskan ketinggian naik tersebut, kita harus menjelaskannya "dengan cara lain daripada melalui campur tangan kedua gaya ini"! Ya, lalu melalui apa?!

Atau, apabila sebuah timbangan desimal pada saat menimbang suatu benda menunjuk ke angka 50 kilogram, bagaimanakah kedudukan timbangan ini dapat dijelaskan? Tidak dapat melalui perbandingan antara berat benda yang hendak ditimbang di satu pihak dan anak timbangan yang dipakai untuk menimbang di pihak lain, sebab kedua gaya ini pada kedudukan timbangan yang bersangkutan tepat saling mengimbangi, oleh karena itu berhenti bekerja, dan dari perbandingan keduanya sama sekali tidak dapat dijelaskan apa pun, juga tidak kedudukan timbangan itu!

Saya kira, kekeliruan itu cukup jelas, dan tidak kurang jelasnya pula bahwa jenis kekeliruan yang sama itu mendasari uraian-uraian yang di dalamnya Marx menalar-singkirkan pengaruh permintaan dan penawaran terhadap tinggi-rendahnya harga yang bertahan lama. Agar pula sama sekali tidak timbul kesalahpahaman: sama sekali bukan pendapat saya bahwa rujukan pada rumus permintaan dan penawaran sudah memuat suatu penjelasan yang lengkap dan memuaskan tentang harga yang bertahan lama. Sebaliknya, pendapat saya yang di tempat lain telah sering dan secara mendalam saya ungkapkan adalah bahwa unsur-unsur yang dengan kata pilihan itu hanya ditunjukkan secara kasar dan menyeluruh harus dianalisis secara cermat, jenis dan ukuran pengaruh timbal baliknya harus ditetapkan secara tepat, dan dengan cara demikian harus diperoleh pula pengetahuan tentang unsur-unsur tersebut, yang padanya melekat suatu pengaruh khusus justru terhadap kedudukan harga yang bertahan lama. Akan tetapi, bagi penjelasan yang lebih mendalam ini, pengaruh perbandingan permintaan dan penawaran terhadap pembentukan harga, yang dinalar-singkirkan oleh Marx, merupakan suatu mata rantai antara yang tak terhindarkan: penjelasan itu tidak berjalan di samping pengaruh tersebut, melainkan menembus tepat melalui pengaruh itu.

Marilah kita ambil kembali benang kita. Kita telah melihat pada pelbagai tanda betapa kuatnya Marx berusaha membuat pengaruh permintaan dan penawaran surut ke latar belakang dalam sistemnya. Kini, pada belokan yang ganjil yang dibuat sistemnya setelah seperempat pertama jilid ketiga, tampillah baginya tugas untuk menjelaskan mengapa harga-harga komoditas yang bertahan lama tidak berkiblat pada kuantitas kerja yang terkandung di dalamnya, melainkan pada "harga produksi" yang menyimpang darinya.

Sebagai gaya yang mewujudkan hal ini, ia menyebut – persaingan. Persaingan menyamaratakan tingkat-tingkat laba yang semula berbeda-beda untuk pelbagai cabang produksi, sesuai dengan susunan organik modal yang berbeda-beda, menjadi satu tingkat laba rata-rata umum, 57^{57}57 dan sehubungan dengan itu, harga-harga pada jangka panjang harus berkiblat pada harga produksi yang menghasilkan satu laba rata-rata yang sama.

Marilah kita dengan cepat menetapkan beberapa pokok yang penting bagi penilaian terhadap penjelasan ini.

Pertama, jelaslah bahwa rujukan pada persaingan, dari segi isinya, tidak berarti lain selain rujukan pada kerja permintaan dan penawaran. Dalam bagian yang sudah pernah kami kemukakan di atas, di mana Marx dengan paling ringkas melukiskan proses penyamarataan tingkat laba melalui persaingan modal-modal (III. 175 dst.), ia memang membiarkan proses ini secara sangat tegas diwujudkan melalui "suatu perbandingan penawaran terhadap permintaan sedemikian rupa, sehingga laba rata-rata dalam pelbagai lingkup produksi menjadi sama, dan oleh karena itu nilai-nilai berubah menjadi harga produksi".

Kedua, tetaplah pasti bahwa dalam proses ini bukanlah perkara semata-mata fluktuasi di sekitar pusat gravitasi yang sesuai dengan teori nilai dari kedua jilid pertama, yakni di sekitar waktu kerja yang terkandung, melainkan perkara pengusiran harga secara definitif ke suatu pusat gravitasi lain yang bertahan lama, yakni harga produksi.

Dan kini pertanyaan demi pertanyaan berdesakan datang.

Apabila menurut Marx perbandingan permintaan dan penawaran sama sekali tidak dapat menimbulkan pengaruh apa pun terhadap tinggi-rendahnya harga yang bertahan lama, bagaimanakah "persaingan", yang identik dengan perbandingan inilah, dapat menjadi gaya yang menggeser tinggi-rendahnya harga yang bertahan lama dari tingkat "nilai" ke tingkat harga produksi yang menyimpang demikian jauh darinya?

Bukankah dalam penyeruan terpaksa dan bertentangan dengan teori terhadap persaingan sebagai Deus ex machina ini, yang mengusir harga yang bertahan lama dari pusat gravitasi yang sesuai dengan teori, yaitu kuantitas kerja yang terkandung, menuju pusat gravitasi lain, justru tanpa disengaja menyeruak suatu pengakuan, bahwa "gaya-gaya pendorong masyarakat" yang mengatur kehidupan nyata mencakup di dalamnya dan menampilkan suatu unsur penentu dasar tertentu dari hubungan pertukaran yang tidak dapat direduksi menjadi waktu kerja, dan dengan demikian bahwa analisis dari teori semula, yang menyuling tidak lain daripada waktu kerja sebagai dasar yang melandasi hubungan pertukaran, merupakan analisis yang tidak lengkap dan tidak sesuai dengan kenyataan?

Dan selanjutnya: Marx sendiri telah mengatakan kepada kita, dan kita telah menanamkan dengan baik bagian ini dalam ingatan,23 bahwa komoditas hanya saling dipertukarkan kira-kira menurut nilainya apabila terdapat persaingan yang giat; jadi pada waktu itu ia menyerukan persaingan sebagai suatu faktor yang mempunyai kecenderungan untuk mendesakkan harga komoditas menuju "nilai"-nya. Dan kini kita mengenal persaingan sebagai suatu gaya yang sebaliknya mendesakkan harga komoditas menjauh dari "nilai"-nya dan mendekat ke harga produksi! Adakah suatu pendamaian bagi ungkapan-ungkapan ini, yang lebih-lebih lagi terdapat dalam satu dan bab yang sama, yakni bab kesepuluh jilid ketiga yang agaknya ditakdirkan untuk suatu ketenaran yang fatal? Dan andaikata Marx barangkali bermaksud menemukan pendamaian itu dalam kenyataan bahwa kalimat yang satu berlaku bagi keadaan-keadaan purba, sedangkan yang lain berlaku bagi masyarakat modern yang telah berkembang – tidakkah harus kita hadapkan kepadanya, – bahwa dalam bab pertama karyanya ia memperkenalkan teori nilai-kerjanya bukan dari keadaan suatu Robinsonade, melainkan dari keadaan masyarakat-masyarakat "yang di dalamnya cara produksi kapitalistis berkuasa", dan yang "kekayaannya tampil sebagai suatu kumpulan komoditas yang luar biasa besarnya"? Dan tidakkah ia, di sepanjang karyanya, juga menuntut agar kita memandang dan menilai keadaan masyarakat modern kita dalam cahaya teori kerjanya? Akan tetapi, apabila kita bertanya, di manakah menurut ungkapan-ungkapannya sendiri wilayah berlakunya hukum nilainya harus dicari dalam masyarakat modern, kita mencarinya sama sekali sia-sia. Sebab entah tidak ada persaingan: maka komoditas sama sekali tidak saling dipertukarkan menurut nilainya, menurut Marx II. 156 dst., atau persaingan itu bekerja: maka komoditas justru semakin tidak saling dipertukarkan menurut nilainya, melainkan menurut harga produksinya, menurut Marx III. 176!

Demikianlah dalam bab kesepuluh yang penuh firasat buruk itu pertentangan bertumpuk di atas pertentangan. Saya tidak ingin memperpanjang lagi penyelidikan yang sudah terurai sedemikian jauh ini dengan menyebutkan pula semua pertentangan dan ketidakcermatan yang lebih kecil, yang dengannya bab ini berkeriapan. Saya kira, setiap orang yang membaca bab ini dengan tidak berprasangka akan mendapat kesan bahwa bab itu, boleh dikatakan, menyimpang dari tabiat aslinya. Sebagai pengganti ungkapan yang ketat, padat, dan hati-hati, sebagai pengganti logika yang sekokoh besi yang biasa kita jumpai dari bagian-bagian gemilang karya Marx, di sini kita mendapati ketidakpastian dan sifat yang loncat-loncat bukan hanya dalam argumentasinya, melainkan bahkan dalam penggunaan istilah-istilah teknisnya. Betapa mencoloknya, misalnya, pemahaman tentang permintaan dan penawaran yang terus-menerus berganti-ganti, yang sebentar dipandang dengan sepenuhnya benar sebagai besaran-besaran elastis dengan perbedaan intensitas, namun sebentar lagi, menurut contoh terburuk dari suatu "ekonomi vulgar" yang sudah lama ketinggalan zaman, dipandang sebagai kuantitas-kuantitas sederhana belaka; atau betapa tidak memuaskan dan kurang konsekuennya uraian tentang oleh faktor-faktor apa nilai pasar diatur, apabila pelbagai partai dari kuantitas komoditas yang sampai ke pasar dihasilkan dalam kondisi produksi yang tidak sama dan semacamnya!

Sebab dari gejala ini tidak dapat ditemukan semata-mata dalam kenyataan bahwa bab ini ditulis oleh Marx yang sudah menua, karena dalam bagian-bagian yang lebih kemudian pun masih dijumpai banyak uraian yang ditulis dengan sangat indah. Bab yang penuh firasat buruk itu pun, yang pada isinya sudah ditaburkan isyarat-isyarat samar dalam jilid pertama,³⁹ tentu sudah dipikirkan sejak dini. Melainkan Marx menulis di sini secara membingungkan dan goyah, karena ia tidak boleh menulis secara jelas dan tajam tanpa terjatuh ke dalam pertentangan dan penarikan kembali yang terang-terangan. Seandainya di sini, di tempat ia mengambil titik tolak dari hubungan pertukaran yang nyata, yang dapat diamati dalam kehidupan faktual, ia menerangi hubungan itu dengan kesungguhan dan ketuntasan yang sama dengan yang dipakainya selama dua jilid untuk mengikuti hipotesisnya tentang nilai-kerja hingga ke konsekuensi logisnya yang paling jauh; seandainya di sini ia memberi kata pilihan tentang "persaingan" suatu isi ilmiah melalui suatu analisis psikologi ekonomi yang cermat tentang "gaya-gaya pendorong masyarakat" yang di bawah nama kolektif itu sampai pada kerjanya, seandainya di sini ia tidak berhenti dan beristirahat selama masih ada mata rantai antara yang belum dijernihkan, masih ada konsekuensi yang belum diikuti sampai tuntas, atau masih ada hubungan yang tampak samar atau penuh pertentangan – dan hampir setiap kata dari bab kesepuluhnya yang sekarang menuntut suatu penelitian atau penjernihan yang lebih mendalam semacam itu – maka ia, langkah demi langkah, akan terdesak menuju penyusunan suatu sistem yang dari segi isinya sama sekali berbeda, dan pertentangan serta penarikan kembali yang terang-terangan terhadap kalimat-kalimat kardinal sistem aslinya tidak akan dapat dihindari. Hal itu hanya dapat dihindari melalui penyamaran, melalui kekaburan dan kegelapan – itulah yang, jika tidak diketahui Marx, setidaknya secara naluriah pasti telah dirasakannya, ketika ia secara tegas menolak "analisis yang lebih mendalam tentang gaya-gaya pendorong masyarakat".

Dan dengan itu, saya kira, tertunjuklah pula alfa dan omega dari segala kekeliruan, pertentangan, dan ketidakjelasan Marx. Sistemnya tidak menjaga suatu kontak yang kokoh dan tertutup dengan fakta-fakta. Baik melalui empiri yang sehat maupun melalui suatu analisis psikologi ekonomi yang kokoh, Marx tidak memperoleh dari fakta-fakta itu fondasi sistemnya, melainkan ia mendirikannya di atas tanah yang tidak lebih kuat daripada tanah suatu dialektika yang kaku. Itulah dosa besar yang ditanamkan Marx ke dalam buaian sistemnya. Dari dosa itu segala hal selanjutnya muncul dengan keniscayaan. Sistem itu ditata menurut suatu arah tertentu, fakta-fakta berjalan dalam arah yang lain dan sebentar di sini, sebentar di sana memotong jalan sistem itu. Di situ dosa asal setiap kali melahirkan dosa baru. Sandungan itu tidak boleh menjadi nyata: maka orang entah menyelubungi perkara itu dalam kegelapan atau kekaburan, atau orang membengkokkan dan memutar-balikkannya dengan keterampilan dialektis yang serupa dengan yang dipakai pada permulaan, atau tentu saja, di mana semua itu tidak menolong, orang bertentangan dengan diri sendiri. Itulah tanda yang menaungi bab kesepuluh jilid ketiga karya Marx: ia mendatangkan panen buruk yang telah lama ditunda-tunda, yang mau tidak mau harus tumbuh dari penaburan yang buruk!

Chapter V.

APOLOGI WERNER SOMBART

Dalam diri Werner Sombart, Marx baru-baru ini ⁴⁰ mendapatkan seorang apologet yang sama hangatnya dan sama penuh wawasannya, yang apologinya namun memperlihatkan satu corak yang khas. Sebab, agar dapat membela ajaran Marx, ia terlebih dahulu menyisipkan padanya sebuah tafsiran baru.

Mari kita langsung menuju ke soal pokok. Sombart mengakui dan bahkan sendiri menyumbangkan dalil-dalil pembuktian yang sangat tajam untuk itu,⁴¹ bahwa hukum nilai Marx itu keliru, apabila orang menegaskannya dengan klaim bahwa ia sesuai dengan kenyataan empiris. Tentang nilai Marx ia mengatakan (S. 573), bahwa nilai itu „tidak muncul ke dalam gejala dalam hubungan tukar komoditas yang diproduksi secara kapitalistis“, bahwa ia „bukanlah, misalnya, menandai titik ..., ke arah mana harga-harga pasar bergravitasi“, bahwa ia „sama sekali tidak memainkan peran apa pun, misalnya sebagai faktor distribusi pada pembagian produk tahunan kemasyarakatan“, bahwa ia sama sekali „di mana pun tidak muncul ke dalam gejala“ (S. 577). „Nilai yang terburu-buru“ itu malah hanya memiliki „satu tempat perlindungan: pemikiran si teoretikus ekonomi ... Jika orang menghendaki sebuah ungkapan padat untuk mencirikan nilai Marx, maka inilah dia: nilainya bukanlah sebuah fakta empiris, melainkan sebuah fakta pemikiran“ (S. 574).

Apa makna „eksistensi pemikiran“ ini dalam pengertian Sombart, akan segera kita lihat. Akan tetapi sebelumnya kita masih harus berhenti sejenak pada pengakuan, bahwa nilai Marx tidak memiliki eksistensi apa pun di dunia gejala yang nyata. Saya agak penasaran, apakah kaum Marxis akan meratifikasi pengakuan ini. Orang boleh meragukannya secara wajar, sebab Sombart sendiri sudah harus mengutip sebuah suara dari kubu Marxis, yang, terdorong oleh sebuah pernyataan C. Schmidt, telah memprotes terlebih dahulu terhadap pemahaman semacam itu. „Hukum nilai bukanlah ... sebuah hukum pemikiran kita; ... hukum nilai jauh lebih bersifat sangat riil, ia adalah sebuah hukum alam dari tindakan manusia“.⁴² Apakah Marx sendiri akan meratifikasi pengakuan ini pun, saya anggap sangat dipertanyakan. Sekali lagi adalah Sombart sendiri yang, dengan keterbukaan yang patut dihargai, menyodorkan kepada pembaca serangkaian tempat dari Marx, yang mempersulit tafsiran ini.⁴³ Saya, untuk diri saya sendiri, menganggap tafsiran itu langsung tidak terpadukan dengan bunyi maupun dengan jiwa ajaran Marx.

Bacalah saja dengan tanpa prasangka uraian-uraian di mana Marx mengembangkan teori nilainya. Penyelidikannya, sebagaimana ia nyatakan, dimulai di atas landasan "masyarakat-masyarakat yang terorganisasi secara kapitalistis, yang kekayaannya berupa timbunan komoditas yang amat besar", dengan analisis atas komoditas (I. 9). Untuk "menelusuri jejak" nilai, ia berangkat dari hubungan tukar komoditas. Dari hubungan tukar yang nyata, saya bertanya, ataukah dari yang diimpikan? Seandainya ia mengatakan atau memaksudkan yang terakhir, tentu tak seorang pembaca pun akan menganggapnya layak susah-susah menelusuri lebih lanjut spekulasi yang sebegitu picik. Sungguh ia merujuk, sebagaimana memang tak mungkin lain, dengan nada yang paling pasti pada gejala-gejala dunia ekonomi yang nyata. Hubungan tukar dua komoditas, katanya, selalu dapat disajikan dalam sebuah persamaan, mis. 1 quarter gandum = a sentner besi. "Apa yang dikatakan persamaan ini? Bahwa ada sesuatu yang bersama dengan besaran yang sama dalam kedua benda itu, dan masing-masing dari keduanya, sejauh sebagai nilai tukar, harus dapat direduksi menjadi sesuatu yang ketiga ini", yang ketiga ini, sebagaimana kita ketahui pada halaman berikutnya, adalah kerja dengan jumlah yang sama.

Apabila orang berbicara dengan nada ini, bahwa di dalam benda-benda yang dalam pertukaran saling disamakan itu terdapat kerja dengan jumlah yang sama, dan bahwa benda-benda itu harus dapat direduksi menjadi jumlah kerja yang sama, maka orang toh tentu mengajukan klaim bahwa hubungan-hubungan yang dikatakan di sini ditemukan bukan hanya dalam pikiran, melainkan di dunia yang nyata. Bayangkanlah saja: argumentasi Marx waktu itu tentu sudah sama sekali mustahil, seandainya di sampingnya ia hendak menyusun pendapat ajaran untuk hubungan-hubungan tukar yang nyata, bahwa pada asasnya produk-produk dengan jumlah kerja yang tidak sama saling dipertukarkan satu sama lain.

Seandainya ia memberi ruang bagi gagasan ini – dan bahwa ia tidak memberinya ruang, justru di situlah terletak perceraian dengan fakta-fakta, yang saya celakan kepadanya –, maka kesimpulannya tentu mesti berakhir sama sekali berbeda. Entah ia mesti menyatakan bahwa apa yang disebut penyamaan dalam pertukaran itu bukanlah suatu persamaan yang sebenarnya dan tidak membolehkan kesimpulan tentang adanya suatu "sesuatu yang bersama dengan besaran yang sama" dalam benda-benda yang dipertukarkan, atau ia mesti menyimpulkan bahwa sesuatu yang bersama dengan besaran yang sama yang dicari itu bukanlah dan tak dapat berupa kerja! Akan tetapi mustahil ia bisa melanjutkan menyimpulkan sebagaimana yang telah ia lakukan!

Dan juga dalam uraian berikutnya Marx berbicara pada banyak sekali kesempatan dengan nada faktual bahwa "nilai"-nya mendasari hubungan-hubungan tukar, dan memang sedemikian rupa sehingga produk-produk dengan jumlah kerja yang sama, sehingga "ekuivalen" saling dipertukarkan satu sama lain.24 Pada banyak tempat, yang sebagian juga dikutip sendiri oleh Sombart,⁴⁵ ia menuntut bagi hukum nilainya watak dan juga kekuatan sebuah hukum alam, yang di dunia yang nyata "memaksakan diri dengan kekerasan seperti misalnya hukum gravitasi, ketika rumah runtuh di atas kepala seseorang".25 Bahkan dalam jilid ketiga ia secara sangat tegas mengembangkan syarat-syarat faktual (yang bermuara pada persaingan dua belah pihak yang giat, lih. di atas), yang harus terpenuhi, "agar harga-harga, dengan harga mana komoditas saling dipertukarkan, kira-kira sesuai dengan nilai-nilainya", dan menambahkan lagi penjelasan, bahwa ini "tentu saja hanya berarti, bahwa nilai mereka adalah titik gravitasi, di sekitar mana harga-harga mereka berputar" (III. 156 dst.).

Hanya secara sambil lalu disebutkan, bahwa Marx juga kerap mengutip secara menyetujui para penulis yang lebih tua, yang telah menegaskan tesis bahwa nilai tukar barang ditetapkan oleh kerja yang terwujud di dalamnya, dan memang tanpa ragu menegaskannya sebagai sebuah tesis yang sesuai dengan hubungan-hubungan tukar yang nyata.26

Selanjutnya Sombart sendiri mencatat sebuah pembuktian dari Marx, di mana ia secara sangat tegas menuntut kebenaran „empiris“ dan „historis“ bagi hukum nilainya (III. 155 dalam kaitan dengan III. 175 dst.)

Dan akhirnya: apa pula maknanya upaya-upaya Marx yang penuh sengal, yang telah kita gambarkan, untuk membuktikan bahwa kendati ada teori harga produksi hukum nilainya menguasai hubungan-hubungan tukar faktual, yakni dengan mengatur, di satu pihak, „gerak harga-harga“ dan, di pihak lain, harga-harga produksi itu sendiri, seandainya ia hanya hendak mengklaim bagi hukum nilainya sebuah keberlakuan pemikiran dan bukan keberlakuan faktual?

Singkatnya, saya berpendapat bahwa Marx tidak pernah mengajarkan teori nilai-kerjanya dalam pengertian yang lebih bersahaja, yang kini hendak diberikan Sombart kepadanya, dan ia pun tidak akan dapat mengajarkannya demikian apabila jalinan kesimpulan logis yang menjadi dasar teorinya itu masih hendak memiliki makna yang setengah-tengah masuk akal. Lagi pula, ini adalah perkara yang biarlah Sombart selesaikan dengan para pengikut ajaran Marx. Bagi mereka yang menganggap teori nilai Marx keliru, sebagaimana saya, perkara itu sama sekali tidak relevan. Sebab, entah Marx telah menegaskan hukum nilainya dalam pengertian yang menuntut bahwa hukum itu sesuai dengan kenyataan – maka dengan setuju kita terima pernyataan Sombart bahwa, dipahami dalam pengertian ini, hukum itu keliru. Atau Marx sendiri sebenarnya tidak menyandangkan keberlakuan faktual kepadanya – maka menurut hemat saya sama sekali tidak dapat dikonstruksikan suatu pengertian yang di dalamnya hukum itu bisa memiliki keberadaan yang berarti secara ilmiah. Secara praktis maupun teoretis, ia adalah suatu nihil.

Mengenai hal ini Sombart memang berpendapat lain. Karena saya dengan senang hati memenuhi undangan tegas dari sarjana yang cemerlang ini, yang dari suatu pergulatan pendapat yang segar dan „riang“ mengharapkan yang terbaik bagi kemajuan ilmu pengetahuan, maka dengan gembira saya bersedia pula untuk berdebat dengannya mengenai pokok ini. Saya melakukannya, tentu saja, dengan kesadaran bahwa dengan ini saya tidak lagi bergerak di atas landasan „kritik terhadap Marx“, yang ia undang saya untuk merevisinya atas dasar penafsiran baru itu, melainkan semata-mata menjalankan „kritik terhadap Sombart“.

Apa gerangan makna keberadaan nilai sebagai „fakta pemikiran“ pada Sombart? Maknanya ialah bahwa „konsep nilai adalah alat bantu pemikiran kita, yang kita gunakan untuk membuat fenomena kehidupan ekonomi dapat kita pahami“. Lebih tepatnya, sumbangan dari gagasan nilai ialah „membuat barang-barang dagangan, yang sebagai barang-guna berbeda secara kualitatif, tampil bagi kita dalam ketentuan kuantitatif. Sudah jelas bahwa saya memenuhi tuntutan ini dengan memikirkan keju, sutra, dan semir sepatu sebagai semata-mata produk kerja manusia yang abstrak, dan dengan menghubungkan ketiganya satu sama lain hanya secara kuantitatif sebagai kuantitas-kuantitas kerja, yang besarnya ditentukan oleh sesuatu yang ketiga, yang sama, yang terkandung di dalamnya dan dapat diukur dalam satuan panjang waktu“.⁴⁸

Sejauh ini, kecuali pada satu pengait tertentu, semuanya beres. Tentu pada dirinya sendiri sah-sah saja, untuk tujuan-tujuan ilmiah tertentu, mengabstraksikan diri dari berbagai macam perbedaan yang dimiliki benda-benda dalam arah yang satu atau yang lain, dan hanya meninjaunya menurut satu sifat tunggal yang sama-sama dimiliki, yang kebersamaannya itu memberi landasan bagi keterbandingan, kekomensurabelan, dan sebagainya. Persis demikian pula misalnya dinamika mekanis, untuk banyak persoalannya, dengan benar mengabstraksikan diri sepenuhnya dari perbedaan bentuk, warna, kerapatan, struktur benda-benda yang bergerak, dan tidak melihat di dalamnya selain massa: bola bilyar yang disodok, peluru meriam yang terbang, anak-anak yang berlari, kereta api yang melaju, batu-batu yang berjatuhan, benda-benda langit yang melesat di ruang angkasa, lalu hanya ditinjau sebagai massa-massa yang bergerak. Tidak kurang sahnya, jadi, untuk diizinkan dan berdaya guna membayangkan keju, sutra, dan semir sepatu sebagai „semata-mata produk kerja manusia yang abstrak“.

Pengait itu mulai muncul ketika Sombart, bersama Marx, mengklaim nama gagasan-nilai bagi pembayangan ini. Proses ini – agar kita menelaahnya secara tuntas – memungkinkan dua tafsiran. Sebagaimana dimaklumi, nama nilai dalam kedua nuansanya, yaitu nilai-guna dan nilai-tukar, sudah dipakai baik dalam bahasa ilmiah maupun dalam bahasa rakyat untuk menandai fenomena-fenomena yang sangat tertentu. Penamaan tadi kini dapat dilakukan, entah dengan klaim bahwa satu-satunya sifat benda yang ditinjau, yakni menjadi produk kerja, merupakan momen yang menentukan bagi gejala-gejala nilai dalam pengertian ilmiah yang lazim, jadi misalnya bagi gejala-gejala nilai-tukar; atau penamaan itu dapat dilakukan tanpa maksud tersembunyi tersebut, sebagai suatu pemberian nama yang murni sewenang-wenang, yang bagi penamaan-penamaan semacam itu, sayangnya, tidak ada hukum yang ketat dan dapat dipaksakan, melainkan hanya kedayagunaan dan kearifan sebagai pedoman.

Seandainya tafsiran kedua yang tepat, jadi seandainya penamaan „kerja yang terjelma“ sebagai „nilai“ tidak terkait dengan klaim bahwa kerja yang terjelma adalah hakikat nilai-tukar, maka perkaranya cukup tidak berbahaya. Yang ada hanyalah suatu abstraksi yang sepenuhnya sah, disertai suatu tata penamaan yang, memang, sedapat mungkin tidak berdaya guna, tidak tepat, dan menyesatkan. Keadaannya kira-kira seperti jika seorang fisikawan tiba-tiba terpikir untuk menamai berbagai benda, yang dengan abstraksi dari bentuk, warna, struktur, dan sebagainya ia tangkap semata-mata sebagai massa, sebagai „daya hidup“; nama yang, sebagaimana dimaklumi, sudah memiliki hak kewargaan yang mapan dalam pengertian bahwa ia menandai suatu fungsi dari massa dan kecepatan, jadi sesuatu yang sangat berbeda dari massa belaka. Bagaimanapun, di sini bukan kekeliruan ilmiah yang ada, melainkan hanya suatu ketidakdayagunaan kasar (yang memang secara praktis cukup berbahaya) dalam tata penamaan.

Akan tetapi, dalam kasus kita, keadaannya jelas bukan demikian; tidak pada Marx, tetapi juga tidak pada Sombart. Dan dengan itu pengait kita mulai membesar.

Lawan saya yang terhormat pasti akan mengakui kepada saya bahwa orang tidak boleh membuat sembarang abstraksi untuk sembarang tujuan ilmiah. Misalnya, jelas tidak diperbolehkan menjadikan pemahaman tentang berbagai benda sebagai „semata-mata massa“, yang dibenarkan bagi persoalan-persoalan dinamis tertentu, juga sebagai dasar bagi penelaahan persoalan-persoalan optis atau akustis. Bahkan di dalam dinamika mekanis itu sendiri pasti tidak diperbolehkan mempertahankan abstraksi dari bentuk dan keadaan agregasi, misalnya juga pada pengembangan hukum bidang miring. Pada contoh-contoh ini tampak bahwa dalam ilmu pengetahuan, „pemikiran“ dan „logika“ pun tidak boleh menjauh sepenuhnya tanpa ikatan dari fakta-fakta. Bagi keduanya pun berlaku ungkapan: „Est modus in rebus, sunt certi denique fines“. Dan „batas-batas tertentu“ ini, saya kira, tanpa perlu khawatir akan dibantah oleh lawan saya yang terhormat, dapat saya rumuskan demikian: bahwa orang setiap kali hanya boleh mengabstraksikan diri dari kekhususan-kekhususan yang bagi gejala yang hendak diteliti tidak relevan, nota bene benar-benar, secara faktual tidak relevan. Sebaliknya, pada sisa yang hendak ditelaah lebih lanjut, semacam rangka gagasan, orang harus membiarkan tetap ada segala sesuatu yang dalam arah konkret itu memang relevan secara faktual.

Mari kita terapkan pada kasus kita.

Ajaran Marx, dengan cara yang paling tegas, meletakkan pemahaman barang-barang dagangan sebagai „semata-mata produk“ sebagai dasar bagi penelitian dan penilaian ilmiah atas perbandingan-perbandingan pertukaran barang-barang dagangan. Sombart membenarkan hal itu dan bahkan, dalam ungkapan-ungkapan yang agak tidak tentu, yang justru karena ketidaktentuannya tidak hendak saya persoalkan lebih lanjut dengannya, melangkah sejauh meninjau dasar-dasar seluruh „keberadaan ekonomi“ manusia dalam terang abstraksi tersebut.⁴⁹

Bahwa kerja yang terjelma, dalam arah yang pertama, apalagi yang kedua, adalah satu-satunya yang relevan, kini Sombart sendiri pun tidak berani menegaskannya. Ia mencukupkan diri dengan penegasan bahwa dengan pemahaman itu „fakta yang secara ekonomi paling relevan secara objektif“ ditonjolkan.⁵⁰ Penegasan ini sama sekali tidak hendak saya bantah. Hanya saja, orang tidak boleh berhasrat memberinya makna seakan-akan fakta-fakta lain yang relevan di samping kerja itu memiliki arti yang begitu rendah, sehingga karena kekecilannya dapat diabaikan seluruhnya atau hampir seluruhnya. Tidak ada yang lebih keliru daripada itu. Bagi keberadaan ekonomi manusia, misalnya, sangat tinggi relevansinya apakah tanah yang mereka huni lebih menyerupai dataran Rhein, ataukah gurun Sahara atau Greenland; dan juga sangat besar artinya apakah kerja manusia ditunjang oleh persediaan barang yang dikumpulkan sejak dahulu, suatu momen yang juga tidak dapat diuraikan secara sepenuhnya murni ke dalam kerja semata. Bahkan, berkenaan dengan perbandingan-perbandingan pertukaran, bagi sejumlah barang, seperti misalnya batang-batang ek tua, lapisan-lapisan batu bara, bidang-bidang tanah, kerja jelas sekali bukanlah keadaan yang paling relevan secara objektif; dan sekalipun untuk hal yang terakhir ini dapat diakui bagi sebagian besar barang dagangan, toh harus ditekankan dengan tegas bahwa faktor-faktor lain yang turut menentukan di samping kerja pun memberikan pengaruh yang demikian besar, sehingga perbandingan-perbandingan pertukaran yang faktual menyimpang cukup jauh dari garis yang akan sesuai dengan kerja yang terjelma semata.

Akan tetapi, jika bagi perbandingan-perbandingan pertukaran dan bagi nilai-tukar kerja bukanlah satu-satunya faktor yang relevan, melainkan hanya satu faktor yang relevan, sekalipun yang terkuat, di samping faktor-faktor lain, semacam primus inter pares, maka menurut apa yang telah dikemukakan di atas, semata-mata tidak benar dan tidak diperbolehkan mendasarkan suatu „gagasan-nilai“ yang ditujukan pada nilai-tukar pada kerja semata; persis sama tidak benar dan tidak diperbolehkannya seperti jika seorang fisikawan hendak mendasarkan „daya hidup“ pada massa benda semata dan, melalui abstraksi, menyingkirkan kecepatan benda itu sepenuhnya dari perhitungannya.

Saya benar-benar heran bahwa Sombart tidak melihat atau merasakan hal ini, terlebih lagi karena dalam merumuskan pendapatnya ia kebetulan menggunakan ungkapan-ungkapan yang, boleh saya katakan, sedemikian menantang ketidaksesuaiannya dengan premis-premisnya sendiri, sehingga orang akan mengira ia mestinya tersandung pada ketidaksesuaian yang kasatmata itu. Ia bertolak dari anggapan bahwa watak barang-barang dagangan sebagai produk kerja masyarakat merupakan fakta yang secara ekonomi paling relevan secara objektif di dalamnya, mendasarkan hal ini pada kenyataan bahwa pemenuhan kebutuhan manusia akan barang-barang ekonomi, „dengan menyamakan kondisi-kondisi alam“, pada pokoknya bergantung pada perkembangan daya produktif sosial dari kerja, dan menarik kesimpulan darinya bahwa fakta ini menemukan ungkapan ekonominya yang „memadai“ dalam gagasan-nilai yang didasarkan pada kerja semata. Ia mengulangi gagasan ini pada hlm. 576 dan 577 sebanyak dua kali dengan rumusan yang sedikit berbeda, namun di dalamnya ungkapan „memadai“ setiap kali muncul kembali tanpa berubah.

Saya kini bertanya: Bukankah sebaliknya sudah jelas bahwa gagasan-nilai yang didasarkan pada kerja semata tidak memadai bagi premis bahwa kerja hanyalah yang paling relevan di antara beberapa fakta yang relevan, melainkan jauh melampauinya? Gagasan itu baru akan memadai apabila sebagai premis boleh ditegaskan bahwa kerja adalah satu-satunya fakta yang relevan. Namun, hal itu sama sekali tidak ditegaskan oleh Sombart. Penegasannya hanya menyatakan bahwa kerja berarti banyak, bahwa ia berarti lebih daripada setiap faktor lain bagi perbandingan-perbandingan pertukaran dan bagi seluruh keberadaan manusia, dan bagi keadaan ini rumus nilai Marx, yang menurutnya kerja semata berarti segalanya, jelas sama sekali bukanlah ungkapan yang memadai, sebagaimana tidak memadai pula menempatkan satu saja sebagai pengganti 1+1/2+1/41 + 1/2 + 1/41+1/2+1/4!

Akan tetapi, penegasan tentang gagasan-nilai yang „memadai“ itu bukan hanya secara faktual tidak tepat, melainkan di baliknya, sebagaimana tampak bagi saya – pada Sombart pastilah secara tidak sadar – mengintai pula sedikit kenakalan. Sebab, dengan pengakuan tegas bahwa nilai Marx tidak tahan terhadap uji terhadap fakta-fakta, Sombart telah menuntut suatu tempat perlindungan bagi „nilai yang terusir“ itu di dalam „pemikiran teoretikus ekonomi“. Akan tetapi, dari kawasan perlindungan ini ia tiba-tiba melancarkan suatu serbuan yang cukup rapi ke dunia fakta-fakta, ketika bagi gagasan-nilainya ia toh kembali mengklaim bahwa gagasan itu memadai bagi fakta yang paling relevan secara objektif, atau, dengan kata-kata yang lebih menuntut lagi, bahwa di dalamnya „suatu fakta teknis yang secara objektif menguasai keberadaan ekonomi masyarakat manusia telah menemukan ungkapan ekonominya yang memadai“ (hlm. 577).

Saya berpendapat bahwa ini adalah suatu cara yang terhadapnya orang berhak melayangkan protes. Entah – atau! Entah orang hendak menuntut bagi nilai Marxian bahwa nilai itu sesuai dengan fakta: maka hendaknya ia juga bertahan dengan pernyataan tersebut di garis depan tembakan yang paling muka, tanpa mencari perlindungan dari suatu uji-fakta yang penuh dan ketat di balik posisi bahwa orang sama sekali tidak hendak menyatakan suatu fakta empiris, melainkan hanya hendak mengonstruksi suatu "alat bantu pemikiran kita". Atau orang mencari perlindungan di balik benteng pelindung itu, ia mengelak dari uji-fakta yang ketat: maka hendaknya ia tidak mencoba, melalui jalan memutar berupa pernyataan-pernyataan yang samar dan sambil lalu, untuk kembali menuntut bagi nilai Marxian suatu jenis keberlakuan empiris yang secara sah hanya akan menjadi haknya apabila nilai itu telah lulus uji-fakta yang justru secara tegas ditolaknya. Ungkapan tentang "ekspresi yang adekuat terhadap fakta yang menguasai" toh tidak berarti lain selain bahwa Marx pada pokoknya juga benar secara empiris. Baiklah. Bila Sombart atau siapa pun hendak menyatakan hal itu, maka hendaknya ia menyatakannya secara terbuka, meninggalkan selingan tentang "fakta yang sekadar bersifat pemikiran" itu, dan sebagai gantinya menghadapkan dirinya secara jelas dan tegas pada uji-fakta; uji itu toh akan menunjukkan seberapa banyak atau seberapa sedikit fakta-fakta yang penuh berbeda dari "ekspresi yang adekuat terhadap fakta yang menguasai" itu. Namun hingga saat itu saya kira saya boleh merasa cukup dengan penetapan bahwa pada Sombart pun kita tidak berhadapan dengan varian tak berbahaya berupa suatu abstraksi yang diperbolehkan dan sekadar dinamai keliru, melainkan dengan suatu serbuan yang penuh tuntutan ke dalam wilayah pernyataan-pernyataan faktual, yang untuknya tidak diberikan bukti, bahkan tidak pula diupayakan, melainkan dihindari.

Dalam hubungan yang lain pun Sombart, menurut keyakinan saya, telah mengambil alih dari Marx suatu pernyataan yang terlampau penuh tuntutan dengan terlalu sedikit kritik dari pihaknya sendiri. Yang saya maksud adalah pernyataan bahwa pemahaman atas barang-barang sebagai "semata-mata produk" kerja masyarakat memberikan satu-satunya kemungkinan untuk membawa barang-barang itu ke dalam relasi kuantitatif bagi pemikiran kita, untuk membuatnya "komensurabel", dan oleh karena itu pertama-tama justru "membuat dapat diakses"27 bagi pemikiran kita gejala-gejala dunia ekonomi sama sekali. Apakah Sombart, bahkan setelah pengujian kritis, masih hendak berpegang pada hal itu? Apakah ia sungguh-sungguh berpendapat bahwa kita dapat membuat hubungan-hubungan pertukaran dapat diakses bagi pemikiran ilmiah kita hanya entah atas dasar konsep nilai Marxian, atau sama sekali tidak? Saya tidak dapat memercayainya. Pembuktian dialektis yang masyhur dari Marx pada hlm. 12 jilid pertama toh tidak mungkin memiliki daya meyakinkan bagi seorang Sombart. Sombart pun melihat dan mengetahui sebaik saya bahwa bukan hanya produk-produk kerja, melainkan juga produk-produk alam murni ditempatkan dalam relasi kuantitatif dalam pertukaran dan karena itu secara praktis komensurabel, baik di antara sesamanya maupun dengan produk-produk kerja. Dan justru di sini barang-barang itu tidak boleh sama sekali komensurabel bagi pemikiran kita, kecuali atas dasar suatu ciri yang sama sekali tidak berlaku pada barang-barang itu dan yang pada produk-produk kerja pun, meskipun ada menurut jenisnya, namun tidak berlaku menurut besarannya, sebab telah diakui bahwa produk-produk kerja pun tidak saling dipertukarkan menurut perbandingan kerja yang terwujud di dalamnya? Tidakkah hal itu, justru bagi teoretikus yang tak berprasangka, merupakan suatu petunjuk yang sama sekali tak boleh disalahpahami, bahwa terlepas dari Marx, penyebut bersama yang sejati, "yang bersama" yang sejati dalam pertukaran, masih harus dicari, dan memang dicari ke arah yang lain daripada yang telah ditempuh oleh Marx?

Hal ini membawa saya pada satu pokok terakhir yang masih hendak saya singgung terhadap Sombart. Sombart hendak mengembalikan pertentangan yang ada antara sistem Marxian di satu pihak dan pandangan-pandangan sistem-sistem teoretis yang berlawanan, terutama yang disebut para ekonom Austria, di pihak lain, pada akhirnya kepada suatu perselisihan prinsip metodologis. Marx, katanya, adalah seorang wakil objektivisme yang ekstrem, sedangkan kita yang lain mewakili suatu subjektivisme yang berakhir pada psikologisme. Marx, katanya, tidak menelusuri motif-motif yang menentukan cara bertindak masing-masing subjek yang berperilaku secara ekonomis, melainkan ia mencari faktor-faktor objektif, "syarat-syarat ekonomi" yang "tidak bergantung pada kehendak (boleh kiranya saya sisipkan, kerap juga pada pengetahuan) individu"; ia berupaya menyelidiki "apa yang berlangsung di belakang punggung individu melalui kekuatan relasi-relasi yang tidak bergantung padanya". Sebaliknya kita "berusaha menjelaskan proses-proses kehidupan ekonomi pada akhirnya dari psike subjek-subjek ekonomi" dan "menempatkan keteraturan kehidupan ekonomi pada motivasi psikologis".⁵²

Itu pastilah suatu pengamatan yang halus dan penuh kecerdasan, yang dalam karangan Sombart memang dapat ditemukan dalam jumlah berlimpah. Namun bagi saya pengamatan itu, kendati intinya tak diragukan benar, tampaknya toh tidak mengena pada pokok utamanya: baik secara retrospektif, untuk menjelaskan perilaku para pengkritik Marx terhadap Marx selama ini, maupun – sebagai akibatnya – secara prospektif, dengan tuntutan akan suatu era kritik-Marx yang sama sekali baru, yang sebenarnya baru harus dimulai, yang untuknya bahkan "boleh dikatakan sama sekali belum ada pekerjaan pendahuluan",⁵³ dan yang di dalamnya pertama-tama justru harus dicari keputusan bagi persoalan-awal metodologis.⁵⁴

Bagi saya keadaannya jauh lebih demikian. Perbedaan dalam metode penelitian yang ditunjukkan oleh Sombart memang ada. Akan tetapi kritik-Marx yang "lama", sejauh yang dapat saya nilai dari diri saya sendiri, tidak memerangi Marx karena pilihan metodenya, melainkan karena kesalahan-kesalahannya dalam menerapkan metode yang dipilih itu. Untuk para pengkritik Marx yang lain saya tidak berhak berbicara, jadi saya harus berbicara tentang diri saya sendiri. Secara pribadi, dalam soal metode saya berdiri pada sudut pandang yang serupa dengan yang dianut oleh sastrawan itu berkenaan dengan kesusastraan, yang menyatakan bahwa ia membiarkan berlaku setiap genre, dengan satu-satunya pengecualian "genre yang membosankan". Saya membiarkan berlaku setiap metode, dengan syarat bahwa metode itu diterapkan sedemikian rupa sehingga darinya keluar sesuatu yang benar. Saya pun sama sekali tidak berkeberatan terhadap metode objektivistis. Saya percaya bahwa metode itu juga pada bidang-bidang gejala yang berkaitan dengan tindakan-tindakan manusia dapat menjadi perantara bagi perolehan pengetahuan yang nyata. Saya pun dengan sepenuh kesediaan menyetujui, dan sesekali sendiri telah menunjukkan gejala-gejala serupa, bahwa faktor-faktor objektif tertentu dapat memasuki hubungan yang teratur dengan tindakan-tindakan manusia yang khas, tanpa pengaruh faktor bersangkutan itu sendiri menjadi jelas masuk ke dalam kesadaran orang yang bertindak secara teratur itu. Misalnya, bila statistik menunjukkan bahwa bunuh diri terjadi dalam jumlah yang sangat banyak pada bulan-bulan tertentu, katakanlah Juli dan November, atau bahwa jumlah pernikahan tahunan naik dan turun seiring baik-buruknya panen, maka saya yakin bahwa sebagian besar calon pelaku bunuh diri yang kehadirannya membuat garis-singgung bunuh diri pada bulan Juli dan November begitu membengkak sama sekali tidak memikirkan bahwa saat itu justru bulan Juli atau November, dan bahwa pada mereka yang berhasrat menikah pun pikiran tentang harga bahan makanan yang untuk sementara lebih murah sama sekali tidak memainkan peran langsung dalam keputusan mereka.28 Meskipun demikian, penyingkapan hubungan-hubungan objektif semacam itu memiliki nilai pengetahuan yang tak diragukan.

Namun dalam hal itu saya harus membuat beberapa keberatan tertentu yang, menurut keyakinan saya, sudah dengan sendirinya jelas. Pertama, bagi saya tampak jelas bahwa pengetahuan tentang hubungan-hubungan objektif semacam itu, tanpa pengetahuan tentang mata-rantai antara yang subjektif, yang menjadi perantara rantai kausal itu, pastilah belum merupakan tingkat pengetahuan yang tertinggi, melainkan bahwa pemahaman yang sempurna baru menjadi terantarai melalui pengetahuan tentang hubungan-hubungan luar dan dalam sekaligus. Dan dengan demikian bagi saya tampak pula bahwa pertanyaan yang dilontarkan oleh Sombart, "apakah arah objektivistis dalam ilmu ekonomi nasional berlaku secara eksklusif atau melengkapi",⁵⁶ dengan sendirinya terjawab demikian, bahwa arah itu hanya dapat "berlaku secara melengkapi".

Kedua, saya percaya, namun tidak hendak di sini bertikai mengenainya dengan orang yang berpendapat lain sebagai suatu soal pandangan, bahwa justru bagi bidang ekonomi – yang di dalamnya kita memang begitu dominan berhadapan dengan tindakan-tindakan manusia yang disadari dan diperhitungkan – dari kedua sumber pengetahuan itu, yang pertama, yang objektivistis, sekalipun dalam keadaan terbaik hanya dapat menyumbangkan bagian yang sungguh sangat miskin, dan terutama bila berdiri sendiri sama sekali tidak mencukupi, dari keseluruhan pengetahuan yang dapat dicapai.

Ketiga, namun – dan ini secara khusus menyangkut kritik-Marx – saya harus menuntut dengan segenap ketegasan bahwa, jika orang menerapkan metode objektivistis, ia harus menerapkannya dengan benar. Hendaknya orang menetapkan hubungan-hubungan luar yang objektif, yang secara laksana takdir menguasai tindakan-tindakan orang yang bertindak, dengan atau tanpa pengetahuannya, dengan atau tanpa kehendaknya; tetapi hendaknya ia menetapkannya dengan benar. Dan itulah yang tidak dilakukan oleh Marx. Tesis fundamentalnya, bahwa kerja semata menguasai semua hubungan pertukaran, tidak ia tetapkan secara objektivistis dari dunia fakta yang luar, yang dapat diraba, yang objektif – yang justru sebaliknya bertentangan dengan tesis itu – maupun ia turunkan secara subjektivistis dari motif-motif para pelaku pertukaran, melainkan ia lahirkan ke dunia sebagai suatu janin gugur dari suatu dialektika, sebagaimana mungkin belum pernah muncul secara lebih sewenang-wenang dan lebih asing dari fakta dalam sejarah ilmu kita.

Dan masih ada satu hal lagi. Marx tidak tetap bertahan pada "tonggak" objektivistis. Ia tak dapat menghindari untuk toh juga berseru kepada motif-motif para pelaku sebagai suatu daya yang bekerja dalam sistemnya. Ia melakukan hal ini terutama dengan seruannya kepada "persaingan". Apakah dalam hal itu terlalu banyak yang dituntut, bahwa jika ia sudah memasukkan sisipan-sisipan subjektivistis ke dalam sistemnya, ia hendaknya melakukan sisipan-sisipan itu dengan benar, mendasar, dan tanpa kontradiksi? Dan terhadap tuntutan yang wajar ini pun Marx kembali melanggar. Pelanggaran-pelanggaran ini, yang – saya ulangi – tidak ada sangkut-pautnya dengan pilihan metode, melainkan tercela di bawah kekuasaan metode mana pun, bagi saya merupakan alasan mengapa saya telah dan masih memerangi teori Marxian sebagai keliru: menurut pendapat saya teori itu mewakili satu-satunya genre yang tak diperbolehkan, yaitu genre teori-teori yang salah!

Oleh karena itu saya telah lama berdiri, dan sejak dahulu berdiri, pada sudut pandang yang ke arahnya Sombart hendak mengarahkan suatu kritik-Marx masa depan yang baru harus dibangkitkan. Ia membayangkan, "bahwa orang seharusnya mencoba melakukan suatu penilaian dan kritik atas sistem Marxian dengan cara berikut: Apakah arah objektivistis dalam ilmu ekonomi nasional berlaku secara eksklusif atau melengkapi? Jika orang menjawab pertanyaan ini dengan ya, maka selanjutnya kira-kira perlu ditanyakan: apakah metode Marx untuk penentuan kuantitatif fakta-fakta ekonomi melalui alat-bantu pemikiran berupa konsep nilai itu mengharuskan dirinya? Jika ya: apakah kerja merupakan isi yang dipilih secara tepat bagi konsep nilai itu. Jika ya: apakah pembuktian Marx, susunan sistematisnya, kesimpulan-kesimpulannya, dan seterusnya dapat dipersoalkan?"

Persoalan-awal metodologis yang pertama telah lama saya jawab demi keberlakuan "yang melengkapi" bagi metode objektivistis. Demikian pula telah dan masih tak diragukan bagi saya bahwa – untuk tetap memakai kata-kata Sombart – juga "suatu penentuan kuantitatif fakta-fakta ekonomi melalui alat-bantu pemikiran" berupa suatu konsep nilai itu mengharuskan dirinya. Adapun pertanyaan ketiga, apakah kerja merupakan isi yang dipilih secara tepat bagi konsep nilai itu, telah lama saya anggap sudah diputuskan untuk dijawab tidak, dan pertanyaan keempat, apakah pembuktian Marx, kesimpulan-kesimpulannya, dan seterusnya dapat dipersoalkan, telah lama saya anggap sama-sama diputuskan untuk dijawab ya.

Bagaimana akhirnya dunia akan memutuskan tentang hal ini? – Mengenai itu saya tidak ragu sedikit pun. Sistem Marx mempunyai masa lalu dan masa kini, tetapi tidak mempunyai masa depan yang langgeng. Dari segala jenis sistem ekonomi, saya percaya, yang paling pasti ditakdirkan untuk runtuh adalah sistem-sistem yang, seperti sistem Marx, bertumpu pada landasan dialektika yang hampa. Akal budi manusia dapat dibuat terkesan sejenak oleh retorika yang cekatan, tetapi tidak untuk selamanya. Dalam jangka panjang, fakta-fakta, rangkaian kokoh bukan dari kata-kata dan frasa, melainkan dari sebab dan akibat, pada akhirnya selalu akan menang. Dalam ranah ilmu-ilmu alam, sebuah karya seperti karya Marx sudah merupakan kemustahilan dewasa ini. Dalam ilmu-ilmu sosial yang masih sangat muda, ia masih dapat memperoleh pengaruh, pengaruh yang besar, dan agaknya hanya akan kehilangan pengaruh itu secara perlahan, sangat perlahan. Perlahan, sebab tumpuannya yang paling kuat tidak terletak pada pikiran para pengikutnya yang telah diyakinkan, melainkan pada hati mereka, pada keinginan dan hasrat mereka. Ia pun masih lama akan hidup dari modal besar berupa wibawa yang telah diperolehnya pada banyak orang. Dalam kata-kata pembuka tulisan ini saya telah mengatakan bahwa Marx, sebagai penulis, bernasib sangat mujur. Bagi saya, salah satu keadaan yang tidak kalah mujur dalam nasib kepenulisannya tampaknya adalah bahwa penyelesaian sistemnya baru terbit 10 tahun setelah kematiannya, hampir tiga puluh tahun setelah jilid pertama. Seandainya ajaran-ajaran dan penetapan-penetapan jilid ketiga sampai ke hadapan pembaca yang tak berprasangka secara bersamaan dengan jilid pertama, maka, saya kira, hanya sedikit pembaca yang tidak akan menganggap logika jilid pertama itu agak meragukan! Kini kepercayaan akan wibawa yang telah berakar selama 30 tahun membentuk benteng terhadap masuknya pemahaman kritis, sebuah benteng yang memang pasti, namun hanya akan runtuh berkeping-keping secara perlahan.

Tetapi sekalipun hal itu telah terjadi, dengan runtuhnya sistem Marx tentu tidak berarti sosialisme pun telah teratasi; baik yang teoretis maupun yang praktis. Sebagaimana telah ada sosialisme sebelum Marx, demikian pula ia akan tetap ada sesudah Marx. Bagi apa yang berdaya dorong dalam sosialisme – dan bahwa, terlepas dari segala pelebih-lebihan, ada sesuatu yang berdaya dorong di dalamnya, dibuktikan bukan hanya oleh penyegaran yang tak terbantahkan yang diperoleh teori ekonomi melalui kemunculan para teoretikus sosialis, melainkan juga oleh "setetes minyak sosial" yang termasyhur itu, yang dengannya tindakan-tindakan kenegarawanan praktis, dan dalam banyak hal tentu tidak merugikan dirinya, lazim mengurapi diri di mana-mana dewasa ini – jadi bagi apa, saya katakan, yang berdaya dorong dalam sosialisme, para pemimpinnya yang cerdas tentu tidak akan lalai untuk pada waktunya mencari sambungan dengan sebuah sistem ilmiah yang lebih berdaya hidup. Mereka akan berupaya mengganti tumpuan yang telah lapuk itu. Dengan seberapa banyak atau seberapa sedikit penyaringan gagasan-gagasan yang sedang bergolak itu, masa depanlah yang akan membuktikan. Mungkin, semoga, perkaranya tidak selamanya hanya berputar-putar dalam lingkaran, melainkan pada kesempatan ini beberapa kekeliruan ditanggalkan untuk selamanya dan beberapa pemahaman akhirnya ditambahkan secara permanen pada perbendaharaan pengetahuan yang pasti dan yang tidak lagi diragukan bahkan oleh hawa nafsu kepartaian.

Namun Marx akan mempertahankan tempat yang abadi dalam sejarah ilmu-ilmu sosial, atas dasar yang sama, dengan campuran jasa yang positif dan negatif yang sama, seperti panutannya, Hegel. Keduanya secara pribadi adalah jenius pemikir. Keduanya, masing-masing dalam bidangnya, memperoleh pengaruh yang luar biasa atas pemikiran dan perasaan seluruh generasi, bahkan hampir dapat dikatakan atas semangat zaman itu sendiri. Dan karya teoretis spesifik mereka, pada keduanya, merupakan sebuah – rumah kartu yang dirancang dengan sangat penuh seni, dibangun dengan daya kombinasi yang menakjubkan dalam tak terhitung tingkat pemikiran, dan dipersatukan dengan kekuatan akal yang mengagumkan.

APPARATUS

Notes

Footnotes

  1. Saya selalu mengutip jilid 1 dari Kapital karya Marx menurut edisi (kedua) tahun 1872, jilid II menurut edisi tahun 1885, dan jilid III menurut edisi tahun 1894, dan memang, jika tidak disebutkan lain, dengan III selalu dimaksudkan bagian pertama dari jilid III.

  2. W. Sombart juga, dalam pemaparan yang patut diteladani, jernih, dan ringkas, yang belum lama ini ia berikan tentang jilid penutup sistem Marx di Archiv für Soziale Gesetzgebung (Bd. VII Heft 4, S. 555 dst.), memandang kalimat-kalimat yang dikutip dalam teks sebagai kalimat-kalimat yang memuat jawaban sesungguhnya atas persoalan yang diajukan (a. a. O. S. 564). Dengan karangan yang berbobot dan penuh wawasan ini, yang terhadap kesimpulan-kesimpulan kritisnya sungguh tidak dapat saya sependapat dengan cara yang sama, kita masih akan beberapa kali bersinggungan dalam uraian berikut.

  3. Lihat karyanya yang dikutip di atas, khususnya paragraf 13.

  4. III. 156, sangat serupa pula dengan tempat yang dikutip lebih awal III. 158.

  5. III. 175 dst. Bandingkan juga ucapan-ucapan yang lebih singkat III. 136, 151, 159 dan kerap kali.

  6. Zur Kritik des ök. Systems von Karl Marx, Archiv für soziale Gesetzgebung, Bd. VII. S. 584–586. Lagi pula saya wajib menegaskan bahwa dengan tempat yang dikutip itu Sombart hanya berniat membantah Marx secara bersyarat, yakni untuk hal seandainya Marx dengan ajarannya benar-benar bermaksud menghubungkan makna yang diberikan kepadanya dalam teks. Ia sendiri, dalam upaya penyelamatannya yang sudah pernah saya sebutkan, menyisipkan padanya tafsiran lain yang, sebagaimana saya kira, agak eksotis, dan tentangnya saya masih akan secara khusus berbicara kemudian.

  7. Harga pokok suatu komoditas hanya merujuk pada kuantum kerja yang dibayar yang terkandung di dalamnya: Marx III. 144.

  8. Mis. III. 187, di mana Marx menekankan, „dass dalam keadaan apa pun naik atau turunnya upah kerja tidak pernah dapat memengaruhi nilai komoditas ...“.

  9. Bdk. III. 179 dst.

  10. Mata rantai ini tidak secara tegas disisipkan oleh Marx pada tempat yang dikutip. Namun penyisipannya sudah dengan sendirinya jelas.

  11. Terhadap pendapat W. Sombart yang menyimpang akan saya, sebagaimana sudah disebutkan, masih mengambil sikap secara khusus.

  12. Yakni sejauh ia hendak ditengahi oleh faktor "nilai keseluruhan", yang menurut hemat saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan jumlah kerja yang terkandung. Akan tetapi karena dalam mata-mata rantai berikutnya muncul pula faktor pengeluaran upah, yang dalam penetapannya jumlah kerja yang harus diupahi memang ikut berperan sebagai unsur, maka jumlah kerja toh tetap menemukan tempatnya juga di antara dasar-dasar penetapan tidak langsung dari laba rata-rata.

  13. Dengan tepat Karl Knies membantah Marx: „Di dalam paparan Marx sama sekali tidak tampak alasan apa pun, mengapa sama baiknya dengan persamaan: 1 quarter gandum = a sentner kayu yang diproduksi di hutan, tidak boleh muncul pula yang kedua: 1 quarter gandum = a sentner kayu yang tumbuh liar = b morgen tanah perawan = c morgen lahan penggembalaan di padang rumput alami“. (Das Geld, cet. ke-1 S. 121, cet. ke-2 S. 157).

  14. Dalam sebuah kutipan dari Barbou bahkan dalam paragraf yang sama itu perbedaan antara komoditas dan benda sekali lagi dikaburkan: "Jenis komoditas yang satu sama baiknya dengan yang lain, jika nilai tukarnya sama besar. Di situ tidak ada keanekaan atau keterbedaan antara benda-benda yang nilai tukarnya sama besar!"

  15. Mis. S. 15 di bagian akhir: „Akhirnya, tidak ada benda yang dapat menjadi nilai tanpa menjadi objek-guna. Jika ia tak berguna, maka kerja yang terkandung di dalamnya pun tak berguna, tidak terhitung sebagai kerja (sic!) dan karena itu tidak membentuk nilai apa pun“. – Pada kesalahan logis yang dicela dalam teks itu Knies sudah lebih dahulu mengarahkan perhatian. Lihat „Das Geld“, Berlin 1873, S. 123 dst. (cet. ke-2 S. 160 dst.). Dengan cara yang aneh Adler (Grundlagen der Karl Marxschen Kritik, Tübingen 1887, S. 211 dst.) telah salah memahami argumen saya, ketika ia membantah saya bahwa suara yang merdu bukanlah komoditas dalam pengertian Marx. Bagi saya sama sekali bukan soal apakah „suara yang merdu“ sebagai benda ekonomis dapat atau tidak dapat disubsumsikan di bawah hukum nilai Marx, melainkan semata-mata soal menyusun contoh sebuah kesimpulan logis yang menunjukkan kesalahan yang sama seperti kesalahan Marx. Untuk itu saya sebenarnya bisa saja memilih sebuah contoh yang sama sekali tidak berhubungan dengan ranah ekonomis. Saya, misalnya, sama baiknya bisa memperlihatkan bahwa menurut logika Marx unsur bersama dari benda-benda berwarna-warni mestilah terletak entah pada apa, tetapi tidak pada percampuran beberapa warna. Sebab sebuah campuran warna, mis. putih, biru, kuning, hitam, ungu, bagi sifat warna-warni sama saja nilainya dengan campuran warna lain mana pun, mis. hijau, merah, oranye, biru langit dsb., asalkan saja ia hadir „dalam proporsi yang semestinya“: maka jelaslah orang harus mengabstraksikan dari warna dan campuran warna itu!

  16. Sikap yang diambil Smith dan Ricardo terhadap ajaran tentang nilai-kerja telah saya bahas secara terperinci dalam Geschichte und Kritik saya S. 428 dst. dan di sana, khususnya, juga telah saya buktikan bahwa pada para klasik yang disebut itu tidak ditemukan sejejak pun pendasaran tesis tersebut. Bdk. juga Knies, Der Kredit, II. Hälfte, S. 60 dst.

  17. Mis. I. 141 dst., 150, 151, 158 dan kerap kali; juga masih di awal jilid ketiga, demikian III. 25, 128, 132.

  18. Mis. I. 150 A. 37.

  19. Lihat di atas.

  20. Sudah dengan sendirinya saya di sini sepenuhnya mengesampingkan perbedaan-perbedaan pendapat yang relatif kecil; khususnya, sepanjang seluruh karangan ini saya tidak menyinggung untuk menonjolkan atau bahkan sekadar membicarakan nuansa-nuansa yang lebih halus yang ada berkenaan dengan pemahaman atas "hukum biaya".

  21. III 169; lihat juga di atas.

  22. Sebuah analisis yang lebih cermat menunjukkan bahwa harga harus jatuh di antara angka-angka penilaian uang dari apa yang disebut „pasangan-pasangan batas“, yakni di antara jumlah yang, dalam keadaan ekstrem, masih bersedia ditawarkan oleh pembeli terakhir yang masih kebagian dan oleh peminat beli pertama yang sudah tersisih dari pembelian, serta jumlah yang, dalam keadaan ekstrem, masih bersedia diterima oleh penjual terakhir yang masih kebagian dan oleh peminat jual pertama yang sudah tersisih dari penjualan. Lebih rincinya lihat dalam Positive Theorie des Kapitals saya, Innsbruck 1889, S. 218 dst.

  23. Lihat di atas.

  24. Mis. I. 25: Ekuivalen = sesuatu yang dapat dipertukarkan. "Hanya sebagai nilai, ia (kain linen) berkaitan dengan jas sebagai sesuatu yang setara nilainya atau yang dapat dipertukarkan dengannya." "Dengan jas disetarakan sebagai benda bernilai dengan kain linen, kerja yang terkandung di dalamnya disetarakan dengan kerja yang terkandung di dalam kain linen." Lihat pula hlm. 27, 31 (proporsi yang menjadi dasar dapat dipertukarkannya jas dan kain linen bergantung pada besaran nilai jas), hlm. 35 (di mana Marx menyatakan kerja manusia sebagai hal yang "benar-benar sama" dalam bantal dan rumah yang saling dipertukarkan), hlm. 39, 40, 41, 42, 43, 50, 51, 52, 53 (analisis harga komoditas, namun juga hanya yang riil! menuju penetapan besaran nilai), hlm. 60 (nilai tukar adalah cara masyarakat untuk menyatakan kerja yang dicurahkan pada suatu benda), hlm. 80 ("harga adalah nama uang dari kerja yang terobjektifkan dalam komoditas"), hlm. 141 ("nilai tukar yang sama, yaitu kuantitas kerja masyarakat yang terobjektifkan yang sama"), hlm. 174 ("Menurut hukum nilai umum, misalnya 10 lbs. benang merupakan ekuivalen bagi 10 lbs. kapas dan 1/4 kumparan ..., jika waktu kerja yang sama diperlukan untuk menghasilkan kedua sisi persamaan ini") dan kerap kali serupa.

  25. I. 52.

  26. Mis. I. 14, Catatan 9.

  27. Op. cit. hlm. 574, 582. Sombart tidak mengucapkan pernyataan ini secara harfiah atas namanya sendiri, tetapi ia menyetujui sebuah ungkapan C. Schmidt yang mengarah ke arah ini, yang ia koreksi hanya dalam detail yang tidak penting (574); ia selanjutnya mengatakan bahwa ajaran nilai Marx justru memberikan "jasa ini" (582) dan bagaimanapun sama sekali tidak menentangnya.

  28. Bagaimanapun memang harus ada suatu pengaruh yang berasal dari faktor objektif, atau yang setidaknya berkaitan secara simptomatik dengannya, yang menimbulkan suatu motivasi pada para pelaku, misalnya dalam contoh-contoh yang digunakan dalam teks, mungkin panas terik bulan Juli yang memengaruhi saraf atau cuaca musim gugur yang muram dan membangkitkan melankoli dapat meningkatkan kecenderungan untuk bunuh diri. Pengaruh yang berasal dari "faktor objektif" itu kemudian seakan-akan bermuara pada sebuah motif tipikal yang lebih umum, seperti misalnya gangguan saraf atau melankoli, dan melalui motif itu memengaruhi tindakan. Bahwa keteraturan tindakan tidak dapat diharapkan tanpa keteraturan dalam motif, hal itu memang tetap saya pegang, juga terhadap catatan Sombart l. c. hlm. 593; tetapi di samping itu, suatu hal yang dari sudut pandang metodologisnya barangkali sudah memuaskan Sombart, saya menganggap sangat mungkin bahwa kita dapat mengamati keteraturan-keteraturan objektif dalam tindakan-tindakan manusia dan menetapkannya secara induktif, tanpa mengenal dan memahami jalannya motivasi mereka. Jadi memang bukan tindakan yang teratur tanpa motivasi yang teratur, tetapi pengetahuan tentang tindakan yang teratur tanpa pengetahuan tentang motivasi yang menyertainya!

APA
Chicago
German historical style