Teori Nilai
1. Hakikat dan Asal-Usul Nilai
Apabila kebutuhan akan suatu barang, dalam suatu kurun waktu yang hendak dijangkau oleh aktivitas berjaga-jaga manusia, lebih besar daripada kuantitas barang itu yang tersedia bagi mereka untuk kurun waktu tersebut, dan apabila mereka berupaya memenuhi kebutuhan mereka akan barang itu selengkap mungkin dalam keadaan yang ada, maka manusia merasa terdorong untuk melakukan aktivitas yang telah diuraikan sebelumnya dan dinamai berekonomi (economizing). Tetapi persepsi mereka atas hubungan ini memunculkan fenomena lain, yang pemahaman lebih mendalamnya bersifat menentukan bagi ilmu kita. Yang saya maksud adalah nilai barang.
Apabila kebutuhan akan suatu barang lebih besar daripada kuantitas barang itu yang tersedia, dan sebagian dari kebutuhan yang terlibat bagaimanapun harus tetap tidak terpenuhi, maka kuantitas barang yang tersedia tidak dapat dikurangi oleh bagian mana pun dari keseluruhan jumlahnya, dengan cara apa pun yang secara praktis patut diperhatikan, tanpa menyebabkan suatu kebutuhan yang sebelumnya telah terpenuhi menjadi tidak terpenuhi sama sekali atau hanya terpenuhi secara kurang lengkap dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya terjadi. Oleh karena itu, terpenuhinya suatu kebutuhan manusia bergantung pada tersedianya setiap kuantitas konkret yang secara praktis berarti dari semua barang yang tunduk pada hubungan kuantitatif ini. Apabila manusia yang berekonomi menyadari keadaan ini (yakni, apabila mereka mempersepsikan bahwa terpenuhinya salah satu kebutuhan mereka, atau lebih besar atau lebih kecilnya kelengkapan terpenuhinya kebutuhan itu, bergantung pada kuasa mereka atas setiap bagian dari suatu kuantitas barang atau atas setiap barang individual yang tunduk pada hubungan kuantitatif di atas), maka barang-barang ini memperoleh bagi mereka makna yang kita sebut nilai. Dengan demikian, nilai adalah arti penting yang diperoleh oleh barang-barang individual atau kuantitas-kuantitas barang bagi kita karena kita sadar bahwa kita bergantung pada kuasa atas barang-barang itu untuk pemenuhan kebutuhan kita.31
Sesuai dengan itu, nilai barang adalah suatu fenomena yang bersumber dari sumber yang sama dengan karakter ekonomis barang — yakni, dari hubungan, yang telah dijelaskan sebelumnya, antara kebutuhan akan barang dan kuantitas barang yang tersedia.32 Namun terdapat perbedaan antara kedua fenomena tersebut. Di satu sisi, persepsi atas hubungan kuantitatif ini merangsang aktivitas berjaga-jaga kita, sehingga menyebabkan barang yang tunduk pada hubungan ini menjadi objek dari kegiatan berekonomi kita (yaitu, barang ekonomis). Di sisi lain, persepsi atas hubungan yang sama membuat kita menyadari makna yang dimiliki oleh kuasa atas setiap satuan konkret33 dari kuantitas barang-barang ini yang tersedia bagi kehidupan dan kesejahteraan kita, sehingga menyebabkan satuan itu memperoleh nilai bagi kita.34 Sebagaimana penyelidikan yang menembus atas proses-proses mental menjadikan pengenalan akan benda-benda luar tampak semata-mata sebagai kesadaran kita atas kesan yang ditimbulkan oleh benda-benda luar itu terhadap diri kita, dan dengan demikian, pada analisis akhirnya, semata-mata sebagai pengenalan akan keadaan-keadaan diri kita sendiri, demikian pula, pada analisis akhirnya, arti penting yang kita lekatkan pada benda-benda dunia luar hanyalah pancaran dari arti penting bagi kita atas keberlanjutan keberadaan dan perkembangan kita (kehidupan dan kesejahteraan). Oleh karena itu, nilai bukanlah sesuatu yang melekat pada barang, bukan suatu sifat dari barang, melainkan semata-mata arti penting yang pertama-tama kita lekatkan pada pemenuhan kebutuhan kita, yakni pada kehidupan dan kesejahteraan kita, dan sebagai akibatnya kita alihkan kepada barang ekonomis sebagai satu-satunya penyebab terpenuhinya kebutuhan kita.
Dari hal ini, jelas pula mengapa hanya barang ekonomis yang memiliki nilai bagi kita, sementara barang yang tunduk pada hubungan kuantitatif yang bertanggung jawab atas karakter non-ekonomis sama sekali tidak dapat memperoleh nilai. Hubungan yang bertanggung jawab atas karakter non-ekonomis barang terdiri atas keadaan kebutuhan akan barang yang lebih kecil daripada kuantitas barang itu yang tersedia. Dengan demikian, selalu ada bagian-bagian dari keseluruhan persediaan barang non-ekonomis yang tidak terkait dengan kebutuhan manusia mana pun yang belum terpenuhi, dan yang karena itu dapat kehilangan karakter-barangnya tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan manusia dengan cara apa pun. Karena itu, tidak ada pemenuhan kebutuhan35 yang bergantung pada kendali kita atas satuan mana pun dari suatu barang yang berkarakter non-ekonomis, dan dari hal ini menyusul bahwa kuantitas-kuantitas tertentu dari barang yang tunduk pada hubungan kuantitatif ini (barang non-ekonomis) juga tidak memiliki nilai bagi kita.
Apabila seorang penghuni hutan belantara memiliki beberapa ratus ribu pohon di bawah kuasanya, sementara ia hanya membutuhkan sekitar dua puluh pohon setahun untuk pemenuhan penuh kebutuhannya akan kayu, maka ia tidak akan menganggap dirinya dirugikan dengan cara apa pun, dalam pemenuhan kebutuhannya, apabila kebakaran hutan memusnahkan sekitar seribu pohon, asalkan ia masih berada dalam posisi untuk memenuhi kebutuhannya selengkap sebelumnya dengan sisa pohon yang ada. Oleh karena itu, dalam keadaan demikian, terpenuhinya tidak satu pun dari kebutuhannya bergantung pada kuasanya atas satu pohon mana pun, dan karena alasan ini sebatang pohon juga tidak memiliki nilai baginya.
Tetapi misalkan terdapat pula di hutan itu sepuluh pohon buah liar yang buahnya dikonsumsi oleh individu yang sama. Misalkan pula bahwa jumlah buah yang tersedia baginya tidak lebih besar daripada kebutuhannya. Tentu saja, dalam hal itu, tidak satu pun dari pohon-pohon buah ini dapat terbakar dalam kebakaran tanpa menyebabkan ia menderita kelaparan sebagai akibatnya, atau setidaknya tanpa menyebabkan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya akan buah selengkap sebelumnya. Karena alasan ini, masing-masing dari pohon buah itu memiliki nilai baginya.
Apabila penduduk sebuah desa membutuhkan seribu ember air setiap hari untuk memenuhi kebutuhan mereka secara penuh, dan tersedia bagi mereka sebuah anak sungai dengan aliran harian seratus ribu ember, maka suatu bagian konkret dari kuantitas air ini, misalnya satu ember, tidak akan memiliki nilai bagi mereka, sebab mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka akan air sama lengkapnya seandainya bagian sebagian ini ditiadakan dari kuasa mereka, atau seandainya bagian itu sama sekali kehilangan karakter-barangnya. Memang, mereka akan membiarkan beribu-ribu ember dari barang ini mengalir ke laut setiap hari tanpa sedikit pun mengurangi pemenuhan kebutuhan mereka akan air. Oleh karena itu, selama hubungan yang bertanggung jawab atas karakter non-ekonomis air berlanjut, terpenuhinya tidak satu pun dari kebutuhan mereka akan bergantung pada kuasa mereka atas satu ember air mana pun sedemikian rupa sehingga pemenuhan kebutuhan itu tidak akan terjadi seandainya mereka tidak berada dalam posisi untuk menggunakan ember tertentu itu. Karena alasan ini, satu ember air tidak memiliki nilai bagi mereka.
Sebaliknya, apabila aliran harian anak sungai itu turun menjadi lima ratus ember sehari akibat kekeringan yang luar biasa atau peristiwa alam lainnya, dan penduduk desa itu tidak memiliki sumber pasokan lain, maka akibatnya kuantitas total yang kemudian tersedia tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penuh mereka akan air, dan mereka tidak akan berani kehilangan bagian mana pun dari kuantitas itu, misalnya satu ember, tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan mereka. Setiap bagian konkret dari kuantitas yang berada di bawah kuasa mereka tentu kemudian akan memiliki nilai bagi mereka.
Oleh karena itu, barang non-ekonomis tidak hanya tidak memiliki nilai tukar, sebagaimana sebelumnya diandaikan dalam literatur bidang kita, melainkan sama sekali tidak memiliki nilai, dan karenanya tidak pula memiliki nilai guna. Saya akan berupaya menjelaskan hubungan antara nilai tukar dan nilai guna secara lebih terperinci nanti, setelah saya membahas beberapa prinsip yang relevan untuk pertimbangannya. Untuk sementara, hendaklah diperhatikan bahwa nilai tukar dan nilai guna adalah dua konsep yang berada di bawah konsep umum nilai, dan karenanya sederajat dalam hubungannya satu sama lain. Dengan demikian, semua yang telah saya katakan tentang nilai pada umumnya sama berlakunya bagi nilai guna sebagaimana bagi nilai tukar.
Maka, apabila sejumlah besar ekonom melekatkan nilai guna (meskipun bukan nilai tukar) pada barang non-ekonomis, dan apabila sebagian ekonom Inggris dan Prancis baru-baru ini bahkan berkehendak menghapuskan konsep nilai guna sepenuhnya dari ilmu kita dan menggantinya dengan konsep kegunaan (utility),36 maka kehendak mereka itu berpijak pada salah paham atas perbedaan penting antara kedua konsep tersebut dan fenomena nyata yang mendasarinya.
Kegunaan (utility) adalah kemampuan suatu benda untuk berguna bagi pemenuhan kebutuhan manusia, dan karenanya (sepanjang kegunaan itu dikenali) ia merupakan prasyarat umum bagi karakter-barang. Barang non-ekonomis memiliki kegunaan sebagaimana barang ekonomis, sebab keduanya sama-sama mampu memenuhi kebutuhan kita. Pada barang-barang ini pun, kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan harus dikenali oleh manusia, sebab tanpa itu barang-barang tersebut tidak dapat memperoleh karakter-barang. Tetapi yang membedakan suatu barang non-ekonomis dari suatu barang yang tunduk pada hubungan kuantitatif yang bertanggung jawab atas karakter ekonomis adalah keadaan bahwa pemenuhan kebutuhan manusia tidak bergantung pada tersedianya kuantitas-kuantitas konkret dari yang pertama, tetapi memang bergantung pada tersedianya kuantitas-kuantitas konkret dari yang kedua. Karena alasan ini, yang pertama memiliki kegunaan, tetapi hanya yang kedua, di samping kegunaan, juga memiliki makna bagi kita yang kita sebut nilai.
Tentu saja kekeliruan yang mendasari kerancuan antara kegunaan dan nilai guna tidak berpengaruh pada aktivitas praktis manusia. Tidak pernah seorang individu yang berekonomi, dalam keadaan biasa, melekatkan nilai pada satu kaki kubik udara atau, di kawasan yang berlimpah mata air, pada satu pint air. Manusia praktis membedakan dengan sangat baik kemampuan suatu objek untuk memenuhi salah satu kebutuhannya dari nilai objek itu. Namun kerancuan ini telah menjadi rintangan besar bagi perkembangan teori-teori yang lebih umum dalam ilmu kita.37
Keadaan bahwa suatu barang memiliki nilai bagi kita dapat dikembalikan, sebagaimana telah kita lihat, pada kenyataan bahwa kuasa atas barang itu memiliki bagi kita makna memenuhi suatu kebutuhan yang tidak akan terpenuhi seandainya kita tidak menguasai barang tersebut. Kebutuhan kita, setidaknya sebagian, setidaknya sejauh menyangkut asal-usulnya, bergantung pada kehendak kita atau pada kebiasaan kita. Akan tetapi, begitu kebutuhan itu telah muncul, tidak ada lagi unsur kesewenangan dalam nilai yang dimiliki barang bagi kita, sebab nilainya kemudian merupakan konsekuensi niscaya dari pengetahuan kita akan arti pentingnya bagi kehidupan atau kesejahteraan kita. Oleh karena itu, mustahil bagi kita untuk memandang suatu barang tidak bernilai apabila kita mengetahui bahwa terpenuhinya salah satu kebutuhan kita bergantung pada penguasaan barang itu. Mustahil pula bagi kita untuk melekatkan nilai pada barang apabila kita mengetahui bahwa kita tidak bergantung padanya untuk pemenuhan kebutuhan kita. Oleh karena itu, nilai barang sama sekali bukan sesuatu yang sewenang-wenang, melainkan selalu merupakan konsekuensi niscaya dari pengetahuan manusia bahwa pemeliharaan kehidupan, kesejahteraan, atau sekian bagian darinya yang betapapun kecilnya, bergantung pada kendali atas suatu barang atau suatu kuantitas barang.
Akan tetapi, mengenai pengetahuan ini, manusia dapat keliru tentang nilai barang sebagaimana mereka dapat keliru terhadap semua objek pengetahuan manusia lainnya. Karenanya, mereka dapat melekatkan nilai pada benda-benda yang, menurut pertimbangan ekonomi, sesungguhnya tidak memilikinya, apabila mereka secara keliru mengandaikan bahwa lebih atau kurang lengkapnya pemenuhan kebutuhan mereka bergantung pada suatu barang, atau kuantitas barang, padahal hubungan ini sesungguhnya tidak ada. Dalam kasus-kasus semacam ini kita mengamati fenomena nilai khayali (imaginary value).
Nilai barang muncul dari hubungannya dengan kebutuhan kita, dan tidak melekat pada barang itu sendiri. Seiring perubahan hubungan ini, nilai timbul dan lenyap. Bagi penghuni sebuah oasis, yang menguasai mata air yang memenuhi kebutuhan mereka akan air secara melimpah, sejumlah tertentu air di mata air itu sendiri tidak akan memiliki nilai. Tetapi apabila mata air itu, akibat sebuah gempa bumi, tiba-tiba mengurangi keluaran airnya sedemikian rupa sehingga pemenuhan kebutuhan penghuni oasis tidak lagi sepenuhnya terjamin, maka setiap kebutuhan konkret mereka akan air akan menjadi bergantung pada tersedianya sejumlah tertentu air itu, dan jumlah semacam itu akan seketika memperoleh nilai bagi setiap penghuni. Namun nilai ini akan tiba-tiba lenyap apabila hubungan lama dipulihkan kembali dan mata air itu mendapatkan kembali keluaran airnya yang semula. Hasil serupa akan timbul apabila penduduk oasis bertambah sedemikian rupa sehingga air mata air itu tidak lagi mencukupi untuk pemenuhan semua kebutuhan. Perubahan semacam itu, akibat bertambahnya konsumen, bahkan dapat terjadi dengan keteraturan tertentu pada saat-saat ketika oasis itu dikunjungi oleh banyak kafilah.
Dengan demikian nilai bukanlah sesuatu yang melekat pada barang, bukan suatu sifat barang, dan bukan pula suatu benda mandiri yang berdiri sendiri. Nilai adalah suatu penilaian (judgment) yang dibuat oleh manusia yang berekonomi tentang arti penting barang yang mereka kuasai bagi pemeliharaan hidup dan kesejahteraan mereka. Karena itu, nilai tidak ada di luar kesadaran manusia. Maka, sungguh keliru pula menyebut suatu barang yang memiliki nilai bagi individu yang berekonomi sebagai sebuah “nilai,” atau bagi para ekonom untuk berbicara tentang “nilai-nilai” seolah-olah merupakan benda-benda nyata yang mandiri, dan dengan cara demikian mengobjektifikasi nilai. Sebab, entitas yang ada secara objektif selalu hanyalah benda-benda atau jumlah benda tertentu, dan nilainya merupakan sesuatu yang secara mendasar berbeda dari benda-benda itu sendiri; ia adalah suatu penilaian yang dibuat oleh individu yang berekonomi tentang arti penting penguasaan mereka atas benda-benda itu bagi pemeliharaan hidup dan kesejahteraan mereka. Pengobjektifan nilai barang, yang pada hakikatnya sepenuhnya bersifat subjektif, namun demikian telah sangat besar andilnya dalam menimbulkan kekacauan mengenai asas-asas dasar ilmu kita.
2. Ukuran Asali Nilai
Dalam apa yang telah dikemukakan sebelumnya, kita telah mengarahkan perhatian kita pada hakikat dan sebab-sebab terakhir nilai – yaitu, pada faktor-faktor yang sama bagi nilai dalam segala hal. Tetapi dalam kehidupan nyata, kita mendapati bahwa nilai berbagai barang sangat berbeda besarnya, dan bahwa nilai suatu barang tertentu kerap berubah. Penyelidikan atas sebab-sebab perbedaan nilai barang dan penyelidikan atas ukuran nilai adalah pokok-pokok yang akan menjadi perhatian kita dalam bagian ini. Alur penyelidikan kita ditentukan oleh pertimbangan berikut.
Barang yang kita kuasai tidak memiliki nilai bagi kita demi barang itu sendiri. Sebaliknya, kita telah melihat bahwa hanya pemenuhan kebutuhan kita yang memiliki arti penting bagi kita secara langsung, karena hidup dan kesejahteraan kita bergantung padanya. Tetapi saya juga telah menjelaskan bahwa manusia melekatkan arti penting ini pada barang yang mereka kuasai apabila barang itu menjamin mereka pemenuhan kebutuhan yang tidak akan terpenuhi seandainya mereka tidak menguasainya – yaitu, mereka melekatkan arti penting ini pada barang ekonomi. Karena itu, dalam nilai barang kita selalu menjumpai semata-mata makna yang kita berikan pada pemenuhan kebutuhan kita – yaitu, pada hidup dan kesejahteraan kita. Jika saya telah memerikan hakikat nilai barang secara memadai, jika telah ditetapkan bahwa pada analisis akhir hanya pemenuhan kebutuhan kita yang memiliki arti penting bagi kita, dan jika telah ditetapkan pula bahwa nilai semua barang hanyalah suatu pengimputasian arti penting ini pada barang ekonomi, maka perbedaan yang kita amati dalam besarnya nilai berbagai barang dalam kehidupan nyata hanya dapat berlandaskan pada perbedaan dalam besarnya arti penting pemenuhan-pemenuhan yang bergantung pada penguasaan kita atas barang-barang ini. Untuk menjabarkan perbedaan yang kita amati dalam besarnya nilai berbagai barang dalam kehidupan nyata sampai pada sebab-sebab terakhirnya, kita karenanya harus melakukan tugas rangkap. Kita harus menyelidiki: (1) sejauh mana pemenuhan-pemenuhan yang berbeda memiliki derajat arti penting yang berbeda bagi kita (faktor subjektif), dan (2) pemenuhan kebutuhan konkret mana yang, dalam setiap kasus tersendiri, bergantung pada penguasaan kita atas suatu barang tertentu (faktor objektif). Jika penyelidikan ini menunjukkan bahwa pemenuhan-pemenuhan tersendiri atas kebutuhan konkret memiliki derajat arti penting yang berbeda bagi kita, dan bahwa pemenuhan-pemenuhan dengan derajat arti penting yang demikian berbeda itu bergantung pada penguasaan kita atas barang-barang ekonomi tertentu, maka kita akan telah memecahkan persoalan kita. Sebab kita akan telah menjabarkan gejala ekonomi yang penjelasannya kita nyatakan sebagai persoalan pokok penyelidikan ini sampai pada sebab-sebab terakhirnya. Yang saya maksudkan adalah perbedaan dalam besarnya nilai barang.
Dengan jawaban atas pertanyaan mengenai sebab-sebab terakhir perbedaan nilai barang, terpecahkan pula persoalan tentang bagaimana terjadinya bahwa nilai masing-masing dari berbagai barang itu sendiri tunduk pada perubahan. Segala perubahan tidak lain hanyalah perbedaan sepanjang waktu. Karena itu, dengan pengetahuan tentang sebab-sebab terakhir perbedaan antara anggota-anggota suatu himpunan besaran pada umumnya, kita juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang perubahan-perubahannya.
A. Perbedaan dalam besarnya arti penting berbagai pemenuhan (faktor subjektif).
Mengenai perbedaan arti penting yang dimiliki berbagai pemenuhan bagi kita, di atas segalanya merupakan fakta dari pengalaman yang paling lazim bahwa pemenuhan-pemenuhan yang paling besar arti pentingnya bagi manusia biasanya adalah pemenuhan-pemenuhan yang menjadi sandaran bagi pemeliharaan hidup, dan bahwa pemenuhan-pemenuhan lain berjenjang dalam besarnya arti penting menurut derajat (lama dan intensitas) kenikmatan yang bergantung padanya. Demikianlah, jika manusia yang berekonomi harus memilih antara pemenuhan suatu kebutuhan yang menjadi sandaran bagi pemeliharaan hidup mereka dan pemenuhan lain yang hanya menjadi sandaran bagi derajat kesejahteraan yang lebih besar atau lebih kecil, mereka biasanya akan lebih mengutamakan yang pertama. Demikian pula, mereka biasanya akan lebih mengutamakan pemenuhan-pemenuhan yang menjadi sandaran bagi derajat kesejahteraan mereka yang lebih tinggi. Dengan intensitas yang sama, mereka akan lebih mengutamakan kenikmatan yang berlangsung lebih lama daripada kenikmatan yang berlangsung lebih singkat, dan dengan lama yang sama, kenikmatan yang lebih besar intensitasnya daripada kenikmatan yang lebih kecil intensitasnya.
Pemeliharaan hidup kita bergantung pada pemenuhan kebutuhan kita akan makanan, dan juga, dalam iklim kita, pada pemberian pakaian bagi tubuh kita serta tersedianya tempat bernaung bagi kita. Tetapi semata-mata derajat kesejahteraan yang lebih tinggi yang bergantung pada kita memiliki sebuah kereta, sebuah papan catur, dan sebagainya. Demikianlah kita mengamati bahwa manusia jauh lebih mengkhawatirkan ketiadaan makanan, pakaian, dan tempat bernaung daripada ketiadaan sebuah kereta, sebuah papan catur, dan sebagainya. Mereka juga melekatkan arti penting yang jauh lebih tinggi pada penjaminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang pertama daripada yang mereka lekatkan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang, seperti dalam kasus-kasus yang baru saja disebutkan, hanya menjadi sandaran bagi suatu kenikmatan sesaat atau kenyamanan yang bertambah (yaitu, semata-mata derajat kesejahteraan mereka yang lebih tinggi). Tetapi pemenuhan-pemenuhan ini pun memiliki derajat arti penting yang sangat berbeda. Pemeliharaan hidup tidak bergantung pada memiliki ranjang yang nyaman ataupun pada memiliki sebuah papan catur, tetapi penggunaan barang-barang ini menyumbang, dan tentu dalam derajat yang sangat berbeda, pada peningkatan kesejahteraan kita. Karena itu tidak dapat pula diragukan bahwa, apabila manusia mempunyai pilihan antara melepaskan ranjang yang nyaman atau melepaskan sebuah papan catur, mereka akan jauh lebih sedia merelakan yang terakhir daripada yang pertama.
Dengan demikian kita telah melihat bahwa berbagai pemenuhan sangat tidak setara dalam arti pentingnya, karena sebagian merupakan pemenuhan yang memiliki arti penting penuh bagi manusia berupa pemeliharaan hidup mereka, sebagian lain merupakan pemenuhan yang menentukan kesejahteraan mereka dalam derajat yang lebih tinggi, sebagian lagi dalam derajat yang lebih rendah, dan demikian seterusnya hingga pemenuhan yang menjadi sandaran bagi suatu kenikmatan sesaat yang tak berarti. Tetapi pengkajian yang cermat atas gejala-gejala kehidupan menunjukkan bahwa perbedaan arti penting berbagai pemenuhan ini dapat diamati tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan yang berlainan jenis, tetapi juga pada pemenuhan yang kurang lebih lengkap atas satu dan kebutuhan yang sama.
Hidup manusia bergantung pada pemenuhan kebutuhan mereka akan makanan secara umum. Tetapi akan sepenuhnya keliru menganggap semua makanan yang mereka santap sebagai diperlukan bagi pemeliharaan hidup mereka atau bahkan kesehatan mereka (yaitu, bagi kesejahteraan mereka yang berkelanjutan). Setiap orang tahu betapa mudahnya melewatkan salah satu santapan yang biasa tanpa membahayakan hidup atau kesehatan. Sungguh, pengalaman menunjukkan bahwa jumlah makanan yang diperlukan untuk memelihara hidup hanyalah sebagian kecil dari apa yang lazimnya disantap oleh orang-orang yang berkecukupan, dan bahwa manusia bahkan menyantap makanan dan minuman jauh lebih banyak daripada yang diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan secara penuh. Manusia menyantap makanan karena beberapa alasan: di atas segalanya, mereka menyantap makanan untuk memelihara hidup; melampaui ini, mereka menyantap jumlah lebih lanjut untuk memelihara kesehatan, karena pola makan yang hanya cukup untuk memelihara hidup terlalu hemat, sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman, untuk menghindari gangguan-gangguan organik; akhirnya, setelah menyantap jumlah yang cukup untuk memelihara hidup dan memelihara kesehatan, manusia lebih lanjut menyantap makanan semata-mata demi kenikmatan yang diperoleh dari penyantapannya.
Karena itu, tindakan-tindakan konkret tersendiri dalam memenuhi kebutuhan akan makanan memiliki derajat arti penting yang sangat berbeda. Pemenuhan kebutuhan setiap orang akan makanan sampai pada titik di mana hidupnya terjamin karenanya memiliki arti penting penuh berupa pemeliharaan hidupnya. Konsumsi yang melampaui jumlah ini, sekali lagi sampai pada suatu titik tertentu, memiliki arti penting berupa pemeliharaan kesehatannya (yaitu, kesejahteraannya yang berkelanjutan). Konsumsi yang merentang melampaui titik ini pun hanya memiliki arti penting – sebagaimana ditunjukkan oleh pengamatan – berupa suatu kenikmatan yang semakin lemah, sampai akhirnya mencapai suatu batas tertentu di mana pemenuhan kebutuhan akan makanan demikian lengkapnya sehingga setiap asupan makanan selanjutnya tidak menyumbang pada pemeliharaan hidup maupun pada pemeliharaan kesehatan – tidak pula memberi kenikmatan kepada konsumen, mula-mula menjadi hal yang acuh tak acuh baginya, lambat laun menjadi penyebab rasa sakit, suatu bahaya bagi kesehatan, dan akhirnya suatu bahaya bagi hidup itu sendiri.
Pengamatan serupa dapat dilakukan terhadap pemenuhan yang kurang lebih lengkap atas semua kebutuhan manusia lainnya. Sebuah kamar, atau setidaknya suatu tempat untuk tidur yang terlindung dari cuaca, diperlukan dalam iklim kita bagi pemeliharaan hidup, dan tempat tinggal yang cukup lapang bagi pemeliharaan kesehatan. Namun di samping itu, manusia biasanya memiliki tempat tinggal lebih lanjut, jika mereka mempunyai sarana, semata-mata untuk tujuan kenikmatan (ruang tamu, ruang dansa, ruang bermain, paviliun, pondok berburu, dan sebagainya). Demikianlah tidaklah sukar untuk mengenali bahwa tindakan-tindakan konkret tersendiri dalam memenuhi kebutuhan akan tempat bernaung memiliki derajat arti penting yang sangat berbeda. Sampai pada suatu titik tertentu, hidup kita bergantung pada pemenuhan kebutuhan kita akan tempat bernaung. Melampaui ini, kesehatan kita bergantung pada pemenuhan yang lebih lengkap. Dan upaya-upaya yang lebih lanjut lagi untuk memenuhi kebutuhan yang sama akan membawa mula-mula kenikmatan yang lebih besar dan kemudian kenikmatan yang lebih kecil, sampai akhirnya suatu titik dapat dibayangkan, bagi setiap orang, di mana pemanfaatan lebih lanjut atas tempat tinggal yang tersedia akan menjadi hal yang sepenuhnya acuh tak acuh baginya, dan akhirnya bahkan memberatkan.
Oleh karena itu, berkenaan dengan pemenuhan suatu kebutuhan yang sama secara lebih atau kurang lengkap, dimungkinkan untuk membuat pengamatan yang serupa dengan pengamatan yang dibuat sebelumnya berkenaan dengan berbagai kebutuhan manusia. Kita telah melihat sebelumnya bahwa berbagai kebutuhan manusia sangat tidak setara dalam hal pentingnya pemenuhan, terbentang secara bertingkat dari pentingnya kehidupan mereka hingga pentingnya yang mereka berikan pada suatu kenikmatan kecil yang sekilas. Kini kita melihat, di samping itu, bahwa pemenuhan suatu kebutuhan tertentu, sampai pada tingkat kelengkapan tertentu, memiliki kepentingan yang relatif paling tinggi, dan bahwa pemenuhan selanjutnya memiliki kepentingan yang semakin kecil, sampai akhirnya tercapai suatu tahap di mana pemenuhan yang lebih lengkap atas kebutuhan tertentu itu menjadi hal yang tidak penting lagi. Pada akhirnya muncul suatu tahap di mana setiap tindakan yang secara lahiriah tampak sebagai pemenuhan kebutuhan ini tidak hanya tidak lagi memiliki kepentingan bagi konsumen, melainkan justru menjadi beban dan rasa sakit.
Untuk menyatakan kembali argumen sebelumnya secara numerik, guna memudahkan pemahaman atas penyelidikan sulit yang menyusul, saya akan menandai kepentingan pemenuhan-pemenuhan yang menjadi sandaran kehidupan dengan angka 10, dan kepentingan yang lebih kecil dari pemenuhan-pemenuhan lain berturut-turut dengan 9, 8, 7, 6, dan seterusnya. Dengan cara ini kita memperoleh suatu skala kepentingan dari berbagai pemenuhan yang dimulai dengan 10 dan berakhir dengan 1.
Marilah kini, untuk masing-masing pemenuhan yang berbeda ini, kita berikan ungkapan numerik bagi kepentingan tambahan – yang semakin berkurang secara bertingkat dari angka yang menunjukkan sejauh mana kebutuhan tertentu telah terpenuhi – dari tindakan-tindakan pemenuhan selanjutnya atas kebutuhan tertentu itu. Untuk pemenuhan-pemenuhan yang menjadi sandaran kehidupan kita sampai titik tertentu, dan yang di luar titik itu menjadi sandaran suatu kesejahteraan yang terus menurun seiring dengan tingkat kelengkapan pemenuhan yang telah dicapai, kita memperoleh suatu skala yang dimulai dengan 10 dan berakhir dengan 0. Demikian pula, untuk pemenuhan-pemenuhan yang kepentingan tertingginya adalah 9, kita memperoleh suatu skala yang dimulai dengan angka ini dan juga berakhir dengan 0, dan seterusnya.
Kesepuluh skala yang diperoleh dengan cara ini disajikan dalam tabel berikut:38
Akan tetapi, Menger tidak secara eksplisit menyebutkan variabel bebasnya pada awalnya, dan pembaca dibiarkan untuk menemukannya sendiri dalam pembahasan yang menyusul. Pada beberapa kesempatan, Menger menyatakan secara samar bahwa penambahan-penambahan berurutan pada pemenuhan total merupakan hasil dari “tindakan-tindakan pemenuhan” yang berurutan, tetapi kemudian (hlm. 130) ia memperjelas bahwa penambahan-penambahan itu merupakan hasil dari penambahan-penambahan yang sama besar dan berurutan pada kuantitas komoditas yang dikonsumsi. Namun, persoalan ini belum berakhir. Dalam paragraf yang menyusul tabel, Menger membandingkan angka-angka dari satu kolom dengan angka-angka dari kolom lain ketika ia berargumen bahwa, setelah unit kelima (?) makanan dikonsumsi, individu dalam tabel itu menghadapi kenyataan bahwa unit keenam makanan akan memberinya pemenuhan tambahan yang lebih kecil daripada yang akan diberikan oleh unit pertama tembakau, dan bahwa ia karenanya harus membawa konsumsinya atas kedua komoditas itu ke dalam keseimbangan. Perbandingan semacam itu tidak sah kecuali jika satu unit tembakau dan satu unit makanan didefinisikan sedemikian rupa sehingga keduanya dapat diperoleh dengan pengeluaran yang sama atas suatu sumber daya lain (seperti tenaga kerja atau uang), karena jika tidak demikian, kedua unit itu tidak akan merupakan alternatif yang di antaranya individu tersebut harus memilih.
Suatu model minimum yang memenuhi pembahasan Menger karenanya memerlukan asumsi-asumsi berikut:
(1) Individu yang berhemat dalam tabel itu mampu tidak hanya untuk memeringkat pemenuhan-pemenuhannya, melainkan juga untuk memberikan indeks-indeks kardinal pada tingkat kepentingannya yang relatif. Dengan kata lain, ia mampu membandingkan berbagai pemenuhan dalam kerangka suatu satuan pemenuhan yang homogen. (Lihat juga ringkasan asas-asas pada hlm. 139 dan pembahasan dalam Bab IV, Bagian 2.)
| I | II | III | IV | V | VI | VII | VIII | IX |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 10 | 9 | 8 | 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 |
| 9 | 8 | 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 |
| 8 | 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 |
| 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |
| 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | ||
| 5 | 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | |||
| 4 | 3 | 2 | 1 | 0 | ||||
| 3 | 2 | 1 | 0 | |||||
| 2 | 1 | 0 | ||||||
| 1 | 0 | |||||||
| 0 |
Andaikan skala dalam kolom I menyatakan kepentingan bagi seseorang individu atas pemenuhan kebutuhannya akan makanan, kepentingan ini berkurang menurut tingkat pemenuhan yang telah dicapai, dan bahwa skala dalam kolom V menyatakan secara serupa kepentingan kebutuhannya akan tembakau. Jelaslah bahwa pemenuhan kebutuhannya akan makanan, sampai pada tingkat kelengkapan tertentu, memiliki kepentingan yang jelas lebih tinggi bagi individu ini daripada pemenuhan kebutuhannya akan tembakau. Tetapi jika kebutuhannya akan makanan telah terpenuhi sampai pada tingkat kelengkapan tertentu (jika, misalnya, pemenuhan selanjutnya atas kebutuhannya akan makanan hanya memiliki kepentingan baginya yang kita tandai secara numerik dengan angka 6), konsumsi tembakau mulai memiliki kepentingan yang sama baginya seperti pemenuhan selanjutnya atas kebutuhannya akan makanan. Karena itu, sejak titik ini, individu tersebut akan berupaya membawa pemenuhan kebutuhannya akan tembakau ke dalam keseimbangan dengan pemenuhan kebutuhannya akan makanan. Meskipun pemenuhan kebutuhannya akan makanan secara umum memiliki kepentingan yang jauh lebih tinggi bagi individu yang bersangkutan daripada pemenuhan kebutuhannya akan tembakau, dengan pemenuhan yang semakin meningkat atas kebutuhan yang pertama, tetap saja tiba suatu tahap (sebagaimana digambarkan dalam tabel) di mana tindakan-tindakan pemenuhan selanjutnya atas kebutuhannya akan makanan memiliki kepentingan yang lebih kecil baginya daripada tindakan-tindakan pertama pemenuhan kebutuhannya akan tembakau, yang meskipun secara umum kurang penting, pada tahap ini masih sama sekali belum terpenuhi.
Dengan rujukan pada gejala kehidupan yang lazim ini, saya yakin telah menjelaskan secara memuaskan makna angka-angka dalam tabel, yang dipilih semata-mata untuk memudahkan peragaan suatu bidang psikologi yang sulit dan sebelumnya belum dijelajahi.
Kepentingan yang beragam yang dimiliki oleh pemenuhan kebutuhan-kebutuhan konkret yang terpisah bagi manusia bukanlah hal yang asing bagi kesadaran setiap manusia yang berhemat, betapapun sedikitnya perhatian yang sejauh ini diberikan oleh para sarjana terhadap gejala-gejala yang dibahas di sini. Di mana pun manusia hidup, dan pada tingkat peradaban apa pun mereka berada, kita dapat mengamati bagaimana individu-individu yang berhemat menimbang kepentingan relatif dari pemenuhan berbagai kebutuhan mereka secara umum, bagaimana mereka khususnya menimbang kepentingan relatif dari tindakan-tindakan terpisah yang mengarah pada pemenuhan yang lebih atau kurang lengkap atas setiap kebutuhan, dan bagaimana mereka akhirnya dituntun oleh hasil perbandingan ini ke dalam kegiatan-kegiatan yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan mereka selengkap mungkin (berhemat). Sesungguhnya, penimbangan kepentingan relatif kebutuhan-kebutuhan ini – pemilihan ini antara kebutuhan-kebutuhan yang harus tetap tidak terpenuhi dan kebutuhan-kebutuhan yang, sesuai dengan sarana yang tersedia, harus mencapai pemenuhan, serta penentuan sejauh mana kebutuhan yang terakhir itu harus dipenuhi – merupakan bagian dari kegiatan ekonomi manusia yang paling banyak mengisi benak mereka melebihi bagian mana pun lainnya, yang memiliki pengaruh paling jauh jangkauannya terhadap upaya ekonomi mereka, dan yang dijalankan hampir terus-menerus oleh setiap individu yang berhemat. Tetapi pengetahuan manusia tentang berbagai tingkat kepentingan pemenuhan berbagai kebutuhan dan tindakan-tindakan pemenuhan yang terpisah juga merupakan penyebab pertama perbedaan dalam nilai barang.
B. Ketergantungan pemenuhan-pemenuhan yang terpisah pada barang-barang tertentu (faktor objektif).
Jika, berhadapan dengan setiap kebutuhan konkret tertentu manusia, hanya tersedia satu barang, dan barang itu cocok semata-mata untuk pemenuhan satu kebutuhan tersebut (sehingga, di satu sisi, pemenuhan kebutuhan itu tidak akan terjadi jika barang tertentu itu tidak berada dalam kekuasaan kita, dan di sisi lain, barang itu mampu melayani pemenuhan kebutuhan konkret itu dan bukan kebutuhan lain), penentuan nilai barang tersebut akan sangat mudah; nilainya akan setara dengan kepentingan yang kita berikan pada pemenuhan kebutuhan itu. Sebab jelaslah bahwa kapan pun kita bergantung, dalam memenuhi suatu kebutuhan tertentu, pada ketersediaan suatu barang tertentu (yakni kapan pun pemenuhan ini tidak akan terjadi jika kita tidak memiliki barang itu dalam kekuasaan kita) dan ketika barang itu, pada saat yang sama, tidak cocok untuk tujuan berguna lainnya, barang itu dapat mencapai kepentingan penuh, tetapi tidak pernah kepentingan lain selain yang dimiliki oleh pemenuhan tertentu itu bagi kita. Karenanya, sesuai dengan apakah kepentingan pemenuhan tertentu itu bagi kita, dalam kasus seperti ini, lebih besar atau lebih kecil, nilai barang tertentu itu bagi kita akan lebih besar atau lebih kecil. Jika, misalnya, seorang individu yang rabun jauh terdampar di sebuah pulau terpencil dan menemukan di antara barang-barang yang berhasil ia selamatkan hanya satu pasang kacamata yang mengoreksi rabun jauhnya tetapi tidak ada pasangan kedua, tidak diragukan lagi bahwa kacamata ini akan memiliki kepentingan penuh baginya sebesar yang ia berikan pada penglihatan yang terkoreksi, dan sama pastinya tidak ada kepentingan yang lebih besar, sebab kacamata itu hampir tidak akan cocok untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain.
Tetapi dalam kehidupan biasa, hubungan antara barang-barang yang tersedia dan kebutuhan-kebutuhan kita pada umumnya jauh lebih rumit. Biasanya bukan satu barang, melainkan sejumlah barang berhadapan bukan dengan satu kebutuhan konkret, melainkan dengan suatu kompleks kebutuhan semacam itu. Kadang-kadang jumlah pemenuhan yang lebih besar dan kadang-kadang lebih kecil, dengan tingkat kepentingan yang sangat berbeda, bergantung pada penguasaan kita atas suatu kuantitas barang tertentu, dan masing-masing barang itu memiliki kemampuan untuk menghasilkan pemenuhan-pemenuhan yang sangat berbeda kepentingannya ini.
Seorang petani yang terpencil, setelah panen yang melimpah, memiliki lebih dari dua ratus gantang gandum dalam kekuasaannya. Sebagian dari ini menjamin baginya pemeliharaan kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya sampai panen berikutnya, dan bagian lain menjamin pemeliharaan kesehatan; bagian ketiga menjamin baginya benih gandum untuk penyemaian berikutnya; bagian keempat dapat digunakan untuk produksi bir, wiski, dan barang-barang mewah lainnya; dan bagian kelima dapat digunakan untuk penggemukan ternaknya. Beberapa gantang yang tersisa, yang tidak dapat ia gunakan lebih lanjut untuk pemenuhan-pemenuhan yang lebih penting ini, ia peruntukkan bagi pemberian pakan hewan peliharaan agar sisa gandumnya menjadi berguna dalam cara tertentu.
Karena itu, petani tersebut bergantung pada gandum yang ada dalam kepemilikannya untuk pemenuhan-pemenuhan dengan tingkat kepentingan yang sangat berbeda. Pertama-tama ia menjamin dengannya kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya, kemudian kesehatan dirinya sendiri dan keluarganya. Di luar itu, ia menjamin dengannya kelangsungan tanpa gangguan dari operasi pertaniannya, suatu landasan penting bagi kesejahteraannya yang berkelanjutan. Akhirnya, ia menggunakan sebagian dari gandumnya untuk tujuan kenikmatan, dan dengan demikian sekali lagi menggunakan gandumnya untuk tujuan-tujuan yang sangat berbeda tingkat kepentingannya baginya.
Dengan demikian kita sedang meninjau suatu kasus – kasus yang khas dalam kehidupan biasa – di mana pemenuhan-pemenuhan dengan tingkat kepentingan yang sangat berbeda bergantung pada ketersediaan suatu kuantitas barang yang akan kita andaikan, demi kesederhanaan yang lebih besar, terdiri dari satuan-satuan yang sepenuhnya homogen. Pertanyaan yang kini muncul adalah: apakah, dalam kondisi yang diberikan, nilai dari suatu bagian tertentu gandum itu bagi petani kita? Akankah gantang-gantang gandum yang menjamin kehidupan dirinya sendiri dan keluarganya memiliki nilai yang lebih tinggi baginya daripada gantang-gantang yang memungkinkan ia menyemai ladangnya? Dan akankah gantang-gantang yang terakhir itu memiliki nilai yang lebih besar baginya daripada gantang-gantang gandum yang ia gunakan untuk tujuan kenikmatan?
Tidak seorang pun akan menyangkal bahwa pemenuhan-pemenuhan yang tampak terjamin oleh berbagai bagian dari persediaan gandum yang tersedia sangat tidak setara dalam hal kepentingan, terbentang dari kepentingan 10 hingga kepentingan 1 menurut penandaan kita sebelumnya. Namun tidak seorang pun akan mampu mempertahankan bahwa beberapa gantang gandum (misalnya, gantang-gantang yang dengannya petani akan menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya sampai panen berikutnya) akan memiliki nilai yang lebih tinggi baginya daripada gantang-gantang lain dengan kualitas yang sama (misalnya, gantang-gantang yang darinya ia akan membuat minuman mewah).
Dalam kasus ini dan dalam setiap kasus lain di mana pemuasan kebutuhan dengan tingkat kepentingan yang berbeda-beda bergantung pada penguasaan atas sejumlah barang tertentu, kita, di atas segalanya, dihadapkan pada pertanyaan yang sulit: pemuasan kebutuhan tertentu manakah yang bergantung pada bagian tertentu dari kuantitas barang yang dimaksud?
Pemecahan atas pertanyaan yang sangat penting dalam teori nilai ini mengikuti dari perenungan tentang ekonomi manusia dan hakikat nilai.
Kita telah melihat bahwa upaya manusia diarahkan pada pemenuhan kebutuhan mereka secara penuh, dan apabila hal itu tidak mungkin, pada pemenuhannya selengkap mungkin. Jika suatu kuantitas barang berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan yang berbeda-beda kepentingannya bagi manusia, mereka akan terlebih dahulu memuaskan, atau menyediakan bagi, kebutuhan-kebutuhan yang pemuasannya paling penting bagi mereka. Jika masih ada barang yang tersisa, mereka akan mengarahkannya pada pemuasan kebutuhan yang tingkat kepentingannya menyusul setelah yang sudah dipuaskan. Sisa selanjutnya akan diterapkan secara berurutan pada pemuasan kebutuhan yang menyusul dalam tingkat kepentingan.39
Jika suatu barang dapat digunakan untuk pemuasan beberapa jenis kebutuhan yang berbeda, dan jika, sehubungan dengan setiap jenis kebutuhan, tindakan-tindakan pemuasan tunggal yang berturut-turut masing-masing memiliki kepentingan yang semakin berkurang sesuai dengan tingkat kelengkapan pemuasan kebutuhan yang bersangkutan, manusia yang berekonomi akan terlebih dahulu menggunakan kuantitas barang yang tersedia bagi mereka untuk menjamin tindakan-tindakan pemuasan, tanpa memandang jenis kebutuhannya, yang memiliki kepentingan tertinggi bagi mereka. Mereka akan menggunakan kuantitas yang tersisa untuk menjamin pemuasan kebutuhan-kebutuhan konkret yang menyusul dalam kepentingan, dan sisa selanjutnya untuk menjamin pemuasan yang secara berurutan kurang penting. Hasil akhir dari prosedur ini adalah bahwa yang terpenting di antara pemuasan-pemuasan yang tidak dapat dicapai memiliki kepentingan yang sama bagi setiap jenis kebutuhan, dan karenanya semua kebutuhan dipuaskan hingga tingkat kepentingan yang setara dari tindakan-tindakan pemuasan yang terpisah.
Kita telah bertanya nilai apa yang dimiliki oleh suatu satuan tertentu dari kuantitas barang yang dimiliki oleh seorang individu yang berekonomi baginya. Pertanyaan kita dapat dinyatakan dengan lebih tepat sehubungan dengan hakikat nilai jika dinyatakan dalam bentuk ini: pemuasan manakah yang tidak akan tercapai seandainya individu yang berekonomi itu tidak memiliki satuan tertentu itu untuk digunakannya — yakni, seandainya ia menguasai jumlah total yang lebih kecil sebanyak satu satuan itu? Jawabannya, yang mengikuti dari uraian sebelumnya tentang hakikat ekonomi manusia, adalah bahwa setiap individu yang berekonomi dalam kasus ini, dengan kuantitas barang yang masih tersisa baginya, dengan segala cara akan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya yang lebih penting dan mengesampingkan pemuasan kebutuhan yang kurang penting. Dengan demikian, dari semua pemuasan yang sebelumnya diperoleh, hanya pemuasan yang paling kecil kepentingannya baginya yang kini tidak akan tercapai.
Sejalan dengan itu, dalam setiap kasus konkret, dari semua pemuasan yang dijamin melalui seluruh kuantitas suatu barang yang berada di tangan seorang individu yang berekonomi, hanya pemuasan-pemuasan yang paling kecil kepentingannya baginya yang bergantung pada ketersediaan bagian tertentu dari keseluruhan kuantitas itu. Oleh karena itu, nilai bagi orang ini dari bagian mana pun dari keseluruhan kuantitas barang yang tersedia setara dengan kepentingan baginya dari pemuasan-pemuasan yang paling kecil kepentingannya di antara yang dijamin oleh keseluruhan kuantitas dan dicapai dengan bagian yang setara.40
Andaikan seorang individu membutuhkan 10 satuan terpisah (atau 10 takaran) suatu barang untuk pemuasan penuh atas seluruh kebutuhannya akan barang itu, bahwa kebutuhan-kebutuhan ini berbeda-beda kepentingannya dari 10 hingga 1, tetapi ia hanya memiliki 7 satuan (atau hanya 7 takaran) barang itu di tangannya. Dari apa yang telah dikatakan tentang hakikat ekonomi manusia, langsung tampak jelas bahwa individu ini hanya akan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya akan barang itu yang berkisar dalam kepentingan dari 10 hingga 4 dengan kuantitas yang ada di tangannya (7 satuan), dan bahwa kebutuhan-kebutuhan lainnya, yang berkisar dalam kepentingan dari 3 hingga 1, akan tetap tidak terpuaskan. Berapakah nilai salah satu dari 7 satuannya (atau takaran) itu bagi individu yang berekonomi yang dimaksud dalam kasus ini? Menurut apa yang telah kita pelajari tentang hakikat nilai barang, pertanyaan ini setara dengan pertanyaan: berapakah kepentingan dari pemuasan-pemuasan yang tidak akan tercapai seandainya individu yang bersangkutan hanya memiliki 6 alih-alih 7 satuan (atau takaran) di tangannya. Jika suatu kebetulan merampas darinya salah satu dari tujuh barang (atau takaran) itu, jelaslah bahwa orang yang dimaksud akan menggunakan 6 satuan yang tersisa untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting dan akan mengabaikan yang paling kurang penting. Oleh karena itu, akibat kehilangan satu barang (atau satu takaran) adalah bahwa hanya pemuasan yang paling kecil dari semua pemuasan yang dijamin oleh keseluruhan kuantitas tujuh satuan yang tersedia (yaitu, pemuasan yang kepentingannya ditandai sebagai 4) yang akan hilang, sedangkan pemuasan-pemuasan itu (atau tindakan-tindakan pemuasan kebutuhan) yang kepentingannya berkisar dari 10 hingga 5 akan tetap berlangsung seperti sebelumnya. Dalam kasus ini, oleh karena itu, hanya pemuasan yang kepentingannya ditandai dengan 4 yang akan bergantung pada penguasaan atas satu satuan tunggal (atau takaran), dan selama individu yang dimaksud terus menguasai 7 satuan (atau takaran) barang itu, nilai setiap satuan (atau takaran) akan setara dengan kepentingan pemuasan ini. Sebab hanya pemuasan dengan kepentingan 4 inilah yang bergantung pada satu satuan (atau takaran) dari kuantitas barang yang tersedia. Dengan hal-hal lain dianggap sama, jika hanya 5 satuan (atau takaran) barang itu yang tersedia bagi individu yang berekonomi yang dimaksud, jelaslah bahwa — selama keadaan ekonomi ini berlangsung — setiap satuan terpisah atau kuantitas parsial dari barang itu akan memiliki kepentingan baginya yang dinyatakan secara numerik dengan angka 6. Jika ia memiliki 3 satuan, masing-masing akan memiliki kepentingan baginya yang dinyatakan secara numerik dengan angka 8. Akhirnya, jika ia hanya memiliki satu barang tunggal, kepentingannya akan setara dengan 10.
Pemeriksaan atas sejumlah kasus tertentu akan menjelaskan sepenuhnya prinsip-prinsip yang ditetapkan di sini, dan saya tidak hendak menghindar dari tugas penting ini, meskipun saya tahu bahwa saya akan tampak menjemukan bagi sebagian pembaca. Mengikuti jejak Adam Smith, saya akan mempertaruhkan sedikit kejemuan demi memperoleh kejelasan uraian.
Untuk memulai dengan kasus yang paling sederhana, andaikan seorang individu yang berekonomi secara terisolasi mendiami sebuah pulau berbatu di tengah laut, bahwa ia hanya menemukan satu mata air di pulau itu, dan bahwa ia sepenuhnya bergantung padanya untuk pemuasan kebutuhannya akan air tawar. Andaikan individu yang terisolasi ini membutuhkan: (a) satu satuan air setiap hari untuk pemeliharaan hidupnya, (b) sembilan belas satuan untuk hewan-hewan yang susu dan dagingnya menyediakan baginya sarana penghidupan yang paling diperlukan, (c) empat puluh satuan, sebagian agar ia dapat mengonsumsi kuantitas penuh yang diperlukan untuk pemeliharaan tidak hanya hidupnya tetapi juga kesehatannya; sebagian, sejauh diperlukan untuk kelangsungan kesehatan dan kesejahteraan umumnya, untuk membersihkan tubuhnya, pakaiannya, dan peralatannya; dan sebagian untuk memelihara beberapa hewan tambahan yang susu dan dagingnya dirasakannya perlu, dan akhirnya (d) empat puluh satuan air tambahan setiap hari, sebagian untuk kebun bunganya, dan sebagian untuk beberapa hewan, yang dipeliharanya, bukan untuk pemeliharaan hidup dan kesehatannya, melainkan semata-mata demi tujuan diet yang lebih beragam, atau sekadar untuk teman. Andaikan pula bahwa ia tidak tahu cara menggunakan air lebih dari total seratus satuan ini.
Selama mata air menyediakan air begitu berlimpah sehingga ia tidak hanya dapat memuaskan seluruh kebutuhannya akan air tetapi juga membiarkan beberapa ribu ember mengalir ke laut setiap hari, dan dengan demikian selama pemuasan tak satu pun dari kebutuhannya bergantung pada apakah ia memiliki satu satuan lebih atau satu satuan kurang (misalnya, satu ember penuh) di tangannya, satu satuan air, sebagaimana telah kita lihat, tidak akan memiliki sifat ekonomi maupun nilai baginya, dan dengan demikian tidak mungkin ada pertanyaan tentang besarnya nilainya. Tetapi jika suatu peristiwa alam kini tiba-tiba menyebabkan mata air itu menjadi sebagian kering, dan jika penghuni pulau kita, sebagai akibatnya, hanya memiliki 90 satuan air di tangannya sementara ia terus membutuhkan 100 satuan untuk pemuasan penuh atas kebutuhannya, jelaslah bahwa suatu pemuasan kemudian akan bergantung pada ketersediaan setiap bagian dari keseluruhan persediaan air, dan karenanya setiap satuan air tertentu akan memperoleh makna baginya yang kita sebut nilai.
Akan tetapi, jika kini kita bertanya pemuasan manakah dari pemuasan-pemuasannya yang, dalam kasus ini, bergantung pada bagian tertentu dari 90 satuan air yang tersedia baginya, misalnya pada 10 satuan, pertanyaan kita mengambil bentuk berikut: pemuasan-pemuasan manakah dari individu kita yang terisolasi yang tidak akan tercapai seandainya ia tidak memiliki bagian tertentu dari persediaan ini di tangannya — yakni, seandainya ia hanya memiliki 80 alih-alih 90 satuan?
Tak ada yang lebih pasti daripada bahwa individu kita yang berekonomi akan terus, sekalipun ia hanya memiliki 80 satuan air yang tersedia setiap hari, mengonsumsi kuantitas yang diperlukan untuk pelestarian hidupnya, dan sebanyak lebih yang akan memelihara sebanyak mungkin hewan yang tak tergantikan untuk menjaganya tetap hidup. Karena tujuan-tujuan ini hanya memerlukan 20 satuan air setiap hari, ia akan menerapkan 60 satuan yang tersisa terlebih dahulu pada pemuasan semua kebutuhan yang menjadi sandaran kesehatannya dan kesejahteraan umumnya yang berkelanjutan. Karena untuk tujuan ini ia memerlukan total hanya 40 ember air setiap hari, ia akan memiliki sisa 20 satuan, yang dapat digunakan untuk tujuan kenikmatan semata. Dengan demikian 20 satuan terakhir dapat memelihara entah kebun bunganya atau hewan-hewan yang dimilikinya semata-mata untuk kesenangan. Ia tentu akan memilih, dari kedua pemuasan itu, yang tampak baginya lebih penting, dan akan mengabaikan yang kurang penting.
Ketika Crusoe kita memiliki 90 satuan air yang tersedia baginya setiap hari, pertanyaan apakah ia akan terus memiliki kuantitas ini atau 10 satuan lebih sedikit di tangannya adalah, baginya, setara dengan pertanyaan apakah ia akan berada dalam posisi untuk terus memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang paling kurang penting yang dipuaskan dengan 10 satuan air setiap hari. Oleh karena itu, selama total kuantitas 90 satuan tetap berada di tangannya, 10 satuan air hanya akan memiliki kepentingan dari pemuasan-pemuasan yang paling kurang penting ini — yakni, hanya kepentingan dari kenikmatan-kenikmatan yang relatif tidak berarti.
Andaikan kini bahwa mata air yang memasok air kepada individu dalam ekonomi terisolasi itu bahkan semakin kering, sedemikian rupa sehingga hanya empat puluh satuan air yang tersedia baginya setiap hari. Kini sekali lagi, sama seperti sebelumnya, pemeliharaan hidup dan kesejahteraannya akan bergantung pada ketersediaan keseluruhan kuantitas air ini. Tetapi keadaan telah berubah dalam suatu hal yang penting. Jika sebelumnya salah satu kesenangan atau kenyamanannya bergantung pada ketersediaan setiap bagian — yang dengan cara apa pun secara praktis berarti — dari keseluruhan persediaan (misalnya, satu satuan), kini pertanyaan tentang satu satuan lebih atau satu satuan kurang air yang tersedia per hari sudah merupakan, bagi Crusoe kita, pertanyaan tentang lebih atau kurang lengkapnya pemeliharaan kesehatan atau kesejahteraan umumnya. Dengan kata lain, seandainya ia kehilangan satu satuan, akibatnya adalah bahwa ia tidak lagi dapat memuaskan salah satu kebutuhan yang pada pemuasannya bergantung pelestarian kesehatannya dan kesejahteraan umumnya yang berkelanjutan. Jika satu ember air tidak memiliki nilai apa pun bagi Crusoe kita selama ia memiliki beberapa ratus ember di tangannya setiap hari, dan jika kemudian, ketika ia hanya memiliki 90 satuan setiap hari, setiap satuan hanya memiliki kepentingan dari suatu kenikmatan tertentu yang bergantung padanya, kini setiap bagian dari empat puluh satuan yang masih tersedia memiliki kepentingan baginya berupa pemuasan-pemuasan yang jauh lebih penting. Sebab kini pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang ketidakpuasannya merusak kesehatan dan kesejahteraannya yang berkelanjutan bergantung pada setiap satu dari empat puluh satuan itu. Tetapi nilai setiap kuantitas barang setara dengan kepentingan pemuasan-pemuasan yang bergantung padanya. Jika nilai satu satuan air bagi Crusoe kita mula-mula setara dengan nol, dan dalam kasus kedua setara dengan satu, kini nilainya sudah akan dinyatakan secara numerik dengan sesuatu seperti angka enam.
Andaikan, dengan kekeringan yang berkelanjutan, mata air itu menjadi semakin kering, dan akhirnya hanya menghasilkan air sebanyak yang dibutuhkan setiap hari untuk sekadar menopang kehidupan individu yang terpencil ini (jadi dalam kasus kita kira-kira 20 satuan, karena ia membutuhkan sebanyak itu untuk dirinya sendiri dan untuk hewan-hewan dalam kawanannya yang tanpa susu dan dagingnya ia tidak dapat bertahan hidup). Dalam kasus seperti itu, jelaslah bahwa setiap kuantitas air yang secara praktis berarti yang tersedia baginya akan memiliki arti penuh bagi pemeliharaan kehidupannya. Oleh karena itu, satu satuan air akan memiliki nilai yang bahkan lebih tinggi daripada sebelumnya, suatu nilai yang dinyatakan secara numerik dengan angka 10.
Demikianlah, dalam kasus pertama kita, kita melihat bahwa selama individu itu memiliki beberapa ribu ember air yang tersedia setiap hari, sebagian kecil dari kuantitas ini, misalnya satu ember, sama sekali tidak memiliki nilai baginya karena tidak ada jenis pemuasan apa pun yang bergantung pada satu ember mana pun. Dalam kasus kedua, kita melihat bahwa satu satuan konkret dari 90 satuan yang tersedia baginya sudah memiliki arti berupa kenikmatan-kenikmatan kecil tertentu, karena pemuasan yang paling tidak penting yang bergantung pada 90 satuan itu adalah kenikmatan-kenikmatan tersebut. Dalam kasus ketiga, ketika hanya 40 satuan air per hari yang tersedia baginya, kita melihat bahwa pemuasan-pemuasan yang lebih penting bergantung pada setiap satuan konkret. Dalam kasus keempat, pemuasan-pemuasan yang lebih penting lagi menjadi bergantung pada setiap satuan konkret. Dalam setiap kasus berikutnya, kita melihat nilai satuan-satuan yang tersisa meningkat secara berturut-turut seiring pemuasan-pemuasan yang lebih penting menjadi bergantung padanya.
Untuk beralih ke hubungan-hubungan yang lebih rumit (sosial), andaikan sebuah kapal layar masih membutuhkan 20 hari pelayaran untuk mencapai daratan, bahwa karena suatu kecelakaan persediaan makanannya hampir seluruhnya hilang, dan bahwa hanya tersisa sejumlah satu jenis makanan tertentu, misalnya biskuit, bagi setiap awak kapal sebanyak yang tepat cukup untuk pemeliharaan kehidupannya selama 20 hari. Ini adalah kasus di mana kebutuhan-kebutuhan tertentu dari orang-orang di kapal layar itu berhadapan dengan penguasaan atas tepat persis kuantitas suatu barang tertentu yang menjadikan pemuasan kebutuhan-kebutuhan ini sepenuhnya bergantung pada kuantitas barang yang tersedia. Jika diandaikan bahwa kehidupan para pelayar hanya dapat dipertahankan apabila masing-masing dari mereka mengonsumsi setengah pon biskuit setiap hari, dan bahwa setiap pelayar benar-benar memiliki 10 pon biskuit, maka kuantitas makanan ini akan memiliki bagi setiap pelayar arti penuh berupa pemeliharaan kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, tidak seorang pun yang sedikit saja menghargai kehidupannya sendiri dapat dibujuk untuk menyerahkan kuantitas barang ini, atau bahkan sebagian darinya yang berarti, demi barang apa pun selain bahan makanan, bahkan demi barang-barang yang paling berharga dalam kehidupan biasa. Jika, misalnya, seorang kaya yang melakukan perjalanan di kapal itu menawarkan satu pon emas untuk berat biskuit yang sama guna meringankan rasa lapar yang tak terhindarkan dengan ransum yang demikian sedikit, ia tidak akan menemukan seorang pun di antara awak kapal yang bersedia menerima tawaran semacam itu.
Andaikan selanjutnya bahwa para pelayar di kapal itu masing-masing menguasai tambahan lima pon biskuit kapal, di samping 10 pon yang telah disebutkan. Dalam kasus ini, kehidupan mereka tidak akan lagi bergantung pada penguasaan atas satu pon biskuit, karena satu pon dapat ditarik dari penguasaan mereka, atau dipertukarkan oleh mereka untuk barang-barang selain bahan makanan, tanpa membahayakan kehidupan mereka. Meskipun kehidupan mereka sendiri tidak akan lagi bergantung pada satu pon makanan itu, satu pon darinya tetap akan merupakan perlindungan terhadap rasa lapar, sekaligus sarana untuk pemeliharaan kesehatan mereka, karena gizi yang demikian sedikit, yang berlangsung selama dua puluh hari, sebagaimana yang akan menjadi jatah semua orang yang hanya memiliki sepuluh pon biskuit yang tersedia, tidak diragukan lagi akan berdampak merugikan kesejahteraan mereka. Dalam keadaan demikian, meskipun satu pon biskuit tidak akan lagi memiliki arti berupa pemeliharaan kehidupan mereka, ia tetap akan memiliki arti yang dilekatkan setiap orang pada pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraannya, sejauh hal-hal ini bergantung pada satu pon biskuit.
Akhirnya, marilah kita andaikan bahwa dapur kapal telah sepenuhnya dikosongkan dari seluruh persediaan makanannya; bahwa para pelayar pun tidak memiliki makanan sendiri; bahwa kapal itu sarat dengan muatan beberapa ribu kuintal biskuit; dan bahwa kapten kapal, dengan mempertimbangkan situasi malang para pelayar akibat bencana ini, memberi wewenang kepada setiap orang untuk memberi makan dirinya sendiri sesuka hati dengan biskuit. Tentu saja para pelayar akan mengambil biskuit untuk meredakan rasa lapar mereka. Namun, tidak seorang pun akan meragukan bahwa sepotong daging yang lezat akan, dalam kasus semacam itu, memiliki nilai yang cukup besar bagi seorang pelayar yang seluruh jatahnya selama dua puluh hari jika tidak demikian hanya akan terdiri dari biskuit saja, sementara satu pon biskuit akan memiliki nilai yang luar biasa kecil, dan barangkali tidak memiliki nilai sama sekali.
Mengapa penguasaan atas satu pon biskuit memiliki arti penuh berupa pemeliharaan kehidupan bagi setiap pelayar dalam kasus pertama ini, masih memiliki arti yang sangat besar dalam kasus kedua, tetapi tidak memiliki arti sama sekali, atau setidaknya hanya arti yang amat sangat kecil, dalam kasus ketiga?
Kebutuhan-kebutuhan para pelayar tetap sama dalam ketiga kasus, karena baik kepribadian mereka maupun keperluan mereka tidak berubah. Namun, yang berubah adalah kuantitas makanan yang berhadapan dengan keperluan-keperluan ini dalam setiap kasus. Berhadapan dengan keperluan akan makanan yang identik di pihak para pelayar, terdapat sepuluh pon makanan per orang dalam kasus pertama, kuantitas yang lebih besar dalam kasus kedua, dan kuantitas yang lebih besar lagi dalam kasus ketiga. Oleh karena itu, dari satu kasus ke kasus berikutnya, arti dari pemuasan-pemuasan yang bergantung pada satuan-satuan tunggal makanan itu menurun secara progresif.
Namun, apa yang dapat kita amati di sini, mula-mula pada seorang individu yang terpencil, dan kemudian pada sekelompok kecil yang untuk sementara terpencil dari umat manusia lainnya, sama-sama berlaku bagi keterkaitan-keterkaitan yang lebih kompleks dari suatu bangsa dan dari masyarakat manusia pada umumnya. Situasi penduduk suatu negeri setelah gagal panen, setelah panen rata-rata, dan akhirnya, pada tahun yang menyusul panen yang melimpah, menampilkan hubungan-hubungan yang sifatnya analog dengan yang diuraikan di atas. Di sini juga, berhadapan dengan keperluan-keperluan tertentu yang pasti, terdapat kuantitas makanan yang tersedia yang lebih kecil dalam kasus pertama daripada dalam kasus kedua, dan yang lebih kecil dalam kasus kedua daripada dalam kasus ketiga. Oleh karena itu, dalam kasus-kasus ini juga, arti dari pemuasan-pemuasan yang bergantung pada satuan-satuan tunggal dari keseluruhan persediaan bervariasi secara cukup besar.
Jika sebuah silo berisi 100.000 gantang gandum terbakar di suatu negeri yang baru saja mengalami panen melimpah, dampak dari bencana itu paling-paling hanyalah bahwa lebih sedikit alkohol yang akan diproduksi, atau bahwa bagian penduduk yang lebih miskin dalam kasus terburuk akan diberi makan agak lebih sedikit, tanpa menderita kekurangan; jika bencana itu terjadi setelah panen rata-rata, banyak orang sudah harus melepaskan pemuasan-pemuasan yang lebih penting; dan jika kemalangan itu bertepatan dengan bencana kelaparan, sangat banyak orang akan mati kelaparan. Dalam masing-masing dari ketiga kasus ini, pemuasan-pemuasan dengan derajat arti yang sangat berbeda bergantung pada setiap satuan konkret gandum yang tersedia bagi orang-orang yang bersangkutan, dan karena alasan inilah nilai satu satuan gandum bervariasi secara besar dalam ketiga kasus tersebut.
Jika kita merangkum apa yang telah dikatakan, kita memperoleh prinsip-prinsip berikut sebagai hasil penyelidikan kita sejauh ini:
(1) Arti yang dimiliki barang-barang bagi kita dan yang kita sebut nilai semata-mata bersifat dilekatkan (imputasi). Pada dasarnya, hanya pemuasan-pemuasan yang memiliki arti bagi kita, karena pemeliharaan kehidupan dan kesejahteraan kita bergantung padanya. Namun, secara logis kita melekatkan arti ini kepada barang-barang yang ketersediaannya kita sadari sebagai sesuatu yang kita bergantung padanya untuk pemuasan-pemuasan ini.
(2) Besaran arti yang dimiliki oleh pemuasan-pemuasan yang berbeda atas kebutuhan-kebutuhan konkret (tindakan-tindakan pemuasan terpisah yang dapat diwujudkan dengan bantuan barang-barang individual) bagi kita tidaklah sama, dan ukurannya terletak pada derajat artinya bagi pemeliharaan kehidupan dan kesejahteraan kita.
(3) Besaran arti dari pemuasan-pemuasan kita yang dilekatkan kepada barang-barang — yaitu, besaran nilainya — oleh karena itu juga tidak sama, dan ukurannya terletak pada derajat arti yang dimiliki oleh pemuasan-pemuasan yang bergantung pada barang-barang yang bersangkutan bagi kita.
(4) Dalam setiap kasus tertentu, dari semua pemuasan yang dijamin oleh keseluruhan kuantitas suatu barang yang tersedia, hanya pemuasan-pemuasan yang memiliki arti paling kecil bagi seorang individu yang berhitung ekonomis yang bergantung pada penguasaan atas suatu bagian tertentu dari keseluruhan kuantitas tersebut.
(5) Nilai suatu barang tertentu atau suatu bagian tertentu dari keseluruhan kuantitas suatu barang yang tersedia bagi seorang individu yang berhitung ekonomis dengan demikian baginya setara dengan arti dari pemuasan yang paling tidak penting di antara pemuasan-pemuasan yang dijamin oleh keseluruhan kuantitas yang tersedia dan yang dicapai dengan setiap bagian yang setara. Sebab, justru berkenaan dengan pemuasan-pemuasan yang paling tidak penting inilah individu yang berhitung ekonomis yang bersangkutan bergantung pada ketersediaan barang tertentu, atau kuantitas tertentu suatu barang.41
Demikianlah, dalam penyelidikan kita sampai titik ini, kita telah menelusuri perbedaan-perbedaan dalam nilai barang-barang hingga ke sebab-sebab terakhirnya, dan sekaligus juga telah menemukan ukuran terakhir, dan asali, yang dengannya nilai semua barang dinilai oleh manusia.
Jika apa yang telah dikatakan dipahami dengan benar, tidak akan ada kesulitan dalam memecahkan persoalan apa pun yang menyangkut penjelasan tentang sebab-sebab yang menentukan perbedaan antara nilai dua atau lebih barang konkret atau kuantitas barang.
Jika kita bertanya, misalnya, mengapa satu pon air minum sama sekali tidak memiliki nilai bagi kita dalam keadaan biasa, sementara sepersekian kecil dari satu pon emas atau berlian umumnya menunjukkan nilai yang sangat tinggi, jawabannya adalah sebagai berikut: Berlian dan emas demikian langka sehingga semua berlian yang tersedia bagi umat manusia dapat disimpan dalam satu peti dan semua emas dalam satu kamar besar saja, sebagaimana akan ditunjukkan oleh perhitungan sederhana. Air minum, sebaliknya, ditemukan dalam kuantitas yang demikian besar di bumi sehingga sulit dibayangkan ada wadah yang cukup besar untuk menampung semuanya. Oleh karena itu, manusia hanya mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang paling penting yang dilayani oleh emas dan berlian, sementara mereka biasanya berada dalam posisi tidak hanya untuk memuaskan kebutuhan mereka akan air minum sepenuhnya tetapi, di samping itu, juga membiarkan kuantitas besar darinya terbuang tanpa terpakai, karena mereka tidak mampu menghabiskan keseluruhan kuantitas yang tersedia. Dalam keadaan biasa, oleh karena itu, tidak ada kebutuhan manusia yang harus tetap tidak terpuaskan seandainya manusia tidak mampu menguasai suatu kuantitas air minum tertentu. Dengan emas dan berlian, sebaliknya, bahkan pemuasan yang paling tidak berarti yang dijamin oleh keseluruhan kuantitas yang tersedia masih memiliki arti yang relatif tinggi bagi manusia yang berhitung ekonomis. Demikianlah kuantitas konkret air minum biasanya tidak memiliki nilai bagi manusia yang berhitung ekonomis, tetapi kuantitas konkret emas dan berlian memiliki nilai yang tinggi.
Semua ini hanya berlaku untuk keadaan kehidupan yang biasa, ketika air minum tersedia bagi kita dalam kuantitas yang berlimpah dan emas serta berlian dalam kuantitas yang sangat kecil. Akan tetapi, di padang pasir, di mana kehidupan seorang musafir sering bergantung pada seteguk air, sama sekali dapat dibayangkan bahwa pemuasan-pemuasan yang lebih penting bergantung, bagi seorang individu, pada satu pon air daripada bahkan pada satu pon emas. Dalam kasus seperti itu, nilai satu pon air akibatnya akan lebih besar, bagi individu yang bersangkutan, daripada nilai satu pon emas. Dan pengalaman mengajarkan kita bahwa hubungan semacam itu, atau yang serupa dengannya, sungguh-sungguh berkembang di tempat situasi ekonomi seperti yang baru saja saya gambarkan.
C. Pengaruh perbedaan dalam mutu barang terhadap nilainya.
Kebutuhan manusia sering kali dapat dipuaskan oleh barang-barang dari tipe yang berbeda dan lebih sering lagi oleh barang-barang yang berbeda, bukan dalam tipe, melainkan dalam jenisnya. Di mana kita berurusan dengan kompleks-kompleks tertentu kebutuhan manusia, di satu sisi, dan dengan kuantitas barang yang tersedia untuk pemuasannya, di sisi lain (hlm. 129), kebutuhan-kebutuhan itu, oleh karena itu, tidak selalu berhadapan dengan kuantitas barang-barang yang homogen, melainkan sering kali berhadapan dengan barang-barang dari tipe yang berbeda, dan lebih sering lagi berhadapan dengan barang-barang dari jenis yang berbeda.
Demi kesederhanaan pemaparan yang lebih besar, sampai sekarang saya telah mengesampingkan pertimbangan tentang perbedaan-perbedaan antarbarang, dan, dalam bagian-bagian sebelumnya, hanya mempertimbangkan kasus-kasus di mana kuantitas barang-barang yang sepenuhnya homogen berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan dari tipe tertentu (dengan menekankan secara khusus cara arti pentingnya menurun seiring derajat kelengkapan pemuasan yang sudah dicapai). Dengan cara ini, saya dapat memberikan penekanan yang lebih besar pada pengaruh yang dijalankan oleh perbedaan-perbedaan dalam kuantitas yang tersedia terhadap nilai barang-barang.
Kasus-kasus yang kini masih perlu dipertimbangkan adalah kasus-kasus di mana kebutuhan manusia tertentu dapat dipenuhi oleh barang-barang yang berbeda jenis (type) atau ragamnya (kind), dan oleh karena itu, kebutuhan manusia tertentu berhadapan dengan kuantitas barang yang tersedia yang bagian-bagiannya secara terpisah berbeda secara kualitatif.
Dalam kaitan ini, pertama-tama perlu dicatat bahwa perbedaan antarbarang, baik perbedaan jenis maupun ragam, tidak dapat memengaruhi nilai dari berbagai satuan suatu persediaan tertentu apabila pemenuhan kebutuhan manusia sama sekali tidak terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan tersebut. Barang yang memenuhi kebutuhan manusia dengan cara yang identik justru karena itu dipandang sepenuhnya homogen dari sudut pandang ekonomi, sekalipun barang-barang tersebut mungkin tergolong jenis atau ragam yang berbeda berdasarkan penampilan luarnya.
Agar perbedaan jenis atau ragam antara dua barang dapat menjadi penyebab perbedaan nilainya, perlu pula bahwa keduanya memiliki kemampuan yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan kata lain, perlu bahwa keduanya memiliki apa yang kita sebut, dari sudut pandang ekonomi, perbedaan dalam mutu (quality). Penelaahan atas pengaruh yang diberikan oleh perbedaan mutu terhadap nilai barang-barang tertentu karena itu menjadi pokok bahasan dari penyelidikan berikut ini.
Dari sudut pandang ekonomi, perbedaan kualitatif antarbarang dapat berupa dua macam. Kebutuhan manusia dapat dipenuhi entah secara berbeda secara kuantitatif atau secara berbeda secara kualitatif melalui kuantitas yang sama dari barang-barang yang berbeda secara kualitatif. Dengan kuantitas kayu beech tertentu, misalnya, kebutuhan manusia akan kehangatan dapat dipenuhi dengan cara yang secara kuantitatif lebih intensif dibandingkan dengan kuantitas kayu cemara (fir) yang sama. Namun dua kuantitas bahan pangan yang sama dengan nilai gizi yang sama dapat memenuhi kebutuhan akan makanan dengan cara yang berbeda secara kualitatif, sebab konsumsi suatu hidangan dapat, misalnya, memberikan kenikmatan, sementara hidangan lain mungkin tidak memberikan kenikmatan sama sekali atau hanya memberikan kenikmatan yang inferior. Pada barang kategori pertama, mutu yang inferior dapat sepenuhnya dikompensasi oleh kuantitas yang lebih besar, tetapi pada barang kategori kedua hal ini tidak mungkin. Kayu cemara (fir), kayu alder, atau kayu pinus dapat menggantikan kayu beech untuk keperluan pemanasan, dan apabila batu bara dengan kandungan karbon yang lebih rendah, kulit kayu oak dengan kandungan tanin yang lebih rendah, dan jasa tenaga kerja biasa dari buruh harian yang lamban atau kurang efisien hanya tersedia bagi manusia yang berekonomi dalam kuantitas yang cukup besar, maka pada umumnya barang-barang tersebut dapat menggantikan secara sempurna barang-barang yang bermutu lebih tinggi. Akan tetapi, sekalipun makanan atau minuman yang tidak enak, kamar yang gelap dan lembap, jasa dokter yang biasa-biasa saja, dan sebagainya, tersedia dalam kuantitas yang paling besar, semua itu tidak akan pernah dapat memenuhi kebutuhan kita sebaik, secara kualitatif, barang-barang bermutu lebih tinggi yang setara.
Ketika individu yang berekonomi menaksir nilai suatu barang, persoalannya semata-mata, sebagaimana telah kita lihat, adalah memperkirakan arti penting pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang untuk pemenuhannya mereka bergantung pada penguasaan atas barang tersebut (hlm. 122). Akan tetapi, kuantitas suatu barang yang akan mendatangkan suatu pemenuhan tertentu hanyalah faktor sekunder dalam penilaian. Sebab apabila kuantitas yang lebih kecil dari suatu barang yang bermutu lebih tinggi akan memenuhi kebutuhan manusia dengan cara yang sama (yakni, dengan cara yang identik secara kuantitatif dan kualitatif) sebagaimana kuantitas yang lebih besar dari barang yang kurang bermutu, jelaslah bahwa kuantitas yang lebih kecil dari barang yang bermutu lebih tinggi itu akan memiliki nilai yang sama bagi manusia yang berekonomi seperti kuantitas yang lebih besar dari barang yang kurang bermutu. Dengan demikian, kuantitas yang sama dari barang-barang yang memiliki mutu berbeda dari macam yang pertama akan memperlihatkan nilai yang tidak sama dalam proporsi yang ditunjukkan tadi. Apabila, misalnya, dalam menetapkan nilai kulit kayu oak kita hanya memperhitungkan kandungan taninnya semata, dan tujuh hundredweight dari satu kelas memiliki efektivitas yang sama dengan delapan hundredweight dari kelas lain, maka kelas tersebut juga akan memiliki nilai yang sama dengan kuantitas yang terakhir itu bagi para perajin yang menggunakan kulit kayu tersebut. Sekadar mereduksi barang-barang ini menjadi kuantitas dengan efektivitas ekonomi yang sama (suatu prosedur yang sesungguhnya dijalankan dalam kegiatan ekonomi manusia dalam semua kasus semacam itu) dengan demikian sepenuhnya menyingkirkan kesulitan dalam menetapkan nilai dari kuantitas tertentu yang berbeda mutunya (sejauh efektivitasnya hanya berbeda secara kuantitatif). Dengan cara ini, kasus yang lebih rumit yang sedang dipertimbangkan tereduksi menjadi hubungan sederhana yang telah dijelaskan sebelumnya (hlm. 123 dst).
Persoalan tentang pengaruh perbedaan mutu terhadap nilai barang-barang tertentu menjadi lebih rumit ketika perbedaan kualitatif antarbarang menyebabkan kebutuhan dipenuhi dengan cara yang berbeda secara kualitatif. Tidak diragukan lagi, sesudah apa yang telah dikemukakan tentang asas umum penetapan nilai (hlm. 122), bahwa arti penting kebutuhan-kebutuhan yang akan tetap tidak terpenuhi seandainya kita tidak menguasai suatu barang tertentu, tidak hanya dari jenis umumnya melainkan juga dengan mutu spesifik yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut, itulah, dalam kasus ini pun, faktor yang menentukan nilainya. Karena itu, kesulitan yang sedang saya bahas di sini tidaklah terletak pada tidak dapat diterapkannya asas umum penetapan nilai terhadap barang-barang ini, melainkan pada penetapan pemenuhan tertentu yang bergantung pada suatu barang konkret tertentu apabila sekelompok kebutuhan secara keseluruhan berhadapan dengan barang-barang yang berbagai satuannya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara yang berbeda secara kualitatif. Dengan kata lain, kesulitan itu terletak pada penerapan praktis asas umum penetapan nilai terhadap kegiatan ekonomi manusia. Pemecahan masalah ini muncul dari pertimbangan-pertimbangan berikut.
Individu yang berekonomi tidak menggunakan kuantitas barang yang tersedia bagi mereka tanpa memperhatikan perbedaan mutu apabila perbedaan itu ada. Seorang petani yang memiliki gandum dengan berbagai kelas tidak, misalnya, menggunakan kelas terburuk untuk penyemaian, gandum bermutu sedang sebagai pakan ternak, dan yang terbaik untuk makanan dan produksi minuman. Ia juga tidak menggunakan gandum dari berbagai kelas tersebut secara serampangan untuk tujuan yang satu atau yang lain. Sebaliknya, dengan memperhatikan kebutuhannya, ia menggunakan kelas terbaik untuk penyemaian, kelas terbaik yang tersisa untuk makanan dan minuman, dan gandum bermutu paling rendah untuk menggemukkan ternak.
Pada barang-barang yang satuannya homogen, total kuantitas suatu barang yang tersedia berhadapan dengan keseluruhan rangkaian kebutuhan konkret yang dapat dipenuhi dengan barang tersebut. Namun dalam kasus di mana satuan-satuan suatu barang yang berbeda memenuhi kebutuhan manusia dengan cara yang berbeda secara kualitatif, total kuantitas suatu barang yang tersedia tidak lagi berhadapan dengan keseluruhan rangkaian kebutuhan; alih-alih, setiap kuantitas yang tersedia dari mutu tertentu berhadapan dengan kebutuhan tertentu yang sesuai dari individu yang berekonomi.
Apabila, berkenaan dengan suatu tujuan konsumsi tertentu, suatu barang dengan mutu tertentu sama sekali tidak dapat digantikan oleh barang dengan mutu lain apa pun, asas penetapan nilai yang telah ditunjukkan sebelumnya (hlm. 132) berlaku sepenuhnya dan secara langsung terhadap kuantitas tertentu dari barang itu. Dengan demikian, nilai dari setiap satuan tertentu barang semacam itu sama dengan arti penting dari pemenuhan paling tidak penting yang dipenuhi oleh total kuantitas yang tersedia dari mutu barang yang persis ini, sebab berkenaan dengan pemenuhan inilah kita sesungguhnya bergantung pada penguasaan atas satuan tertentu dari mutu ini.
Akan tetapi, kebutuhan manusia dapat dipenuhi melalui barang-barang dengan kualifikasi yang berbeda, walaupun dengan cara yang berbeda secara kualitatif. Apabila barang dengan satu mutu dapat digantikan oleh barang dengan mutu lain, meskipun tidak dengan efektivitas yang sama, nilai suatu satuan barang bermutu unggul sama dengan arti penting dari pemenuhan paling tidak penting yang dipenuhi oleh barang bermutu unggul tersebut dikurangi suatu kuota nilai42 yang semakin besar: (1) semakin kecil nilai barang bermutu inferior yang dengannya kebutuhan tertentu yang dimaksud juga dapat dipenuhi, dan (2) semakin kecil perbedaan bagi manusia antara arti penting memenuhi kebutuhan tertentu itu dengan barang yang unggul dan arti penting memenuhinya dengan barang yang inferior.
Dengan demikian, kita sampai pada hasil bahwa, bahkan dalam kasus di mana suatu kompleks kebutuhan berhadapan dengan kuantitas barang dengan mutu yang berbeda-beda, pemenuhan dengan intensitas tertentu senantiasa bergantung pada masing-masing kuantitas parsial atau pada masing-masing satuan konkret dari barang-barang tersebut. Karena itu, dalam semua kasus yang telah dibahas, asas penetapan nilai yang saya rumuskan di atas tetap mempertahankan keberlakuannya secara penuh.
D. Sifat subjektif dari ukuran nilai. Kerja dan nilai. Kekeliruan.
Ketika saya membahas hakikat nilai, saya mengamati bahwa nilai bukanlah sesuatu yang melekat dalam barang dan bahwa nilai bukanlah suatu sifat dari barang. Namun nilai juga bukanlah suatu benda yang berdiri sendiri. Tidak ada alasan mengapa suatu barang tidak dapat memiliki nilai bagi seorang individu yang berekonomi tetapi tidak memiliki nilai bagi individu lain dalam keadaan yang berbeda. Ukuran nilai sepenuhnya bersifat subjektif, dan karena alasan ini suatu barang dapat memiliki nilai besar bagi seorang individu yang berekonomi, nilai kecil bagi individu lain, dan sama sekali tidak bernilai bagi individu ketiga, bergantung pada perbedaan kebutuhan dan jumlah yang tersedia bagi mereka. Apa yang dipandang remeh atau dinilai ringan oleh seseorang dihargai oleh orang lain, dan apa yang ditinggalkan oleh seseorang kerap dipungut oleh orang lain. Sementara seorang individu yang berekonomi menilai sama besar suatu jumlah dari satu barang dan jumlah yang lebih besar dari barang lain, kita kerap mengamati penilaian yang justru sebaliknya pada individu lain yang berekonomi.
Karena itu, tidak hanya hakikat melainkan juga ukuran nilai bersifat subjektif. Barang selalu memiliki nilai bagi individu-individu tertentu yang berekonomi, dan nilai ini pun ditentukan hanya oleh individu-individu tersebut.
Nilai yang diberikan seorang individu yang berekonomi kepada suatu barang sama dengan arti penting dari pemenuhan tertentu yang bergantung pada penguasaannya atas barang itu. Tidak ada hubungan yang niscaya dan langsung antara nilai suatu barang dan apakah, atau dalam kuantitas berapa, kerja dan barang-barang lain dari orde yang lebih tinggi diterapkan dalam produksinya. Suatu barang non-ekonomi (sejumlah kayu di hutan perawan, misalnya) tidak memperoleh nilai bagi manusia apabila kerja dalam jumlah besar atau barang ekonomi lainnya diterapkan dalam produksinya. Apakah suatu berlian ditemukan secara kebetulan atau diperoleh dari lubang berlian dengan mengerahkan seribu hari kerja sama sekali tidak relevan bagi nilainya. Pada umumnya, tidak seorang pun dalam kehidupan praktis menanyakan riwayat asal-usul suatu barang dalam menaksir nilainya, melainkan semata-mata mempertimbangkan jasa yang akan diberikan barang itu kepadanya dan yang harus ia relakan seandainya ia tidak menguasainya. Barang yang menyerap banyak kerja kerap tidak memiliki nilai, sementara barang lain, yang menyerap sedikit atau tanpa kerja, memiliki nilai yang sangat tinggi. Barang yang menyerap banyak kerja dan barang lain yang menyerap sedikit atau tanpa kerja kerap bernilai sama bagi manusia yang berekonomi. Kuantitas kerja atau sarana produksi lain yang diterapkan dalam produksinya karena itu tidak mungkin menjadi faktor penentu dalam nilai suatu barang. Perbandingan antara nilai suatu barang dengan nilai sarana produksi yang dipakai dalam produksinya tentu saja menunjukkan apakah dan sampai sejauh mana produksinya, suatu tindakan kegiatan manusia di masa lampau, tepat atau ekonomis. Namun kuantitas barang yang dipakai dalam produksi suatu barang tidak memiliki pengaruh yang niscaya maupun pengaruh yang secara langsung menentukan terhadap nilainya.
Sama tidak dapat dipertahankannya adalah pendapat bahwa faktor penentu dalam nilai barang adalah kuantitas kerja atau sarana produksi lain yang diperlukan untuk reproduksinya. Sejumlah besar barang tidak dapat direproduksi (barang antik, dan lukisan karya para empu lama, misalnya), dan dengan demikian, dalam sejumlah kasus, kita dapat mengamati adanya nilai tetapi tanpa kemungkinan reproduksi. Karena alasan ini, faktor apa pun yang terkait dengan reproduksi tidak mungkin menjadi asas penentu nilai secara umum. Lebih jauh, pengalaman menunjukkan bahwa nilai sarana produksi yang diperlukan untuk reproduksi banyak barang (pakaian model lama dan mesin usang, misalnya) kadang jauh lebih tinggi dan kadang lebih rendah daripada nilai produk itu sendiri.
Faktor penentu dalam nilai suatu barang, kalau begitu, bukanlah kuantitas kerja atau barang lain yang diperlukan untuk produksinya, bukan pula kuantitas yang diperlukan untuk reproduksinya, melainkan besarnya arti penting dari pemenuhan-pemenuhan yang berkenaan dengannya kita sadar bahwa kita bergantung pada penguasaan atas barang itu. Asas penetapan nilai ini berlaku secara universal, dan tidak ada pengecualian terhadapnya yang dapat ditemukan dalam ekonomi manusia.
Arti penting suatu pemenuhan bagi kita bukanlah hasil dari suatu keputusan yang sewenang-wenang, melainkan diukur oleh arti penting, yang tidak sewenang-wenang, yang dimiliki pemenuhan itu bagi kehidupan kita atau bagi kesejahteraan kita. Derajat arti penting yang relatif dari berbagai pemenuhan dan dari tindakan-tindakan pemenuhan yang berurutan, kendati demikian, merupakan perkara pertimbangan di pihak manusia yang berekonomi, dan karena alasan ini, pengetahuan mereka tentang derajat-derajat arti penting tersebut, dalam beberapa hal, dapat tergelincir ke dalam kekeliruan.
Kita telah melihat sebelumnya bahwa pemuasan kebutuhan yang menjadi sandaran kehidupan manusia memiliki arti penting tertinggi bagi manusia, bahwa pemuasan yang menyusul berikutnya dalam tingkat kepentingannya adalah pemuasan yang menjadi sandaran kesejahteraan manusia, dan bahwa pemuasan yang menjadi sandaran tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi (dengan intensitas yang sama, pemuasan yang berlangsung lebih lama, dan dengan durasi yang sama, pemuasan yang lebih intensif) memiliki arti penting yang lebih tinggi bagi manusia daripada pemuasan yang menjadi sandaran tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.
Namun, apa yang telah dikemukakan sama sekali tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang bodoh, akibat pengetahuan mereka yang cacat, kadang-kadang menilai arti penting berbagai pemuasan dengan cara yang bertentangan dengan arti pentingnya yang sebenarnya. Bahkan individu yang menjalankan kegiatan ekonominya secara rasional, dan yang karena itu tentu berupaya mengenali arti penting pemuasan yang sebenarnya guna memperoleh landasan yang akurat bagi kegiatan ekonominya, pun tidak luput dari kesalahan. Kesalahan tidak terpisahkan dari segala pengetahuan manusia.
Manusia sangat cenderung membiarkan dirinya tersesat untuk melebih-lebihkan arti penting pemuasan yang memberikan kenikmatan sesaat yang intens, tetapi hanya sekejap menyumbang bagi kesejahteraannya, dan dengan demikian meremehkan arti penting pemuasan yang menjadi sandaran kesejahteraan yang kurang intensif tetapi lebih lama berlangsung. Dengan kata lain, manusia sering kali lebih menghargai kenikmatan yang intens namun sekilas daripada kesejahteraannya yang permanen, dan kadang-kadang bahkan lebih daripada kehidupannya sendiri.
Jika manusia dengan demikian sudah sering keliru dalam pengetahuannya mengenai faktor subjektif penentuan nilai, ketika yang dipersoalkan hanyalah penilaian terhadap keadaan batinnya sendiri, maka ia bahkan lebih mungkin keliru ketika yang dipersoalkan adalah persepsinya terhadap faktor objektif penentuan nilai, terutama ketika yang dipersoalkan adalah pengetahuannya tentang besaran kuantitas yang tersedia baginya dan tentang berbagai kualitas barang.
Karena alasan-alasan inilah saja sudah jelas mengapa penentuan nilai barang-barang tertentu diliputi oleh aneka ragam kekeliruan dalam kehidupan ekonomi. Namun, di samping fluktuasi nilai yang timbul dari perubahan kebutuhan manusia, dari perubahan kuantitas barang yang tersedia bagi manusia, dan dari perubahan sifat fisik barang, kita juga dapat mengamati fluktuasi nilai barang yang disebabkan semata-mata oleh perubahan pengetahuan yang dimiliki manusia tentang arti penting barang bagi kehidupan dan kesejahteraannya.
3. Hukum-Hukum yang Mengatur Nilai Barang Tatanan Lebih Tinggi
A. Asas yang menentukan nilai barang tatanan lebih tinggi.
Di antara yang paling mencolok dari kekeliruan-kekeliruan mendasar yang telah membawa akibat paling jauh jangkauannya dalam perkembangan ilmu kita sebelumnya adalah dalil bahwa barang-barang memperoleh nilai bagi kita karena dalam produksinya digunakan barang-barang yang bernilai bagi kita. Kelak, ketika saya sampai pada pembahasan tentang harga barang tatanan lebih tinggi, saya akan menunjukkan sebab-sebab khusus yang bertanggung jawab atas kekeliruan ini dan atas terjadinya kekeliruan ini menjadi landasan teori harga yang diterima umum (tentu saja dalam bentuk yang dikelilingi oleh segala macam ketentuan khusus). Di sini saya ingin menyatakan, di atas segalanya, bahwa dalil ini begitu tegas bertentangan dengan segenap pengalaman (hlm. 146) sehingga ia harus ditolak sekalipun ia memberikan pemecahan yang secara formal benar atas masalah penetapan asas yang menjelaskan nilai barang.
Akan tetapi, bahkan tujuan terakhir ini pun tidak dapat dicapai oleh dalil yang dipersoalkan tersebut, karena ia hanya menawarkan penjelasan bagi nilai barang yang dapat kita sebut "produk", tetapi tidak bagi nilai semua barang lain, yang tampil sebagai faktor produksi yang asali. Ia tidak menjelaskan nilai barang yang disediakan langsung oleh alam, terutama jasa tanah. Ia tidak menjelaskan nilai jasa tenaga kerja. Ia bahkan tidak, sebagaimana akan kita lihat kelak, menjelaskan nilai jasa kapital. Sebab nilai semua barang ini tidak dapat dijelaskan dengan dalil bahwa barang-barang memperoleh nilainya dari nilai barang-barang yang dikeluarkan dalam produksinya. Sungguh, dalil itu membuat nilai mereka sepenuhnya tidak terpahami.
Oleh karena itu, dalil ini tidak memberikan pemecahan yang secara formal benar maupun yang sesuai dengan fakta kenyataan, atas masalah penemuan penjelasan yang berlaku universal tentang nilai barang. Di satu pihak, ia bertentangan dengan pengalaman; dan di pihak lain, ia jelas-jelas tidak dapat diterapkan di mana pun kita harus berurusan dengan barang-barang yang bukan produk dari penggabungan barang tatanan lebih tinggi. Karena itu, nilai barang tatanan lebih rendah tidak dapat ditentukan oleh nilai barang tatanan lebih tinggi yang digunakan dalam produksinya. Sebaliknya, sudah nyata bahwa nilai barang tatanan lebih tinggi selalu dan tanpa kecuali ditentukan oleh nilai prospektif barang tatanan lebih rendah yang dalam produksinya barang-barang itu mengabdi.43 Adanya kebutuhan kita akan barang tatanan lebih tinggi bergantung pada apakah barang-barang yang dengan barang-barang itu diproduksi memiliki sifat ekonomis yang diharapkan (hlm. 107) dan karenanya memiliki nilai yang diharapkan. Dalam menjamin kebutuhan kita bagi pemuasan kebutuhan kita, kita tidak memerlukan penguasaan atas barang-barang yang cocok untuk produksi barang tatanan lebih rendah yang tidak memiliki nilai yang diharapkan (karena kita tidak memiliki kebutuhan akan barang-barang itu). Maka kita memperoleh asas bahwa nilai barang tatanan lebih tinggi bergantung pada nilai yang diharapkan dari barang tatanan lebih rendah yang dalam produksinya barang-barang itu mengabdi. Karenanya barang tatanan lebih tinggi dapat memperoleh nilai, atau mempertahankannya sekali ia memilikinya, hanya jika, atau selama, ia mengabdi untuk memproduksi barang-barang yang kita harapkan akan memiliki nilai bagi kita. Jika fakta ini sudah ditetapkan, jelas pula bahwa nilai barang tatanan lebih tinggi tidak dapat menjadi faktor penentu dalam nilai prospektif barang tatanan lebih rendah yang bersangkutan. Nilai barang tatanan lebih tinggi yang sudah dikeluarkan dalam memproduksi suatu barang tatanan lebih rendah pun tidak dapat menjadi faktor penentu dalam nilai kininya. Sebaliknya, nilai barang tatanan lebih tinggi, dalam segala hal, diatur oleh nilai prospektif barang tatanan lebih rendah yang ke arah produksinya barang-barang itu telah atau akan diperuntukkan oleh manusia yang berekonomi.
Nilai prospektif barang tatanan lebih rendah sering kali – dan hal ini harus dicermati dengan saksama – sangat berbeda dari nilai yang dimiliki barang serupa pada masa kini. Karena alasan ini, nilai barang tatanan lebih tinggi yang dengan perantaraannya kita akan menguasai barang tatanan lebih rendah pada suatu waktu mendatang (hlm. 67 dst.) sama sekali tidak diukur oleh nilai kini dari barang tatanan lebih rendah yang serupa, melainkan oleh nilai prospektif barang tatanan lebih rendah yang dalam produksinya barang-barang itu mengabdi.
Andaikan, misalnya, kita memiliki sendawa, belerang, arang, jasa tenaga kerja khusus, peralatan, dan sebagainya, yang diperlukan untuk produksi sejumlah tertentu mesiu, dan bahwa dengan demikian, melalui perantaraan barang-barang ini, kita akan menguasai sejumlah mesiu ini dalam waktu tiga bulan. Sudah jelas bahwa nilai yang diharapkan dimiliki mesiu ini bagi kita dalam tiga bulan ke depan tidak harus sama dengan, melainkan dapat lebih besar atau lebih kecil daripada, nilai sejumlah mesiu yang sama pada waktu kini. Karenanya pula, besaran nilai barang tatanan lebih tinggi tersebut di atas diukur, bukan oleh nilai mesiu pada masa kini, melainkan oleh nilai prospektif produknya pada akhir kurun produksi. Bahkan dapat dibayangkan kasus-kasus di mana suatu barang tatanan lebih rendah atau tatanan pertama sama sekali tidak bernilai pada masa kini (es pada musim dingin, misalnya), sementara barang tatanan lebih tinggi yang bersangkutan yang tersedia pada saat yang sama, yang menjamin tersedianya kuantitas barang tatanan lebih rendah itu bagi suatu kurun waktu mendatang (segala bahan dan perkakas yang diperlukan untuk produksi es buatan, misalnya), memiliki nilai sehubungan dengan kurun waktu mendatang ini, dan demikian pula sebaliknya.
Karenanya tidak ada kaitan yang niscaya antara nilai barang tatanan lebih rendah atau tatanan pertama pada masa kini dan nilai barang tatanan lebih tinggi yang tersedia saat ini yang mengabdi untuk produksi barang-barang semacam itu. Sebaliknya, sudah nyata bahwa yang pertama memperoleh nilainya dari hubungan antara kebutuhan dan kuantitas yang tersedia pada masa kini, sedangkan yang terakhir memperoleh nilainya dari hubungan prospektif antara kebutuhan dan kuantitas yang akan tersedia pada titik-titik waktu mendatang ketika produk yang diciptakan dengan perantaraan barang tatanan lebih tinggi akan menjadi tersedia. Jika nilai prospektif mendatang dari suatu barang tatanan lebih rendah naik, sementara hal-hal lain tetap sama, naik pula nilai barang tatanan lebih tinggi yang kepemilikannya menjamin bagi kita penguasaan mendatang atas barang tatanan lebih rendah itu. Namun, naik atau turunnya nilai suatu barang tatanan lebih rendah yang tersedia pada masa kini tidak memiliki kaitan kausal yang niscaya dengan naik atau turunnya nilai barang tatanan lebih tinggi yang bersangkutan yang tersedia saat ini.
Karenanya asas bahwa nilai barang tatanan lebih tinggi diatur, bukan oleh nilai barang tatanan lebih rendah yang bersangkutan pada masa kini, melainkan oleh nilai prospektif produknya, adalah asas yang berlaku universal tentang penentuan nilai barang tatanan lebih tinggi.¹⁴
Hanya pemuasan kebutuhan kitalah yang memiliki makna langsung dan tak berantara bagi kita. Dalam setiap hal yang konkret, makna ini diukur oleh arti penting berbagai pemuasan bagi kehidupan dan kesejahteraan kita. Selanjutnya kita melekatkan besaran kuantitatif yang persis dari arti penting ini kepada barang-barang tertentu yang atasnya kita sadar bergantung secara langsung untuk pemuasan yang dipersoalkan, yakni, kita melekatkannya kepada barang ekonomis tatanan pertama, sebagaimana dijelaskan dalam asas-asas pada bagian terdahulu. Dalam kasus-kasus di mana kebutuhan kita tidak terpenuhi atau hanya terpenuhi secara tidak lengkap oleh barang tatanan pertama, dan di mana karenanya barang tatanan pertama memperoleh nilai bagi kita, kita berpaling kepada barang tatanan lebih tinggi berikutnya yang bersangkutan dalam upaya kita memuaskan kebutuhan kita selengkap mungkin, dan melekatkan nilai yang kita lekatkan kepada barang tatanan pertama itu, pada gilirannya, kepada barang tatanan kedua, ketiga, dan tatanan yang lebih tinggi lagi, kapan pun barang tatanan lebih tinggi ini memiliki sifat ekonomis. Karenanya nilai barang tatanan lebih tinggi, pada analisis terakhir, tidak lain hanyalah suatu bentuk khusus dari arti penting yang kita lekatkan kepada kehidupan dan kesejahteraan kita. Maka, sebagaimana halnya dengan barang tatanan pertama, faktor yang pada akhirnya bertanggung jawab atas nilai barang tatanan lebih tinggi hanyalah arti penting yang kita lekatkan kepada pemuasan-pemuasan itu yang sehubungan dengannya kita sadar bergantung pada tersedianya barang tatanan lebih tinggi yang nilainya sedang dipertimbangkan. Namun, karena kaitan kausal antarbarang, nilai barang tatanan lebih tinggi tidak diukur secara langsung oleh arti penting yang diharapkan dari pemuasan akhir, melainkan oleh nilai yang diharapkan dari barang tatanan lebih rendah yang bersangkutan.
mungkin akan membantu mengingat keringkasan dan bentuk khas dari bagian sekarang ini.
Andaikan bahwa pemuasan yang paling tidak penting yang diberikan oleh satu unit barang yang lebih unggul memiliki arti penting sebesar 5 dalam Penggunaan A, bahwa pemuasan yang paling tidak penting yang diberikan oleh satu unit barang yang lebih rendah dalam Penggunaan B memiliki arti penting sebesar 2, dan bahwa satu unit barang yang lebih rendah akan memberikan pemuasan dengan arti penting sebesar 3 jika ia menggantikan satu unit barang yang lebih unggul dalam Penggunaan A. Menger berpendapat bahwa nilai-guna dari satu unit barang yang lebih unggul yang dapat digantikan oleh barang yang lebih rendah adalah sama, bukan dengan arti penting pemuasan yang paling tidak penting yang sesungguhnya diberikan oleh satu unit barang yang lebih unggul, melainkan dengan arti penting pemuasan yang bergantung pada berlanjutnya penguasaan atas unit itu. Dalam hal sekarang ini, jika penguasaan atas satu unit barang yang lebih unggul hilang dan satu unit barang yang lebih rendah dipindahkan dari Penggunaan B ke Penggunaan A untuk menggantikannya, pemuasan yang hilang bagi konsumen adalah: (1) suatu pemuasan dalam Penggunaan B dengan arti penting sebesar 2, yang hilang karena satu unit lebih sedikit barang yang lebih rendah dipakai dalam Penggunaan B, dan (2) suatu pemuasan dalam Penggunaan A dengan arti penting sebesar 2 (selisih antara 5 unit yang hilang karena satu unit lebih sedikit barang yang lebih unggul dipakai dalam Penggunaan A dan 3 unit yang diperoleh karena dipakainya satu unit barang yang lebih rendah sebagai gantinya). Karenanya nilai-guna dari satu unit barang yang lebih unggul adalah 4, yaitu jumlah dari kedua butir ini. "Kuota nilai" yang disebut oleh Menger dalam teks adalah selisih antara pemuasan yang paling tidak penting yang akan diberikan barang yang lebih unggul dalam Penggunaan A dan nilai-gunanya yang dihitung dengan cara ini. Dengan demikian, "kuota nilai" dalam contoh ini adalah 5 dikurangi 4, atau 1. — TR.
B. Produktivitas kapital.
Transformasi barang tingkat lebih tinggi menjadi barang tingkat lebih rendah berlangsung, sebagaimana setiap proses perubahan lainnya, di dalam waktu. Saat-saat ketika manusia akan memperoleh penguasaan atas barang tingkat pertama dari barang tingkat lebih tinggi yang kini ada dalam kepemilikannya akan semakin jauh letaknya semakin tinggi tingkat barang tersebut. Memang benar, sebagaimana telah kita lihat sebelumnya (hlm. 71 dst.), bahwa pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi yang lebih luas untuk pemuasan kebutuhan manusia menimbulkan perluasan yang berkesinambungan dalam jumlah barang konsumsi yang tersedia, namun perluasan ini hanya mungkin terjadi apabila kegiatan manusia yang penuh kehati-hatian diperluas ke jangka waktu yang semakin jauh. Seorang Indian primitif tiada henti disibukkan oleh tugas memenuhi kebutuhannya untuk beberapa hari sekaligus. Seorang nomaden yang tidak mengonsumsi hewan ternak yang dikuasainya melainkan memutuskan untuk membiakkannya demi anak-anaknya sudah menghasilkan barang yang baru akan tersedia baginya setelah beberapa bulan. Akan tetapi di kalangan bangsa-bangsa beradab, sebagian besar anggota masyarakat disibukkan oleh produksi barang yang baru akan menyumbang, hanya setelah bertahun-tahun, dan kerap baru setelah berpuluh-puluh tahun, kepada pemuasan langsung kebutuhan manusia.
Dengan demikian, dengan melepaskan ekonomi pengumpulan mereka, dan dengan membuat kemajuan dalam pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi untuk pemuasan kebutuhan mereka, manusia yang berekonomi tentu saja dapat menambah barang konsumsi yang tersedia bagi mereka secara berpadanan – namun hanya dengan syarat bahwa mereka memperpanjang jangka waktu yang harus dicakup oleh kegiatan mereka yang penuh kehati-hatian itu dalam derajat yang sama dengan kemajuan mereka menuju barang tingkat lebih tinggi.
Dalam keadaan ini terdapat suatu pembatas penting terhadap kemajuan ekonomi. Perhatian manusia yang paling cemas selalu tertuju pada upaya menjamin bagi dirinya barang konsumsi yang diperlukan untuk pemeliharaan hidup dan kesejahteraannya pada masa kini atau pada masa depan yang dekat, tetapi kecemasannya berkurang seiring semakin panjangnya jangka waktu yang dicakup olehnya. Fenomena ini tidaklah kebetulan, melainkan tertanam dalam-dalam pada kodrat manusia. Sejauh pemeliharaan hidup kita bergantung pada pemuasan kebutuhan kita, penjaminan pemuasan kebutuhan yang lebih awal mesti mendahului perhatian kepada kebutuhan yang lebih kemudian. Dan bahkan ketika bukan hidup kita, melainkan sekadar kesejahteraan kita yang berkelanjutan (terutama kesehatan kita) yang bergantung pada penguasaan sejumlah barang, pencapaian kesejahteraan pada masa yang lebih dekat, sebagai aturan, merupakan prasyarat bagi kesejahteraan pada masa yang lebih kemudian. Penguasaan sarana untuk pemeliharaan kesejahteraan kita pada suatu masa yang jauh tidak banyak berguna bagi kita apabila kemiskinan dan kesengsaraan telah merusak kesehatan kita atau mengerdilkan perkembangan kita pada masa yang lebih awal. Pertimbangan serupa berlaku bahkan terhadap pemuasan yang hanya memiliki bobot kenikmatan. Segenap pengalaman mengajarkan bahwa suatu kenikmatan masa kini atau yang berada di masa depan dekat biasanya tampak lebih penting bagi manusia daripada kenikmatan dengan intensitas yang sama pada saat yang lebih jauh di masa depan.
Kehidupan manusia adalah suatu proses yang di dalamnya jalannya perkembangan masa depan senantiasa dipengaruhi oleh perkembangan terdahulu. Ia adalah proses yang tidak dapat dilanjutkan setelah terputus, dan yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya setelah menjadi kacau secara serius. Suatu prasyarat yang niscaya bagi penyediaan kita guna pemeliharaan hidup dan perkembangan kita pada masa-masa mendatang ialah kepedulian terhadap masa-masa kehidupan kita yang mendahuluinya. Dengan mengesampingkan ketidakteraturan kegiatan ekonomi, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia yang berekonomi pada umumnya berupaya terlebih dahulu menjamin pemuasan kebutuhan masa depan yang terdekat, dan baru setelah itu dilakukan, mereka berupaya menjamin pemuasan kebutuhan masa yang lebih jauh, sesuai dengan kejauhannya dalam waktu.
Keadaan yang menempatkan pembatas terhadap upaya manusia yang berekonomi untuk maju dalam pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi dengan demikian adalah keniscayaan untuk pertama-tama menyediakan, dengan barang yang kini tersedia bagi mereka, pemuasan kebutuhan mereka pada masa depan yang terdekat; sebab hanya apabila ini telah dilakukan barulah mereka dapat menyediakan bagi jangka waktu yang lebih jauh. Dengan kata lain, perolehan ekonomi yang dapat diraih manusia dari pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi yang lebih luas untuk pemuasan kebutuhan mereka bergantung pada syarat bahwa mereka masih memiliki jumlah barang yang tersedia bagi jangka waktu yang lebih jauh setelah mereka memenuhi kebutuhan mereka untuk masa depan yang terdekat.
Pada tahap-tahap awal dan pada permulaan setiap fase baru perkembangan kebudayaan, ketika segelintir individu (para penemu, penggagas, dan pengusaha pertama) baru pertama kali melakukan peralihan ke penggunaan barang tingkat berikutnya yang lebih tinggi, bagian dari barang-barang ini yang telah ada sebelumnya tetapi yang hingga saat itu tidak memiliki penerapan apa pun dalam ekonomi manusia, dan yang karena itu tidak ada kebutuhan akannya, secara alamiah memiliki sifat non-ekonomi. Ketika suatu bangsa pemburu sedang beralih ke pertanian menetap, tanah dan bahan yang sebelumnya tidak digunakan dan kini untuk pertama kalinya dimanfaatkan bagi pemuasan kebutuhan manusia (kapur, pasir, kayu, dan batu untuk membangun, misalnya) biasanya mempertahankan sifat non-ekonominya selama beberapa waktu setelah peralihan itu dimulai. Karena itu, bukanlah jumlah barang-barang ini yang terbatas yang menghalangi manusia yang berekonomi pada tahap-tahap pertama peradaban untuk membuat kemajuan dalam pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi untuk pemuasan kebutuhan mereka.
Tetapi sebagai aturan, terdapat bagian lain dari barang komplementer tingkat lebih tinggi, yang telah melayani pemuasan kebutuhan manusia dalam suatu cabang produksi atau cabang produksi lainnya sebelum peralihan ke pemanfaatan tatanan barang baru, dan yang karena itu sebelumnya menunjukkan sifat ekonomi. Benih dan jasa kerja yang dibutuhkan oleh seorang individu yang beralih dari tahap ekonomi pengumpulan ke pertanian merupakan contoh dari jenis ini.
Barang-barang ini, yang sebelumnya digunakan oleh individu yang melakukan peralihan itu sebagai barang tingkat lebih rendah, dan yang mungkin tetap ia gunakan sebagai barang tingkat lebih rendah, kini harus dimanfaatkan sebagai barang tingkat lebih tinggi apabila ia hendak memanfaatkan perolehan ekonomi yang disebutkan tadi. Dengan kata lain, ia hanya dapat memperoleh perolehan ini dengan memanfaatkan barang, yang tersedia baginya, jika ia memilih demikian, untuk masa kini atau untuk masa depan dekat, bagi pemuasan kebutuhan suatu jangka waktu yang lebih jauh.
Sementara itu, dengan perkembangan peradaban yang berkesinambungan dan dengan kemajuan dalam pemanfaatan jumlah barang tingkat lebih tinggi yang lebih besar oleh manusia yang berekonomi, sebagian besar dari barang tingkat lebih tinggi lain yang sebelumnya bersifat non-ekonomi (tanah, batu kapur, pasir, kayu, dsb., misalnya) memperoleh sifat ekonomi (hlm. 103). Apabila ini terjadi, setiap individu dapat ikut serta dalam perolehan ekonomi yang terkait dengan pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi sebagai lawan dari kegiatan pengumpulan semata (dan, pada tingkat peradaban yang lebih tinggi, dengan pemanfaatan barang tingkat lebih tinggi sebagai lawan dari keterbatasan sarana produksi tingkat lebih rendah) hanya apabila ia telah menguasai sejumlah barang ekonomi tingkat lebih tinggi (atau sejumlah barang ekonomi dari jenis apa pun, ketika perdagangan yang ramai telah berkembang dan barang dari segala jenis dapat dipertukarkan satu sama lain) pada masa kini untuk masa-masa mendatang – dengan kata lain, hanya apabila ia memiliki kapital.
Akan tetapi, dengan proposisi ini kita telah sampai pada salah satu kebenaran terpenting dalam ilmu kita, yaitu “produktivitas kapital.” Proposisi ini tidak boleh dipahami sebagai berarti bahwa penguasaan sejumlah barang ekonomi pada masa yang lebih awal untuk masa yang lebih kemudian dapat dengan sendirinya menyumbang apa pun selama masa ini bagi penambahan barang konsumsi yang tersedia bagi manusia. Ia semata-mata berarti bahwa penguasaan sejumlah barang ekonomi untuk jangka waktu tertentu merupakan bagi individu yang berekonomi suatu sarana bagi pemuasan kebutuhan mereka yang lebih baik dan lebih lengkap, dan karena itu suatu barang – atau lebih tepatnya, suatu barang ekonomi, manakala jumlah jasa kapital yang tersedia lebih kecil daripada kebutuhan akannya.
Pemuasan kebutuhan kita yang lebih atau kurang lengkap dengan demikian tidak kurang bergantung pada penguasaan sejumlah barang ekonomi untuk jangka waktu tertentu (pada jasa kapital) ketimbang pada penguasaan barang ekonomi lainnya. Karena itu, jasa kapital adalah objek yang kepadanya manusia melekatkan nilai, dan sebagaimana akan kita lihat nanti, jasa-jasa itu juga merupakan objek perdagangan.
Sebagian ekonom menggambarkan pembayaran bunga sebagai imbalan bagi pengekangan diri (abstinence) pemilik kapital. Terhadap ajaran ini, saya harus menunjukkan bahwa pengekangan diri seseorang tidak dapat, dengan sendirinya, memperoleh sifat-barang dan dengan demikian nilai. Lagi pula, kapital sama sekali tidak selalu berasal dari pengekangan diri, melainkan dalam banyak hal sebagai akibat dari sekadar pengambilalihan (misalnya, manakala barang tingkat lebih tinggi yang sebelumnya non-ekonomi memperoleh sifat ekonomi karena kebutuhan masyarakat yang meningkat). Dengan demikian, pembayaran bunga tidak boleh dipandang sebagai kompensasi bagi pemilik kapital atas pengekangan dirinya, melainkan sebagai pertukaran satu barang ekonomi (penggunaan kapital) dengan barang ekonomi lainnya (uang, misalnya). Carey, sebaliknya, jatuh ke dalam kekeliruan yang berlawanan ketika ia menisbahkan kepada penghematan suatu kecenderungan yang secara langsung memusuhi penciptaan kapital.
C. Nilai jumlah komplementer barang tingkat lebih tinggi.
Untuk mentransformasikan barang tingkat lebih tinggi44 menjadi barang tingkat lebih rendah, diperlukan berlalunya suatu jangka waktu tertentu. Maka, manakala barang ekonomi hendak diproduksi, penguasaan atas jasa kapital diperlukan untuk suatu jangka waktu tertentu. Panjang jangka waktu ini berbeda-beda menurut sifat proses produksinya. Dalam cabang produksi tertentu mana pun, ia semakin panjang semakin tinggi tingkat barang yang hendak diarahkan kepada pemuasan kebutuhan manusia. Akan tetapi, berlalunya suatu waktu tertentu tidak terpisahkan dari setiap proses produksi.
Selama jangka waktu ini, jumlah barang ekonomi yang sedang saya bicarakan (kapital) terikat,45 dan tidak tersedia untuk tujuan produktif lainnya. Untuk dapat menguasai suatu barang atau sejumlah barang tingkat lebih rendah pada suatu masa mendatang, tidaklah cukup memiliki penguasaan sekilas atas barang tingkat lebih tinggi yang berpadanan pada suatu titik waktu tunggal, melainkan perlu bahwa kita mempertahankan penguasaan atas barang tingkat lebih tinggi ini untuk suatu jangka waktu yang berbeda-beda panjangnya menurut sifat proses produksi tertentu, dan bahwa kita mengikatnya dalam proses produksi ini selama jangka waktu tersebut.
Dalam bagian terdahulu, kita telah melihat bahwa penguasaan sejumlah barang ekonomi untuk jangka waktu tertentu memiliki nilai bagi manusia yang berekonomi, sebagaimana barang ekonomi lain memiliki nilai bagi mereka. Dari sini menyusul bahwa nilai kini keseluruhan dari semua barang tingkat lebih tinggi yang diperlukan untuk produksi suatu barang tingkat lebih rendah dapat disetarakan dengan nilai prospektif produk bagi manusia yang berekonomi hanya apabila nilai jasa kapital selama masa produksi disertakan.
Andaikan, misalnya, kita hendak menentukan nilai barang tingkat lebih tinggi yang menjamin bagi kita penguasaan atas sejumlah gandum setahun kemudian. Nilai benih gandum, jasa tanah, jasa kerja pertanian terspesialisasi, dan semua barang tingkat lebih tinggi lainnya yang diperlukan untuk produksi sejumlah gandum tertentu itu memang akan setara dengan nilai prospektif gandum pada akhir tahun (hlm. 150), tetapi hanya dengan syarat bahwa nilai penguasaan setahun atas barang ekonomi ini bagi individu yang berekonomi yang bersangkutan disertakan dalam jumlah itu. Nilai kini barang tingkat lebih tinggi ini dengan sendirinya karena itu setara dengan nilai produk prospektif dikurangi nilai jasa kapital yang dimanfaatkan.
Untuk menyatakan apa yang telah dikatakan secara numerik, andaikan bahwa nilai prospektif produk yang akan tersedia pada akhir tahun adalah 100, dan bahwa nilai penguasaan setahun atas jumlah barang ekonomi tingkat lebih tinggi yang diperlukan (nilai jasa kapital) adalah 10. Jelaslah bahwa nilai keseluruhan dari semua barang komplementer tingkat lebih tinggi yang dibutuhkan untuk produksi produk itu, di luar jasa kapital, setara bukan dengan 100, melainkan hanya dengan 90. Seandainya nilai jasa kapital adalah 15, maka nilai kini barang tingkat lebih tinggi lainnya hanya akan menjadi 85.
Nilai barang bagi individu-individu pelaku ekonomi yang bersangkutan, sebagaimana telah beberapa kali saya nyatakan, merupakan landasan terpenting bagi pembentukan harga. Maka, jika dalam kehidupan sehari-hari kita melihat bahwa pembeli barang ordo tinggi tidak pernah membayar harga prospektif penuh suatu barang ordo rendah untuk sarana produksi komplementer yang secara teknis diperlukan bagi produksinya,¹⁵ bahwa mereka senantiasa hanya berada dalam posisi untuk memberikan, dan memang benar-benar memberikan, harga yang sedikit lebih rendah daripada harga produk, dan bahwa penjualan barang ordo tinggi dengan demikian memiliki kemiripan tertentu dengan pendiskontoan, di mana harga prospektif produk membentuk dasar perhitungan,46 maka fakta-fakta ini dijelaskan oleh argumen yang telah diuraikan sebelumnya.47
Seseorang yang memiliki barang-barang ordo tinggi yang diperlukan untuk produksi barang ordo rendah tidak, berdasarkan fakta ini, langsung dan seketika menguasai barang-barang ordo rendah tersebut, melainkan baru setelah berlalunya suatu jangka waktu yang lebih panjang atau lebih pendek sesuai dengan sifat proses produksinya. Jika ia ingin menukar barang-barang ordo tingginya seketika dengan barang-barang ordo rendah yang bersesuaian, atau – yang dalam hubungan perdagangan yang telah maju sama halnya – dengan sejumlah uang yang bersesuaian, maka jelaslah ia berada dalam posisi yang serupa dengan seseorang yang akan menerima sejumlah uang tertentu pada suatu titik waktu di masa depan (misalnya setelah 6 bulan), tetapi yang ingin memperoleh penguasaan atasnya seketika. Apabila pemilik barang ordo tinggi bermaksud mengalihkannya kepada pihak ketiga dan bersedia menerima pembayaran baru setelah berakhirnya proses produksi, tentu saja tidak terjadi “pendiskontoan” apa pun. Bahkan kita dapat mengamati bahwa harga barang yang dijual secara kredit menjadi semakin tinggi (terlepas dari premi risiko) semakin jauh tanggal pembayaran yang disepakati terletak di masa depan. Akan tetapi, semua ini sekaligus menjelaskan mengapa kegiatan produktif suatu bangsa sangat dipacu oleh kredit. Dalam jauh lebih banyak kasus, transaksi kredit terdiri atas penyerahan barang-barang ordo tinggi kepada orang-orang yang mengubahnya menjadi barang-barang ordo rendah yang bersesuaian. Produksi, atau setidaknya pengolahan yang lebih luas, sering kali baru dimungkinkan melalui kredit; dari sinilah datang terhentinya dan menyusutnya kegiatan produktif suatu bangsa secara merugikan ketika aliran kredit tiba-tiba berhenti.
Proses pengubahan barang-barang ordo tinggi menjadi barang-barang ordo rendah atau ordo pertama, sepanjang dalam hal-hal lain bersifat ekonomis, juga harus senantiasa direncanakan dan dilaksanakan, dengan suatu tujuan ekonomi tertentu, oleh seorang individu pelaku ekonomi. Individu ini harus melakukan perhitungan-perhitungan ekonomi yang baru saja saya bicarakan, dan ia harus benar-benar menyatukan barang-barang ordo tinggi, termasuk jasa kerja teknis (atau menyebabkannya disatukan), untuk tujuan produksi.48 Pertanyaan mengenai fungsi-fungsi apa saja yang tercakup dalam apa yang disebut kegiatan kewirausahaan ini telah beberapa kali diajukan. Pertama-tama kita harus mengingat bahwa jasa kerja teknis seorang pengusaha sendiri sering kali termasuk di antara barang-barang ordo tinggi yang dikuasainya untuk keperluan produksi. Apabila demikian halnya, ia menetapkan jasa kerja tersebut, sebagaimana jasa orang lain, perannya masing-masing dalam proses produksi. Pemilik sebuah majalah sering kali menjadi penulis bagi majalahnya sendiri. Pengusaha industri sering kali bekerja di pabriknya sendiri. Namun, masing-masing dari mereka adalah seorang pengusaha bukan karena keikutsertaan teknisnya dalam proses produksi, melainkan karena ia membuat bukan saja perhitungan-perhitungan ekonomi yang mendasarinya, tetapi juga keputusan-keputusan nyata untuk menetapkan barang-barang ordo tinggi pada tujuan-tujuan produktif tertentu. Kegiatan kewirausahaan mencakup: (a) memperoleh informasi tentang keadaan ekonomi; (b) kalkulasi ekonomi – segala macam perhitungan yang harus dibuat agar suatu proses produksi efisien (sepanjang dalam hal-hal lain bersifat ekonomis); (c) tindakan kehendak yang dengannya barang-barang ordo tinggi (atau barang secara umum – dalam kondisi perniagaan yang telah maju, di mana barang ekonomi apa pun dapat dipertukarkan dengan barang lainnya) ditetapkan pada suatu proses produksi tertentu; dan akhirnya (d) pengawasan atas pelaksanaan rencana produksi agar dapat dijalankan seekonomis mungkin. Pada perusahaan kecil, kegiatan-kegiatan kewirausahaan ini biasanya hanya menyita sebagian kecil dari waktu pengusaha. Namun pada perusahaan besar, bukan saja pengusaha itu sendiri, melainkan sering kali pula beberapa pembantunya, sepenuhnya tersita oleh kegiatan-kegiatan ini. Akan tetapi, betapa pun luasnya kegiatan para pembantu ini, keempat fungsi yang disebutkan di atas selalu dapat diamati dalam tindakan pengusaha, sekalipun pada akhirnya fungsi-fungsi itu terbatas (seperti pada perseroan) hanya pada penetapan alokasi bagian-bagian kekayaan untuk tujuan-tujuan produktif tertentu menurut kategori-kategori umum saja, serta pada pemilihan dan pengendalian orang. Setelah apa yang telah dikemukakan, akan menjadi jelas bahwa saya tidak dapat sependapat dengan Mangoldt,49 yang menetapkan “penanggungan risiko” sebagai fungsi esensial kewirausahaan dalam suatu proses produksi, sebab “risiko” ini hanyalah hal yang bersifat insidental dan peluang kerugian diimbangi oleh peluang keuntungan.
Pada tahap-tahap awal peradaban dan bahkan kemudian dalam hal manufaktur kecil, kegiatan kewirausahaan biasanya dijalankan oleh individu pelaku ekonomi yang sama, yang jasa kerja teknisnya pun merupakan salah satu faktor dalam proses produksi. Dengan kemajuan pembagian kerja dan bertambahnya ukuran perusahaan, kegiatan kewirausahaan sering kali menyita seluruh waktunya. Karena alasan inilah, kegiatan kewirausahaan merupakan faktor yang sama perlunya dalam produksi barang sebagaimana jasa kerja teknis. Oleh karena itu, ia memiliki sifat suatu barang ordo tinggi, dan juga memiliki nilai, sebab seperti barang-barang ordo tinggi lainnya, ia pun pada umumnya merupakan suatu barang ekonomi. Maka, kapan pun kita hendak menentukan nilai kini dari kuantitas-kuantitas komplementer barang ordo tinggi, nilai prospektif produk hanya menentukan nilai total dari kesemuanya itu apabila nilai kegiatan kewirausahaan tercakup dalam total tersebut.
Izinkan saya merangkum hasil-hasil bagian ini. Nilai kini agregat dari seluruh kuantitas komplementer barang ordo tinggi (yaitu, semua bahan mentah, jasa kerja, jasa tanah, mesin, peralatan, dan sebagainya) yang diperlukan untuk produksi suatu barang ordo rendah atau ordo pertama adalah sama dengan nilai prospektif produknya. Tetapi, perlu untuk memasukkan ke dalam jumlah itu bukan saja barang-barang ordo tinggi yang secara teknis diperlukan bagi produksinya, melainkan juga jasa kapital dan kegiatan pengusaha. Sebab semua ini sama tak terhindarkan perlunya dalam setiap produksi barang yang ekonomis sebagaimana persyaratan-persyaratan teknis yang telah disebutkan tadi. Maka, nilai kini dari faktor-faktor produksi teknis itu sendiri tidaklah sama dengan nilai prospektif penuh produk, melainkan selalu berperilaku sedemikian rupa sehingga tetap tersisa suatu margin bagi nilai jasa kapital dan kegiatan kewirausahaan.
D. Nilai barang ordo tinggi secara individual.
Kita telah melihat bahwa nilai suatu barang tertentu (atau suatu kuantitas barang tertentu) bagi individu pelaku ekonomi yang menguasainya adalah sama dengan arti penting yang ia lekatkan pada pemuasan-pemuasan yang harus ia relakan seandainya ia tidak menguasai barang itu. Dari sini kita dapat menyimpulkan, tanpa kesulitan, bahwa nilai setiap satuan barang ordo tinggi juga sama dengan arti penting pemuasan-pemuasan yang dijamin oleh penguasaan atas satu satuan, seandainya kita tidak terhalang oleh kenyataan bahwa suatu barang ordo tinggi tidak dapat digunakan untuk pemuasan kebutuhan manusia secara tersendiri, melainkan hanya dalam kombinasi dengan barang-barang ordo tinggi lainnya (yang komplementer). Akan tetapi, oleh karena hal ini, dapat timbul pendapat bahwa kita, untuk pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang konkret, bergantung bukan pada penguasaan atas suatu barang konkret yang individual (atau kuantitas konkret dari suatu jenis barang) ordo tinggi, melainkan pada penguasaan atas kuantitas-kuantitas komplementer barang ordo tinggi, dan bahwa oleh karena itu hanya agregat-agregat barang ordo tinggi yang komplementer yang dapat secara mandiri memperoleh nilai bagi seorang individu pelaku ekonomi.
Memang benar bahwa kita hanya dapat memperoleh kuantitas barang ordo rendah dengan perantaraan kuantitas-kuantitas komplementer barang ordo tinggi. Tetapi sama pastinya bahwa berbagai barang ordo tinggi tidak selalu harus dikombinasikan dalam proses produksi menurut proporsi yang tetap (dengan cara, barangkali, sebagaimana dapat diamati dalam hal reaksi kimia, di mana hanya berat tertentu dari satu zat bergabung dengan berat tertentu yang sama-sama tetap dari zat lain untuk menghasilkan suatu senyawa kimia tertentu). Pengalaman yang paling lazim justru mengajarkan kepada kita bahwa suatu kuantitas tertentu dari suatu barang ordo rendah dapat dihasilkan dari barang-barang ordo tinggi yang berada dalam hubungan kuantitatif yang sangat berbeda-beda satu sama lain. Bahkan, satu atau beberapa barang ordo tinggi yang komplementer terhadap sekelompok barang ordo tinggi tertentu lainnya sering kali dapat ditiadakan sama sekali tanpa merusak kemampuan barang-barang komplementer yang tersisa untuk menghasilkan barang ordo rendah tersebut. Jasa tanah, benih, jasa kerja, pupuk, jasa perkakas pertanian, dan sebagainya, digunakan untuk menghasilkan biji-bijian. Tetapi tidak seorang pun akan dapat menyangkal bahwa suatu kuantitas biji-bijian tertentu dapat pula dihasilkan tanpa penggunaan pupuk dan tanpa mempekerjakan sebagian besar perkakas pertanian yang biasa, asalkan barang-barang ordo tinggi lain yang digunakan untuk produksi biji-bijian tersedia dalam kuantitas yang lebih besar secara bersesuaian.
Jika pengalaman dengan demikian mengajarkan kepada kita bahwa beberapa barang ordo tinggi yang komplementer sering kali dapat ditiadakan sepenuhnya dalam produksi barang ordo rendah, maka jauh lebih sering lagi kita dapat mengamati, bukan saja bahwa produk-produk tertentu dapat dihasilkan oleh kuantitas barang ordo tinggi yang beragam, melainkan juga bahwa pada umumnya terdapat rentang yang sangat lebar di mana proporsi barang yang diterapkan pada produksinya dapat, dan memang benar-benar, divariasikan. Setiap orang tahu bahwa, bahkan pada tanah yang kualitasnya homogen, suatu kuantitas biji-bijian tertentu dapat dihasilkan pada lahan yang ukurannya sangat berbeda-beda jika digarap secara lebih atau kurang intensif – yaitu, jika kuantitas yang lebih besar atau lebih kecil dari barang-barang ordo tinggi komplementer lainnya diterapkan padanya. Secara khusus, kekurangan pupuk dapat dikompensasi dengan penggunaan lahan dalam jumlah lebih besar atau mesin yang lebih baik, atau dengan penerapan jasa kerja pertanian yang lebih intensif. Demikian pula, kuantitas yang berkurang dari hampir setiap barang ordo tinggi dapat dikompensasi dengan penerapan yang lebih besar secara bersesuaian dari barang-barang komplementer lainnya.
Tetapi bahkan ketika barang-barang ordo tinggi tertentu tidak dapat digantikan oleh kuantitas barang komplementer lainnya, dan suatu pengurangan kuantitas yang tersedia dari suatu barang ordo tinggi tertentu menyebabkan pengurangan produk yang bersesuaian (dalam produksi suatu bahan kimia tertentu, misalnya), maka kuantitas-kuantitas yang bersesuaian dari sarana produksi lainnya tidak serta-merta menjadi tak bernilai ketika satu barang produksi ini tidak ada. Sarana-sarana produksi lainnya, sebagai aturan umum, masih dapat diterapkan pada produksi barang konsumsi lain, dan dengan demikian pada akhirnya pada pemuasan kebutuhan manusia, sekalipun kebutuhan-kebutuhan ini biasanya kurang penting dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipuaskan seandainya kuantitas barang komplementer yang hilang sebagaimana dimaksud telah tersedia.
Sebagai aturan umum, oleh karena itu, yang bergantung pada suatu kuantitas tertentu dari suatu barang ordo tinggi bukanlah penguasaan atas suatu kuantitas produk yang persis bersesuaian, melainkan hanya sebagian dari produk dan sering kali hanya kualitasnya yang lebih tinggi. Sesuai dengan itu, nilai suatu kuantitas tertentu dari suatu barang ordo tinggi tertentu tidaklah sama dengan arti penting pemuasan-pemuasan yang bergantung pada keseluruhan produk yang dibantu dihasilkannya, melainkan sama hanya dengan arti penting pemuasan-pemuasan yang disediakan oleh bagian produk yang akan tetap tidak terproduksi seandainya kita tidak berada dalam posisi untuk menguasai kuantitas tertentu barang ordo tinggi itu. Ketika akibat dari pengurangan kuantitas yang tersedia dari suatu barang ordo tinggi bukanlah berkurangnya kuantitas produk melainkan memburuknya kualitasnya, maka nilai suatu kuantitas tertentu dari suatu barang ordo tinggi adalah sama dengan selisih arti penting antara pemuasan-pemuasan yang dapat dicapai dengan produk berkualitas lebih tinggi dan pemuasan-pemuasan yang dapat dicapai dengan produk berkualitas lebih rendah. Dengan demikian, dalam kedua kasus tersebut, yang bergantung pada penguasaan atas suatu kuantitas tertentu dari suatu barang ordo tinggi bukanlah pemuasan-pemuasan yang disediakan oleh keseluruhan produk yang dibantu dihasilkannya, melainkan hanya pemuasan-pemuasan dengan arti penting sebagaimana dijelaskan di sini.
Bahkan apabila berkurangnya kuantitas yang tersedia dari suatu barang berorde lebih tinggi tertentu menyebabkan produk (suatu senyawa kimia, misalnya) berkurang secara proporsional, kuantitas-kuantitas komplementer lain dari barang berorde lebih tinggi tidak menjadi tanpa nilai. Walaupun faktor produksi komplementernya kini hilang, barang-barang itu masih dapat digunakan untuk produksi barang lain yang berorde lebih rendah, dan dengan demikian diarahkan pada pemuasan kebutuhan manusia, sekalipun kebutuhan-kebutuhan ini barangkali agak kurang penting dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. Maka dalam kasus ini pun, nilai penuh dari produk yang akan hilang bagi kita karena tiadanya suatu barang berorde lebih tinggi tertentu bukanlah faktor penentu nilainya. Nilainya hanya sama dengan selisih kepentingan antara pemuasan-pemuasan yang terjamin jika kita menguasai barang berorde lebih tinggi yang nilainya hendak kita tentukan dan pemuasan-pemuasan yang akan dicapai seandainya kita tidak menguasainya.
Jika kita merangkum ketiga kasus ini, kita memperoleh suatu hukum umum tentang penentuan nilai dari kuantitas konkret suatu barang berorde lebih tinggi. Dengan mengandaikan dalam setiap hal bahwa seluruh barang berorde lebih tinggi yang tersedia digunakan dengan cara yang paling ekonomis, nilai dari kuantitas konkret suatu barang berorde lebih tinggi sama dengan selisih kepentingan antara pemuasan-pemuasan yang dapat dicapai ketika kita menguasai kuantitas tertentu dari barang berorde lebih tinggi yang nilainya hendak kita tentukan dan pemuasan-pemuasan yang akan dicapai seandainya kita tidak menguasai kuantitas itu.
Hukum ini sepenuhnya sesuai dengan hukum umum penentuan nilai (hlm. 121), sebab selisih yang dirujuk dalam hukum pada paragraf sebelumnya mewakili kepentingan dari pemuasan-pemuasan yang bergantung pada penguasaan kita atas suatu barang berorde lebih tinggi tertentu.
Jika kita memeriksa hukum ini sehubungan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya (hlm. 157) tentang nilai dari kuantitas-kuantitas komplementer barang berorde lebih tinggi yang diperlukan untuk produksi suatu barang konsumsi, kita memperoleh suatu asas turunan: nilai suatu barang berorde lebih tinggi akan semakin besar (1) semakin besar prospektif nilai produknya, apabila nilai barang-barang komplementer lain yang diperlukan untuk produksinya tetap sama, dan (2) semakin rendah, dengan hal-hal lain tetap sama, nilai barang-barang komplementer itu.
E. Nilai jasa tanah, modal, dan tenaga kerja, secara khusus.50
Tanah tidak menempati kedudukan istimewa di antara barang-barang. Jika digunakan untuk tujuan konsumsi (taman hias, lahan perburuan, dan sebagainya), tanah adalah barang berorde pertama. Jika digunakan untuk produksi barang-barang lain, tanah, seperti banyak barang lainnya, adalah barang berorde lebih tinggi. Oleh sebab itu, kapan pun timbul persoalan untuk menentukan nilai tanah atau nilai jasa tanah, keduanya tunduk pada hukum-hukum umum penentuan nilai. Jika bidang-bidang tanah tertentu bersifat barang berorde lebih tinggi, nilainya juga tunduk pada hukum-hukum penentuan nilai barang berorde lebih tinggi yang telah saya jelaskan dalam bagian sebelumnya.
Suatu mazhab ekonom yang tersebar luas telah mengakui dengan benar bahwa nilai tanah tidak dapat secara sahih ditelusuri kembali kepada tenaga kerja atau kepada jasa modal. Namun dari hal ini mereka menyimpulkan keabsahan untuk menempatkan tanah pada kedudukan istimewa di antara barang-barang. Akan tetapi, kekeliruan metodologis yang terkandung dalam prosedur ini mudah dikenali. Bahwa suatu kelompok gejala yang besar dan penting tidak dapat dimasukkan ke dalam hukum-hukum umum suatu ilmu yang membahas gejala-gejala tersebut merupakan bukti nyata akan perlunya pembaruan ilmu itu. Namun hal itu tidak merupakan argumen yang membenarkan prosedur metodologis yang paling diragukan, yaitu memisahkan suatu kelompok gejala dari semua objek pengamatan lain yang serupa secara umum dalam sifatnya, dan menyusun asas-asas tertinggi khusus untuk masing-masing dari kedua kelompok itu.
Pengakuan atas kekeliruan ini, oleh sebab itu, telah mendorong pada masa yang lebih baru sejumlah upaya untuk memasukkan tanah dan jasa tanah ke dalam kerangka suatu sistem teori ekonomi bersama semua barang lain, dan untuk menelusuri nilai-nilainya serta harga yang dicapainya kembali kepada tenaga kerja manusia atau kepada jasa modal, sesuai dengan asas-asas yang diterima.51
Namun pemaksaan yang dilakukan terhadap barang-barang pada umumnya, dan terhadap tanah pada khususnya, oleh upaya semacam itu sudah jelas terlihat. Suatu bidang tanah mungkin telah direbut dari laut dengan pengerahan tenaga kerja manusia yang sangat besar; atau mungkin merupakan endapan aluvial dari suatu sungai sehingga diperoleh tanpa kerja sama sekali. Tanah itu mungkin semula ditumbuhi rimba, tertutup batu-batu, dan kemudian direklamasi dengan usaha besar dan pengorbanan ekonomi; atau mungkin sejak awal sudah bebas dari pepohonan dan subur. Butir-butir riwayat masa lalunya semacam itu menarik untuk menilai kesuburan alaminya, dan tentu juga untuk persoalan apakah penerapan barang-barang ekonomi pada bidang tanah ini (perbaikan) sudah tepat dan ekonomis. Akan tetapi riwayatnya tidak relevan ketika yang dipersoalkan adalah hubungan-hubungan ekonomi umumnya, dan terutama nilainya. Sebab hal-hal ini berkaitan dengan kepentingan yang dicapai barang-barang bagi kita semata-mata karena barang-barang itu menjamin pemuasan-pemuasan kita di masa depan.52 Dari pertimbangan-pertimbangan ini juga mengikuti bahwa kapan pun saya menyebut jasa tanah, yang saya maksud adalah jasa, yang diukur sepanjang waktu, dari bidang-bidang tanah sebagaimana sesungguhnya kita temukan dalam perekonomian manusia, dan bukan penggunaan "daya-daya asli" tanah. Sebab hanya yang pertama menjadi objek tindakan ekonomi manusia, sementara yang kedua, dalam kasus-kasus konkret, paling-paling hanya menjadi objek suatu penyelidikan historis yang sia-sia, dan bagaimanapun tidak relevan bagi manusia yang berekonomi. Ketika seorang petani menyewa sebidang tanah untuk satu atau beberapa tahun, ia tidak terlalu peduli apakah tanahnya memperoleh kesuburan dari investasi modal segala macam atau sejak semula sudah subur. Keadaan-keadaan ini tidak berpengaruh terhadap harga yang ia bayar untuk penggunaan tanah itu. Seorang pembeli sebidang tanah berupaya memperhitungkan "masa depan" namun tidak pernah "masa lalu" tanah yang ia beli.
Maka upaya-upaya yang lebih baru untuk menjelaskan nilai tanah atau jasa tanah dengan mereduksinya menjadi jasa tenaga kerja atau jasa modal harus dipandang hanya sebagai hasil dari usaha untuk membuat teori sewa-tanah yang diterima (suatu bagian ilmu kita yang, secara relatif, paling sedikit bertentangan dengan gejala-gejala kehidupan nyata) konsisten dengan kesalahpahaman yang lazim tentang asas-asas tertinggi ilmu kita. Lebih lanjut harus diajukan keberatan terhadap teori sewa yang diterima, terutama dalam bentuk yang dirumuskan oleh Ricardo,53 bahwa teori itu hanya menampilkan suatu faktor tersendiri yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan nilai tanah, namun bukan suatu asas yang menjelaskan nilai jasa tanah bagi manusia yang berekonomi,54 dan bahwa faktor tersendiri itu secara keliru diajukan sebagai asasnya.
Perbedaan-perbedaan kesuburan dan letak bidang-bidang tanah tidak diragukan lagi termasuk di antara sebab-sebab terpenting perbedaan nilai jasa tanah dan nilai tanah itu sendiri. Namun di luar ini masih terdapat sebab-sebab lain dari perbedaan nilai barang-barang ini. Perbedaan kesuburan dan letak bahkan bukan penyebab dari sebab-sebab lain itu, apalagi suatu asas umum yang menjelaskan nilai tanah dan jasa tanah. Seandainya semua bidang tanah memiliki kesuburan yang sama dan letak yang sama menguntungkan, menurut Ricardo tanah-tanah itu sama sekali tidak akan menghasilkan sewa. Namun walaupun suatu faktor tunggal yang menjelaskan perbedaan antara sewa yang dihasilkannya barangkali memang akan absen, sangatlah pasti bahwa baik semua perbedaan antara sewa-sewa itu maupun sewa itu sendiri tidak dengan sendirinya akan lenyap. Justru jelas bahwa bahkan bidang-bidang tanah yang paling tidak menguntungkan letaknya dan paling tidak subur di suatu negeri yang tanahnya langka akan menghasilkan sewa, suatu sewa yang tidak dapat dijelaskan dalam teori Ricardo.
Tanah dan jasa tanah, dalam wujud-wujud konkret yang kita amati, adalah objek penilaian nilai kita seperti semua barang lain. Seperti barang-barang lain, keduanya memperoleh nilai hanya sejauh kita bergantung pada penguasaan atasnya untuk pemuasan kebutuhan kita. Dan faktor-faktor yang menentukan nilainya sama dengan faktor-faktor yang kita jumpai sebelumnya dalam penyelidikan kita tentang nilai barang-barang pada umumnya (hlm. 121 dan 141).55 Pemahaman yang lebih mendalam tentang perbedaan-perbedaan nilainya, oleh sebab itu, juga hanya dapat dicapai dengan menghampiri tanah dan jasa tanah dari sudut pandang umum ilmu kita dan, sejauh keduanya merupakan barang berorde lebih tinggi, dengan mengaitkannya pada barang-barang berorde lebih rendah yang bersesuaian dan terutama pada barang-barang komplementernya.
Dalam bagian sebelumnya kita memperoleh hasil bahwa nilai keseluruhan barang-barang berorde lebih tinggi yang diperlukan untuk produksi suatu barang konsumsi (termasuk jasa modal dan kegiatan kewirausahaan) sama dengan prospektif nilai produknya. Apabila jasa tanah digunakan untuk produksi barang-barang berorde lebih rendah, nilai jasa-jasa ini, bersama nilai barang-barang komplementer lain, akan sama dengan prospektif nilai barang berorde lebih rendah atau orde pertama yang untuk produksinya jasa-jasa itu digunakan. Semakin tinggi atau semakin rendah prospektif nilai ini, dengan hal-hal lain tetap sama, semakin tinggi atau semakin rendah pula nilai keseluruhan barang-barang komplementer itu. Adapun nilai tersendiri dari bidang-bidang tanah nyata atau jasa tanah, ia diatur, seperti nilai barang-barang berorde lebih tinggi lainnya, sesuai dengan asas bahwa nilai suatu barang berorde lebih tinggi, dengan hal-hal lain tetap sama, akan semakin besar (1) semakin besar nilai produk prospektifnya, dan (2) semakin kecil nilai barang-barang komplementer berorde lebih tinggi.56
Nilai jasa tanah oleh sebab itu tidak tunduk pada hukum-hukum yang berbeda dari nilai jasa mesin, perkakas, rumah, pabrik, atau jenis barang ekonomi lainnya.
Adanya ciri-ciri khusus yang ditunjukkan oleh tanah dan jasa tanah, demikian pula banyak jenis barang lain, sama sekali tidak disangkal. Di negeri mana pun, tanah biasanya tersedia hanya dalam kuantitas yang tidak mudah ditambah; letaknya tetap; dan ia memiliki keanekaragaman tingkatan yang luar biasa. Semua keistimewaan gejala nilai yang dapat kita amati dalam kasus tanah dan jasa tanah dapat ditelusuri kembali kepada ketiga faktor ini. Karena faktor-faktor ini hanya berkaitan dengan kuantitas dan kualitas tanah yang tersedia bagi manusia yang berekonomi pada umumnya dan bagi penduduk wilayah-wilayah tertentu pada khususnya, keistimewaan-keistimewaan yang dimaksud adalah faktor-faktor dalam penentuan nilai yang memengaruhi bukan hanya nilai tanah dan jasa tanah, melainkan, sebagaimana telah kita lihat, nilai semua barang. Dengan demikian nilai tanah tidak memiliki sifat yang istimewa.
Kenyataan bahwa harga jasa tenaga kerja, seperti harga jasa tanah, tidak dapat ditelusuri kembali kepada harga biaya produksinya tanpa pemaksaan yang paling besar, telah mendorong pada penetapan asas-asas khusus untuk golongan harga ini pula. Dikatakan bahwa tenaga kerja yang paling biasa harus menghidupi pekerja dan keluarganya, sebab jasa tenaganya jika tidak demikian tidak dapat disumbangkan secara tetap kepada masyarakat; dan bahwa tenaganya tidak dapat memberinya jauh lebih banyak daripada batas minimum penghidupan, sebab jika tidak akan terjadi pertambahan jumlah pekerja yang akan menurunkan harga jasa tenaga kerja kembali ke tingkat rendah semula. Batas minimum penghidupan, oleh sebab itu, dalam teori ini, adalah asas yang mengatur harga tenaga kerja yang paling biasa, sementara harga-harga yang lebih tinggi dari jasa tenaga kerja lain dijelaskan dengan mereduksinya menjadi investasi modal atau menjadi sewa atas bakat-bakat istimewa.
Namun pengalaman mengajarkan kita bahwa ada jasa tenaga kerja yang sama sekali tidak berguna, bahkan merugikan, bagi manusia yang berekonomi. Jasa-jasa ini oleh sebab itu bukan barang. Ada jasa tenaga kerja lain yang memiliki sifat-barang namun tidak memiliki sifat ekonomi, dan karenanya tidak memiliki nilai. (Ke dalam kategori kedua ini termasuk semua jasa tenaga kerja yang tersedia bagi masyarakat, karena alasan apa pun, dalam kuantitas yang sedemikian besar sehingga memperoleh sifat non-ekonomi — jasa tenaga kerja yang berkaitan dengan suatu jabatan yang tidak dibayar, misalnya.) Maka demikian pula (sebagaimana akan kita lihat nanti) jasa tenaga kerja dari kategori-kategori ini tidak dapat memiliki harga. Jasa tenaga kerja oleh sebab itu tidak selalu merupakan barang atau barang ekonomi semata-mata karena ia merupakan jasa tenaga kerja; jasa-jasa itu tidak memiliki nilai sebagai suatu keniscayaan. Maka tidak selalu benar bahwa setiap jasa tenaga kerja mencapai suatu harga, dan lebih-lebih lagi tidak selalu suatu harga tertentu.
Pengalaman juga memberi tahu kita bahwa banyak jasa kerja tidak dapat dipertukarkan oleh pekerja bahkan untuk alat penghidupan yang paling diperlukan sekalipun,57 sementara sejumlah barang yang sepuluh, dua puluh, atau bahkan seratus kali lipat dari yang dibutuhkan untuk penghidupan seorang individu dapat dengan mudah diperoleh untuk jasa kerja lainnya. Di mana pun jasa kerja seseorang sesungguhnya dipertukarkan untuk alat penghidupannya yang paling minim, hal itu hanya dapat merupakan akibat dari suatu keadaan kebetulan bahwa jasa kerjanya dipertukarkan, sesuai dengan asas-asas umum pembentukan harga, untuk harga tertentu itu dan bukan harga lain. Oleh karena itu, baik alat penghidupan maupun batas minimum penghidupan seorang pekerja tidak dapat menjadi penyebab langsung atau asas penentu harga jasa kerja.58
Pada kenyataannya, sebagaimana akan kita lihat, harga jasa kerja yang sesungguhnya diatur, seperti halnya harga semua barang lainnya, oleh nilainya. Namun nilainya diatur, sebagaimana telah ditunjukkan, oleh besarnya arti penting pemuasan kebutuhan yang akan tetap tidak terpenuhi seandainya kita tidak mampu menguasai jasa kerja tersebut. Di mana jasa kerja merupakan barang tatanan yang lebih tinggi, nilainya diatur (secara dekat dan langsung) sesuai dengan asas bahwa nilai suatu barang tatanan yang lebih tinggi bagi manusia yang berekonomi adalah lebih besar (1) semakin besar nilai prospektif dari produknya, dengan syarat bahwa nilai barang-barang komplementer tatanan yang lebih tinggi tetap konstan, dan (2) semakin rendah, dengan hal-hal lain dianggap sama, nilai barang-barang komplementer itu.59
Suatu ciri khas jasa kerja yang memengaruhi nilainya terletak pada kenyataan bahwa beberapa jenis jasa kerja memiliki kaitan yang tidak menyenangkan bagi pekerja, sehingga jasa-jasa ini hanya akan tersedia jika ada keuntungan ekonomi sebagai imbalan. Oleh karena itu, jasa kerja jenis ini tidak dapat dengan mudah memperoleh sifat non-ekonomi bagi masyarakat. Namun nilai dari ketidakaktifan bagi sebagian besar pekerja jauh lebih kecil daripada yang umumnya diyakini. Pekerjaan dari sebagian besar manusia memberikan kenikmatan, dengan demikian merupakan pemuasan kebutuhan yang sejati itu sendiri, dan akan tetap dijalankan, meskipun barangkali dalam ukuran yang lebih kecil atau dengan cara yang dimodifikasi, sekalipun manusia tidak terpaksa oleh kekurangan sarana untuk mengerahkan kemampuannya. Pengerahan kemampuannya merupakan suatu kebutuhan bagi setiap manusia yang normal. Bahwa hanya sedikit orang yang tetap bekerja tanpa mengharapkan imbalan ekonomi bukanlah sebanyak karena ketidaknyamanan kerja itu sendiri melainkan lebih karena kenyataan bahwa kesempatan untuk melakukan kerja yang berimbalan tersedia secara berlimpah.
Kegiatan kewirausahaan tentu harus digolongkan sebagai suatu kategori jasa kerja. Pada umumnya ia merupakan barang ekonomi, dan sebagai demikian memiliki nilai bagi manusia yang berekonomi. Jasa kerja dalam kategori ini memiliki dua kekhususan: (a) menurut kodratnya jasa-jasa ini bukanlah komoditas (tidak ditujukan untuk pertukaran) dan karena alasan ini tidak memiliki harga; (b) jasa-jasa ini memerlukan penguasaan atas jasa modal sebagai prasyarat yang niscaya, sebab tanpa itu jasa-jasa ini tidak dapat dilaksanakan. Faktor kedua ini membatasi jumlah kegiatan kewirausahaan secara umum yang tersedia bagi suatu bangsa. Faktor ini secara khusus membatasi hingga jumlah yang relatif sangat kecil kegiatan kewirausahaan yang hanya dapat dilaksanakan jika individu-individu yang berekonomi yang bersangkutan memiliki jasa modal dalam jumlah besar yang dapat mereka gunakan. Kredit menambah, dan ketidakpastian hukum mengurangi, jumlah-jumlah ini.
Ketidakcukupan teori yang menjelaskan harga barang melalui harga barang tatanan yang lebih tinggi yang dipakai untuk menghasilkannya tentu juga terasa di mana pun harga jasa modal menjadi persoalan. Saya telah menjelaskan penyebab-penyebab tertinggi dari sifat ekonomi dan nilai barang jenis ini sebelumnya dalam bab ini, dan telah menunjukkan kekeliruan dalam teori yang menggambarkan harga jasa modal sebagai imbalan atas pengorbanan (abstinence) para pemilik modal. Sesungguhnya, harga yang dapat diperoleh untuk jasa modal, sebagaimana telah kita lihat, tidak kurang merupakan akibat dari sifat ekonomi dan nilainya, daripada yang berlaku pada harga barang-barang lainnya. Asas penentu nilai jasa modal adalah sama dengan asas yang menentukan nilai barang pada umumnya.60,61
Kenyataan bahwa harga jasa tanah, modal, dan kerja, atau dengan kata lain, sewa, bunga, dan upah, tidak dapat direduksi tanpa pemaksaan yang paling besar (sebagaimana akan kita lihat nanti) menjadi kuantitas kerja atau biaya produksi, telah membuat para pendukung teori-teori ini merasa perlu mengembangkan asas-asas pembentukan harga bagi ketiga jenis barang ini yang sama sekali berbeda dari asas-asas yang berlaku bagi semua barang lainnya. Pada bagian-bagian sebelumnya, saya telah menunjukkan berkenaan dengan barang dari segala jenis bahwa semua gejala nilai adalah sama dalam kodrat dan asal-usulnya, dan bahwa besarnya nilai senantiasa diatur menurut asas yang sama. Lebih jauh lagi, sebagaimana akan kita lihat dalam dua bab berikutnya, harga suatu barang merupakan akibat dari nilainya bagi manusia yang berekonomi, dan besarnya harga itu selalu ditentukan oleh besarnya nilainya. Oleh karena itu jelas pula bahwa sewa, bunga, dan upah semuanya diatur menurut asas-asas umum yang sama. Namun, dalam bagian ini saya hanya membahas nilai jasa tanah, modal, dan kerja. Berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh di sini, saya akan menyatakan asas-asas yang menjadi dasar pengaturan harga barang-barang ini setelah saya menjelaskan teori umum tentang harga.
Salah satu pertanyaan paling aneh yang pernah dijadikan pokok perdebatan ilmiah ialah apakah sewa dan bunga dapat dibenarkan dari sudut pandang etika atau apakah keduanya “tidak bermoral”. Antara lain, ilmu kita mempunyai tugas untuk menyelidiki mengapa dan dalam keadaan apa jasa tanah dan modal menampilkan sifat ekonomi, memperoleh nilai, dan dapat dipertukarkan untuk kuantitas barang ekonomi lainnya (harga). Namun bagi saya tampaknya pertanyaan tentang sifat hukum atau moral dari kenyataan-kenyataan ini berada di luar lingkup ilmu kita. Di mana pun jasa tanah dan modal memiliki harga, hal itu selalu sebagai akibat dari nilainya, dan nilainya bagi manusia bukanlah hasil dari penilaian yang sewenang-wenang (hlm. 119), melainkan akibat yang niscaya dari sifat ekonominya. Oleh karena itu, harga barang-barang ini (jasa tanah dan modal) merupakan hasil yang niscaya dari keadaan ekonomi tempat barang-barang itu muncul, dan akan lebih pasti diperoleh semakin maju sistem hukum suatu bangsa dan semakin lurus moral publiknya.
Mungkin tampak menyedihkan bagi seorang pencinta umat manusia bahwa kepemilikan modal atau sebidang tanah sering kali memberikan kepada pemiliknya pendapatan yang lebih tinggi untuk suatu jangka waktu tertentu dibandingkan dengan pendapatan yang diterima seorang pekerja untuk kegiatan yang paling berat selama jangka waktu yang sama. Namun penyebab hal ini bukanlah sesuatu yang tidak bermoral, melainkan semata-mata bahwa pemuasan kebutuhan manusia yang lebih penting bergantung pada jasa dari jumlah modal atau sebidang tanah tertentu itu daripada pada jasa pekerja. Oleh karena itu, agitasi mereka yang ingin melihat masyarakat memberikan kepada para pekerja bagian yang lebih besar dari barang konsumsi yang tersedia daripada saat ini sesungguhnya tidak lain merupakan tuntutan untuk membayar kerja di atas nilainya. Sebab, jika tuntutan akan upah yang lebih tinggi tidak disertai dengan program pelatihan pekerja yang lebih menyeluruh, atau jika tuntutan itu tidak terbatas pada advokasi persaingan yang lebih bebas, maka tuntutan itu menuntut agar pekerja dibayar bukan sesuai dengan nilai jasa mereka bagi masyarakat, melainkan dengan maksud untuk memberi mereka taraf hidup yang lebih nyaman, dan mencapai distribusi barang konsumsi serta beban hidup yang lebih merata. Akan tetapi, penyelesaian masalah atas dasar ini tidak diragukan lagi akan memerlukan transformasi yang menyeluruh atas tatanan sosial kita.62