Dalam teks dasar perdebatan sosialisme ini, Mises mengembangkan pembuktian bahwa dalam komunitas sosialis ekonomi yang rasional menjadi mustahil, karena dengan lenyapnya kepemilikan privat atas alat-alat produksi, lenyap pula harga pasar atas alat-alat itu. Tanpa harga uang bagi barang-barang produktif, hilanglah penyebut bersama yang menopang kalkulasi ekonomi; baik perhitungan barang secara natura maupun teori nilai kerja Marxis tidak dapat menggantikan fungsi itu, sebab yang pertama gagal pada barang-barang dari tingkat yang lebih tinggi, dan yang kedua tidak menangkap perbedaan kualitas kerja maupun pemakaian faktor-faktor produksi material. Dalam lima bagian, Mises membahas distribusi barang konsumsi, hakikat kalkulasi ekonomi, kemustahilannya dalam ekonomi komunal, persoalan tanggung jawab dan inisiatif dalam perusahaan yang dinegarakan, serta pembahasan atas tulisan Otto Bauer dan Lenin, yang menurut analisisnya bahkan tidak menyadari adanya persoalan kalkulasi yang sesungguhnya. Karangan yang terbit pada 1920 dalam Archiv für Sozialwissenschaft und Sozialpolitik ini menjadi pemicu awal perdebatan kalkulasi sosialis dan hingga kini dipandang sebagai sanggahan teoretis paling tajam terhadap ekonomi terencana.
Pendahuluan
Banyak kaum sosialis tidak pernah membahas persoalan-persoalan ekonomi politik, tidak pernah berupaya memperoleh kejelasan tentang syarat-syarat yang menjadi landasan kegiatan ekonomi manusia. Sebagian lainnya justru sangat mendalam menggeluti perekonomian masa lampau dan masa kini, serta berusaha menyusun suatu sistem ekonomi »masyarakat borjuis«. Mereka bergelimang dalam kritik atas keadaan ekonomi perekonomian yang »bebas«, namun secara teratur mengabaikan untuk menerapkan ketajaman menggigit yang mereka tunjukkan di sini – tidak selalu dengan keberhasilan – juga pada ekonomi masyarakat sosialis yang dicita-citakan. Dalam gambaran-gambaran berwarna-warni karya kaum utopis, hal yang sesungguhnya bersifat ekonomi selalu kurang mendapat perhatian. Mereka memaklumkan bahwa di negeri impian mereka burung-burung dara panggang akan terbang masuk ke mulut para kamerad, tetapi sayangnya mereka mengabaikan untuk menunjukkan dengan cara apa keajaiban ini akan terwujud. Di tempat mereka mulai menjadi lebih jelas dalam hal ekonomi, mereka segera mengalami kekaramannya – ingatlah misalnya akan khayalan bank pertukaran Proudhon –, sehingga tidaklah sukar untuk menunjukkan kekeliruan logika mereka. Apabila Marxisme dengan khidmat melarang para pengikutnya untuk membahas persoalan-persoalan ekonomi yang terletak di luar pengambilalihan harta milik para pengambil alih, maka sesungguhnya ia tidak melakukan sesuatu yang istimewa, sebab kaum »utopis« pun dalam gambaran-gambaran mereka mengabaikan hal yang bersifat ekonomi dan memusatkan perhatian mereka semata-mata pada pelukisan keadaan-keadaan lahiriah serta akibat-akibat penataan ulang segala sesuatu yang tentu saja paling menguntungkan.
Terlepas dari apakah orang mengakui datangnya sosialisme sebagai suatu keniscayaan tak terelakkan dalam perkembangan umat manusia atau tidak, dan apakah orang mengharapkan dari pemasyarakatan alat-alat produksi kebahagiaan tertinggi ataupun kemalangan terdalam bagi manusia, orang toh harus mengakui bahwa penyelidikan tentang syarat-syarat suatu pengelolaan ekonomi atas dasar sosialis tidak hanya patut dianggap »sebagai latihan berpikir yang baik dan sebagai sarana untuk memajukan kejernihan serta keteguhan politik«. Pada suatu masa ketika kita semakin lama semakin mendekati sosialisme, bahkan dalam pengertian tertentu sudah berada di tengah-tengahnya, penyelidikan atas persoalan-persoalan ekonomi sosialis juga memperoleh arti penting bagi penjelasan tentang apa yang sedang berlangsung di sekeliling kita. Untuk memahami gejala-gejala ekonomi politik Jerman dewasa ini beserta negeri-negeri tetangganya di sebelah timur, apa yang disodorkan kepada kita oleh analisis perekonomian pertukaran sudah lama tidak lagi mencukupi. Di sini kita sudah harus menarik masuk dalam cakupan yang cukup luas unsur-unsur persekutuan sosialis. Upaya-upaya untuk memperoleh kejelasan tentang hakikat ekonomi sosialis dalam keadaan demikian tidak memerlukan pembenaran khusus.
Pembagian Barang Konsumsi dalam Persekutuan Sosialis
Dalam masyarakat sosialis seluruh alat produksi merupakan milik persekutuan. Persekutuanlah satu-satunya yang dapat menguasainya dan menentukan penggunaannya dalam produksi. Sudah barang tentu persekutuan hanya akan mampu menjalankan kewenangannya melalui suatu badan khusus, sebab dengan cara lain ia tidak dapat tampil bertindak. Bagaimana badan ini dibentuk dan bagaimana di dalamnya serta melaluinya kehendak keseluruhan diungkapkan, bagi kita hanya bersifat sampingan. Orang boleh saja membayangkan misalnya pemilihan badan itu dan, seandainya ia terdiri atas lebih dari satu orang perseorangan, membayangkan keputusan-keputusan mayoritas para anggota lembaga tersebut.
Pemilik barang-barang produktif yang telah berproduksi dan dengan demikian menjadi pemilik barang-barang konsumsi, kini memiliki pilihan, entah mengonsumsinya sendiri atau membiarkan orang lain mengonsumsinya. Persekutuan sebagai pemilik barang-barang konsumsi, yang diperolehnya melalui produksi, tidak memiliki pilihan semacam itu. Ia tidak dapat menikmatinya sendiri, ia harus membiarkan manusia menikmatinya. Siapa yang harus menikmati dan apa yang harus dinikmati masing-masing, itulah persoalan pembagian sosialis.
Bagi sosialisme adalah ciri khas bahwa pembagian barang-barang konsumsi harus tidak bergantung pada produksi serta syarat-syarat ekonominya. Tidaklah sejalan dengan hakikat kepemilikan bersama atas barang-barang produktif untuk menyandarkan sebagian kecil pun dari pembagian itu pada pembebanan ekonomis hasil kepada masing-masing faktor produksi. Tidak terbayangkan misalnya untuk lebih dahulu memberikan kepada buruh seluruh hasil kerjanya dan kemudian »menundukkan« bagian dari faktor-faktor produksi kebendaan pada suatu pembagian tersendiri. Sebab terletak, sebagaimana masih akan ditunjukkan, dalam hakikat cara produksi sosialis, bahwa di dalamnya bagian masing-masing faktor produksi atas hasil produksi sama sekali tidak dapat ditetapkan, bahwa ia tidak terjangkau oleh setiap pemeriksaan secara hitungan atas hubungan antara pengeluaran produksi dan hasil produksi.
Asas mana yang dipilih untuk penjatahan barang-barang konsumsi kepada masing-masing kamerad, bagi penelaahan persoalan-persoalan yang sedang menyibukkan kita cukup bersifat sampingan. Entah orang hendak menakar bagi setiap individu menurut kebutuhannya, sehingga ia yang memiliki kebutuhan lebih besar menerima lebih banyak daripada ia yang memiliki kebutuhan lebih kecil, atau entah orang memperhitungkan kelayakan setiap individu, sehingga yang lebih baik memperoleh lebih banyak daripada yang lebih buruk, atau entah orang melihat cita-cita dalam pembagian yang sedapat mungkin merata, sehingga setiap orang menerima jumlah yang sebisa mungkin sama, atau entah orang hendak mengambil jasa-jasa yang diberikan kepada persekutuan sebagai ukuran pembagian, sehingga yang lebih rajin memperoleh lebih banyak daripada yang lebih malas, persoalannya akan selalu seperti ini, bahwa setiap orang menerima suatu penjatahan dari persekutuan.
Demi kesederhanaan kita andaikan bahwa penjatahan itu berlangsung menurut asas perlakuan yang sama atas semua anggota masyarakat; tidaklah sukar kemudian untuk membayangkan adanya koreksi-koreksi tertentu, yang menjenjangkan penerimaan menurut usia, jenis kelamin, keadaan kesehatan, kebutuhan-kebutuhan jabatan khusus dan semacamnya. Si kamerad menerima, katakanlah, seberkas surat penunjukan, yang dalam kurun waktu tertentu ditukarkan dengan sejumlah tertentu pelbagai barang tertentu. Dengan demikian ia kemudian dapat bersantap beberapa kali sehari, senantiasa memperoleh tempat tinggal, sesekali memenuhi kesenangan, dari waktu ke waktu menerima sehelai pakaian baru. Apakah pemenuhan kebutuhan yang disalurkan dengan cara ini ternyata lebih kaya atau kurang kaya, akan bergantung pada keberhasilgunaan kerja kemasyarakatan.
Tidaklah perlu bahwa setiap orang juga menghabiskan seluruh bagiannya sendiri. Ia dapat membiarkan sebagian darinya rusak tanpa dinikmati, menghadiahkannya atau, sejauh hal ini sesuai dengan sifat barang tersebut, menyimpannya untuk kebutuhan kemudian. Akan tetapi ia juga dapat menukarkan sebagian darinya. Peminum bir akan dengan senang hati merelakan minuman tanpa alkohol yang menjadi haknya, apabila ia dapat memperoleh lebih banyak bir; sang pantang alkohol akan bersedia merelakan bagiannya atas minuman keras, apabila untuk itu ia mampu memperoleh kenikmatan-kenikmatan lain. Pencinta seni akan ingin merelakan kunjungan ke gedung bioskop, agar dapat lebih sering mendengarkan musik yang baik; orang yang tak berselera akan memiliki keinginan untuk menyerahkan karcis-karcis yang memberinya hak masuk ke tempat-tempat seni yang baik, demi kenikmatan-kenikmatan yang lebih ia pahami. Mereka semua akan bersedia melakukan pertukaran. Namun objek lalu lintas pertukaran selalu hanya dapat berupa barang-barang konsumsi. Barang-barang produktif dalam masyarakat sosialis berada secara eksklusif dalam kepemilikan keseluruhan; barang-barang itu merupakan milik bersama yang tak dapat dipindahtangankan dan karena itu res extra commercium.
Lalu lintas pertukaran dapat pula berlangsung secara diperantarai, bahkan dalam kerangka sempit yang dijatahkan kepadanya oleh tatanan masyarakat sosialis. Tidaklah perlu bahwa ia selalu berlangsung dalam bentuk-bentuk pertukaran langsung. Alasan-alasan yang sama yang juga di tempat lain telah menuntun pada terbentuknya pertukaran tak langsung, akan membuatnya tampak menguntungkan pula dalam masyarakat sosialis demi kepentingan pihak-pihak yang bertukar. Dari sini menyusul bahwa masyarakat sosialis juga menyediakan ruang bagi penggunaan suatu alat tukar yang lazim dipakai secara umum, yaitu uang. Perannya dalam ekonomi sosialis pada asasnya akan sama seperti dalam ekonomi bebas; di kedua-duanya ia merupakan perantara pertukaran yang lazim dipakai secara umum. Akan tetapi arti penting peran ini dalam tatanan masyarakat yang berlandaskan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi berbeda dengan yang berlandaskan kepemilikan khusus atas alat-alat produksi. Di sini ia jauh lebih kecil tanpa terbandingkan, sebab pertukaran dalam masyarakat ini memiliki arti penting yang jauh lebih kecil, sebab di sini ia sama sekali hanya mencakup barang-barang konsumsi. Oleh karena tidak ada barang produktif yang dialihtangankan dalam lalu lintas pertukaran, menjadi mustahil untuk mengenali harga uang barang-barang produktif. Peran yang dimainkan uang dalam ekonomi bebas di bidang perhitungan produksi, tidak dapat dipertahankannya dalam persekutuan sosialis. Perhitungan nilai dalam uang di sini menjadi mustahil.
Perbandingan-perbandingan pertukaran yang terbentuk dalam lalu lintas antara para kamerad tidak boleh diabaikan oleh pimpinan produksi dan pembagian. Pimpinan harus menjadikan perbandingan-perbandingan pertukaran ini sebagai dasar, apabila ia hendak membuat berbagai barang saling dapat menggantikan dalam penjatahan jatah per kepala. Apabila dalam lalu lintas pertukaran telah terbentuk perbandingan 1 cerutu sama dengan 5 rokok, maka pimpinan tidak dapat begitu saja menyatakan bahwa 1 cerutu sama dengan 3 rokok, untuk menurut perbandingan ini menjatah kepada yang satu hanya cerutu, kepada yang lain hanya rokok. Apabila penunjukan tembakau tidak hendak ditukarkan secara merata bagi setiap orang sebagian dalam cerutu dan sebagian lagi dalam rokok; apabila, entah karena mereka menginginkannya demikian atau karena tempat penukaran untuk sementara tidak dapat berbuat lain, yang satu hanya menerima cerutu, yang lain hanya rokok, maka di situ perbandingan-perbandingan pertukaran pasar haruslah diperhitungkan. Jika tidak, maka di situ semua yang telah menerima rokok akan dirugikan terhadap mereka yang telah menerima cerutu. Sebab ia yang telah menerima sebatang cerutu dapat menukarkannya dengan lima batang rokok, sementara cerutu itu hanya diperhitungkan baginya senilai tiga batang rokok.
Perubahan-perubahan perbandingan pertukaran dalam lalu lintas antara para kamerad dengan demikian akan mengharuskan pimpinan ekonomi melakukan perubahan-perubahan yang sepadan dalam ketetapan-ketetapan mengenai daya saling-gantian berbagai barang konsumsi.
Setiap perubahan semacam itu menandakan bahwa perbandingan antara masing-masing kebutuhan para kamerad dan pemuasannya telah bergeser, bahwa barang-barang tertentu kini lebih kuat diinginkan daripada barang-barang lainnya. Pimpinan ekonomi besar kemungkinan akan berupaya untuk memperhatikan hal ini juga dalam produksi. Ia akan berusaha untuk memperluas penghasilan barang-barang yang lebih kuat diinginkan, dan membatasi penghasilan barang-barang yang lebih lemah diinginkan. Akan tetapi satu hal tidak akan dapat dilakukannya: ia tidak boleh menyerahkan kepada masing-masing kamerad untuk menukarkan karcis tembakaunya sesuka hatinya entah dengan cerutu ataupun dengan rokok. Seandainya ia memberi si kamerad hak untuk memilih, apakah ia hendak mengambil cerutu atau rokok, maka dapat terjadi bahwa diminta lebih banyak cerutu atau lebih banyak rokok daripada yang dihasilkan, sementara di pihak lain rokok atau cerutu tertumpuk di tempat-tempat penyerahan, karena tidak ada seorang pun yang memintanya.
Jika seseorang berdiri pada sudut pandang teori nilai kerja, maka tentu saja terdapat solusi sederhana untuk masalah ini. Sang anggota menerima sebuah kupon untuk jam kerja yang telah ditunaikannya, yang memberinya hak untuk menerima produk dari satu jam kerja, dikurangi potongan untuk membiayai beban-beban yang menjadi tanggungan seluruh masyarakat, seperti pemeliharaan mereka yang tidak mampu bekerja, pengeluaran budaya, dan sebagainya. Jika potongan untuk menutup pengeluaran yang harus ditanggung oleh komunitas itu diandaikan sebesar setengah dari produk kerja, maka setiap pekerja yang telah bekerja selama satu jam akan berhak menerima produk-produk yang untuk pembuatannya telah dikeluarkan kerja selama setengah jam. Barang-barang serta jasa-jasa yang telah siap dipakai atau dikonsumsi dapat diambil dari pasar oleh siapa pun yang sanggup membayar baginya dua kali lipat dari waktu kerja yang dikeluarkan untuk pembuatannya, lalu dialihkan ke konsumsi atau pemakaiannya sendiri. Demi memperjelas masalah-masalah kita, akan lebih baik apabila kita mengandaikan bahwa komunitas tidak melakukan potongan terlebih dahulu terhadap pekerja untuk membiayai pengeluaran yang menjadi tanggungannya, melainkan memperoleh sarana yang dibutuhkannya melalui pemungutan pajak penghasilan atas anggota-anggotanya yang bekerja. Dengan demikian, setiap jam kerja yang ditunaikan akan diberi hak untuk menarik barang-barang yang untuk pembuatannya harus dikeluarkan kerja selama satu jam. Akan tetapi, pengaturan distribusi semacam itu tidak dapat dilaksanakan, sebab kerja bukanlah suatu besaran yang seragam dan sejenis. Di antara berbagai prestasi kerja terdapat perbedaan kualitatif yang, mengingat perbedaan bentuk permintaan dan penawaran atas hasil-hasilnya, menghasilkan penilaian yang berbeda-beda. Penawaran lukisan tidak dapat ditambah, caeteris paribus, tanpa mutu produknya menderita. Pekerja yang telah menunaikan satu jam kerja paling sederhana tidak dapat diberi hak untuk mengonsumsi produk dari satu jam kerja yang lebih tinggi kualifikasinya. Di dalam masyarakat sosialis sama sekali tidak mungkin menjalin keterkaitan antara arti penting suatu prestasi kerja bagi masyarakat dengan andilnya dalam hasil proses produksi sosial. Pengupahan kerja di sini hanya dapat bersifat sewenang-wenang; ia tidak dapat dibangun di atas atribusi ekonomi hasil sebagaimana dalam perekonomian pertukaran bebas yang berlandaskan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, karena, sebagaimana akan kita lihat, atribusi tidak mungkin dilakukan dalam masyarakat sosialis. Fakta-fakta ekonomi menarik suatu batas yang tegas terhadap kekuasaan masyarakat untuk menetapkan upah pekerja sesuka hati: dalam keadaan apa pun, jumlah keseluruhan upah tidak akan dapat melampaui pendapatan sosial untuk jangka panjang. Namun di dalam batas itu masyarakat dapat berbuat sebebasnya. Ia dapat dengan mudah menetapkan bahwa semua pekerjaan dianggap setara nilainya, bahwa untuk setiap jam kerja, tanpa membedakan kualitasnya, diberikan imbalan yang sama; tetapi ia juga dapat membuat pembedaan di antara masing-masing jam kerja menurut kualitas kerja yang ditunaikan. Namun dalam kedua hal itu ia tetap harus menyimpan bagi dirinya wewenang untuk mengatur secara khusus distribusi produk-produk kerja. Bahwa orang yang telah menunaikan satu jam kerja juga seharusnya berhak mengonsumsi produk satu jam kerja – sekalipun orang hendak mengabaikan perbedaan kualitas kerja dan hasil-hasilnya serta, lebih jauh lagi, mengandaikan bahwa mungkin untuk menetapkan berapa banyak kerja yang terkandung dalam setiap produk kerja – tidak akan pernah dapat ia tetapkan. Sebab di dalam masing-masing barang ekonomi, selain kerja, terkandung pula biaya benda. Suatu produk yang untuknya digunakan lebih banyak bahan mentah tidak dapat disetarakan dengan produk lain yang untuknya dibutuhkan lebih sedikit bahan mentah.
Hakikat Perhitungan Ekonomi
Setiap orang yang, dalam bertindak di kehidupan ekonomi, memilih antara pemuasan dua kebutuhan, yang hanya salah satunya dapat dipuaskan, menetapkan penilaian-penilaian nilai. Penilaian-penilaian nilai itu mula-mula dan secara langsung hanya menyangkut pemuasan kebutuhan itu sendiri; dari sana ia bergerak mundur menuju barang-barang tingkat pertama dan kemudian lebih jauh menuju barang-barang dari tingkatan yang lebih tinggi. Pada umumnya, manusia yang menguasai inderanya dengan mudah mampu menilai barang-barang tingkat pertama. Dalam keadaan yang sederhana, ia pun berhasil tanpa kesulitan membentuk suatu penilaian tentang arti penting yang dimiliki barang-barang tingkat lebih tinggi baginya. Akan tetapi, di mana keadaan menjadi agak lebih ruwet dan keterkaitan-keterkaitannya lebih sulit ditembus, harus dilakukan pertimbangan yang lebih halus untuk melaksanakan penilaian alat-alat produksi secara tepat – tentu hanya dalam arti subjek yang menilai, dan bukan dalam arti yang objektif, yang entah bagaimana berlaku umum. Bagi petani yang berekonomi secara terisolasi, mungkin tidaklah sulit mengambil keputusan antara memperluas pemeliharaan ternak dan memperluas kegiatan berburu. Jalur-jalur produksi yang harus ditempuh di sini masih relatif pendek, dan pengeluaran yang dituntutnya serta hasil yang dijanjikannya dapat dengan mudah dicermati. Tetapi keadaannya sama sekali berbeda apabila orang harus memilih, misalnya, antara pemanfaatan suatu aliran air untuk menghasilkan tenaga listrik dan perluasan pertambangan batu bara serta pembangunan instalasi untuk pemanfaatan yang lebih baik atas energi yang terkandung dalam batu bara. Di sini jalan memutar produksi sangat banyak, dan masing-masing di antaranya begitu panjang, di sini syarat-syarat bagi keberhasilan perusahaan yang hendak dijalankan begitu beraneka ragam, sehingga orang sama sekali tidak boleh berhenti pada taksiran yang sekadar samar-samar, dan diperlukan perhitungan yang lebih cermat untuk membentuk suatu penilaian tentang kelayakan ekonomi dari tindakan tersebut.
Berhitung hanya dapat dilakukan dengan satuan-satuan. Namun, satuan dari nilai-guna subjektif barang tidaklah mungkin ada. Utilitas marginal tidak merupakan suatu satuan nilai, sebab sebagaimana diketahui, nilai dua satuan dari suatu persediaan tertentu tidaklah dua kali lebih besar daripada nilai s a t u satuan, melainkan niscaya harus lebih besar. Penilaian nilai tidak mengukur, ia menjenjangkan, ia membuat skala². Oleh karena itu, bahkan pelaku ekonomi yang terisolasi dalam suatu perekonomian tanpa pertukaran pun, apabila ia harus mengambil keputusan di tempat penilaian nilai tidak tampak secara langsung dengan jelas dan harus membangun penilaiannya hanya di atas suatu perhitungan yang kurang lebih cermat, tidak dapat beroperasi dengan nilai-guna subjektif semata; ia harus menyusun hubungan-hubungan substitusi di antara barang-barang, yang dengan berpegang padanya ia kemudian dapat berhitung. Dalam hal ini, pada umumnya ia tidak akan berhasil mereduksi segala sesuatu menjadi satu satuan; namun, segera setelah ia sama sekali berhasil mereduksi semua unsur yang harus dimasukkan ke dalam perhitungan menjadi barang-barang ekonomi yang dapat dicakup oleh suatu penilaian nilai yang secara langsung jelas, yakni menjadi barang-barang tingkat pertama dan menjadi penderitaan kerja, ia akan menemukan kecukupan untuk perhitungannya. Bahwa hal itu hanya mungkin dalam keadaan yang sangat sederhana, kiranya sudah jelas. Untuk proses produksi yang lebih ruwet dan lebih panjang, hal itu sama sekali tidak akan memadai.
Dalam perekonomian pertukaran, nilai-tukar objektif barang muncul sebagai satuan perhitungan ekonomi. Hal ini membawa tiga manfaat sekaligus. Pertama, hal itu memungkinkan perhitungan dibangun di atas penilaian semua pelaku ekonomi yang ikut serta dalam pertukaran. Nilai-guna subjektif individu, sebagai gejala yang murni perorangan, tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan nilai-guna subjektif orang lain. Ia baru dapat dibandingkan dalam nilai-tukar, yang lahir dari saling pengaruh penilaian subjektif semua pelaku ekonomi yang ikut serta dalam pertukaran. Kemudian, perhitungan menurut nilai-tukar membawa suatu kontrol atas pemanfaatan barang secara tepat-guna. Siapa yang hendak mengkalkulasi suatu proses produksi yang rumit, langsung menyadari apakah ia bekerja lebih ekonomis daripada yang lain atau tidak; jika ia, mengingat hubungan pertukaran yang berlaku di pasar, tidak dapat menjalankan produksi secara menguntungkan, maka di situ terdapat petunjuk bahwa orang lain lebih pandai memanfaatkan barang-barang tingkat lebih tinggi yang bersangkutan. Akhirnya, perhitungan menurut nilai-tukar memungkinkan reduksi nilai-nilai menjadi satu satuan. Untuk itu, karena barang-barang dapat saling disubstitusikan menurut relasi pertukaran pasar, dapat dipilih barang apa saja sekehendak hati. Dalam perekonomian uang, di sini yang dipilih adalah uang.
Perhitungan uang mempunyai batas-batasnya. Uang bukanlah ukuran nilai, bukan pula ukuran harga. Sebab nilai tidak diukur dalam uang. Harga pun tidak diukur dalam uang, melainkan terwujud dalam uang. Sebagai barang ekonomi, uang tidaklah »stabil nilainya«, sebagaimana lazim diandaikan secara naif pada pemakaiannya sebagai standard of deferred payments. Hubungan pertukaran yang ada di antara barang-barang dan uang tunduk pada fluktuasi yang terus-menerus, sekalipun pada umumnya tidak terlalu hebat, yang berasal bukan hanya dari pihak barang-barang ekonomi lainnya, melainkan juga dari pihak uang. Hal ini sebenarnya paling sedikit mengganggu perhitungan nilai, yang memang, mengingat perubahan kondisi ekonomi lainnya yang tak pernah berhenti, biasanya hanya menatap kurun waktu yang singkat, kurun waktu di mana setidaknya uang yang »baik« pada umumnya hanya cenderung mengalami fluktuasi kecil dalam hubungan pertukaran dari pihaknya sendiri. Ketidakcukupan perhitungan uang atas nilai pada bagian terbesarnya tidak berasal dari kenyataan bahwa perhitungan dilakukan dalam suatu alat tukar yang lazim dipakai secara umum, yakni dalam uang, melainkan dari kenyataan bahwa yang dijadikan dasar perhitungan sama sekali adalah nilai-tukar, dan bukan nilai-guna subjektif. Dengan demikian, semua momen penentu nilai yang berada di luar pertukaran tidak dapat masuk ke dalam perhitungan. Siapa yang menghitung kelayakan keuntungan dari pembangunan suatu tenaga air tidak dapat memasukkan ke dalam perhitungan itu keindahan air terjun, yang harus menderita akibat instalasi tersebut, kecuali jika ia, misalnya, memperhitungkan kemerosotan kunjungan wisatawan dan sebagainya, yang dalam pertukaran memiliki nilai-tukarnya. Namun di sini toh terdapat suatu keadaan yang turut dipertimbangkan dalam pertanyaan apakah bangunan itu harus dilaksanakan atau tidak. Momen-momen ini lazim disebut sebagai »di luar ekonomi«. Hal itu mungkin benar. Tentang peristilahan tidak perlu diperdebatkan. Tetapi pertimbangan-pertimbangan yang mendorong untuk turut memperhitungkannya tidak boleh disebut tidak rasional. Keindahan suatu daerah atau suatu bangunan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan manusia, kehormatan individu atau seluruh bangsa, apabila dikenali oleh manusia sebagai sesuatu yang bermakna, juga merupakan motif tindakan rasional sama seperti motif yang bersifat ekonomi dalam arti yang sebenarnya, sekalipun motif-motif itu tidak tampak dapat disubstitusikan dalam pertukaran dan karenanya tidak masuk ke dalam suatu hubungan pertukaran apa pun. Bahwa perhitungan uang tidak dapat mencakupnya terletak pada hakikatnya sendiri, tetapi hal itu tidak dapat mengurangi arti penting perhitungan uang bagi tindakan dan pembiaran ekonomi kita. Sebab semua barang ideal itu adalah barang-barang tingkat pertama, ia dapat dicakup secara langsung oleh penilaian nilai kita, dan karena itu tidak menimbulkan kesulitan untuk memperhitungkannya, sekalipun ia harus tetap berada di luar perhitungan uang. Bahwa perhitungan uang tidak memperhitungkannya tidaklah membuat perhatian terhadapnya dalam kehidupan menjadi lebih sulit, melainkan justru cenderung mempermudahnya. Apabila kita mengetahui secara tepat seberapa mahal keindahan, kesehatan, kehormatan, kebanggaan itu harus kita bayar, tidak ada yang dapat menghalangi kita untuk memperhitungkannya secara semestinya. Bagi jiwa yang berperasaan halus, mungkin tampak menyakitkan harus menimbang barang-barang ideal terhadap barang-barang material. Tetapi hal itu bukanlah kesalahan perhitungan uang, melainkan terletak pada hakikat segala sesuatu. Bahkan di tempat penilaian nilai ditetapkan secara langsung tanpa perhitungan nilai dan uang, orang tidak dapat menghindari pilihan antara pemuasan material dan ideal. Pelaku ekonomi yang terisolasi pun, masyarakat sosialis pun, harus memilih antara barang »ideal« dan »material«. Watak yang mulia tidak akan pernah merasakannya sebagai sesuatu yang menyakitkan apabila mereka harus memilih antara kehormatan dan, misalnya, makanan. Mereka akan tahu bagaimana harus bertindak dalam hal-hal semacam itu. Sekalipun kehormatan tidak dapat dimakan, orang toh dapat melepaskan makanan demi kehormatan. Hanya mereka yang ingin terbebas dari siksaan pilihan semacam itu, karena mereka tak dapat memutuskan untuk melepaskan kenikmatan material demi keuntungan ideal, melihat dalam pilihan itu sendiri sudah suatu penodaan terhadap nilai-nilai yang sejati.
Perhitungan uang hanya bermakna dalam penyelenggaraan perekonomian. Di sini perhitungan itu diterapkan untuk menyesuaikan penggunaan barang-barang ekonomi dengan aturan-aturan efisiensi ekonomi. Dalam hal ini barang-barang ekonomi hanya masuk ke dalamnya dalam jumlah yang dipertukarkan dengan uang. Setiap perluasan ruang penerapan perhitungan uang berujung pada kekeliruan. Perhitungan uang gagal apabila orang berusaha menggunakannya sebagai ukuran dunia barang dalam penyelidikan sejarah tentang perkembangan keadaan ekonomi; ia gagal apabila orang berusaha menaksir kekayaan dan pendapatan nasional dengan bantuannya, apabila orang hendak menghitung nilai barang-barang yang berada di luar lalu lintas pertukaran, seperti misalnya apabila orang berusaha menghitung dalam uang kerugian manusia akibat emigrasi atau akibat peperangan³. Itu semua adalah permainan diletan, sekalipun kadang-kadang dilakukan oleh para ekonom yang sangat berwawasan.
Namun di dalam batas-batas ini, yang tidak pernah dilampauinya dalam kehidupan ekonomi, perhitungan uang melakukan segala sesuatu yang harus kita tuntut dari perhitungan ekonomi. Ia memberi kita penunjuk jalan menembus kelimpahan kemungkinan-kemungkinan ekonomi yang menghimpit. Ia memungkinkan kita memperluas penilaian nilai, yang dalam keterbuktian langsung hanya melekat pada barang-barang yang siap dinikmati dan paling jauh pada barang-barang produktif dari tingkatan barang yang paling rendah, kepada semua barang tingkatan lebih tinggi. Ia membuat nilai dapat dihitung, dan dengan demikian baru memberi kita landasan bagi segala kegiatan ekonomi dengan barang-barang tingkatan lebih tinggi. Seandainya kita tidak memilikinya, maka segala kegiatan produksi dengan proses-proses yang berjangkauan jauh, maka segala jalan-memutar produksi kapitalistis yang lebih panjang akan menjadi suatu langkah meraba-raba dalam kegelapan.
Ada dua syarat yang memungkinkan perhitungan nilai dalam uang. Pertama-tama, tidak hanya barang-barang tingkatan pertama, melainkan juga barang-barang tingkatan lebih tinggi, sejauh ingin dicakup olehnya, harus berada dalam lalu lintas pertukaran. Seandainya barang-barang itu tidak berada dalam lalu lintas pertukaran, maka tidak akan terbentuk perbandingan-perbandingan pertukaran. Memang benar, pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang pelaku ekonomi terasing apabila ia hendak, melalui produksi di dalam rumah tangganya, mempertukarkan kerja dan tepung dengan roti, tidaklah berbeda dari pertimbangan-pertimbangan yang dilakukannya apabila ia hendak mempertukarkan roti dengan pakaian di pasar; dan oleh karena itu, dalam arti tertentu, orang benar apabila menyebut setiap tindakan ekonomi, jadi juga kegiatan produksi pelaku ekonomi terasing, sebagai pertukaran⁴. Namun budi seorang manusia saja – sekalipun ia yang paling jenius – terlalu lemah untuk menangkap arti penting dari setiap satuan di antara tak terhingga banyaknya barang tingkatan lebih tinggi. Tidak seorang pun dapat menguasai kelimpahan tak terhingga dari berbagai kemungkinan produksi sedemikian rupa sehingga ia mampu menetapkan penilaian nilai yang langsung terbukti tanpa perhitungan bantu. Pembagian kuasa pengaturan atas barang-barang ekonomi dalam perekonomian sosial yang berproduksi dengan pembagian kerja kepada banyak individu menimbulkan semacam pembagian kerja rohani, yang tanpanya perhitungan produksi dan perekonomian tidak mungkin terlaksana.
Syarat kedua ialah bahwa ada alat tukar yang umum dipakai, suatu uang, yang juga memainkan peran perantaranya dalam pertukaran barang-barang produksi. Seandainya hal ini tidak terjadi, maka tidak mungkin mengembalikan semua perbandingan pertukaran kepada satu penyebut yang seragam.
Hanya dalam keadaan yang sederhana perekonomian dapat berjalan tanpa perhitungan uang. Dalam keterbatasan rumah tangga tertutup, di mana sang kepala keluarga mampu mengamati seluruh roda gerigi ekonomi, orang dapat menaksir arti penting dari perubahan-perubahan cara produksi secara kurang-lebih tepat bahkan tanpa sandaran yang diberikannya kepada budi. Proses produksi di sini berlangsung dengan penerapan modal yang relatif sedikit. Ia menempuh hanya sedikit jalan-memutar produksi kapitalistis; apa yang dihasilkan, sebagai aturan, adalah barang-barang nikmat atau setidaknya barang-barang tingkatan lebih tinggi yang tidak terlalu jauh dari barang-barang nikmat. Pembagian kerja masih berada pada tahap-tahap yang paling awal; satu dan pekerja yang sama menyelesaikan kerja dari seluruh cara produksi sejak awalnya hingga rampungnya barang yang siap dinikmati. Semua itu berbeda dalam produksi kemasyarakatan yang telah berkembang. Tidaklah tepat mencari, dalam pengalaman-pengalaman dari suatu zaman produksi sederhana yang telah lama terlewati, suatu argumen bagi kemungkinan berjalannya kegiatan ekonomi tanpa perhitungan uang.
Sebab dalam keadaan sederhana rumah tangga tertutup, orang dapat mengamati seluruh jalan sejak awal proses produksi hingga rampungnya, dan senantiasa menilai apakah cara yang satu atau yang lain memberikan lebih banyak barang yang siap dinikmati. Hal itu tidak mungkin lagi dalam keadaan perekonomian kita yang sedemikian rumit tak terbandingkan. Bagi masyarakat sosialis pun akan langsung jelas bahwa 1000 hl anggur lebih baik daripada 800 hl, dan masyarakat itu dapat dengan mudah mengambil keputusan apakah 1000 hl anggur lebih disukainya daripada 500 hl minyak atau tidak. Untuk menetapkan hal ini tidak diperlukan perhitungan; di sini yang memutuskan adalah kehendak subjek-subjek ekonomi yang bertindak. Tetapi begitu keputusan ini diambil, barulah dimulai tugas yang sebenarnya dari penyelenggaraan perekonomian yang rasional: menempatkan sarana-sarana secara ekonomis dalam pelayanan terhadap tujuan-tujuan. Hal itu hanya dapat terjadi dengan bantuan perhitungan ekonomi. Budi manusia tidak dapat menemukan jalannya dalam kelimpahan yang membingungkan dari produk-produk antara dan kemungkinan-kemungkinan produksi, apabila sandaran ini tidak ada padanya. Ia akan berdiri tak berdaya menghadapi segala persoalan cara dan lokasi⁵.
Adalah suatu khayalan apabila orang percaya bahwa orang dapat mengganti perhitungan uang dalam perekonomian sosialis dengan perhitungan natura. Perhitungan natura, dalam perekonomian tanpa lalu lintas pertukaran, senantiasa hanya dapat mencakup barang-barang yang siap dinikmati; ia gagal sama sekali pada semua barang tingkatan lebih tinggi. Begitu orang meninggalkan pembentukan harga uang yang bebas atas barang-barang tingkatan lebih tinggi, orang telah membuat produksi yang rasional menjadi sama sekali mustahil. Setiap langkah yang menjauhkan kita dari kepemilikan khusus atas alat-alat produksi dan dari penggunaan uang, menjauhkan kita pula dari perekonomian yang rasional.
Orang dapat melewatkan hal ini, karena segala sesuatu dari sosialisme yang sudah kita lihat terwujud di sekitar kita hanyalah oase-oase sosialis di tengah perekonomian dengan lalu lintas uang yang, sampai derajat tertentu, masih bebas juga. Dalam arti yang satu itu, dapat disetujui pernyataan kaum sosialis – yang selebihnya tak berdasar dan hanya dipertahankan karena alasan agitasi – bahwa penegaraan dan penegaraan perusahaan-perusahaan belum merupakan sepotong sosialisme, yakni bahwa perusahaan-perusahaan ini, dalam penyelenggaraan usahanya, sedemikian rupa ditopang oleh organisme ekonomi lalu lintas bebas yang melingkupinya, sehingga ciri khas yang hakiki dari perekonomian sosialis sama sekali tidak dapat tampak padanya. Dalam perusahaan-perusahaan negara dan kotapraja, perbaikan-perbaikan teknis dilaksanakan, karena orang dapat mengamati dampaknya pada perusahaan-perusahaan swasta sejenis di dalam dan luar negeri, dan karena industri swasta, yang menghasilkan sarana-sarana untuk perbaikan-perbaikan ini, memberi dorongan untuk memperkenalkannya. Dalam perusahaan-perusahaan ini orang dapat menetapkan keuntungan dari penataan-ulang, karena perusahaan-perusahaan itu seluruhnya dilingkupi oleh suatu masyarakat yang bertumpu pada kepemilikan khusus atas alat-alat produksi dan pada lalu lintas uang, sehingga perusahaan-perusahaan itu mampu menghitung dan melakukan pembukuan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan sosialis dalam lingkungan yang murni sosialis.
Tanpa perhitungan ekonomi tidak ada perekonomian. Dalam masyarakat sosialis, karena pelaksanaan perhitungan ekonomi mustahil, sama sekali tidak dapat ada perekonomian dalam pengertian kita. Dalam hal-hal kecil dan dalam perkara-perkara perinci yang sampingan, mungkin masih dapat juga ditindak secara rasional. Tetapi secara umum tidak dapat lagi dibicarakan adanya produksi yang rasional. Tidak akan ada sarana untuk mengenali apa yang rasional, dan dengan demikian produksi tidak dapat secara sadar diarahkan kepada efisiensi ekonomi. Apa arti hal itu, bahkan sama sekali terlepas dari akibat-akibatnya bagi penyediaan barang-barang untuk manusia, sudahlah jelas. Rasionalitas tindakan terusir dari bidang yang merupakan wilayah sebenarnya bagi rasionalitas itu. Akankah kemudian masih dapat ada rasionalitas tindakan, bahkan masih ada rasionalitas dan logika dalam pemikiran? Secara historis, rasionalisme manusia tumbuh dari perekonomian. Akankah ia masih dapat bertahan, apabila ia telah terusir dari sini?
Untuk sementara waktu, ingatan akan pengalaman-pengalaman yang terkumpul sepanjang ribuan tahun perekonomian bebas mungkin masih mampu menahan keruntuhan penuh dari seni perekonomian. Cara-cara produksi yang lama akan dipertahankan, bukan karena cara-cara itu rasional, melainkan karena cara-cara itu tampak disucikan oleh tradisi. Sementara itu cara-cara itu akan telah menjadi tidak rasional, karena tidak lagi sesuai dengan keadaan-keadaan yang baru. Cara-cara itu, akibat kemunduran umum pemikiran ekonomi, akan mengalami perubahan-perubahan yang akan membuatnya tidak ekonomis. Penyediaan barang tidak lagi akan berlangsung secara anarkis, itu benar. Di atas segala tindakan yang melayani pemenuhan kebutuhan akan berkuasa perintah dari suatu instansi tertinggi. Tetapi sebagai pengganti perekonomian dari cara produksi yang anarkis, akan muncul ulah tak bermakna dari suatu mesin tanpa nalar. Roda-roda akan berputar, tetapi roda-roda itu akan berputar hampa.
Hendaklah orang membayangkan keadaan masyarakat sosialis. Di sana ada ratusan dan ribuan bengkel kerja, tempat orang bekerja. Hanya sedikit sekali dari bengkel-bengkel itu menghasilkan barang yang siap pakai; sebagian besar menghasilkan alat-alat produksi dan barang setengah jadi. Semua perusahaan ini saling berhubungan satu sama lain. Setiap barang ekonomi melintasinya berturut-turut, hingga ia menjadi siap dinikmati. Namun dalam roda gerigi proses ini yang tak pernah berhenti, pimpinan perekonomian kehilangan segala kemungkinan untuk menemukan jalannya. Ia tidak dapat menetapkan apakah benda kerja itu, pada jalan yang harus ditempuhnya, tidak tertahan secara tak perlu, apakah pada penyelesaiannya tidak dihamburkan kerja dan bahan. Kemungkinan apa yang dimilikinya untuk mengetahui apakah cara produksi yang ini atau yang itu lebih menguntungkan? Paling jauh ia dapat membandingkan mutu dan jumlah hasil akhir produksi yang siap dinikmati, tetapi hanya dalam kasus-kasus yang paling jarang ia akan berada dalam keadaan dapat membandingkan biaya yang dikeluarkan dalam produksi. Ia tahu persis tujuan-tujuan apa yang harus dikejar oleh penyelenggaraan perekonomiannya, atau ia percaya mengetahuinya, dan ia harus bertindak sesuai dengan itu, yakni ia harus mencapai tujuan-tujuan yang dikejar dengan biaya yang sekecil-kecilnya. Untuk menemukan jalan yang paling murah, ia harus menghitung. Perhitungan ini tentu saja hanya dapat berupa perhitungan nilai; sudah langsung jelas dan tidak memerlukan pemaparan lebih lanjut bahwa perhitungan itu tidak dapat bersifat teknis, tidak dapat dibangun di atas nilai-guna objektif (nilai-manfaat) dari barang dan jasa.
Dalam tatanan perekonomian yang bertumpu pada kepemilikan khusus atas alat-alat produksi, perhitungan nilai dilakukan oleh semua anggota masyarakat yang mandiri. Setiap orang ikut serta dalam terbentuknya perhitungan itu dengan dua cara: pertama sebagai konsumen, kedua sebagai produsen. Sebagai konsumen ia menetapkan urutan-peringkat barang-barang yang siap dipakai dan dikonsumsi; sebagai produsen ia menarik barang-barang tingkatan lebih tinggi ke dalam penggunaan yang di dalamnya barang-barang itu menjanjikan hasil yang paling tinggi. Dengan demikian semua barang tingkatan lebih tinggi pun memperoleh urutan-peringkat yang selayaknya menurut keadaan sesaat dari perbandingan-perbandingan produksi kemasyarakatan dan dari kebutuhan-kebutuhan kemasyarakatan. Melalui kerja sama kedua proses penilaian itu, terjaminlah bahwa prinsip ekonomi mencapai kekuasaannya di mana-mana, baik dalam konsumsi maupun dalam produksi. Terbentuklah sistem harga yang berjenjang secara tepat itu, yang memungkinkan setiap orang pada setiap saat menyelaraskan kebutuhannya sendiri dengan perhitungan efisiensi ekonomi.
Semua itu mau tidak mau tidak ada dalam masyarakat sosialis. Pimpinan perekonomian boleh jadi tahu persis barang-barang apa yang paling mendesak dibutuhkannya. Tetapi dengan itu baru ditemukannya satu bagian dari apa yang diperlukan bagi perhitungan ekonomi. Bagian yang lain, yakni penilaian alat-alat produksi, harus diabaikannya. Nilai yang selayaknya bagi keseluruhan alat-alat produksi memang mampu ditetapkannya; nilai itu sudah barang tentu sama dengan nilai yang selayaknya bagi keseluruhan kebutuhan yang dipenuhi olehnya. Ia juga mampu menghitung seberapa besar nilai dari sebuah alat produksi tunggal, apabila ia menghitung arti penting dari kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan yang timbul akibat ketiadaan alat itu. Namun ia tidak dapat mengembalikannya kepada satu ungkapan harga yang seragam, sebagaimana yang mampu dilakukan oleh perekonomian bebas, yang di dalamnya semua harga dapat dikembalikan kepada satu ungkapan bersama dalam uang.
Dalam perekonomian sosialis, yang memang tidak mau tidak mau harus menyingkirkan uang sepenuhnya, tetapi yang membuat ungkapan harga alat-alat produksi (termasuk kerja) dalam uang menjadi mustahil, uang tidak dapat memainkan peran apa pun dalam perhitungan ekonomi1.
Bayangkanlah pembangunan sebuah jalur kereta api baru. Apakah jalur itu sebaiknya dibangun sama sekali, dan jika ya, di antara beberapa rute yang mungkin, rute manakah yang sebaiknya dibangun? Dalam ekonomi pertukaran dan uang yang bebas, perhitungan dapat disusun dalam satuan uang. Jalur baru itu akan menurunkan biaya pengangkutan barang-barang tertentu, dan kini orang dapat menghitung apakah penurunan biaya itu cukup besar sehingga melampaui pengeluaran yang dituntut oleh pembangunan dan pengoperasian jalur baru tersebut. Hal itu hanya dapat dihitung dalam satuan uang. Dengan memperhadapkan berbagai jenis pengeluaran dan penghematan dalam bentuk barang, orang tidak akan dapat sampai pada tujuannya di sini. Apabila tidak ada kemungkinan untuk membawa jam kerja dari tenaga kerja dengan kualifikasi yang berbeda-beda, besi, batu bara, bahan bangunan dari segala jenis, mesin, serta hal-hal lain yang dituntut oleh pembangunan dan pengoperasian kereta api, ke dalam satu ungkapan bersama, maka perhitungan itu tidak dapat dilaksanakan. Penetapan trase yang ekonomis hanya mungkin apabila semua barang yang relevan dapat dikembalikan kepada uang. Memang benar, perhitungan dalam satuan uang memiliki ketidaksempurnaan dan kekurangannya yang berat, tetapi kita justru tidak memiliki sesuatu yang lebih baik untuk menggantikannya; untuk tujuan-tujuan praktis kehidupan, perhitungan dalam satuan uang dari sistem moneter yang sehat tetap memadai. Apabila kita meniadakannya, maka setiap kalkulasi ekonomi menjadi sama sekali mustahil.
Komunitas sosialis tentu akan tahu cara menolong dirinya sendiri. Ia akan mengucapkan kata kuasa dan memutuskan untuk atau menentang pembangunan yang direncanakan itu. Namun keputusan tersebut, paling-paling, akan diambil atas dasar taksiran yang samar; ia tidak akan pernah dibangun di atas landasan kalkulasi nilai yang cermat.
Ekonomi statis mampu bertahan tanpa perhitungan ekonomi. Di sini, dalam ranah ekonomi, hal yang sama memang hanya terus-menerus berulang, dan apabila kita mengandaikan bahwa penataan pertama dari ekonomi sosialis yang statis itu berlangsung atas dasar hasil-hasil terakhir dari ekonomi yang bebas, maka kita pun barangkali dapat membayangkan suatu produksi sosialis yang dikelola secara ekonomis rasional. Namun hal itu justru hanya mungkin dalam pikiran. Sama sekali terlepas dari kenyataan bahwa ekonomi statis tidak akan pernah dapat ada dalam kehidupan, karena data senantiasa berubah, sehingga statika kegiatan ekonomi hanyalah suatu asumsi pemikiran – betapapun ia perlu bagi pemikiran kita dan bagi pembentukan pengetahuan kita tentang hal ekonomi – yang dalam kehidupan tidak berkorespondensi dengan keadaan apa pun, kita toh harus mengandaikan bahwa peralihan ke sosialisme, sudah karena penyetaraan perbedaan-perbedaan pendapatan dan pergeseran-pergeseran dalam konsumsi yang ditimbulkannya, dan dengan demikian juga dalam produksi, mengubah segala data sedemikian rupa sehingga penyambungan kepada keadaan terakhir dari ekonomi yang bebas menjadi mustahil. Maka dengan demikian kita berhadapan dengan suatu tatanan ekonomi sosialis yang berlayar ke sana ke mari di samudra kombinasi-kombinasi ekonomi yang mungkin dan terbayangkan, tanpa kompas perhitungan ekonomi.
Dengan demikian, setiap perubahan ekonomi di dalam komunitas sosialis menjadi suatu usaha yang keberhasilannya tidak dapat ditaksir terlebih dahulu maupun ditetapkan kemudian secara retrospektif. Segala sesuatu di sini meraba-raba dalam kegelapan. Sosialisme adalah peniadaan rasionalitas ekonomi.
Dalam setiap perusahaan yang lebih besar, masing-masing unit produksi atau departemen produksi, dalam pembukuannya, bersifat mandiri sampai tingkat tertentu. Mereka saling memperhitungkan bahan dan tenaga kerja, dan setiap saat dapat disusun neraca tersendiri bagi tiap-tiap kelompok serta dapat ditangkap secara kalkulatif hasil-hasil ekonomi dari kegiatannya. Dengan cara ini orang mampu menetapkan dengan keberhasilan seberapa besar tiap-tiap departemen telah bekerja, dan dari situ mengambil keputusan mengenai penataan ulang, pembatasan, penutupan, atau perluasan kelompok-kelompok yang ada serta mengenai pembentukan kelompok-kelompok baru. Kesalahan-kesalahan tertentu memang tak terhindarkan dalam perhitungan semacam itu. Sebagiannya berasal dari kesulitan-kesulitan yang timbul dalam pembagian biaya umum. Kesalahan-kesalahan lain pula timbul dari keharusan untuk dalam beberapa hal berhitung dengan data yang tidak dapat ditentukan secara tepat, misalnya apabila dalam menentukan profitabilitas suatu metode, orang menghitung amortisasi mesin-mesin yang digunakan dengan mengandaikan suatu jangka waktu tertentu bagi kemampuan pemakaiannya. Namun segala kesalahan semacam itu dapat ditahan dalam batas-batas tertentu yang sempit, sehingga tidak mengganggu hasil keseluruhan dari perhitungan tersebut. Ketidakpastian yang masih tersisa jatuh pada tanggungan ketidakpastian keadaan-keadaan masa depan, yang dalam keadaan dinamis dari perekonomian nasional niscaya ada.
Kini tampaknya hampir wajar untuk mencoba, dengan cara yang analog, melakukannya juga di dalam komunitas sosialis dengan pembukuan yang mandiri bagi masing-masing kelompok produksi. Namun hal itu sama sekali mustahil. Sebab pembukuan mandiri dari masing-masing cabang dalam satu dan perusahaan yang sama itu semata-mata bersandar pada kenyataan bahwa justru dalam lalu lintas pasar terbentuklah harga-harga pasar bagi segala jenis barang dan tenaga kerja yang digunakan, yang dapat dijadikan landasan perhitungan. Di tempat lalu lintas pasar yang bebas tidak ada, tidak ada pembentukan harga; tanpa pembentukan harga, tidak ada perhitungan ekonomi.
Barangkali orang dapat berpikir untuk mengizinkan pertukaran di antara masing-masing kelompok usaha, guna dengan jalan itu sampai pada pembentukan rasio-rasio pertukaran (harga), dan dengan demikian menciptakan suatu landasan bagi perhitungan ekonomi juga di dalam komunitas sosialis. Dalam kerangka ekonomi yang tunggal, yang tidak mengenal kepemilikan khusus atas alat-alat produksi, orang mengonstitusikan masing-masing kelompok kerja sebagai pemegang hak pengaturan yang mandiri, yang memang harus bertindak menurut petunjuk pimpinan ekonomi tertinggi, tetapi hanya saling memindahkan barang-barang nyata dan jasa-jasa kerja dengan imbalan, yang harus dibayarkan dalam suatu alat tukar umum. Kira-kira begitulah orang membayangkan penataan usaha produksi sosialis, apabila dewasa ini orang berbicara tentang sosialisasi penuh dan semacamnya. Namun sekali lagi orang tidak dapat menghindari titik yang menentukan itu. Rasio-rasio pertukaran dari barang-barang produktif hanya dapat terbentuk di atas landasan kepemilikan khusus atas alat-alat produksi. Apabila »komunitas batu bara« memasok batu bara kepada »komunitas besi«, tidak ada harga yang dapat terbentuk, kecuali kedua komunitas itu menjadi pemilik alat-alat produksi dari usaha mereka. Namun hal itu bukanlah sosialisasi, melainkan kapitalisme buruh dan sindikalisme.
Bagi teoretikus sosialis yang berdiri di atas landasan teori nilai-kerja, persoalan itu tentu tampak cukup sederhana. »Begitu masyarakat menempatkan dirinya dalam kepemilikan alat-alat produksi dan menggunakannya untuk produksi dalam pemasyarakatan yang langsung, maka kerja setiap orang, betapapun berbeda pula sifat kegunaannya yang spesifik, sejak awal dan secara langsung menjadi kerja kemasyarakatan. Jumlah kerja kemasyarakatan yang terkandung dalam suatu produk tidak lagi perlu ditetapkan lebih dahulu melalui jalan memutar; pengalaman sehari-hari menunjukkan secara langsung berapa banyak dari kerja itu yang rata-rata diperlukan. Masyarakat dapat dengan mudah menghitung berapa jam kerja yang terkandung dalam sebuah mesin uap, satu hektoliter gandum dari panen terakhir, dalam seratus meter persegi kain dengan kualitas tertentu. ... Tentu saja masyarakat pun kemudian harus mengetahui berapa banyak kerja yang dibutuhkan setiap benda pakai untuk pembuatannya. Ia harus menata rencana produksi menurut alat-alat produksi, yang di antaranya termasuk pula khususnya tenaga-tenaga kerja. Efek-efek kegunaan dari berbagai benda pakai, yang ditimbang satu sama lain dan dihadapkan dengan jumlah-jumlah kerja yang diperlukan untuk pembuatannya, pada akhirnya akan menentukan rencana itu. Orang-orang menyelesaikan segala sesuatu dengan sangat sederhana tanpa campur tangan ‚nilai‘ yang termasyhur itu«⁷.
Di sini bukanlah tugas kita untuk sekali lagi mengajukan keberatan-keberatan kritis terhadap teori nilai-kerja. Keberatan-keberatan itu hanya dapat menarik perhatian kita dalam kaitan ini sejauh ia berarti bagi penilaian atas kelayakan kerja sebagai dasar perhitungan nilai dari suatu komunitas sosialis.
Perhitungan kerja, pada pandangan pertama, juga memperhitungkan kondisi-kondisi produksi yang alami, yang terletak di luar manusia. Dalam pengertian waktu kerja rata-rata yang secara kemasyarakatan diperlukan, hukum tentang hasil yang menurun sudah diperhitungkan sejauh ia berlaku karena keberbedaan kondisi-kondisi produksi yang alami. Apabila permintaan akan suatu barang meningkat sehingga kondisi-kondisi produksi alami yang lebih buruk harus pula ditarik untuk dieksploitasi, maka waktu kerja kemasyarakatan yang rata-rata diperlukan untuk menghasilkan satu unit pun meningkat. Apabila berhasil ditemukan kondisi-kondisi produksi alami yang lebih menguntungkan, maka kuantitas kerja kemasyarakatan yang diperlukan menurun⁸. Namun pemerhitungan atas kondisi-kondisi produksi yang alami ini hanya menjangkau persis sejauh ia menyatakan diri dalam perubahan-perubahan jumlah kerja yang secara kemasyarakatan diperlukan. Lebih dari itu, perhitungan kerja gagal. Ia sama sekali mengabaikan konsumsi atas faktor-faktor produksi yang bersifat kebendaan. Misalkan waktu kerja kemasyarakatan yang diperlukan untuk menghasilkan kedua barang P dan Q masing-masing 10 jam. Untuk menghasilkan baik satu unit P maupun satu unit Q, selain kerja, harus pula digunakan bahan a, yang satu unitnya dihasilkan dalam satu jam kerja yang secara kemasyarakatan diperlukan, dan tepatnya untuk menghasilkan P diperlukan dua unit a serta selebihnya 9 jam kerja, sedangkan untuk menghasilkan Q diperlukan satu unit a serta selebihnya 9 jam kerja. Dalam perhitungan kerja, P dan Q tampil sebagai setara, sedangkan dalam perhitungan nilai, P seharusnya dinilai lebih tinggi daripada Q. Yang pertama itu keliru, hanya yang kedua yang sesuai dengan hakikat dan tujuan perhitungan. Memang benar bahwa kelebihan ini, yang olehnya perhitungan nilai menempatkan P lebih tinggi daripada Q, yakni substrat material ini, »ada dari alam tanpa campur tangan manusia«⁹. Namun apabila ia hanya tersedia dalam jumlah yang sedemikian sehingga menjadi objek pengelolaan ekonomi, maka ia pun harus masuk dalam suatu bentuk apa pun ke dalam perhitungan nilai.
Kekurangan kedua dari perhitungan kerja adalah tidak diperhitungkannya kualitas kerja yang berbeda-beda. Bagi Marx, segala kerja manusia secara ekonomis adalah sejenis, karena ia selalu merupakan »pengeluaran produktif dari otak, otot, saraf, tangan, dan sebagainya manusia«. »Kerja yang rumit hanya berlaku sebagai kerja sederhana yang dipotensikan atau lebih tepatnya dikalikan, sehingga suatu kuantitas yang lebih kecil dari kerja rumit setara dengan suatu kuantitas yang lebih besar dari kerja sederhana. Bahwa reduksi ini terus-menerus berlangsung, ditunjukkan oleh pengalaman. Suatu barang boleh jadi merupakan produk dari kerja yang paling rumit, nilainya menyetarakannya dengan produk kerja sederhana dan oleh karena itu nilai itu sendiri hanya mewakili suatu kuantitas tertentu dari kerja sederhana«¹⁰. Böhm-Bawerk tidak keliru apabila ia menyebut argumentasi ini »suatu keterampilan teoretis dengan kenaifan yang mencengangkan«¹¹. Untuk penilaian atas pernyataan Marx, dapat saja dibiarkan tidak terjawab apakah mungkin menemukan suatu ukuran fisiologis yang tunggal bagi segala kerja manusia – baik yang fisik maupun yang disebut spiritual. Sebab yang pasti adalah bahwa di antara manusia sendiri terdapat perbedaan-perbedaan kemampuan dan keterampilan, yang menyebabkan produk-produk kerja dan jasa-jasa kerja memiliki kualitas yang berbeda-beda. Hal yang harus menjadi penentu bagi pemecahan pertanyaan apakah perhitungan kerja dapat dipakai sebagai perhitungan ekonomi adalah apakah mungkin membawa kerja yang berbeda-beda jenisnya ke dalam suatu penyebut yang tunggal tanpa mata rantai berupa penilaian atas produk-produknya oleh subjek-subjek yang berekonomi. Bukti yang berupaya diberikan Marx untuk hal itu telah gagal. Pengalaman memang menunjukkan bahwa barang-barang ditempatkan dalam rasio-rasio pertukaran tanpa memandang apakah ia merupakan produk kerja sederhana atau kerja rumit. Namun hal ini hanya akan menjadi bukti bahwa jumlah-jumlah tertentu dari kerja sederhana secara langsung disetarakan dengan jumlah-jumlah tertentu dari kerja rumit, seandainya sudah dipastikan bahwa kerja adalah sumber nilai-tukar. Namun hal itu bukan saja tidak dipastikan, melainkan justru merupakan hal yang baru hendak dibuktikan oleh Marx dengan uraian-uraian itu.
Bahwa dalam lalu lintas pertukaran, dalam tingkat upah, telah terbentuk suatu rasio substitusi antara kerja sederhana dan kerja rumit – yang tidak disinggung Marx pada bagian itu – sama sekali bukanlah bukti bagi kesejenisan ini. Penyetaraan itu justru merupakan hasil dari lalu lintas pasar, bukan prasyaratnya. Perhitungan kerja harus menetapkan suatu rasio yang sewenang-wenang bagi substitusi kerja rumit oleh kerja sederhana, yang dengan demikian menyingkirkan kelayakannya bagi pengelolaan ekonomi.
Telah lama dianggap bahwa teori nilai-kerja diperlukan bagi sosialisme guna memberikan landasan etis bagi tuntutan akan pemasyarakatan alat-alat produksi. Hari ini kita tahu bahwa anggapan itu keliru. Sekalipun mayoritas penganut sosialisnya menggunakannya dengan cara demikian, dan sekalipun Marx sendiri – walaupun pada dasarnya ia menempati sudut pandang yang lain – tidak sepenuhnya mampu menjaga dirinya bebas dari kekeliruan ini, namun jelaslah bahwa di satu pihak tuntutan politis akan diberlakukannya cara produksi sosialis tidak memerlukan dukungan dari teori nilai-kerja, dan juga tidak dapat memperoleh dukungan dari ajaran tersebut, dan bahwa di pihak lain mereka yang menganut pandangan lain mengenai hakikat dan asal-usul nilai ekonomi pun dapat menjadi penganut sosialisme menurut keyakinannya. Namun dalam pengertian lain, berbeda dari yang lazim dianggap, teori nilai-kerja merupakan suatu keniscayaan batiniah bagi mereka yang menganjurkan cara produksi sosialis. Produksi sosialis dalam skala besar baru dapat tampak terlaksana secara rasional apabila terdapat suatu besaran nilai yang dapat dikenali secara objektif, yang memungkinkan perhitungan ekonomi bahkan dalam perekonomian tanpa pertukaran dan tanpa uang. Akan tetapi sebagai besaran semacam itu, satu-satunya yang secara terpikirkan dapat dipertimbangkan hanyalah kerja.
Tanggung Jawab dan Inisiatif dalam Perusahaan Bersama-Ekonomi
Persoalan perhitungan ekonomi berkaitan erat dengan persoalan tanggung jawab dan inisiatif dalam perusahaan bersama-ekonomi. Bahwa »peniadaan inisiatif bebas dan kesediaan bertanggung jawab secara individual, yang menjadi dasar keberhasilan pengelolaan usaha swasta« merupakan bahaya terbesar bagi organisasi-organisasi bersama-ekonomi, kini sudah diakui secara umum¹².
Sebagian besar kaum sosialis melewati persoalan ini dengan diam-diam. Sebagian lain pula menyangka dapat menyelesaikannya dengan menunjuk pada direktur-direktur perseroan terbatas. Mereka itu pun, katanya, bukan pemilik alat-alat produksi, namun perusahaan-perusahaan berkembang di bawah kepemimpinan mereka. Apabila menggantikan para pemegang saham, masyarakat memperoleh kepemilikan atas alat-alat produksi, maka tidak akan ada yang berubah. Para direktur tidak akan bekerja lebih buruk bagi masyarakat daripada bekerja atas tanggungan para pemegang saham.
Kita harus membedakan dua golongan perseroan terbatas dan perusahaan-perusahaan serupa. Pada golongan yang satu – ini kebanyakan hanya perseroan-perseroan yang lebih kecil – beberapa orang saja – sering kali mereka adalah ahli waris pendiri perusahaan, sering pula bekas pesaing yang kini bergabung – bersatu dalam bentuk hukum perseroan terbatas untuk menjalankan kegiatan usaha bersama. Pimpinan dan pengelolaan usaha yang sesungguhnya di sini berada di tangan para pemegang saham itu sendiri, atau setidaknya sebagian dari para pemegang saham, yang menjalankan usaha demi kepentingan mereka sendiri dan kepentingan para pemegang saham yang dekat secara kekerabatan – istri, anak di bawah umur, dan sebagainya. Sebagai anggota dewan direksi atau dewan pengawas, sebagai direktur, kadang-kadang juga dalam kedudukan yang secara yuridis sederhana, mereka sendiri mengambil pengaruh yang menentukan atas jalannya usaha. Hal ini pun tidak diubah oleh keadaan bahwa kadang-kadang sebagian dari modal saham berada di tangan suatu konsorsium keuangan atau suatu bank. Di sini perseroan terbatas sesungguhnya hanya berbeda dari firma dagang terbuka dalam bentuk hukumnya.
Pada perseroan terbatas yang besar, keadaannya lain. Di sini hanya sebagian dari para pemegang saham – pemegang saham besar – yang turut serta dalam pimpinan perusahaan yang sesungguhnya. Mereka ini pada umumnya memiliki kepentingan yang sama atas kemajuan perusahaan seperti setiap pemilik. Namun dapat terjadi bahwa mereka memiliki kepentingan yang berbeda dari massa besar pemegang saham kecil, yang – sekalipun mereka memiliki mayoritas modal saham – tersingkir dari pimpinan. Maka dapat timbul benturan-benturan berat, apabila misalnya usaha perusahaan dijalankan demi kepentingan para pemimpinnya dengan cara yang merugikan para pemegang saham. Namun bagaimanapun juga, jelaslah bahwa para pemegang kekuasaan yang sesungguhnya dalam perseroan menjalankan usaha demi kepentingan mereka sendiri, entah hal itu berimpit dengan kepentingan para pemegang saham ataupun tidak. Bagi pengurus perseroan terbatas yang solid, yang tidak sekadar hendak meraup keuntungan sesaat, dalam jangka panjang pada umumnya akan menguntungkan untuk selalu mewakili kepentingan para pemegang saham dan menghindari manipulasi yang dapat merugikan mereka. Hal ini terutama berlaku bagi bank-bank dan kelompok-kelompok keuangan, yang tidak ingin mempertaruhkan kredit emisi yang mereka nikmati di mata publik. Jadi bukan hanya motif-motif etis yang menentukan tatkala perseroan-perseroan terbatas berkembang.
Semuanya itu menjadi lain apabila suatu perusahaan dinasionalisasi. Dengan peniadaan kepentingan material kaum partikelir, lenyaplah daya gerak itu, dan apabila perusahaan-perusahaan negara dan kota secara ekonomi sama sekali berkembang, maka itu mereka utangkan kepada pengambilalihan tatanan dari perusahaan-perusahaan swasta, atau kepada keadaan bahwa mereka senantiasa didorong kepada pembaruan dan inovasi oleh para pengusaha tempat mereka membeli alat-alat produksi dan bahan baku.
Bahwa dari perusahaan-perusahaan bersama-ekonomi tidak muncul dorongan untuk pembaruan dan perbaikan produksi, bahwa mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan kebutuhan yang berubah-ubah, bahwa dengan satu kata mereka merupakan anggota tubuh yang mati dalam organisme perekonomian rakyat, kini – setelah kita berada dalam posisi untuk menengok ke belakang pada percobaan-percobaan sosialisme negara dan komunal selama berpuluh-puluh tahun – diakui secara umum. Segala upaya untuk meniupkan kehidupan ke dalamnya hingga kini tetap sia-sia. Orang menyangka dapat mencapainya melalui reformasi penggajian. Orang ingin menjadikan para pemimpin perusahaan-perusahaan ini berkepentingan atas hasil usaha dan berpikir bahwa dengan demikian mereka akan disetarakan dengan para pemimpin perseroan terbatas besar. Itu suatu kekeliruan besar. Para pemimpin perseroan terbatas besar terkait dengan kepentingan perusahaan yang mereka kelola dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang pernah mungkin terjadi pada perusahaan-perusahaan publik. Mereka entah sudah menjadi pemilik bagian yang tidak kecil dari modal saham, ataupun berharap akan menjadinya seiring berjalannya waktu. Mereka selanjutnya berada dalam posisi untuk meraih keuntungan melalui permainan bursa atas nilai-nilai perusahaan mereka. Mereka memiliki prospek untuk mewariskan kedudukan mereka, atau setidaknya mengamankan sebagian dari pengaruh mereka sendiri bagi para ahli warisnya. Bukan direktur jenderal yang santai, yang dalam cara berpikir dan perasaannya agak menyerupai pegawai negeri, yang merupakan tipe yang kepadanya perusahaan-perusahaan yang dijalankan dalam bentuk saham berutang atas keberhasilan mereka, melainkan justru pemimpin yang berkepentingan melalui kepemilikan saham serta sang promotor dan faiseur – jadi justru mereka yang menjadi sasaran semua tindakan nasionalisasi dan komunalisasi untuk disingkirkan.
Sama sekali tidak konsekuen dalam pengertian sosialis apabila orang menggunakan cara-cara dalih semacam itu untuk mengamankan kemajuan suatu tatanan ekonomi yang berlandaskan asas sosialis. Segala sosialisme – juga sosialisme Karl Marx dan para penganutnya yang ortodoks – berangkat dari pandangan bahwa dalam masyarakat sosialis sama sekali tidak akan dapat timbul pertentangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan keseluruhan. Setiap orang, demi kepentingannya sendiri, sudah akan berupaya memberikan yang terbaik, karena ia pun turut berbagi dalam hasil dari seluruh kegiatan ekonomi. Keberatan yang sudah jelas, bahwa bagi perseorangan hampir tidak ada bobotnya apakah ia sendiri rajin dan tekun, bahwa baginya lebih penting bahwa semua orang lain yang demikian, sama sekali tidak diperhitungkan oleh mereka, atau diperhitungkan dengan cara yang tidak memadai. Mereka percaya dapat membangun masyarakat sosialis semata-mata di atas imperatif kategoris. Betapa mudahnya mereka biasa menyikapi hal ini, barangkali paling baik ditunjukkan oleh Kautsky, yang mengajukan pernyataan: »Jika sosialisme merupakan suatu keniscayaan kemasyarakatan, maka, seandainya ia berbenturan dengan kodrat manusia, kodrat itulah yang akan tersisihkan, bukan sosialisme«2. Itu utopisme yang paling murni.
Namun seandainya pun kita andaikan bahwa harapan-harapan utopis kaum sosialis ini benar-benar dapat terpenuhi, bahwa dalam masyarakat sosialis setiap perseorangan akan berupaya bekerja dengan ketekunan yang tidak kurang daripada hari ini di tempat ia berada di bawah tekanan persaingan bebas, maka barulah persoalan harus dipecahkan: dengan apakah keberhasilan kegiatan ekonomi akan diukur dalam masyarakat sosialis, yang tidak akan mengenal perhitungan ekonomi. Apabila orang tidak mampu memperoleh kejelasan mengenai keekonomian, maka orang tidak dapat bertindak secara ekonomis.
Sebuah slogan yang digemari berpendapat bahwa dalam perusahaan-perusahaan bersama-ekonomi orang harus berpikir kurang birokratis dan lebih bersifat dagang, maka mereka akan bekerja sama ekonomisnya seperti perusahaan-perusahaan swasta. Posisi-posisi pimpinan harus diisi oleh para pedagang, maka hasil usaha akan segera bertumbuh. Namun yang »bersifat dagang« sama sekali bukan sesuatu yang lahiriah, yang dapat dipindahkan sesuka hati. Mutu kepedagangan bukanlah suatu sifat seseorang yang berlandaskan bakat bawaan, ataupun yang diperoleh melalui studi di sekolah tinggi dagang, melalui keikutsertaan dalam sebuah rumah dagang, atau karena seseorang sendiri pernah menjadi pengusaha selama beberapa waktu. Pemikiran dan kerja dagang sang pengusaha bersumber dari kedudukannya dalam proses ekonomi dan lenyap bersama kedudukan itu. Apabila orang mengangkat seorang pengusaha yang sukses menjadi pemimpin suatu perusahaan bersama-ekonomi, maka ia barangkali membawa serta pengalaman-pengalaman tertentu dari kedudukannya yang terdahulu dan untuk beberapa waktu masih dapat memanfaatkannya secara rutin. Namun dengan masuknya ia ke dalam kegiatan bersama-ekonomi, ia berhenti menjadi pedagang dan menjadi birokrat seperti setiap pegawai dinas publik lainnya. Bukan pengetahuan pembukuan, organisasi perusahaan, dan gaya surat-menyurat dagang, bukan lulusnya seseorang dari sekolah tinggi dagang yang menjadikan seseorang seorang pedagang, melainkan kedudukannya yang khas dalam proses produksi, yang menyebabkan kepentingan perusahaan berimpit dengan kepentingannya sendiri. Maka bukanlah suatu pemecahan persoalan apabila Otto Bauer dalam tulisannya yang baru saja diterbitkan mengusulkan agar para pemimpin bank sentral nasional, yang kepadanya hendak diserahkan kepemimpinan dalam proses ekonomi, ditunjuk oleh suatu kolegium, yang di dalamnya juga harus duduk para wakil korps pengajar sekolah tinggi dagang¹⁴. Para direktur yang diangkat dengan cara demikian barangkali adalah yang paling bijak dan paling baik, setara dengan para filsuf Plato, namun mereka tidak akan pernah dapat menjadi pedagang dalam kedudukan mereka sebagai pemimpin suatu masyarakat sosialis, sekalipun sebelumnya mereka pernah menjadi pedagang.
Keluhan yang umum adalah bahwa pada pimpinan perusahaan-perusahaan bersama-ekonomi inisiatif itu tidak ada. Orang percaya bahwa hal ini dapat diatasi melalui perubahan-perubahan dalam organisasi. Inipun suatu kekeliruan yang berat. Dalam suatu perusahaan bersama-ekonomi, orang tidak dapat menyerahkan kepemimpinan sepenuhnya ke tangan satu orang, karena orang harus khawatir bahwa ia akan melakukan kesalahan-kesalahan yang akan menimbulkan kerugian berat bagi keseluruhan masyarakat. Akan tetapi apabila orang menjadikan keputusan-keputusan yang menentukan bergantung pada pemungutan suara dalam kolegium atau pada persetujuan instansi atasan, maka justru inisiatif perseorangan dikenakan batasan. Kolegium jarang condong untuk memperkenalkan pembaruan-pembaruan yang berani. Ketiadaan inisiatif bebas dalam perusahaan publik tidak berlandaskan kekurangan organisasi; ia berakar pada hakikat perusahaan ini. Tidaklah mungkin menyerahkan kepada seorang pegawai – betapapun tinggi kedudukannya – kewenangan bebas atas alat-alat produksi, dan justru semakin tidak mungkin, semakin kuat orang menjadikannya berkepentingan secara material atas hasil baik dari kegiatannya. Sebab atas kerugian-kerugian, sang pemimpin yang tidak berharta praktis selalu hanya dapat dimintai pertanggungjawaban secara moral. Jadi terhadap peluang keuntungan material hanya berhadapan peluang kerugian moral. Sebaliknya, sang pemilik memikul tanggung jawab sendiri, karena kerugian yang timbul akibat usaha-usaha yang gagal terutama ia sendiri yang merasakannya. Justru di situlah terletak perbedaan yang khas antara cara produksi liberal dan sosialis.
Doktrin Sosialis Terbaru dan Persoalan Perhitungan Ekonomi
Sejak peristiwa-peristiwa terbaru di Rusia, Hongaria, Jerman, dan Austria mengantarkan partai-partai sosialis kepada kekuasaan dan dengan demikian menjadikan pelaksanaan program pemasyarakatan sosialis berada dalam jangkauan langsung, para penulis Marxis pun mulai menggeluti lebih dekat persoalan-persoalan penataan masyarakat sosialis. Namun bahkan sekarang pun mereka masih senantiasa berhati-hati mengelak dari pertanyaan-pertanyaan inti, dan menyerahkannya kepada kaum »utopis« yang dipandang rendah untuk menggelutinya. Mereka sendiri lebih memilih membatasi diri pada apa yang harus dilakukan terlebih dahulu; mereka selalu hanya menghadirkan program-program tentang jalan menuju sosialisme, bukan tentang sosialisme itu sendiri. Hanya satu hal yang dapat kita lihat dari semua tulisan ini, yaitu bahwa persoalan besar perhitungan ekonomi dalam negara sosialis sama sekali belum disadari oleh mereka.
Sebagai langkah terakhir dan menentukan dalam pelaksanaan program sosialisasi sosialis, Otto Bauer memandang pemasyarakatan bank-bank. Apabila semua bank telah dimasyarakatkan dan dilebur menjadi satu bank sentral tunggal, maka dewan pengurusnya menjadi »lembaga ekonomi tertinggi, organ pengarah tertinggi bagi seluruh perekonomian rakyat. Hanya melalui pemasyarakatan bank-bank, masyarakat memperoleh kekuasaan untuk mengarahkan kerjanya secara terencana, untuk membagikannya secara terencana ke masing-masing cabang produksi, untuk menyesuaikannya secara terencana dengan kebutuhan rakyat«¹⁵. Mengenai tata uang yang hendaknya berlaku dalam masyarakat sosialis setelah pemasyarakatan bank-bank dilaksanakan, Bauer tidak berbicara apa pun. Sama seperti kaum Marxis lainnya, ia berupaya menunjukkan betapa sederhana dan wajarnya tatanan masyarakat sosialis masa depan berkembang dari keadaan kapitalisme yang sudah matang. »Cukuplah mengalihkan kepada para wakil keseluruhan rakyat kekuasaan yang kini dijalankan oleh para pemegang saham bank melalui dewan pengurus yang mereka pilih«¹⁶, untuk mensosialisasikan bank-bank dan dengan demikian meletakkan batu penutup bagi bangunan sosialisme. Dalam hal ini Bauer membiarkan para pembacanya sama sekali tidak mengetahui bahwa hakikat bank berubah sepenuhnya melalui pemasyarakatan dan peleburan menjadi satu bank sentral tunggal. Begitu semua bank telah melebur ke dalam satu bank tunggal, maka hakikatnya berubah seluruhnya; mereka kemudian berada dalam keadaan mampu mengeluarkan alat-alat peredaran tanpa pembatasan apa pun. Dengan demikian tata uang sebagaimana yang kita miliki sekarang dengan sendirinya tersingkir¹⁷. Tetapi apabila, lebih jauh lagi, bank sentral tunggal itu juga dimasyarakatkan dalam suatu masyarakat yang selebihnya pun sudah sepenuhnya sosialis, maka lalu lintas pasar disingkirkan dan setiap lalu lintas pertukaran ditiadakan. Maka bank berhenti menjadi bank, fungsi-fungsi khasnya padam, sebab dalam masyarakat semacam itu sama sekali tidak ada lagi tempat baginya. Boleh jadi nama bank tetap dipertahankan, bahwa pimpinan ekonomi tertinggi dari masyarakat sosialis disebut direksi bank dan bahwa ia menempati gedung yang dahulu ditempati oleh sebuah bank. Tetapi ia kemudian bukan lagi sebuah bank, ia tidak menjalankan satu pun dari fungsi-fungsi yang dijalankan oleh bank dalam tatanan ekonomi yang berlandaskan pemilikan khusus atas alat-alat produksi dan penggunaan suatu perantara pertukaran umum, yakni uang. Ia tidak lagi memberikan kredit, sebab dalam masyarakat sosialis tentu saja tidak mungkin ada kredit. Bauer sendiri tidak mengatakan apa itu bank, tetapi dalam tulisannya ia mengawali bab tentang pemasyarakatan bank dengan kalimat: »Semua kapital yang tersedia ... mengalir bersama pada bank-bank«¹⁸. Bukankah sebagai seorang Marxis ia seharusnya mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri, apakah gerangan kegiatan bank itu nantinya setelah hubungan kapital ditiadakan?
Ketidakjelasan serupa juga dilakukan oleh semua penulis lain yang membahas masalah-masalah penyelenggaraan masyarakat sosialis. Mereka tidak melihat bahwa dengan ditiadakannya pertukaran dan pembentukan harga pasar, landasan-landasan perhitungan ekonomi tersingkir, dan bahwa di tempatnya seharusnya diletakkan sesuatu yang lain, jika tidak menghendaki seluruh kegiatan ekonomi runtuh dan kekacauan total terjadi. Orang percaya bahwa lembaga-lembaga sosialis dapat begitu saja berkembang dari lembaga-lembaga perekonomian kapitalis-swasta. Hal itu sama sekali tidak benar dalam kasus mana pun. Bahkan menjadi sungguh-sungguh aneh apabila orang berbicara tentang bank, pimpinan bank, dan sejenisnya dalam masyarakat sosialis.
Rujukan pada keadaan yang telah terbentuk di Rusia Raya dan Hongaria di bawah kekuasaan Soviet sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Apa yang kita lihat di sana tidak lain adalah gambaran pemusnahan suatu tatanan produksi masyarakat yang ada, yang di tempatnya muncul ekonomi rumah tangga tani yang tertutup. Semua cabang produksi yang berlandaskan pembagian kerja masyarakat berada dalam keadaan terurai sepenuhnya. Apa yang berlangsung di bawah kekuasaan Lenin dan Trotzki tidak lain adalah perusakan dan pemusnahan. Apakah sosialisme dengan sendirinya niscaya menimbulkan akibat-akibat ini, sebagaimana pendapat kaum liberal, atau apakah ini hanya akibat dari keadaan bahwa Republik Soviet diperangi oleh luar negeri, sebagaimana yang dinyatakan kaum sosialis, adalah pertanyaan yang di sini tidak menarik bagi kita. Yang perlu ditetapkan hanyalah bahwa masyarakat sosialis di bawah pemerintahan dewan sama sekali belum menyentuh masalah perhitungan ekonomi dan juga tidak memiliki alasan untuk menyentuhnya. Sebab di sana, di mana di Rusia Soviet, meskipun ada segala larangan pemerintah, masih sama sekali diproduksi untuk pasar, di situ pun masih dihitung dalam uang, karena sejauh itu masih terdapat pemilikan khusus atas alat-alat produksi dan barang-barang dijual untuk ditukar dengan uang. Pemerintah pun tidak dapat menghindarkan diri dari hal itu, bahkan dengan menambah sendiri jumlah uang yang beredar, ia menegaskan keharusan untuk mempertahankan tata uang setidaknya selama masa peralihan.
Bahwa hakikat masalah yang sedang dibicarakan ini belum tampak nyata di permukaan dalam negara Soviet, paling baik diperlihatkan oleh uraian-uraian Lenin dalam tulisannya tentang »Tugas-tugas Mendesak Kekuasaan Soviet«. Dalam uraian-uraian sang diktator, gagasan itu berulang kali muncul, bahwa tugas terdekat dan paling mendesak dari komunisme Rusia adalah »pengorganisasian pembukuan dan pengawasan dalam perusahaan-perusahaan yang di dalamnya kaum kapitalis telah diekspropriasi, dan dalam semua perusahaan ekonomi lainnya«³⁹. Namun Lenin jauh dari mengenali bahwa di sini yang dihadapi adalah suatu masalah yang sama sekali baru, yang tidak dapat dipecahkan dengan sarana-sarana intelektual kebudayaan »borjuis«. Sebagai seorang Realpolitiker sejati, ia tidak berpikir melampaui tugas-tugas hari berikutnya. Di sekelilingnya ia masih senantiasa melihat lalu lintas uang dan tidak menyadari bahwa dengan majunya sosialisasi, uang pun harus kehilangan kedudukannya sebagai alat tukar yang lazim dipakai secara umum, sejauh pemilikan khusus, dan bersamanya pertukaran, lenyap. Pembukuan »borjuis« yang menghitung dalam uang itulah yang hendak diperkenalkan kembali oleh Lenin ke dalam perusahaan-perusahaan Soviet; itulah makna uraian-uraiannya. Karena itu pula ia hendak menerima kembali dengan kemurahan hati »para ahli borjuis«²⁰. Selebihnya, sama seperti Bauer, Lenin pun tidak menyadari bahwa dalam masyarakat sosialis, fungsi bank dalam pengertiannya yang sekarang tidaklah terpikirkan. Ia hendak terus melanjutkan »penegaraan bank-bank« dan beranjak »menuju pengubahan bank-bank menjadi titik-titik simpul pembukuan masyarakat di bawah sosialisme«²¹.
Pada umumnya, gambaran-gambaran Lenin tentang perekonomian sosialisme, yang ke arahnya ia berupaya membawa rakyatnya, sungguh tidak jelas. »Negara sosialis«, menurutnya, »hanya dapat muncul sebagai jaringan komune-komune produktif-konsumtif, yang secara teliti membukukan produksi dan konsumsi mereka, mengelola kerja secara hemat, tak henti-hentinya meningkatkan produktivitas kerja dan dengan demikian memperoleh kemungkinan untuk mengurangi hari kerja menjadi tujuh, menjadi enam jam dan menjadi lebih sedikit lagi«²². »Setiap pabrik, setiap desa tampil sebagai suatu komune produktif-konsumtif, yang memiliki hak dan kewajiban untuk menerapkan menurut caranya sendiri ketentuan-ketentuan undang-undang Soviet yang umum (menurut caranya sendiri', bukan dalam arti melanggarnya, melainkan dalam arti keragaman bentuk pelaksanaannya dalam kehidupan) dan untuk memecahkan menurut caranya sendiri masalah perhitungan produksi dan pembagian hasil-hasil produksi²³. »Komune-komune teladan harus dan akan berperan sebagai pendidik, pengajar dan pendorong bagi komune-komune yang tertinggal.« Keberhasilan komune-komune teladan akan diumumkan dengan segala rinciannya, agar menjadi contoh yang baik. Komune-komune yang menunjukkan »hasil-hasil usaha ekonomi« yang baik akan segera diberi ganjaran »melalui pemangkasan suatu jangka waktu tertentu dari hari kerja, melalui peningkatan penghasilan, melalui penyerahan sejumlah lebih besar barang dan nilai kebudayaan serta estetika dan sebagainya«²⁴.
Dari situ dapat dilihat bahwa cita-cita Lenin adalah suatu keadaan masyarakat di mana alat-alat produksi merupakan milik seluruh masyarakat, bukan milik masing-masing distrik, komune atau bahkan para pekerja perusahaan itu sendiri. Cita-citanya bersifat sosialis, bukan sindikalis. Pada seorang Marxis seperti Lenin, hal ini sebenarnya tidak perlu ditonjolkan secara khusus. Yang mencolok bukanlah pada Lenin sang teoretikus, melainkan pada Lenin sang negarawan, pemimpin revolusi Rusia yang sindikalis dan bertumpu pada petani kecil. Namun untuk saat ini kita hanya berurusan dengan Lenin sang penulis dan dapat memandang cita-citanya tersendiri, tanpa membiarkan diri kita terganggu oleh gambaran kenyataan. Setiap perusahaan besar agraris atau industri dengan demikian membentuk sebuah mata rantai dari persekutuan kerja yang besar. Mereka yang bekerja di dalamnya memiliki hak swakelola; mereka mempunyai pengaruh yang luas dalam pengaturan produksi dan kemudian sekali lagi dalam pembagian barang-barang yang dialokasikan kepada mereka untuk dikonsumsi. Namun alat-alat kerja merupakan milik seluruh masyarakat, dan karena itu hasil produksinya pun jatuh kepada masyarakat, agar masyarakat menguasai pembagiannya. Lalu bagaimana, kini harus ditanyakan, perhitungan ekonomi akan dilakukan dalam masyarakat sosialis yang terorganisasi sedemikian rupa itu? Atas pertanyaan ini Lenin hanya memberikan jawaban yang sama sekali tidak memadai, dengan merujuk pada statistik. Statistik harus »dibawa ke tengah massa, dipopulerkan, agar para pekerja lambat laun sendiri belajar memahami dan melihat, bagaimana dan berapa banyak orang harus bekerja, bagaimana dan berapa banyak orang dapat beristirahat, – agar perbandingan hasil-hasil usaha ekonomi dari masing-masing komune menjadi obyek minat umum dan pembelajaran«²⁵. Dari isyarat-isyarat yang amat sedikit ini tidak dapat disimpulkan apa yang dibayangkan Lenin di sini dengan statistik, apakah ia memikirkan perhitungan uang atau perhitungan natura. Bagaimanapun juga kita harus merujuk pada apa yang telah dikatakan di atas tentang kemustahilan mengenali harga uang barang-barang produksi dalam suatu masyarakat sosialis, dan tentang kesulitan-kesulitan yang menghadang perhitungan natura²⁶. Bagi perhitungan ekonomi, statistik baru akan berguna jika ia dapat menuntun melampaui perhitungan natura, yang telah kita buktikan kurang cocok untuk tujuan-tujuan ini. Hal itu tentu saja tidak mungkin di tempat di mana tidak terbentuk hubungan pertukaran barang dalam lalu lintas.
Mengingat apa yang dapat kita tetapkan dalam uraian-uraian sebelumnya, sungguh patut diperhatikan bahwa para pejuang utama cara produksi sosialis menuntut bagi cara produksi itu keunggulan berupa rasionalitas yang lebih besar dibandingkan dengan tata perekonomian yang berlandaskan pemilikan khusus atas alat-alat produksi. Dalam kerangka karya ini kita tidak perlu membahas pendapat itu sejauh ia didukung dengan pernyataan bahwa dalam perekonomian liberal, rasionalitas pengelolaan ekonomi niscaya tidak dapat sempurna, karena ada kekuatan-kekuatan tertentu yang bekerja menghalangi terwujudnya rasionalitas itu. Dalam hubungan ini, yang dapat menyibukkan kita hanyalah pembenaran pendapat itu dari segi teknik-ekonomi. Para penganut ajaran ini membayangkan suatu pengertian yang tidak jelas tentang rasionalitas teknis, yang katanya berdiri berlawanan dengan rasionalitas ekonomi, yang tentangnya pun orang tidak memiliki gambaran yang tepat. Orang cenderung mengabaikan bahwa »semua rasionalitas teknis produksi adalah satu dengan rendahnya tingkat pengorbanan spesifik dalam berproduksi«²⁷. Orang mengabaikan bahwa perhitungan teknis tidak memadai untuk mengenali »derajat kemanfaatan menyeluruh dan kemanfaatan akhir«²⁸ suatu proses, bahwa perhitungan itu hanya mampu menggradasikan masing-masing proses menurut maknanya, tetapi tidak pernah menuntun kita pada penilaian-penilaian yang dituntut oleh keadaan ekonomi secara keseluruhan. Hanya melalui kemampuan teknik untuk berorientasi pada profitabilitas, kesulitan-kesulitan pertimbangan yang timbul dari rumitnya keterkaitan antara sistem raksasa produksi masa kini di satu pihak, dengan kebutuhan dan daya kemampuan perusahaan-perusahaan serta satuan-satuan ekonomi di pihak lain, dapat diatasi, sehingga pandangan menyeluruh atas keadaan secara keseluruhan, yang dituntut oleh tindakan ekonomi yang rasional, dapat diperoleh²⁹.
Yang menguasai teori-teori ini adalah gambaran yang tidak jelas tentang keutamaan nilai guna obyektif. Pada hakikatnya, nilai guna obyektif hanya dapat menjadi penting bagi perekonomian melalui pengaruh yang diberikannya, lewat nilai guna subyektif, atas pembentukan hubungan-hubungan pertukaran barang-barang ekonomi. Sebuah gambaran tidak jelas yang kedua turut tercampur: penilaian pribadi sang pengamat tentang kegunaan barang-barang, yang berhadapan dengan penilaian massa orang yang ikut serta dalam lalu lintas ekonomi. Apabila seseorang menemukan bahwa »tidak rasional« mengeluarkan sebanyak itu untuk merokok, minum dan kenikmatan-kenikmatan serupa, sebagaimana yang dikeluarkan untuk itu dalam perekonomian rakyat, maka dari sudut pandang penilaian pribadinya, ia tidak diragukan lagi benar. Namun dalam hal itu ia mengabaikan bahwa kegiatan ekonomi hanyalah pencarian sarana, dan bahwa tata urutan tujuan-tujuan akhir, terlepas dari segala pertimbangan rasional yang memengaruhi penetapannya, adalah perkara kehendak dan bukan perkara pengetahuan.
Pengakuan atas kenyataan bahwa di dalam masyarakat sosialis perekonomian yang rasional tidak mungkin dilakukan tentu saja tidak dapat dijadikan dasar untuk mendukung maupun menentang sosialisme. Siapa pun yang atas dasar alasan etis bersedia memperjuangkan sosialisme bahkan dengan asumsi bahwa melalui kepemilikan bersama atas alat-alat produksi pasokan barang ekonomi tingkat pertama bagi manusia akan berkurang, atau siapa pun yang menghendaki sosialisme karena digerakkan oleh cita-cita asketis, tidak akan terpengaruh dalam upayanya oleh hal itu. Apalagi hal itu tidak akan mampu menyurutkan para sosialis kebudayaan yang, seperti Muckle, mengharapkan dari sosialisme pertama-tama »penyelamatan dari kebiadaban yang paling mengerikan dari semuanya: rasionalisme kapitalistis«3. Namun siapa pun yang mengharapkan perekonomian yang rasional dari sosialisme akan terpaksa menundukkan pandangannya pada suatu pemeriksaan ulang.
Catatan
Footnotes
-
⁶ Hal ini juga telah disadari oleh Neurath (Durch die Kriegswirtschaft zur Naturalwirtschaft. München 1919 hlm. 216 dst.). Ia mengemukakan pernyataan bahwa setiap perekonomian administratif yang lengkap pada akhirnya merupakan perekonomian natura. »Karena itu menyosialisasikan berarti memajukan perekonomian natura.« Neurath hanya mengabaikan kesulitan-kesulitan yang tak teratasi yang niscaya timbul bagi perhitungan ekonomi di dalam masyarakat sosialis. ↩
-
¹³ Bdk. Kautsky, Vorrede zu Atlanticus (Ballod), Produktion und Konsum im Sozialstaat. Stuttgart 1898, hlm. XIV. ↩
-
³⁰ Bdk. Muckle, Das Kulturideal des Sozialismus. München und Leipzig 1919, hlm. 213. – Muckle di sisi lain justru menuntut »rasionalisasi kehidupan ekonomi yang setinggi-tingginya, agar waktu kerja diperpendek dan manusia dapat kembali menyepi ke sebuah pulau untuk mendengarkan melodi-melodi dari hakikat dirinya«, op. cit. hlm. 208. ↩